Waktunya untuk Mengakhiri Apa yang Dimulai

casey
Casey Neistat.

Akhir pekan kemarin, aku mungkin terlalu excited dengan album baru Metallica, sehingga melewatkan kabar penting yang sama sekali tidak menyenangkan. Dua youtuber favorit yang selalu aku ikuti memutuskan untuk berhenti.

Yang pertama adalah pasangan Grace dan Ryosuke dari channel Texan in Tokyo. Kabar ini aku baca dari tweet Kevin O’shea (@jlandkev), podcaster Just Japan Podcast.

Berikutnya, baru hari ini, aku baru sempat menyimak video dari raja youtuber, Casey Neistat. Dan, ini lebih mencengangkan, di puncak kejayaannya, Casey justru memutuskan untuk berhenti membuat vlog hariannya yang fenomenal itu.

Kalau kamu tidak mengenal nama-nama yang aku sebutkan tadi, tidak apa-apa. Mungkin kamu tidak punya cukup banyak waktu untuk menjelajahi video-video di Youtube. Mereka adalah selebritas di dunia maya, khususnya Youtube.

Texan in Tokyo barangkali kalah tenar dibandingkan youtuber sekelas Pewdiepie atau Casey Neistat. Subscribernya pun “hanya” sekitar 200 ribuan. Tapi, kalau kamu suka melihat-lihat video tentang Jepang, besar kemungkinan kamu akan diarahkan ke salah satu video buatan mereka. Grace adalah seorang warga Texas, AS, yang menikah dengan pemuda Jepang, Ryosuke. Dan, ia kemudian menetap di Jepang. Perbedaan budaya dan bagaimana Jepang di mata seorang asing (gaijin) merupakan tema utama video-video Grace.

Menariknya, Grace juga seorang komikus otodidak. Ia sudah menerbitkan sendiri tiga buku komik. Ia juga aktif ngeblog di http://howibecametexan.com/. Kini, ia meninggalkan blogosphere dan vlogosphere, dua semesta yang membesarkan namanya.

texan
Grace Mineta dari Texan in Tokyo.

Alasannya sederhana. Ia dan Ryosuke berniat untuk punya anak dan mereka berpendapat, tidak sepatutnya menampilkan anak di internet tanpa seizin si anak. Sempat terpikir beberapa pilihan, antara lain tetap nge-blog dan nge-vlog tanpa menampilkan si anak, atau tetap menampilkan si anak, tetapi diblur. Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk sama sekali mundur dari jagat maya. Keputusan yang berani dan patut kita hargai, terlepas apakah kita setuju atau tidak setuju dengan alasannya.

Episode terakhir Texan in Tokyo dipublikasikan pada 17 November 2016. Selang sehari, giliran Casey Neistat yang pamit. Nah, kalau ini baru benar-benar dahsyat.

Menjelaskan sosok Casey barangkali sudah bisa menjadi sebuah postingan tersendiri. Bagi Casey, ngevlog merupakan eksperimen dan tantangan terhadap diri sendiri. Pada 1 Maret 2015, ia memutuskan untuk membuat vlog harian. Dan, hingga menuntaskan episode final yang dipublikasikan pada 18 November 2016 lalu, ia relatif konsisten. Nyaris tidak ada bolong, kecuali beberapa waktu terakhir. Dimulai dari sempat absen sekitar seminggu, lalu frekuensi upload tidak lagi setiap hari, tapi antara 2-3 video per minggu. Itu ternyata merupakan sinyal untuk benar-benar berhenti, sesuatu yang tidak pernah diduga banyak orang sebelumnya.

Berbeda dengan Grace, yang undur diri karena alasan privacy, bagi Casey nyaris tidak ada privacy. Ia menceritakan berbagai aspek kehidupannya, tentang isterinya, tentang kedua orang anaknya, tentang masa lalu, bahkan tentang sikap politiknya dalam pilpres AS baru lalu.

