Main Serobot

Potret lalu lintas Ibu Kota. Foto diambil tahun lalu di turunan fly over Simprug menuju Palmerah.

Berlalu lintas di Jakarta memang membutuhkan kesabaran ekstra tinggi. Bukan apa-apa, panas sedikit saja bisa berakibat mobil lecet-lecet karena diadu dengan mobil orang. Malah, sudah benar saja masih bisa sial.

Si Sparky orange dulu pernah mengalami bemper penyok gara-gara beradu dengan Kijang. Cerita ini terjadi pada 4 Mei 2004, saat si Sparky baru dibeli kira-kira tiga bulan. Selepas lampu merah Tomang, ada mobil Kijang yang nampaknya enggak sabaran pengen nyerobot. Entah mengapa, aku panas hati dan tidak mau memberi jalan. Bukannya mengalah, ia malah ngotot. Aku pun tidak kalah ngotot sampai akhirnya moncong kedua mobil berciuman. Sialnya, si Kijang kayaknya cuma beset-beset, sementara bemper si Sparky penyok di sebelah kiri. Menyebalkan sekali.

Lebih menjengkelkan lagi, ternyata mencari bemper si Sparky agak sulit. Aku sampai menulis surat pembaca di Kompas (dimuat di Kompas Senin, 28 Juni 2004).

Dengan si Marchie, bulan lalu lagi-lagi aku serempetan. Ceritanya baru masuk tol dalam kota menuju Semanggi dari pintu masuk depan Carrefour, Cawang. Suasana cukup padat sehingga aku terpaksa menempati jalur paling kiri. Eh, tiba-tiba di bahu jalan ada Xenia nyelonong. Menjelang fly over Pancoran, barangkali ada polisi yang mengawasi. Maka, mobil di bahu jalan buru-buru nyela ke jalur paling kiri. Jelas aku sewot, wong kita sudah ngantri bermacet-macet, eh mobil yang nyelonong di bahu jalan main nyela aja.

Si Marchie aku pantengin, biarpun dipepet habis sama Xenia yang tidak tahu diri. Eh, dianya ngotot. Aku tidak kalah ngotot, sampai akhirnya spion beradu spion. Aku benar-benar emosi sampai berpikiran kalo perlu serempetan bodi, ya silakan. Ntar bisa dilanjutkan dengan berkelahi fisik 😛 Ternyata, akhirnya si Xenia ngalah, karena barangkali takut juga kelihatan polisi yang patroli. Dia berhenti dan menunggu mobil berikutnya yang memberi jalan.

Barangkali di Jakarta inilah kita yang benar bisa menjadi salah. Entah sudah berapa kali, aku mengantri dengan sabar untuk membayar di gerbang tol. Sialnya, sering kali kita tidak tahu antrian mana yang “benar”. Setelah dekat, baru tahu ternyata ada dua antrian yang mengantri di satu loket. Kebetulan pula, antrian yang aku ikuti ternyata berada di tengah-tengah, antara dua antrian, sehingga terpaksa memilih nyela ke antrian di kiri atau ke kanan. Menyebalkan sekali.

Kalo cerita sedang ngantri tiba-tiba disela sih udah jadi cerita yang sangat basi. Kau bisa mengalami kejadian ini hampir setiap kali mengantri. Jadi ya sabar-sabar saja. Mending sibuk mendengarkan musik biar nggak pusing mikirin lalu-lintas.

Tulisan ini ditulis terkait dengan kenaikan (kembali) tarif tol pada 7 Oktober 2011 lalu. Selamat menikmati kenaikan harga di tengah lalu-lintas dalam dan luar tol yang tetap semrawut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s