First Trip Abroad with My Fam

e68ae-img-20130701-01372
Menginjakkan kaki di Singapura.

Sudah lama sekali aku tidak menulis. Menulis dalam arti karena benar-benar ingin menulis. Menulis sekarang sudah menjadi pekerjaan bagiku. Aku memang nyaris menulis setiap hari. Tapi, begitu rutin. Begitu automatis. Begitu mekanis. Nyaris tidak ada jiwanya.

Menulis–dalam situasi demikian–bukan lagi kegiatan yang menyenangkan. Menulis bukan lagi menjadi sanctuary, tempat aku “melarikan diri” dari kenyataan dan menyejukkan diri dalam oase kesegaran hati dan pikiran.

Dulu, oase itu ada dua. Menulis dan musik. Musik bisa mendengarkan atau memainkan musik. Tapi, kalau menulis, ya harus menulis. Aku begitu merasa meaningful kalau sudah menulis. Waktu sekian lama yang dihabiskan untuk menulis akan terasa berarti dan berbobot. Entah ke mana saja aku selama ini.

Ya sekarang aku coba untuk menulis lagi. Ini pengantar untuk tulisan ke Singapura.

Jadi, hampir setahun kemarin, aku akhirnya berhasil memboyong keluarga kecilku untuk jalan-jalan ke Singapura.

Bagi Icha, ini adalah pembuktian. Isteriku ini termasuk orang yang (tadinya) tidak mau menghabiskan duit untuk (sekadar) jalan-jalan. Baginya, menghabiskan uang di atas sepuluh jutaan dalam waktu beberapa hari untuk jalan-jalan di kampung orang, tidak masuk akal. Sampai akhirnya aku berhasil “meracuni” dia dengan iming-iming tiket murah. Ya, dipaksain dulu beli tiket, habis itu kan rugi kalau tidak dipakai.

Sebenarnya, kepergian kami tahun kemarin ke Singapura seharusnya bukan untuk yang pertama kalinya. Sebelumnya, November 2009 kami sudah booking tiket dengan harga super duper murah, nggak sampai sejuta untuk bertiga PP ke Singapura. Rencananya kami berangkat hampir setahun kemudian, yaitu September 2010. Tapi, apa lacur? Aku keterima di program MDP dan karena tidak boleh cuti, ya bubar jalanlah rencana ke Singapura.

Dulu, kami memetik pelajaran bahwa jangan terlalu lama memesan tiket, karena kita tidak tahu bakal ada kejadian apa saja dalam rentang setahun itu. Ya memang, tapi untuk mendapatkan tiket dengan harga semurah itu kita juga harus berjudi.

Untuk kepergian awal Juli tahun lalu, kita booking tiket kayaknya sekitar Januari atau Februari. Tidak naik AirAsia, karena dihitung-hitung masih lebih murah naik Lion, walau selisihnya tidak banyak.

Oya, tahun kemarin kita sudah merencanakannya sejak awal tahun dan sudah sempat cerita juga antara lain kepada Mama Pekayon (Bp Erick). Dan, dia juga antusias agar anaknya bisa jalan-jalan keluar negeri, sekaligus sebagai hadiah masuk SMP kalau tidak salah. Belakangan, menjelang hari H, Diana yang baru saja kembali dari Meksiko, ikutan. Jadi, rombongan kita ke Singapura tahun lalu ada 5 orang, walau Diana naik pesawat dan menginap di tempat terpisah.

Day I

Pesawat kita berangkat pukul 7 pagi. Jadi, kami sudah bersiap-siap sejak pukul 2. Malam sebelumnya, Erick diantar ke rumah. Ternyata bawaannya cukup banyak, sebuah koper besar. Sementara kita bertiga cuma bawa koper sedang dan travel yang bisa masuk kabin. Selain itu, aku masih membawa daypack Samsonite yang biasa aku pakai ke kantor. Ini untuk dibawa jalan rencananya.

Kita berangkat dari rumah pukul 3 subuh dan sampai di bandara tidak sampai pukul 4. Ternyata, loket check-in Lion Air baru buka menjelang pukul 5. Dasar dodol memang. Kelamaan nunggunya.

Semua sudah dipersiapkan dengan baik, termasuk duit, sudah ditukar di ITC Kuningan sebelumnya, jadi kita sudah santai saja menunggu keberangkatan.