Awalnya, Casey banyak membuat video bergaya DIY (do it yourself), walau acap lebay dan konyol. Misalnya bagaimana membuat kacamata mahal Ray-Ban jadi tampak seperti kacamata abal-abal dengan mengikis habis merek serta mengecatnya dengan cat semprot. Kacamata abal-abalnya yang mahal itu lalu menjadi ciri khas Casey, selain kian-kemari naik boosted board, yaitu skateboard dengan motor.

Untuk membuat DIY-nya, Casey memiliki studio pribadi, lengkap dengan berbagai peralatan, termasuk memiliki sejumlah kamera pengintai yang entah untuk apa. Dulu, ia juga segmen Q & A dan mail time pada setiap video. Penonton menanti-nantikan, kapan Casey dengan brutal dan sembrono mencabik-cabik kardus pembungkus barang kiriman fans, atau dengan ceroboh menjatuhkan barang-barang mahal seakan tak ada harganya.

Belakangan, video DIY dan segmen-segmen tersebut menghilang. Sebagai gantinya, Casey banyak bermain dengan drone, atau bepergian naik pesawat kelas premium dan menginap di hotel-hotel mewah.

Masih banyak hal yang bisa diceritakan tentang Casey. Tapi, bagaimana ia memutuskan untuk membuat vlog harian dari nol hingga akhirnya memiliki subscriber hingga 5,5 juta orang menjelaskan betapa komitnya dia pada tujuan tersebut.

Casey bisa dibilang orang nekat. Pada usia sangat muda ia memutuskan untuk pindah ke New York dan menjadi pembuat film. Jangan dikira dia punya latar belakang memadai di bidang tersebut. Ia hanyalah drop out sekolah menengah sehingga terpaksa bekerja serabutan agar bisa membeli kamera video. Hingga akhirnya ia—bersama abangnya—berhasil membuat program acara yang ditayang di HBO, The Neistat Brothers pada tahun 2010.

Melihat potensi Youtube, ia pun beralih pada platform tersebut dan mengembangkan gaya tersendiri dalam membuat video, yaitu storytelling. Ia pencerita dan dalam video terakhirnya ia mengatakan, betapa setiap hari ia begitu terpacu untuk berpikir, cerita apa yang akan dia sajikan untuk video hari itu. Dan, itulah alasan dia membuat vlog harian: agar terus terpacu berkreasi membuat video.

Nyatanya, kerja kerasnya tidak sia-sia. Bahkan, kata Casey, dalam enam bulan terakhir, membuat vlog harian tidak lagi menjadi tantangan berarti. Dia sudah ketemu “selanya”, sudah punya sistem atau pola, sehingga membuat vlog harian terasa mudah.

Justru karena merasa tantangannya sudah berkurang maka Casey mengambil langkah berani: “membunuh” vlog hariannya. Sebenarnya, ini bukan hal yang terlalu aneh jika kamu belajar siklus produk. Alih-alih menikmati dan berdiam di “comfort zone”, membunuh produk yang sudah terlalu besar adalah langkah wajar yang kerap diambil oleh mereka yang membutuhkan tantangan. Itu yang dulu juga dilakukan Kai Hansen ketika memutuskan keluar dari Helloween, justru ketika band tersebut sedang melambung tinggi setelah merilis album ganda yang sukses, Keeper of the Seven Keys.

Itulah Casey, yang menginspirasi begitu banyak orang untuk menjadi youtuber—termasuk aku. Baik Casey maupun Grace termasuk orang yang punya prinsip dan siap meninggalkan hal yang dianggap menyenangkan untuk mengejar hal lain yang menurut mereka lebih penting.

Yeah, meski tetap merasa kehilangan, aku angkat topi. Salut buat dua orang yang punya prinsip ini. Terima kasih telah memberi warna dalam kehidupan banyak orang yang menikmati channel Youtube kalian dan semoga sukses dalam pencarian diri berikutnya. Tabik!

Advertisements

3 thoughts on “Waktunya untuk Mengakhiri Apa yang Dimulai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s