Ikkudo Ichi, Pilih Sendiri Ramen Kesukaanmu

Ikkudo Ichi
Ramen Ikkudo Ichi.

Aku memang bukan pakar kuliner, tapi yang jelas aku penyuka makanan. Lingkar perut yang terus melebar dapat menjadi petunjuk tak terbantahkan. Biar topik blog ini lebih bervariasi, kali ini aku mau coba mengulas soal kuliner. Namun, aku peringatkan bahwa ini bukan review dari seorang profesional, tapi lebih merupakan berbagi pengalaman dari seorang pencinta makanan yang minim pengetahuan kuliner. Kalau kamu punya pendapat berbeda atau mungkin membaca ada informasi yang keliru, silakan memberi komentar di bagian bawah tulisan.

Jadi ceritanya kita sekeluarga lagi senang segala hal yang berbau Jepang. Beberapa waktu silam, aku dan Icha mampir ke Kota Kasablanka. Karena cuma berdua, kita bisa lebih bebas memilih makanan. Maklum, kalau ada Jeremy, biasanya pasti makan fast food atau mi-mian. Nah, kemarin Icha pengen makan camilan di Sumoboo, sedangkan aku sebenarnya pengen menjajal soba. Kebetulan di lantai basement Kota Kasabalanka, Sumoboo bersebelahan dengan sebuah restoran Jepang bernama Ikkudo Ichi. Yuk mari, siapa tahu ada soba.

Sekadar pengetahuan—ini juga baru cari tahu—orang Jepang punya banyak hidangan mi. Di antaranya ramen, udon, soba, somen, hiyamugi, dan shirataki. Dari bentuknya, udon merupakan mi yang paling tebal dibandingkan jenis-jenis mi lainnya. Berikutnya, soba, relatif tebal, tetapi tidak setebal udon. Kira-kira seperti spagetilah. Soba sering juga disebut mi hitam karena terbuat dari gandum hitam (buckwheat). Sebaliknya, somen merupakan mi yang paling tipis. Nah, di antara jenis-jenis mi tersebut, ramen barangkali termasuk familier karena mirip-mirip dengan mi kuning yang lazim ditemukan di Tanah Air.

Sayang sekali, ternyata di Ikkudo Ichi tidak ada soba. Di sini cuma ada ramen. Pilih punya pilih, aku memutuskan untuk menjajal ramen ayam kari (tori curry). Ada opsi combo, yaitu ramen ditambah 2 potong gyoza dan mini chashu don dengan tambahan Rp 18.000. Mari kita coba.

Yang menarik dari ramen Ikkudo Ichi, kamu dapat menentukan sendiri ramen yang ingin disantap. Kamu dapat memilih, apakah minya mau yang kecil-kecil atau yang keriting. Mau yang lembut, keras, atau normal. Citarasanya mau yang weak, normal, atau strong. Ada juga pilihan “richness”, mau yang light, normal, atau heavy. Rada kurang jelas juga yang dimaksud “richness”, apakah maksudnya kekentalan sup atau kekayaan rasa mi. Kebetulan untuk menu yang aku pilih by default menggunakan mi keriting. Ya sudah, paslah.

Ramen termasuk hidangan khas Jepang yang sangat populer. Hidangan mi ini disajikan dengan kaldu, irisan daging, rumput laut, dan bawang. Hampir setiap kawasan di Jepang memiliki variasi ramen dengan kekhasan masing-masing, mulai dari tonkotsu ramen dari Kyushu hingga miso ramen dari Hokkaido.

Kalau pernah nonton di Shiki Oriori, kaldu atau sup menjadi penentu enak-tidaknya suatu ramen. Pembuat ramen di Jepang bisa bereksperimen bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan ramuan kaldu yang paling tepat. Biasanya mereka akan menggunakan campuran kaldu babi dan ayam yang dikombinasikan dengan bahan-bahan lain.