Aku agak lupa, tapi kayaknya pesawatnya tidak tepat-tepat waktu amat. Kita sampai di Singapura pukul 10 dan sudah janjian dengan Ika Sibero beserta anak-anak.

Icha dan Jeremy sangat excited begitu menginjakkan kaki si Negeri Singapura. “Akhirnya ke luar negeri juga,” ujar Icha lega. Seakan-akan semua cemoohan yang selama ini membebani terlepas. Kami dengan noraknya berfoto dulu di bawah sign Terminal 1 dan mencoba toilet serta tap water yang bisa langsung diminum. Maaf, dasar orang kampung, hahaha!

Oya, Icha dan Jeremy sudah googling banyak hal tentang Singapura, jadi tahu bahwa tap water bisa diminum. Yang ini aku malah tidak tahu.

Urusan di imigrasi lancar saja, kami langsung menuju Hotel Fragrance Selegie, dekat kawasan Bugis. Karena belum bisa check ini, kami urus administrasi hotel saja, menitipkan tas, dan langsung cabut menjumpai Ika. Oya, sempat tanya-tanya kepada petugas travel di hotel, ternyata ke Bugis tidak perlu naik kendaraan–karena memang lokasinya tanggung. Kami bisa jalan kaki menembus kompleks apartemen, melewati kampus La Salle College, akhirnya nyampe di Bugis Junction.

Ketemu juga dengan impalku yang tinggal di Batam ini. Singapura bagi dia barangkali kayak Bogor bagi orang Jakarta. Dia dan anak-anaknya begitu fasih dengan banyak hal di Singapura. Kami ditraktir makan sop ikan. Dari situ, kita jalan ke Orchard. Kita belajar untuk membeli tiket MRT. Kalau tadinya aku baca soal pass atau tiket langganan, menurut Ika dan Ariel lebih baik beli one way trip aja alias ketengan. Dan ternyata memang lebih baik begitu, karena toh kami bukan hendak keliling-keliling.

Di Orchard, kita mampir ke Kinokuniya di Ion Orchard. Tadinya mau cari buku murah di Bras Basah. Tapi, tempatnya tidak recommended menurut Ika, karena–mungkin–kayak bursa buku di Senen atau Palasari. Ya okelah, mutar-mutar Orchard, akhirnya kami berpisah dengan Ika. Dia dan anak-anak balik ke Batam sorenya, kami kembali ke hotel. Sempat beli bekal roti dulu di Bugis Junction dan air minum di 7 Eleven, and you know what? Jauh-jauh ke Singapura ternyata yang dibeli Breadtalk. Tapi, Icha membela diri, yang dibeli itu tidak ada di Jakarta. Okelah…

Sore hari pertama, agenda kita tidak ke mana-mana. Kebetulan hotel yang kita tinggali punya kolam renang. Tapi, untuk hari pertama ini kita sengaja “menyimpan energi” dulu karena besok akan menjadi hari yang melelahkan. Jadi, kita istirahat saja. Maghrib, kita makan di daerah Bugis. Cukup jalan kaki dari hotel. Diana baru tiba malam itu, tapi dia langsung menuju tempat menginap di kawasan Geylang. So, that’s the end of the first day.

Day II

So, this is the big day. Agenda utama kita ke Singapura adalah ke Universal Studios. Kita sudah beli tiket jauh-jauh hari, waktu Kompas Travel Mart sekitar dua atau tiga bulan sebelumnya.

Pagi-pagi benar kita sudah bangun dan sekitar jam 7 jalan ke Vivo City. Kali ini kita sudah lebih pede naik MRT. Kalau kemarin si Ariel bilang untuk ke Vivo City dari Bugis, transit di Dhoby Gaut, aku yakin lebih dekat dari Little India. Ternyata dugaanku benar. Stasiun Little India paling cuma 10 menit dari hotel kami.

Kalau dari Little India, MRT-nya langsung, tidak perlu ganti. Vivo City ada di ujung, atau dikenal sebagai Harbour Front. Aku lupa nama line-nya, pokoknya liat aja di papan petunjuk di stasiun MRT hehehe.

Kami sarapan di Mcd segera notice bahwa semua pelayan di outlet Mcd dan Seven Eleven yang kami lihat adalah warga keturunan India. Tidak lama, Diana pun muncul. Dia mau sarapan dulu, padahal Jeremy sudah tidak sabar lagi.

