Bikin Time-lapse Pakai Ponsel

grow-73353_1280
Mekarnya bunga menjadi salah satu obyek time-lapse yang menarik. (Photo by Pixabay.com)

Kalau kamu sering menyimak video-video di Youtube, besar kemungkinan kamu pernah melihat video yang dibuat dengan time-lapse. Casey Neistat termasuk salah satu Youtuber yang memopulerkan time-lapse melalui video-videonya.

Time-lapse memang artistik. Hal yang biasa-biasa saja bisa terlihat menarik jika disajikan menggunakan time-lapse. Contohnya kerumunan orang lalu-lalang. Time-lapse juga dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan dengan cepat sebuah proses yang memakan waktu lama, misalnya pembangunan gedung.

Pada dasarnya, time-lapse merupakan teknik untuk mengambil gambar suatu obyek dengan interval waktu tertentu, misalnya per 2 detik. Lalu, gambar-gambar tersebut dijadikan video dan dimainkan pada kecepatan 30 frame per second (FPS). Hasilnya, apa yang semula tampak sangat lambat dan subtil akan bergerak sangat cepat dan menghadirkan kesan yang berbeda.

Bisa dibilang, time-lapse merupakan kebalikan dari slow-motion. Kalau slow-motion memperlambat obyek yang bergerak dengan cepat, time-lapse justru mempercepat obyek yang bergerak lambat.

Menurut Wikipedia, teknik ini mulai digunakan pada akhir abad ke-19. Pada 1910, F Percy Smith menggunakan teknik ini pada filmnya yang bertajuk The Birth of Flower. Dan, memang, time-lapse sangat tepat digunakan untuk merekam proses alamiah yang memakan waktu lama seperti mekarnya bunga. Selain itu, obyek-obyek lain yang acap direkam menggunakan time-lapse yaitu gerakan awan atau matahari, lanskap yang berubah misalnya dari gelap menjadi terang atau sebaliknya, lalu-lalang orang atau kendaraan, serta pengerjaan bangunan atau proses yang berangsur-angsur berubah.

Lapse It

Meski terdengar rumit, sebenarnya tak terlalu sulit untuk membuat time-lapse. Peralatan yang dibutuhkan juga tak perlu canggih-canggih amat. Cukup gunakan ponsel berkamera (dalam hal ini, contoh yang saya gunakan ponsel Android). Barangkali peranti tambahan yang Anda butuhkan hanya tripod, agar dapat mengambil gambar secara terus-menerus dengan stabil tanpa goyang-goyang.

Di Play Store, dengan mengetikkan kata kunci “time lapse”, Anda akan menemukan banyak aplikasi untuk membuat time-lapse. Namun, kali ini saya mau berbagi tentang membuat time-lapse menggunakan Lapse It dan Open Camera.

Dari pengalaman menjajal sejumlah aplikasi, saya menemukan Lapse It termasuk aplikasi yang paling mudah dan efektif membuat time-lapse. Penggunaan Lapse It sangat sederhana dan straight to the point. Dari menu awal, Anda cukup menekan tombol New Capture. Anda akan masuk pada tampilan layar kamera. Anda dapat mengatur kekerapan pengambilan gambar dengan pilihan dalam hitungan per milidetik, per detik, hingga per menit. Terdapat juga pilihan Stop Motion. Berbeda dengan time-lapse, kalau stop-motion yang dipentingkan adalah prosesnya, bukan interval waktunya. Untuk kali ini, kita fokus pada Lapse It saja.

Sebagai patokan, untuk pergerakan yang cukup lambat, sebutlah gerakan awan di langit, Anda dapat merekamnya dengan kekerapan pengambilan gambar per 2 detik. Dari sini, dapat dihitung, jika ingin membuat video berdurasi 1 menit pada kecepatan 30 FPS berarti Anda membutuhkan 180 gambar. Nah, dengan kekerapan pengambilan gambar per 2 detik, berarti Anda harus memotret terus-menerus selama 360 detik atau 6 menit.

Tentu pilihan ini dapat diutak-atik sesuai dengan hasil yang diinginkan. Tingkat kekerapan untuk mengambil gambar pergerakan awan yang lambat tentu berbeda dengan keramaian lalu-lalang orang. Sebagai gambaran, seorang pembuat time-lapse pernah menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk merekam proses membusuknya sebuah labu. Jadi, hasil akhir memang sangat tergantung pada proses yang direkam.

