Menjadi Seorang Amatir yang Profesional

photographer-1245750_1280
Seorang fotografer profesional sedang memperhatikan seorang amatir. (Photo by Pixabay.com)

Saya sedang berpikir untuk membuat posting blog tentang mengapa saya nge-vlog. Sampai pada satu titik, saya berpikir tentang apa yang disebut “amatir” dan “profesional”. Saya kira, mungkin ini bisa saya angkat sedikit, sebagai pemanasan sebelum tulisan tentang vlog itu saya tulis.

Jadi, sekarang ini, batasan antara amatir dan profesional pada profesi-profesi yang terkait dengan kreativitas kian kabur. Dulu, dengan gampang kita membedakan antara seorang penulis atau jurnalis, fotografer, filmmaker yang profesional dengan yang amatir. Pemicunya mungkin masih bisa didiskusikan lagi, apakah karena faktor teknologi, dengan hadirnya teknologi digital, atau karena generasinya memang begitu, kalau menilik karakter Gen Y.

Ada beberapa hal yang perlu diluruskan dulu. Pertama, per definisi, profesional menurut KBBI IVKBBI IV adalah menyangkut profesi, membutuhkan kepandaian khusus, dan mengharuskan ada pembayaran. Kalau di Wikipedia, disebutkan profesional adalah istilah bagi seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya.

Jadi ada keahlian dan ada bayaran. Sesederhana itu.

Sementara, amatir, menurut KBBI IV, merupakan kegiatan yang dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah.

Ketika saya selesai kuliah, boleh dibilang batas antara profesional dan amatir itu sangat jelas dan tegas. Untuk profesi yang saya tekuni, yaitu penulis, kalau sudah menyangkut media-media besar ya harus memiliki skill set yang mumpuni. Belum lagi soft skill, yang saya bentuk dengan menempuh pendidikan dan menempa diri dengan pengalaman. Itulah “harga” yang harus saya bayar untuk dapat memperoleh “status” profesional.

Tak heran, yang kemudian berkembang adalah semacam pride atas eksistensi, “Ini lho gue, seorang profesional.” Dan, memang, seorang penulis profesional nyaris dalam hal apa pun tidak bisa disamai oleh seorang amatir. Ya pasti beda. Mana ada ceritanya penulis kaliber media massa nasional disamakan dengan penulis catatan harian.

Itu cerita 20 tahun lalu.

Hari ini, seberapa sering panel diskusi menampilkan penulis media massa bersanding dengan blogger. Ya blogger itu kan kira-kira dapat dibandingkan dengan penulis catatan harian, hanya saja karyanya terpublikasikan melalui internet, bukan disimpan dalam laci meja belajar.

Apakah jadi blogger tidak butuh skill set? Minimal baca-tulis sih iya. Tapi, seberapa ketat blogger dengan tata bahasa baku? Seberapa peduli penulisnya dengan langgam dan gaya bahasa? Belum lagi tentang etika, apakah dia pernah mengetahui kode etik jurnalistik? Seberapa paham dia tentang macam-macam fungsi dan peran pers? Dan, apakah ada sekali saja terbetik dalam benaknya untuk memikirkan hal-hal ini?

Saya melihat, pride dan eksistensi penulis profesional terganggu. Zaman saya kuliah, saya mengagumi penulis-penulis profesional tertentu. Umumnya mereka bernaung di bawah media besar. Tapi sekarang, saya mungkin lebih kenal nama-nama blogger yang aktif dan kontennya menarik, ketimbang penulis-penulis profesional yang entah kenapa mungkin belum menyamai pencapaian generasi-generasi terdahulu. Atau, mungkin saya saja yang kurang menaruh perhatian. Entahlah.

Yang lebih mengkhawatirkan, dari sisi ekonomi, penulis-penulis profesional ini pun terancam. Pundi-pundinya tergerus oleh penulis-penulis amatir yang bersenang-senang dengan blog dan berbagai macam konten digital lainnya. Mungkin ini terlalu menyederhanakan, tapi gejala ini sudah sangat terasa.