Buat yang muslim, jangan khawatir, ramen di Ikkudo Ichi halal karena menggunakan kaldu ayam. Hampir semua pilihan biasanya disajikan dengan irisan atau chashu ayam, potongan jamur, bawang, dan telur rebus setengah matang. Terdapat sejumlah pilihan sesuai selera, antara lain ramen ayam spesial (tori signature), ramen ayam miso (tori miso), ramen ayam kari (tori curry), atau ramen ayam miso pedas (tori kara miso). Anda juga dapat menambahkan topping antara lain telur rebus (ni tamago), jagung, tauge (moyashi), saus kari (kara), mentega, atau chashu ayam (tori chashu). Jika daya muat perut tak seberapa, Anda juga dapat memilih porsi yang kecil—karena porsi normalnya cukup besar untuk ukuran orang Indonesia pada umumnya. Untuk porsi normal, harganya rata-rata Rp 48.000, sedangkan yang kecil Rp 38.000.

Selain itu, ada juga tsukemen (ramen celup). Ini mungkin maksudnya kayak yamin gitu, di mana mi disajikan terpisah dari supnya. Untuk tambahannya, ada gyoza, gorengan dengan bermacam pilihan isian. Ada juga pilihan ala carte, antara lain chashu ayam bakar (tori chashu aburi), mabo (tahu jepang saus pedas), dan gyu chashu aburi.

Seperti aku sebut di atas, karena memilih combo, aku mendapatkan tambahan dua potong gyoza isi ayam. Sementara itu, Icha memesan gyoza isi udang. Ini dimakan dengan saus. Sayangnya kurang jelas bahannya apa, tapi kayaknya bukan wasabi. Tapi, aromanya sangat menyengat. Kaget juga waktu pertama kali menggigit gyoza yang dicocol ke saus. Seperti ada yang menusuk ke hidung. Jadi, siap-siap saja. Rasanya lebih berterima kalau dimakan sebagai lauk nasi.

Overall, aku harus bilang bahwa menu pilihanku tidak terlalu istimewa. Tidak buruk sebenarnya, tapi mungkin aku saja yang punya ekspektasi agak berlebihan. Apakah mungkin citarasa kaldunya sudah “disesuaikan” sehingga lebih pas dengan lidah orang Indonesia, yang jelas menurutku sangat biasa. Malah—sorry to say—mirip dengan produk salah satu mi instan lokal. Bedanya, ini ketahuan bahwa minya homemade, karena lebih kenyal dan padat. Sementara itu, chashu dan telor rebus setengah matangnya sangat oke. It’s melting in your mouth. Menurutku, inilah the best part dari menu ini. Sluuurrp! Sebagai penggemar telor, aku bahkan sengaja menunda untuk melahapnya paling akhir. Save the best for last, katanya. Hahaha. Pengalaman bersantap secara keseluruhan tidak terlalu mengesankan. Barangkali ini pertanda bahwa aku harus menjajal menu-menu lainnya 🙂

Untuk suasana, barangkali ini bukan tempat yang tepat untuk duduk berlama-lama. Selain karena tempat duduknya bangku kayu tanpa sandaran, jarak antarmeja juga relatif rapat. Jadi, buat kaum perempuan, dijamin nggak bisa bergosip heboh tanpa mengganggu tetangga. Apalagi, restoran ini terletak di tengah-tengah orang lalu-lalang.

Satu hal lagi—ini tambahan dari Icha—pelayanannya agak lelet. Soalnya, ketika aku sudah mulai menyantap ramenku, gyoza pesanan Icha belum datang-datang. Yeah, mungkin karena pesanan lagi banyak sedangkan pelayannya terbatas. Tapi, menurutku masih dalam batas toleransilah.

Oke, jadi kalau ingin menyantap casual ramen (?), Ikkudo Ichi ini barangkali bisa dipilih. Tapi, jangan berharap terlalu banyak. Hal lain lagi, jangan datang pada waktu jam makan, karena mejanya tidak terlalu banyak, kamu bisa tidak kebagian tempat. So, enjooooy…

Advertisements

3 thoughts on “Ikkudo Ichi, Pilih Sendiri Ramen Kesukaanmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s