Selain kekerapan pengambilan gambar, Lapse It juga menyediakan pilihan resolusi gambar yang diambil. Untuk Lapse It gratisan, Anda dibatasi hanya dapat membuat video dengan resolusi maksimal 480p. Kalau menggunakan Lapse It Pro, Anda dapat membuat video dengan resolusi maksimal 1080p. Sebenarnya, masih tersedia pilihan untuk merekam gambar dengan full sensor, tetapi Anda tidak dapat me-render-nya dengan Lapse It, melainkan harus di-render menggunakan aplikasi lain di komputer.

Yang perlu dipertimbangkan tentu saja semakin tinggi resolusi yang digunakan dan semakin lama durasi pengambilan gambar maka akan dibutuhkan tempat penyimpanan yang semakin besar.

Untuk pengguna yang lebih mahir, tersedia pilihan yang lebih detail meliputi antara lain fokus, flash, ISO, dan white balance. Tersedia pula pilihan untuk mengunci exposure dan white balance. Penguncian ini dibutuhkan karena jika Anda menggunakan mode pengambilan gambar otomatis, gambar yang dihasilkan bisa berbeda-beda, karena kamera setiap kali mengatur ulang fokus dan exposure.

Kalau sudah selesai mengambil gambar, Anda dapat masuk pada menu Gallery. Anda dapat meninjau kembali rangkaian gambar yang sudah diambil. Anda dapat menyunting (trim) seperlunya, menambahkan efek dan musik, dan kalau sudah oke tinggal me-render-nya. Yang menyenangkan, Lapse It menyediakan tombol untuk membagikan video. Mau dikirim via Whatsapp atau email, atau langsung dibagikan melalui media sosial seperti Youtube dan Instagram. Mudah sekali.

Open Camera

screenshot_2016-10-11-11-49-55-418
Menu pengambilan gambar pada Open Camera. Untuk mengunci exposure, klik pada tanda gembok.

Karena tidak dirancang sebagai aplikasi kamera murni, pengaturan kamera untuk mengambil gambar di Lapse It mungkin terasa kurang leluasa bagi sebagian orang. Jangan khawatir, Anda masih dapat membuat time-lapse menggunakan aplikasi yang memang khusus kamera. Yang saya rekomendasikan adalah Open Camera.

Imho, Open Camera termasuk aplikasi kamera yang canggih. Meski tampilannya sederhana, tapi pilihan pengaturannya cukup lengkap. Buka saja menu pengaturan, Anda akan menjumpai banyak sekali pilihan. Yang sederhana misalnya mengunci orientasi kamera, mau portrait atau landscape. Untuk fokus, Anda dapat menggunakan deteksi wajah sebagai alternatif fokus pada area. Untuk resolusi kamera, pilihan tersedia mulai dari resolusi 320 x 240 hingga 5328 x 2997. Untuk user interface, tersedia pilihan untuk menampilkan zoom level, zoom slider, hingga grid yang memudahkan pengambilan gambar. Khusus untuk merekam video, tersedia pilihan untuk menggunakan mikrofon eksternal. Pokoknya, Anda dapat melakukan banyak sekali pengaturan yang tidak tersedia jika menggunakan aplikasi kamera standar.

Nah, untuk pembuatan time-lapse, gunakan menu Burst, yaitu untuk mengambil gambar secara terus-menerus. Pilihlah opsi Unlimited. Lalu, masuk ke menu Burst Interval. Sama halnya dengan Lapse It, Anda dapat mengatur interval pengambilan gambar yang diinginkan. Jangan lupa untuk mengunci exposure, dengan menekan tombol gembok pada layar pengambilan gambar.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah lokasi penyimpanan dan penamaan file gambar. Ini penting untuk proses rendering. Pilihlah tempat tersendiri, terpisah dari file-file foto yang lain, dan berikan nama yang unik sehingga memudahkan Anda untuk mengenalinya kemudian.

Setelah selesai mengambil gambar, untuk me-render gunakan kembali Lapse It. Buka menu Gallery dan klik tombol impor di kanan atas. Pilih untuk mengimpor Image Sequence, lalu masuk ke folder tempat file-file gambar yang diambil dengan Open Camera tadi disimpan, lalu klik Import this Folder. Berikutnya, ikuti langkah untuk me-render seperti biasa pada Lapse It.

Sekali lagi, dibutuhkan banyak uji coba dan eksperimen untuk dapat menghasilkan time-lapse yang keren. Selamat mencoba.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s