Tentang Pembantu

Bagi pasangan muda seperti aku dan Icha, masalah pembantu bisa jadi sangat krusial. Dan, kalau ngobrol dengan teman-teman seusia, memang lah masalah asisten, pembokat, pembotek or whatever you name it ini sangat mengganggu. Kerap, kalau bertemu, yang ditanya adalah apakah punya pasokan pembantu.

Dibandingkan periode-periode terdahulu, posisi tawar pembantu zaman sekarang lebih kuat. Pasalnya, mereka kini punya lebih banyak pilihan. Bisa menjadi pelayan toko atau buruh pabrik. Setidak, profesi tersebut terkesan lebih bermartabat ketimbang pembantu. Lagi pula, mereka lebih bebas dan punya waktu luang ketimbang pembantu yang menetap di rumah–yang berarti harus siap melayani 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Padahal, penghasilan relatif sama.

Yang jelas, pembantu juga ingin bergaya. Kalau jadi pelayan toko seperti di ITC Mangga Dua, masih bisa mejeng antarsesama. Belum lagi bisa bekerja sembari mengutak-atik ponsel. Pakaiannya tentu bebas, nggak seperti pembantu. Pun kalau diberi seragam suster, pembantu tetap saja “kastanya” lebih rendah. Tentu, mereka juga tidak bisa bebas sesuka hati.

Sebelum Jeremy lahir, kami sudah punya perencanaan dalam mengelola rumah tangga dan urusan dengan pembantu ini. Tadinya, kami cukup menggunakan pembantu paruh waktu, yang hanya bertugas memasak, mencuci pakaian, dan membersihkan rumah. Toh, kami berdua bekerja dan sebagian besar waktu dihabiskan di luar rumah. Jadi, pembantu yang tinggal di rumah merupakan pemborosan. Namun, menjelang kelahiran Jeremy, kami sudah bersiap-siap, karena tidak mungkin hanya mengandalkan seorang pembantu paruh waktu.

Kami mempekerjakan seorang pembantu tua yang sudah berpengalaman. Ia bisa mengasuh bayi dan pintar memasak. Awalnya, semua sangat menyenangkan. Si bibi merawat Jeremy dengan baik dan memasakkan kita berbagai hidangan yang lezat. Belakangan masalah timbul karena si bibi mulai “sok tahu” dan menggurui. Barangkali karena ia jauh lebih tua, tapi perilakunya mulai mengganggu dan membuat tidak nyaman, sehingga akhirnya ia sendiri keluar setelah bertikai–justru dengan ibu mertua.

Berikutnya, kami mempekerjakan seorang anak gadis usia belasan. Ini pengalaman pertama ia bekerja sehingga hari-hari pertama Icha berusaha keras agar ia betah. Meski kami sudah berusaha bersikap sebaik mungkin, suatu kali Icha terpaksa marah juga ketika si mbak berbuat salah. Sayang, ia tidak terima dan minta keluar.

Aku lupa, kelihatannya kami masih sempat mempekerjakan satu atau dua orang lagi, tapi tetap tidak bertahan lama. Pusing dengan pembantu rekomendasi kenalan, kami mencoba mengambil pembantu–atau kali ini disebut “suster”, entah apa pun yang membedakannya, di samping gajinya yang lebih tinggi–dari yayasan. Konon, ada jaminan bahwa pasokan yayasan tidak semena-mena keluar dan kalau pun keluar kami akan mendapatkan gantinya.

Ternyata suster yang kami pekerjakan cukup berkenan. Hingga kini, ia tercatat sebagai yang bekerja paling lama, sekitar 1,5 tahun. Ia akhirnya juga keluar karena belakangan kami tahu bahwa Jeremy suka “ditindas”. Ia dipaksa menonton sinetron dan acara musik yang tidak disukai hanya gara-gara si suster pengen nonton itu. Yang parah, kebetulan kami menjemur handuk di lantai atas. Nah, si mbak suka menyuruh Jeremy untuk mengambil handuk sendiri kalau mau mandi. Meski Jeremy sudah bisa berjalan, tapi jelas kami khawatir karena bisa saja ia tersandung handuk yang ia bawa.

Masih ada beberapa mbak lagi hingga total kami mempekerjakan sekitar 10 pembantu, dari Jeremy lahir hingga kini berusia enam tahun.

Akhirnya, Icha mengambil keputusan untuk total menjadi ibu rumah tangga. Kami hanya menggunakan jasa pembantu paruh waktu. Meski banyak hal terpaksa dikerjakan sendiri, paling tidak kami tidak capek hati dan makan hati berhubungan dengan mbak yang tidak bisa diatur. Lagi pula, Jeremy lebih senang mamanya ada di rumah. Barangkali yang kurang senang cuma Icha, karena ia terpaksa ngendon di rumah. Oalah…

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s