Secara singkat, kalau profesionalisme hanya diartikan sebagai status, maka selesailah sudah. Di era digital sekarang ini, orang tak lagi peduli status. Yang penting hasil karya. Dan, celakanya lagi, dengan kemudahan teknologi, berapa banyak karya seorang amatir yang look dan feel-nya tak kalah dibandingkan karya seorang profesional. Malah, institusi-institusi (yang seharusnya) mapan pun kini mengeluarkan karya yang “keamatir-amatiran”. Bisa dilihat, ada stasiun televisi yang memutar video Youtube atau koran yang memuat tulisan blog. Nanti saya bahas di tulisan tentang vlog, look dan feel amatir itu juga ternyata kini ada penggemarnya. Yang jelas, ke mana cuan mengalir, ya ke situ orang pergi.

Saya punya teman, seorang penggemar komik superhero. Dia benar-benar cuma penggemar, tidak bisa menggambar. Dia bercita-cita untuk mengembangkan cerita superheronya sendiri. Sementara menunggu cita-cita itu terwujud, ia sekolah dan kemudian melanjutkan bisnis cat milik keluarga. Setelah menjadi pengusaha, dia punya duit untuk membayar seniman gambar mewujudkan cita-cita membuat komik superhero. Hingga sekarang, sudah dua judul buku komik yang ia terbitkan. Otak bisnisnya pun berputar. Ia berencana untuk memonetize karakter komiknya dalam berbagai produk turunan yang bisa dijual. Dia melakukan semuanya pertama-tama karena senang dan hobi. Namun, karena duit yang digelontorkan sudah lumayan, ya mestinya bisa jadi sesuatu juga.

Teman saya ini bercerita, dia mengenal orang-orang tertentu dalam komunitas komik. Mereka telah mengembangkan karakter-karakter yang pada zamannya laku dijual dalam bentuk buku komik. Mereka ini jago-jago gambar dan sangat bangga dengan hasil karyanya. Namun, mereka minim wawasan bisnis sehingga ketika buku komiknya sudah tidak laku hanya diam saja. Bisa dibilang, mereka tidak tahu harus diapakan karakter tersebut, selain dibangga-banggakan di lingkungan komunitas. Menanti-nantikan penerbit atau produser film yang mau menggunakan karakter mereka ya kayak menanti Godot aja.

Kalau sudah begini, siapa yang amatir, siapa yang profesional?

Saya jadi teringat cerita akan seseorang yang sedang tiduran bermalas-malasan di bawah pohon kelapa tepi pantai. Seorang kaya melintas dan tak tahan melihat kelakuan si pemalas. Dia menegur, “Hei Bung, kenapa kamu tiduran saja? Bukankah ada banyak hal yang dapat kamu lakukan?”

Si orang tersebut dengan acuh tak acuh menjawab, “Emang saya harus ngapain?”

Si kaya menjelaskan, “Kan kamu bisa ikut kapal dan bekerja menangkap ikan. Dari situ, kamu akan punya duit. Kumpulkan sedikit demi sedikit sehingga kamu nanti bisa punya kapal sendiri. Kalau kamu rajin, usahamu berkembang. Menabunglah dan kumpulkan duit lebih banyak lagi. Nanti kau akan bisa menikmati hasilnya. Kau bisa berlibur, bersantai di tepi pantai…”

Orang tersebut menanggapi dengan santai, “Lha kamu kira aku sekarang sedang ngapain?”

Saya tidak dalam posisi untuk mengatakan yang satu lebih baik ketimbang yang lain. Yang saya pelajari, yang penting bukanlah status, tapi attitude. Karena menyangkut skill, yang terpenting adalah terus diasah dan digunakan. Buat apa ngaku-ngaku penulis kalau tidak pernah berkarya. Tak pusinglah menjadi seorang amatir, tapi attitude dan karyanya profesional. Apalagi kalau cuan-nya profesional, siapa yang tak mau, hehehe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s