Repotnya Keluar-Masuk Antarnegara

snapshot_10
Tuas Checkpoint, pintu keluar dari Singapura menuju Malaysia.

Jumat (9/9) menjelang siang, kami sekeluarga sudah bersiap-siap untuk memulai petualangan ke Legoland Malaysia. Weekend dengan tambahan satu hari libur pada hari Senin (12/9) dirasa masih kurang, jadi Icha mengambil libur dan saya mencutikan diri. Sedang Jeremy, ya bolos… 🙂

Beruntung kita berangkat menjelang jumatan, lalu lintas Ibu Kota masih bersahabat. Bandara dapat dicapai dalam sekitar satu jam. Masih banyak waktu, jadi hal pertama yang dilakukan setiba di bandara yaitu makan siang.

Waktu ke Jepang naik AirAsia tempo hari, kita melakukan web check-in. Jadi, nyelonong aja sampai ke gate nggak masalah. Apalagi, kita tidak punya bagasi yang dilaporkan. Ternyata, waktu pulang dari Osaka, nggak bisa seperti itu. Meski dibawa ke kabin, koper hand carry tetap harus ditimbang. Dan, celakanya waktu itu timbangannya lebih, sehingga kita harus membayar lumayan mahal.

Berhubung belum pernah naik Jetstar, saya tidak tahu kebijakannya seperti apa. Ternyata memang harus lapor dulu di konter check in dan bawaan ditimbang. Batas maksimal 7 kg per orang masih sangat leluasa karena kita cuma bawa 2 koper hand carry plus 1 bagpack.

Saya sempat khawatir monopod alias tongsis tidak boleh masuk kabin. Pasalnya, ini monopod yang bisa dipakai untuk menopang kamera SLR, jadi lebih besar ketimbang tongsis ponsel biasa. Agar tidak terlalu menyolok, monopod ini saya masukkan ke dalam koper. Ternyata lolos-lolos aja tuh.

Masuk ke ruang tunggu gate, oleh petugas ditawarkan agar hand carry dimasukkan ke dalam bagasi. Katanya pesawat penuh, jadi khawatir bagasi di atas tempat duduk nggak muat. Karena gratis (hahaha, dasar ogah rugi), kita pun setuju. Jadi, masuk ke pesawat melenggang tanpa bawaan.

Pengalaman pertama terbang naik Jetstar ini kesannya menyenangkan. Selain gratis bagasi tadi, pesawatnya pun sangat tepat waktu. Mungkin karena maskapai penerbangan asing, anak perusahaan dari Qantas Australia. Pesawatnya kecil—sayang, saya tidak tahu tipe-tipe pesawat—dengan formasi sebaris 3-3. Benar kata petugas di gate, pesawat ini penuh. Mungkin orang-orang pada mau liburan ke Singapura.

Semua berjalan smooth. Tiba di Changi, imigrasi, dan ambil bagasi. Lancar jaya. Dari bandara, kita naik taksi ke Amaris Bugis. Proses check in di hotel yang masih jaringan Kompas Gramedia ini pun lancar, walau petugasnya rada jutek.

Kesan pertama atas Amaris Bugis, meski mungil, tapi terasa lebih nyaman ketimbang hotel Fragrance yang pernah kita tempati dulu. Mereka tampaknya aware kalau zaman sekarang traveler pasti memiliki banyak gadget. Colokan tersedia banyak, ada empat titik di dua tempat. Lagi pula, lubang colokannya bisa digunakan steker bulat ala colokan Indonesia. Mungkin tamunya banyak dari Indonesia.

Kritik buat Amaris Bugis barangkali menyangkut kebersihan. Kayaknya kamar mandinya sudah lama tidak digosok. Di beberapa sudut tampak mulai menghitam. Pada malam kedua kita menginap di sini, ada kesan sprei dan sarung bantalnya tidak diganti. Terlihat agak lusuh. Tapi semoga tidak ya. Overall sih pengalaman di sini oke-oke saja. Sesuai dengan hargalah.

snapshot_12
Lapor dulu sebelum berangkat naik WTS Coach di Singapore Flyer.

Malam pertama, kita tidak ke mana-mana. Cuma beli makan malam di Subway, langsung balik istirahat di hotel. Untuk keesokan harinya, sarapan sebenarnya disediakan oleh hotel. Cuma, karena kita harus berangkat pukul 8 dari Singapore Flyer, kita sudah pesan malam sebelumnya agar sarapan disediakan lebih awal. Sarapannya cuma roti, sereal, dan mi instan dalam cup. Tapi, lumayanlah untuk mengisi perut.

Ternyata, berangkat pukul 7 menuju Singapore Flyer itu kepagian. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 10 menit dari hotel. Jadi, kami terpaksa menunggu dulu. Sementara itu, cuaca memburuk. Angin kencang dan hujan deras. Terbayang kembali pengalaman di Disneyland Tokyo, di mana setengah hari habis untuk menunggu hujan reda. Wah, jangan sampai kejadian lagi deh.

Rupanya, bukan itu masalah yang mengganggu pada hari ini. Tak lama beranjak dari Singapore Flyer, hujan reda. Cuaca berangsur cerah dan belakangan malah terik. Tak sampai 1 jam, kita sudah tiba di Tuas Checkpoint, pintu keluar Singapura. Nah, masalahnya itu ada di sini.

Pagi hari di akhir pekan, tampaknya banyak orang Singapura mau main ke Malaysia. Antrean mau masuk ke kompleks Tuas Checkpoint mengular hingga beberapa ratus meter menjelang exit tol. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menempuh jarak yang tak seberapa itu.

Begitu turun dari bus, antrean di imigrasi keluar Singapura pun lumayan panjang. Butuh waktu setengah jam lebih hingga lewat konter imigrasi. Beruntung tak perlu membawa koper, jadi tak terlalu merepotkan. Jangan lupa menyiapkan potongan kartu imigrasi waktu sebelumnya masuk Singapura.

Menyeberangi Selat Johor yang memisahkan Singapura dan Malaysia tak sampai 10 menit. Kita langsung turun lagi untuk imigrasi masuk Malaysia. Di sini, semua bawaan harus dibawa turun. Tapi—nggak tahu apakah memang kebiasaannya begitu, atau karena ini satu bus sudah jelas cuma mau ke Legoland—tidak ada kartu imigrasi yang harus diisi. Kita cukup menyerahkan paspor untuk dicap tanda masuk. Setelah itu periksa bawaan. Jauh lebih cepatlah ketimbang keluar Singapura sebelumnya.

Fiuh, waktu menunjukkan pukul 11 lebih waktu tiba di Legoland di kawasan Nusajaya, Johor Baru. Artinya, seluruh proses dan perjalanan dari Singapore Flyer memakan waktu 3 jam lebih. Padahal, menurut banyak blog yang saya baca, paling dibutuhkan waktu antara 1,5 jam hingga 2 jam. Jadi, urusan keluar-masuk antarnegara ini harus jadi hal yang perlu dipertimbangkan saat merencanakan perjalanan.

Opsi langsung masuk Malaysia melalui bandara Senai di Johor Baru boleh dipertimbangkan kalau memang mau ke Legoland. Tapi, kalau tetap ingin ke Singapura, ya bagaimanapun proses ini harus dijalani. Mungkin timingnya dicari yang tepat, karena keesokan harinya waktu kembali ke Singapura, ternyata hanya memakan waktu kurang dari 2 jam. Itu pun karena jalan menuju Singapore Flyer agak padat. Mestinya bisa 1,5 jam saja. [bersambung]

snapshot_11
Finally, di kejauhan udah nampak tuh Legoland.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s