“Backpacking” di Negara Orang

c4b61-img-20130703-01576

Dulu, yang namanya traveling alias jalan-jalan itu hobi mahal. Kalau cuma piknik ke kebun binatang atau pelesir ke kampung tetangga ya nggak soal. Kalau sampai bertandang ke negeri orang, nah itu baru perkara. Terima kasih pada maskapai penerbangan berbiaya murah, berkat harga tiket terjangkau kini jalan-jalan ke luar negeri bukan monopoli mereka yang berkantung tebal saja.

Meski demikian, bukan berarti kami—saya dan keluarga—bisa jalan-jalan sesuka hati. Semurah-murahnya tiket pesawat ke luar negeri, untuk jalan bertiga tetap saja terhitung tinggi biayanya. Menabung dari jauh-jauh hari sudah pasti. Selain itu, dibutuhkan dibutuhkan perencanaan yang matang dan detail sehingga tidak ada skenario yang di luar rencana. Dengan anggarannya terbatas, harus pintar-pintar mengelola dana.

Berikut adalah sejumlah hal yang mesti dipertimbangkan saat berlibur bersama keluarga dengan dana terbatas. Meski sudah masuk kategori “backpacker”, tapi kami bukan termasuk kategori backpacker “profesional” yang sudah benar-benar andal. Barangkali saja sharing ini bermanfaat.

Menyusun rencana perjalanan

Liburan ke Jepang
Ke mana-mana memanggul backpack, termasuk saat pose di Kaminarimon.

Ini harus kudu wajib dilakukan. Tidak ada namanya suka-suka kalau anggaran terbatas. Tidak boleh juga bersikap “kumaha engke wae” (gimana nanti saja) kalau tidak mau kacau nantinya. Semuanya harus serba terencana, baik rute yang akan dilalui hingga perkiraan biayanya. Semakin detail, semakin bagus. Kalau bisa, bikin rencana hingga jam dan menit.

Usahakan pula untuk membuat rencana cadangan kalau sekiranya rencana semula tidak bisa dijalankan. Intinya, usahakan agar semua hal sudah diantisipasi. Perubahaan di luar rencana biasanya berarti dana ekstra atau tak terduga. Dengan budget terbatas, ini bisa berarti bencana. So, pintar-pintarlah menyusun rencana.

Beruntungnya, kini banyak terdapat komunitas atau orang-orang yang bisa ditanyai. Jangan malu untuk bertanya, bahkan untuk hal-hal yang kita pikir sepele. Namanya berkunjung ke negeri orang, ada saja hal-hal yang mungkin tidak kita ketahui. Lebih baik tahu lebih awal sehingga bisa diantisipasi.

Pertimbangkan pula jadwal sekolah anak. Ini bagi kami prinsip. Kami tidak mau mengajarkan anak untuk anggap enteng jadwal sekolah. Mungkin ada orang tua yang dengan gampangnya meliburkan anak dari sekolah hanya karena pada waktu itulah dapat tiket murah. Kalau kami, mau tidak mau, perjalanan dilakukan pada waktu libur sekolah. Repotnya, sering kali itu berarti sudah masuk periode peak season. Tiket murah yang tersedia lebih terbatas lagi dan kami harus mengira-ngira agar jadwal perjalanan tidak bentrok dengan masa ujian.

Hal lain yang patut disayangkan, periode libur sekolah terkadang tidak sesuai dengan event atau musim tertentu di negara yang dituju. Sebut saja, mekarnya sakura berlangsung dari Maret hingga Mei. Apa boleh buat, terpaksa dilupakan karena pada periode itu anak justru lagi sibuknya-sibuknya menghadapi ujian tengah semester dan ujian akhir. Mungkin nanti kalau sudah kuliah (walah…).

Tiket

Pengeluaran traveling yang besar biasanya tiket dan penginapan. Untuk mendapatkan penawaran terbaik, rajin-rajinlah memantau berbagai penawaran.

Untuk tiket pesawat, maskapai penerbangan seperti AirAsia biasanya memberikan penawaran menarik pada waktu-waktu tertentu. Patut diingat, penawaran ini terbatas, baik jumlah yang disediakan maupun waktu pemesanan, sehingga jangan sampai terlewat. Menjadi member sehingga mendapatkan newsletter menjadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi pertama kali.

Sementara itu, maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia mengadakan event berkala GATF yang menghadirkan promo tiket murah. Ada juga pameran-pameran wisata lain, tapi biasanya dua maskapai itu yang paling diburu.

Berhubung tiket pesawat pilihannya terbatas, biasanya ini menjadi prioritas utama dalam perencanaan. Hal-hal lainnya akan mengikuti ketersediaan tiket.

Memang pada saat periode pemesanan, kita pengen buru-buru memesan karena takut kehabisan. Namun, jangan sampai salah. Pengalaman kami waktu mau ke Jepang, ada dua kota yang hendak dikunjungi, yaitu Osaka dan Tokyo. Sayangnya, kami tidak mencari tahu terlebih dahulu transportasi dalam negeri Jepang. Karena khawatir tiket habis, kami langsung saja memesan tiket Jakarta-Osaka via Kualalumpur PP. Ternyata, belakangan kami ketahui bahwa jarak Osaka-Tokyo lumayan jauh, sekitar 500 kilometer atau lebih jauh sedikit dari Jakarta-Yogyakarta dan biaya untuk bolak-balik tidak murah.

