Anak Baru

Siang ini ada pesta di kantor. Dua kotak pizza sudah cukup membuat keriuhan. Ya, keriaan norak semacam ini tetap saja terjadi, meski aku yakin kita semua bisa membeli pizza sendiri. Tapi, kalau ada kesempatan mencomot pizza gratis, siapa yang mau diam saja?

Ceritanya ada dua orang karyawan di ruang ini yang baru diangkat. Dan, sebagaimana tradisi yang entah bermula kapan, mereka ditodong makan-makan. Maka, dipesanlah pizza-pizza itu.

Salah satu celetukan yang terdengar di tengah kenorakan pesta pizza adalah, “Semoga betah ya….” Ha ha ha, pasti berasal dari seorang yang sudah bangkotan. Ada nada sinis, apalagi di “celetuker” menambahkan, “Kami aja udah mulai bosan.”

Ah, aku kira di mana pun ketidakpuasan pasti terjadi. Bahkan, di tempat kerja yang katanya memiliki atmosfer paling kondusif pun hal itu bisa terjadi. Apalagi di perusahaan ini.

Perusahaan ini tidak bisa dibilang perusahaan kecil yang penuh kekurangan. Sebaliknya, untuk ukuran perusahaan media, perusahaan ini tergolong raksasa. Bayangkan, nyaris sepertiga dari omzet iklan media sejenis diraup perusahaan ini. Memang, ada bayang-bayang kelam persaingan dengan media elektronik. Namun, dalam waktu dekat, mestinya orang cukup optimis dengan nasib perusahaan ini.

Yang menjadi soal barangkali–seperti pernah dikatakan oleh Tuan CEO terhormat–banyak perusahaan tumbang bukan karena pesaing dari luar. Tapi, perusahaan itu tersandung oleh persoalan internal–oleh karena dirinya sendiri. Entah karena ia terlalu tambun sehingga menjadi limbung. Atau, dia lupa daratan sehingga tidak sadar bahwa semua musuh mengintai. Lalu, habislah dia.

Persoalan internal itu antara lain adalah ketidakpuasan karyawan, seperti terungkap dari celetukan seorang senior. Aku mahfum, sulit untuk menciptakan kondisi yang ideal bin sempurna. Yang bisa kita lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin untuk mencapainya, namun tetap membuka ruang untuk kesadaran bahwa kita mungkin melakukan kekeliruan. Dinamika perusahaan yang begitu cepat terkadang menuntut dikeluarkannya keputusan-keputusan yang kurang valid. Memang, seyogianya, hal itu segera dianulir atau diperbaiki pada kesempatan pertama. Namun, kerap kali hal itu tidak terjadi. Dalam jangka panjang, akhirnya kekeliruan itu terus bertumpuk dan menimbulkan ketidakpuasan. Aku kira, itulah yang terjadi dan dirasakan oleh si senior.

Apa yang mau aku katakan di sini? Bahwa kita dapat melihat persoalan dari perspektif berbeda. Bahwa perusahaan dan peraturan memiliki banyak bolong-bolong, biarlah itu menjadi PR-nya perusahaan. Tapi, dari sisi kita, memang selalu ada alasan untuk tetap setia.

Barangkali aku tidak mewakili pandangan dominan yang populer sekarang. Sama seperti para perintis atau senior perusahaan ini dalam berbagai kesempatan menceritakan kembali nostalgia kaum perintis bersusah-payah membangun perusahaan ini hingga sukses seperti sekarang. Aku kira, bagi angkatan muda yang tidak memiliki bayangan apa pun tentang kondisi tersebut, cerita itu dianggap angin lalu. Bahkan, mereka mungkin curiga ada agenda terselubung yang menyelip dari cerita tersebut. Agenda untuk membodohi dan meredam mereka untuk tidak menuntut terlalu banyak dari perusahaan.

Bukan zamannya lagi untuk setia-setiaan. Kesetiaan sekarang diukur dalam kerangka “take-and-give”. Gue memberi ini, gue dapat apa? Kalau tidak cocok, barangkali boleh berpikir-pikir untuk keluar. Nasibku tidak lagi tergantung pada perusahaan. Kalau tawaran tidak bagus, ya segera cabut.

Bagi orang-orang yang pintar dan berwawasan luas, tidak sulit untuk mencari pekerjaan baru. Bahkan, seperti yang aku alami sendiri ketika mewawancarai calon karyawan baru, umumnya mereka sudah memiliki pengalaman membuat atau minimal terlibat dalam usaha sendiri. Jadi, bekerja bukan lagi satu-satunya pilihan.

Menurut pengamatanku, keinginan untuk settled biasanya terjadi pada karyawan yang mulai berumur. Demikian pula, sejumlah calon karyawan yang mulai memasuki usia mapan, biasanya “mencari aman” dengan “berlindung” pada perusahaan besar. Padahal, yang kita butuhkan untuk bersaing adalah semangat berjuang, daya kreatif, dan pikiran-pikiran liar.

Di sisi lain, banyak pula karyawan yang tadinya memenuhi semua kriteria tersebut, belakangan melapuk. Semangatnya kendur, kreativitasnya melempem, dan pikirannya mau cari aman. Ketika terjadi hal-hal yang tidak sesuai harapan, mereka pun menjadi dead wood. Ah, aya-aya wae lah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s