Akhirnya, keinginan untuk mejeng di bola dunia khas Universal Studios pun tercapai. Icha dan Jeremy begitu antusias, karena banyak hal mereka sudah googling dan youtubing. Begitu masuk USS, sempat agak berdebat mau ke mana dulu. Kalau menurut blog yang aku baca, mending ke kanan, ke arah Science City untuk menjajal wahana-wahana keren seperti Transformer dll. Soalnya ini wahana-wahana yang paling diminati dan bisa panjang antreannya. Tapi berhubung ini perjalanan dengan anak kecil yo wis kita belok kiri, ke arah istana Shrek.

Cuaca ternyata kurang bersahabat. Setelah menjajal wahana pertama, Madagascar: A Crate Adventure, kapal-kapalan buat anak kecil, hujan turun. Kita jadi bingung mau ke mana. Kita lalu mencoba peruntungan dengan menikmati film 4D Shrek. Lumayan lah, tapi sayangnya kursi yang aku duduki rusak, jadi tidak bergerak-gerak. Cuma kena semprot air doang. Hiks.

Dari situ, kita menuju The Lost World, arenanya dinosaurus. Di sini lagi-lagi kita berhadapan dengan hujan. Itu pula sebabnya kita membeli ponco sekalian menjajal Jurrasic Park Rapids Adventure. Sempat mau coba Canopy Flyer, tapi ditunda karena cuaca kurang baik. Takut disambar halilintar kali. Kita juga sempat terpaksa berteduh karena hujan lebat. Selain itu, tentu foto-foto tidak dilupakan.

Habis beberapa kali hujan di The Lost World, tampaknya sudah lewat tengah hari. Perut pun keroncongan. Jadi, kita mencari tempat makan dulu. Pilihan jatuh ke Mel’s Drive, restoran Amerika tahun 1960-an. Jangan tanya harganya, makan di USS sudah pasti mahal punya. Total bertiga makan burger, kita menghabiskan 41,4 dollar Singapura–hampir Rp 400 ribuan.

Sehabis itu, kayaknya wahana-wahana yang tersisa tinggal yang ekstrim punya. Enggak ada lagi yang bisa dinaiki Jeremy. Aku, Diana, dan Erick menjajal Revenge of the Hunt-nya The Mummy di area Ancient Egypt. Habis itu, aku menjajal Battlestar Galactica di Sci-Fi City. Roller coaster ini cukup mendebarkanlah, jadi tidak ada yang punya nyali untuk mencobanya, cuma aku sendiri.

Tampaknya petualangan kita menjajal wahana-wahana di USS kelar sudah. Berikutnya, kita menanti pertunjukan Water World yang penuh aksi siram-siram dan special effect ledakan. Lumayanlah, pertunjukan yang keren, walau kita nggak pernah menonton filmnya.

Habis itu, tinggal foto-foto dan lihat-lihat merchandise. Kakiku sudah pegal sehingga memilih untuk duduk-duduk saja.

Yeah, after all, ini taman bermain, tempat untuk bersenang-senang dan memuaskan fantasi masa kecil atau merasakan aliran adrenalin. Mestinya ini menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi Jeremy, walau banyak wahana yang ia takut naiki atau memang belum boleh karena tingginya belum mencukupi. “Prestasi” terbaiknya adalah menaiki canopy flyer. Tapi, itu juga menurutku sudah hebat.

Akhirnya, kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada USS. Sebelum pulang, kita makan malam dulu di Vivo City, di restoran di basement, namanya Sheng Kee. Overall, that’s the end of day II.

Day III

Kalau kemarin berseru-seru di taman bermain, hari ini saatnya menyimak wajah Singapura. Karena kemarin sudah capek, hari ini kita tidak mau terlalu diforsir. Bangun santai, masih sempat berenang dulu sebelum keluar untuk sarapan. Diana nyamperin kita di hotel.

Kita sarapan di Bugis. Jeremy belajar untuk membeli minuman sendiri–dengan bahasa Inggris tentunya.

Kelar sarapan, tujuan pertama tentu saja lokasi “wajib kunjung” Merlion Park. Kita naik MRT dari Bugis, keluar di Raffles City. Ini pake acara nyasar dulu, setelah aku dengan sotoynya mengira pintu masuk MRT ada di dalam mal. Padahal, kemarin itu, itu adalah pintu keluar dari Stasiun Bugis, sedang pintu masuknya ada di pinggir jalan. Di Raffles City juga sami mawon. Kita nggak tahu exit yang mana untuk menuju Merlion Park. Setelah tanya-tanya (herannya ada yang tidak tahu jalan menuju Merlion Park), akhirnya Diana ingat setelah melihat Hotel Fulllerton.