Jarak segitu dapat ditempuh Shinkansen Nozomi (yang paling cepat) dalam waktu sekitar 3 jam. Tapi, biayanya cukup besar, hampir kira-kira Rp 1,5 juta per orang. Kalau naik bis malam memang harganya bisa sepertiga Shinkansen, tetapi perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam sehingga cukup melelahkan. Kalau saja kami sudah meriset hal ini, barangkali pilihannya masuk ke Jepang di Osaka, lalu keluarnya dari Tokyo. Selisih biayanya mungkin tidak terlalu jauh, tapi yang jelas tidak secapek harus bolak-balik Tokyo-Osaka.

Penginapan

Untuk penginapan, sekarang banyak sekali pilihan. Mulai dari Airbnb hingga Agoda atau Booking.com. Kalau kami sudah beberapa kali mengandalkan Booking.com. Enaknya situs ini karena bayarnya belakangan, pada waktu check out. Jadi, pada saat memesan, belum ada transaksi. Kita cukup memesan dan segera dapat konfirmasinya. Pemesanan ini biasanya masih bisa dibatalkan tanpa biaya apa pun hingga tiga hari sebelum tanggal menginap. Namun, hati-hati, ada penawaran dengan harga sangat khusus (bisa sampai 60 persen dari published rate) tapi tidak bisa dibatalkan. Ya wajarlah, mempertimbangkan harga yang diberikan.

Biasanya, silih berganti ada penawaran dari hotel-hotel yang berbeda. Hari ini hotel A kasih penawaran menarik. Minggu depannya, ternyata hotel B kasih penawaran tak kalah menggiurkan. Jadi, jangan buru-buru memutuskan. Sebagai gambaran, waktu mencari hotel di Tokyo, kami memesan sampai 5 hotel berbeda sebelum akhirnya memutuskan hotel yang akan diinapi kira-kira seminggu sebelum berangkat. Baru saat itu pesanan di hotel-hotel lainnya dibatalkan.

Pada akhirnya, hotel yang kami pilih bukan yang paling murah, tapi yang memberikan penawaran terbaik dengan harga yang masih masuk dalam anggaran. Waktu itu, kami memilih hotel Grand Pacific Le Daiba di Odaiba. Ini hotel bintang 4 yang terletak di kawasan resor pulau buatan di Teluk Tokyo. Dibandingkan hotel-hotel lain yang sempat kami pesan, hotel ini sebenarnya harganya lebih tinggi. Tapi, kami mendapatkan potongan harga 60 persen dari published rate. Jadi untuk tarif Rp 5 jutaan, kami hanya membayar Rp 2 jutaan. Dengan harga segitu, kami dapat bermalam di hotel yang mewah—bahkan untuk ukuran Tokyo—dengan lingkungan yang menyenangkan. Dengan berjalan kaki di malam hari, kami dapat menikmati pemandangan Rainbow Bridge, berfoto dengan tiruan patung Liberty, bersantai di kamar yang lega dengan 3 tempat tidur, dan berendam di bathtub dengan air panas. Belum lagi, karena besoknya berencana langsung ke Tokyo Disneyland, kami dapat naik shuttle bus yang disediakan gratis untuk tamu hotel. Jadi, overall, dengan harga yang kami bayar, cukup bernilailah.

Barang bawaan

Kalau berniat jalan-jalan irit, barang bawaan juga harus irit. Isteri saya punya kebiasaan untuk membawa berbagai macam barang yang akhirnya setelah kembali, hampir separuhnya tidak dipergunakan. Jadi, mengapa harus capek-capek dibawa, menambah beban bagasi?

Pertimbangkan jatah bagasi di pesawat, jangan sampai lebih kalau tidak mau dikenakan biaya kelebihan bagasi. Untuk AirAsia, lebih baik Anda beli jatah bagasi terlebih dahulu saat memesan tiket ketimbang membeli di konter saat check in. Biayanya akan jauh lebih besar.

Pertimbangkan pula jika nanti Anda akan kian kemari, padahal belum check in di hotel. Anda terpaksa harus membawa-bawa backpack berukuran besar. Memang, di Jepang, sejumlah stasiun dan tempat wisata seperti Tokyo Disneyland, menyediakan locker. Tapi, jumlahnya terbatas sehingga akan cilaka kalau Anda tidak kebagian. Aturlah agar Anda bisa menitipkan barang bawaan, entah itu di locker atau di hotel tempat menginap. Bawalah backpack ukuran lebih kecil untuk dibawa bepergian.

Makanan-minuman

Berhubung kami traveling dengan anak kecil di bawah 10 tahun, soal makanan bisa jadi masalah. Yang paling gampang tentu saja makan di fast food seperti McDonald’s atau Burger King. Pilihan murah meriah lainnya adalah makanan cepat saji yang dijajakan di convenience store seperti Seven Eleven. Selain mi instan seduh, biasanya terdapat pasta-pastaan. Atau, kalau di Jepang, onigiri. Pastikan si kecil dapat asupan karbohidrat yang cukup untuk sumber energi selama berjalan kian-kemari. Isteri saya juga selalu menyediakan camilan di backpack, dan tentu saja air yang banyak. Ini penting agar tidak dehidrasi.

Demikian sharingnya, semoga bermanfaat. [*]

Video perjalanan kami dapat berikut ini: Japan Trip 2015

 

Advertisements

One thought on ““Backpacking” di Negara Orang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s