Saatnya untuk Memulai Sesuatu yang Baru (Di Balik Pembelian Beme oleh CNN)

28beme-superjumbo
Matt Hackett (kiri) dan Casey Neistat (kanan). (Foto: Krista Schlueter/The New York Times)

Pada postingan terakhir, saya cerita tentang youtuber Casey Neistat memutuskan untuk berhenti membuat  vlog harian. Hingga kemarin itu, satu-satunya petunjuk tentang apa yang terjadi yaitu video episode final yang dipublikasikan Casey pada 18 November 2016. Ternyata, sesudah itu, mulai bermunculan kabar tentang alasan sebenarnya di balik keputusan “berani” Casey tersebut.

Beberapa hari lalu, mata saya menangkap headline berita yang cukup gagah, CNN membeli Beme, perusahaan rintisan yang dibangun Casey bersama Matt Hackett, mantan VP engineering Tumblr. Saya tidak membaca isi beritanya. Tapi, sempat terpikir, “Gila, laku juga itu Beme.”

Kalau kamu, belum pernah mendengar Beme, nggak usah putus asa. Sesungguhnya, itu bukan hal yang buruk. Malah, boleh jadi, kamu cukup cerdas tidak membuang-buang waktu percuma untuk menjajal aplikasi tanpa harapan seperti Beme. Hahaha… Sebagai fans Casey, saya sempat menjajal Beme. Tapi, saya tetap harus fair dan seimbang untuk mengatakan bahwa aplikasi ini nggak jelas maunya apa. Justru, di situlah letak kehebohannya, bagaimana mungkin untuk sebuah startup yang nggak jelas bisa dibeli—seperti dilaporkan The Wall Street Journal—senilai 25 juta dollar AS. Ck ck ck…

Mengapa tidak jelas? Sebelumnya, saya sudah pernah menulis bahwa video sedang menjadi konten kekinian. Menurut Gary Vaynerchuk, Youtube merupakan mbahnya aplikasi video yang menjadi raja di internet. Pentingnya video membuat Facebook juga menambahkan fitur untuk mengunggah video secara langsung—bukan lagi sekadar membagikan link atau meng-embed video di laman Facebook kita. Lalu, Gary menyebutkan, ke depan, video-video berdurasi singkat akan lebih berpeluang.

Maka, muncullah Vine, yang memungkinkan kita membagikan video sepanjang maksimal 6 detik. Lalu, hadir pula Snapchat, yang selain untuk chatting, juga memungkinkan kita membagikan video sepanjang maksimal 10 detik. Menariknya, kita bisa membuat “stories” dari rangkaian video singkat Snapchat kita. Tanpa malu, sukses Snapchat ini ditiru mentah-mentah oleh Instagram, dengan menambahkan fitur “stories”, melengkapi fitur untuk mengunggah video singkat pada aplikasi yang semula dirancang untuk berbagi foto tersebut.

Di tengah hiruk-pikuk aplikasi video tersebut, muncullah Beme. Seperti Casey yang suka nyeleneh, aplikasi ini pun pengen tampil beda. Menurut Casey, semua aplikasi video yang ada selama ini dibikin dengan “sengaja”. Artinya, si kreator sudah mempertimbangkan adegan yang mau diambil, sudut pengambilan gambar, dst. Bahkan, setelah selesai mengambil footages, langkah penuh kesengajaan berikutnya adalah menyunting video (ya iyalah, emang?). Ini semua yang menurut Casey membuat realitas yang ditampilkan video tersebut menjadi “realitas buatan”, bukan “realitas yang sebenarnya” atau orisinal.

Nah, Beme hadir untuk menyajikan realitas orisinal. Aplikasi ini dirancang untuk membagikan video singkat (hanya berdurasi 4 detik) tanpa kita dapat mempertimbangkan sudut pengambilan gambar dan bahkan sempat meninjaunya. Idenya, kita dapat membagi suasana di sekitar kita tanpa harus kehilangan momen untuk mengabadikannya.