Inilah landmark Singapura, patung singa berbadan ikan yang memuntahkan air. Merlion Park cukup penuh dengan turis meski sedang terik siang bolong. Kita pun berfoto-foto dengan bermacam gaya, dari yang konservatif hingga yang paling norak. Panas menyengat dan tidak ada yang dilakukan membuat Jeremy mulai ngadat. Kami pun cabut dari Merlion.

Tadinya mau nyari toko buku Bras Basah yang menurut peta tidak terlalu jauh dari Merlion. Tapi, karena sudah tengah hari dan perut pun keroncongan, tujuan pun dialihkan ke Orchard untuk makan siang. Di Orchard pun lagi-lagi diawali dengan sesi foto-foto norak sebelum akhirnya makan di basement Lucky Plaza … sooooo predictable, hehehe.

Di sini kita makan es potong Orchard yang masyhur itu, beli titipan Ipad mini di Takashimaya, dan beli souvenir di basement Lucky Plaza. Pembelinya sudah fasih berbahasa Indonesia. Yah, no wonder lah. Si Erick ternyata belanja cukup banyak sehingga harus menukarkan lagi dollar AS-nya. Jeremy yang sudah ngadat harus didiamkan dengan cara mengajaknya mampir ke Toys R Us. Tapi, lihat-lihat doang, Nggak beli. Nggak ada budget. Hehehe.

Sekitar pukul 14.00, kita jalan lagi menuju tempat belanja berikutnya: Little India. Tepatnya Mustafa Center. Setelah kalap belanja oleh-oleh, kita pun berniat balik ke hotel karena sudah capai. Diana punya ide gila untuk jalan kaki, mengingat dari Farrer Park ke Little India cuma terpisah satu stasiun. Di peta terlihat tidak jauh, tapi kenyataannya lumayan bikin kaki gempor. Sampai di Little India, Icha dan Diana melipir mau lihat-lihat emas di Teka Center. Aku, Erick, dan Jeremy langsung balik ke hotel. Kita mendingan berenang saja.

Hari yang gempor ini ditutup dengan makan malam di restoran New Hawa, tak jauh dari hotel. Diana masih bertahan sampai jam 9-an, dia langsung cuss ke Changi karena pesawatnya take off subuh keesokan harinya. Mending nunggu di bandara katanya, lumayan menghemat biaya hotel semalam.

That’s the end of day III.

Day IV

Tak banyak yang dilakukan hari ini. Pagi-pagi aku dan Jeremy kembali berenang, lalu kita sarapan di tempat yang sama dengan kemarin, di Bugis. Kita masih sempat menjajal es potong yang mirip dengan yang di Orchard, sebelum kembali ke hotel untuk ngepak barang.

Pukul 9.00 kita check out dan cabut ke Changi naik taksi. Pesawat kita mestinya pukul 14.00, tapi delay hampir sejam. Tapi benar-benar tidak terasa. Kita cuma sempat mampir di Kinokuniya, makan di Subway terus nunggu di ruang tunggu. Pukul 14.50, pesawat Lion yang membawa kita kembali ke Tanah Air take off dari Changi. So long Singapore. See u next time.

Advertisements

2 thoughts on “First Trip Abroad with My Fam

  1. Dear Mahansa Sinulingga

    Menarik sekali ceritanya. Saya sendiri sudah sangat sering melihat teman teman kantor pulang pergi ke Luar Negeri (Eropa). China, Luxeumburg, Paris ,Belanda, dan Jerman. Saya sendiri jangankan ke Eropa, yang terdekat aja di Singapura aja blum pernah. Hiehiehiehiehiehe. Norak bangedsss.

    Berlibur bersama Keluarga juga merupakan salah satu plan saya tahun depan. Mungkin tidak ke Singapura, tetapi ke Bali yang bagi saya sudah seperti kampung Halaman saya yang ketiga setelah Jakarta, dan Jogjakarta.

    Well done mas. Tulisannya sangat memberikan inspirasi bagi kamisekeluarga.

    Asep Haryono
    Blogger Pontianak
    http://www.simplyasep.com

  2. @pak asep, terima kasih sudah mampir. salam kenal. iya pak, kalau mau travelling emang harus diniatin. syukurlah kalau tulisannya bermanfaat. salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s