E71 yang Powerful

Rezim Palm akhirnya berakhir. Setelah menggunakannya selama hampir dua tahun, aku memutuskan untuk ganti gadget. Dan, sebagai penggantinya, agak sedikit di luar dugaan, yaitu Nokia E71.

Sebenarnya ini bukan barang baru, karena E71 yang aku pakai tadinya dipakai Icha. Handset ini kita beli hampir setahun lalu dan salah satunya juga karena aku memang sudah kesengsem sejak awal. Agak malu juga mengakui dan akhirnya menggunakan Nokia, karena sejak menjadi penggemar handset sekelas PDA, aku hanya ‘menganggap’ Pocket PC (sekarang Windows Mobile) dan Palm OS. Di luar itu, apalagi Nokia dengan Symbian-nya, aku pandang sebelah mata.

Munculnya Blackberry memang menggoda. Apalagi Javelin, bodinya menggiurkan. Hanya saja, karena harus menggunakan paket BIS dengan nilai tertentu, aku berpikir dua kali. Apalagi, push email belum benar-benar menjadi kebutuhan. Rasanya kok enggak rela mengeluarkan uang (cmiiw) sekitar Rp 160 ribu untuk sesuatu yang tidak akan optimal aku pergunakan. Ya, mencoba mencari sesuatu yang value for money-lah.

Sejak menggunakan Treo, aku tahu berikutnya aku akan pindah (up-grade) ke handset yang mendukung 3G. Memang, waktu beli Treo, 3G sudah ada. Tapi masih baru sekali sehingga aku masih kurang yakin. Pikirku, beri waktu 1-2 tahun agar teknologi dan layanannya sudah cukup matang. Ya, agak trauma juga dengan pengalaman buru-buru beli Flexi tahun 2003 dulu. Ternyata, ketika dibawa pulang ke Jatibening blank-spot…

Nah, memang akhirnya muncul Blackberry Bold, yang juga mendukung 3G. Sayangnya, belakangan aku tahu bahwa paket BIS dan 3G dijual terpisah. Jadi lucu juga, buat apa membeli Blackberry mahal sekelas Bold tapi kemampuan 3G-nya tidak dipergunakan. Ya mending pakai Javelin saja.

Nah, si E71 ini terlalu seksi untuk dilewatkan. Ketika berkenalan dengan pendahulunya, E61 dan kemudian E61i, aku sudah mulai tertarik sebenarnya karena keduanya sudah mendukung 3G dan harganya tidak semahal PDA phone seperti Treo, Ipaq atau O2.

Memang E61 sangat bulky, tapi aku justru senang dengan form factor dan bentuk full QWERTY keyboardnya yang mudah digunakan. Sayangnya, ada ‘faktor Nokia’ yang membuat aku emoh.

Akan tetapi, ketertarikan awal itulah yang membuat aku mau-tak-mau menoleh ketika E71 keluar. Seperti kata seorang sepupuku yang menggunakan E71, “Dengan spek seperti ini, E71 merupakan handset termurah di kelasnya.”

Betapa tidak? E71 sudah mendukung jaringan 3,5G (HSDPA). Dia juga memiliki perangkat GPS built-in. Fitur-fitur lain ya cukup standarlah. Antara lain fungsi PIM (notes, contacts, calendar), e-mail dan internet, pemutar musik dan film, kamera (foto dan video), dan lain-lain. Cukup “rakus” kan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s