Sounds familiar? Yup, berapa banyak dari kita yang saat menonton konser atau ketemu pemandangan bagus, bukannya fokus menikmati realitas di depan kita, tapi malah sibuk merekam atau memotret untuk kemudian dibagikan. Nah, memanfaatkan sensor proximity pada ponsel cerdas, Beme akan otomatis merekam video singkat dengan menempelkan ponsel ke dada. Jadi, kita tidak akan kehilangan momen untuk menyimak apa yang terjadi di depan, namun tetap dapat membagikannya melalui Beme. Dan, apa yang kita bagikan itu orisinal, apa adanya, tanpa rekayasa, karena selesai merekam, Beme akan langsung mengunggahnya. Beginilah kira-kira pemahaman Casey dan teman-temannya di Beme tentang “realitas orisinal”.

Meski secara teori kedengarannya keren, tapi hasilnya tak semenarik yang diceritakan. Sudut pengambilan gambar acap tak enak dilihat. Belum lagi, momen yang bagus mungkin terlewat, sedangkan hal yang tak perlu boleh jadi terunggah. Ini karena kita tak punya kesempatan untuk meninjaunya terlebih dahulu. Lantas, apa menariknya menonton cuplikan-cuplikan singkat “video orisinal” ini? Kamu boleh saja berargumentasi tentang realitas orisinal dengan Casey, tapi yang jelas, di Internet ada banyak sekali komentar yang bernada mencela Beme.

Jadi, kembali ke topik semula, mengapa CNN mau menggelontorkan 25 juta dollar AS untuk aplikasi semacam ini?

Nah, menurut sejumlah sumber, mungkin bukan karena Beme-nya, tapi karena Casey. Dengan kata lain, CNN membeli Beme bukan untuk menggunakannya (nanti bakal dibiarkan terbengkalai begitu saja barangkali?), tapi agar Casey mau bekerja untuk CNN.

Seperti saya ceritakan pada postingan terdahulu, Casey adalah rajanya Youtube. Literally, karena Casey merenggut gelar “Youtuber of the Year” pada ajang Shorty Awards ke-81, mengalahkan nama beken antara lain PewDiePie. Dia berhasil mengumpulkan hampir 6 juta subscriber, yang menonton videonya secara teratur. Mudah saja untuk video Casey ditonton lebih dari sejuta kali. Beberapa video populernya telah ditonton hingga belasan juta, bahkan lebih dari 20 juta kali.

Bandingkan dengan CNN. Sebuah laporan Agustus lalu menyebutkan, CNN “hanya” ditonton rata-rata sekitar 746 ribu orang pada prime time. Dan, mudah saja untuk menebak, bahwa dari sekian banyak pemirsanya tersebut jelas bukan pemirsa atau subscriber Casey, yang didominasi oleh generasi milenial. Intinya, akuisisi ini merupakan langkah cepat CNN untuk melakukan penetrasi pada generasi milenial. Langkah seperti ini juga antara lain ditempuh NBC Universal yang berinvestasi 200 juta dollar pada Buzzfeed dan 200 juta dollar lagi pada Vox Media.

Casey diharapkan dapat membawa gagasan tentang autentisitas pada lingkungan berita dan media sehingga dapat menarik audiens muda yang selama ini tidak tersentuh oleh media seperti CNN. Inilah yang dimaksud Casey ketika ia bercerita, ketika suatu kali ia terlibat proyek untuk membuat konten di televisi, ia mengikutsertakan anaknya Owen yang saat itu berusia 10 tahun. Setelah proyek itu ditayangkan, Casey bertanya pada Owen, bagaimana reaksi teman-temannya melihat ia masuk televisi. Dan, Owen dengan singkat menjawab, “Ayah, teman-temanku tidak ada yang menonton televisi.” Yup, inilah percakapan yang juga aku alami dengan anakku Jeremy. Aku dan Casey sebagai Gen X besar dengan televisi, sedangkan Owen dan Jeremy yang termasuk generasi milenial lebih akrab dengan Yotube.

Masih belum jelas, apa yang akan dilakukan Casey ke depan. Namun, dalam pernyataan CNN yang dikutip The Wall Street Journal disebutkan bahwa pada musim panas tahun depan CNN akan meluncurkan perusahaan media yang berdiri sendiri, yang dipimpin oleh Casey dan Matt. Perusahaan ini akan fokus pada video terkini dan bertopik serta memberdayakan para kreator konten menggunakan teknologi untuk menyuarakan suara mereka. Seperti apa jelasnya, kita nantikan saja.

Advertisements

One thought on “Saatnya untuk Memulai Sesuatu yang Baru (Di Balik Pembelian Beme oleh CNN)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s