Ber-push-email dengan Emoze (Part 3)

Sebelum menjadi bosan dengan topik Emoze, saya sudahi pembahasan mengenai aplikasi push email ini sampai posting ini saja.

Beberapa aspek mengenai push email sudah diulas. Demikian juga sedikit perbandingan harga Emoze dengan Blackberry. Lantas, yang barangkali penting adalah pengalaman keseharian menggunakan Emoze.

Sejauh ini Emoze mampu memenuhi kebutuhanku untuk push email. Dalam rilis resmi tentang deskripsi produk, Emoze mengutip data Yankee Group bahwa email bergerak (mobile email) merupakan salah satu dari dua layanan utama yang diinginkan oleh mereka yang berusia di atas 34 tahun. Kutipan lain dari The Radicati Group, Inc memperkirakan bahwa pada tahun 2009 (tahun ini) diperkirakan 123 juta pengguna email korporat akan menerima dan membalas email mereka melalui perangkat bergerak. Sejauh ini, begitu dikatakan Emoze, dua kendala utama adalah kemudahan penggunaan dan harga-yang sedikit banyak sudah aku ulas pada tulisan terdahulu.

Bagiku pribadi, push email melalui handset bukanlah solusi terakhir. Dalam arti, kalau masih ada kesempatan untuk membuka email dari komputer (di kantor atau di tempat lain), tentu yang dipilih bukanlah push email melalui handset. Jadi, layanan push email ini lebih banyak aku pergunakan untuk keadaan “darurat”-yaitu saat kepepet perlu membaca email sementara tidak berada di depan komputer.

Selain itu, membaca email juga aku lakukan untuk mengisi waktu, misalnya saat menunggu narasumber untuk wawancara. Untuk kebutuhan ini, sebenarnya tidak butuh-butuh amat push email, karena toh yang dibaca biasanya email-email milis.

Nah, untuk kebutuhan kepepet itu, Emoze cukup membantu. Katakanlah aku sedang menunggu email penting. Ketimbang setiap kali harus menekan tombol “send and receive” dengan harap-harap cemas, ya sudah tunggu saja… Toh kalau masuk nanti ada notifikasinya. Dan, sejauh pengalamanku, email yang di-push Emoze bisa tiba sekitar 1-2 menit sejak dikirimkan. Yang menggunakan Yahoo akan lebih cepat lagi, bisa kurang dari satu menit.

Isu lain adalah penanganan attachment. Untuk Emoze basic hanya mampu menangani attachment hingga maksimal 100 kB, sementara yang pro tidak terhingga. Tapi jumlah sebesar itu juga sudah masuk akal karena siapa juga yang hendak berkirim email dengan attachment gila-gilaan menggunakan perangkat bergerak.

Dulu, waktu menggunakan Chattermail di Treo, aku sempat mengalami masalah untuk berkirim attachment ini. Agak sulit kalau mulai dengan membuat email baru lantas mencari berkas yang hendak dilampirkan. Trik yang biasa aku lakukan adalah mem-browse berkas yang hendak dikirim dulu, baru kemudian menekan perintah “send”, sehingga berkas otomatis terlampir. Yang merepotkan kalau harus membalas email orang (reply) dan hendak menambahkan attachment. Masalah ini kemudian terselesaikan saat menggunakan Snappermail.

Di Emoze, urusan attachment ini tidak bermasalah sama sekali. Mau membuat email baru dan melampirkan attachment atau langsung menuju file yang hendak dikirim baru memberi perintah “send” sama-sama lancar. Demikian pula dengan menekan “reply” dan menambahkan attachment, tidak ada masalah sama sekali.

Kalau pun ada ganjalan, aku merasa navigasi dalam Emoze, baik antar menu maupun dalam email terasa lambat dan tersendat-sendat. Namun, tampaknya ini menjadi gejala di E71 secara umum dan semakin menjadi di Emoze.

Yeah, akhirnya, Emoze menjadi sebuah solusi yang cukup baik untuk push email, terutama lebih ekonomis dibandingkan Blackberry.

Okay, sekian dulu. Lain waktu kita bahas aplikasi yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s