“A Gift”, Hadiah dari Sang Raja

[PERINGATAN!!! Tulisan ini merupakan spoiler. Jadi, kalau berniat menonton film ini, sebaiknya tidak usah meneruskan membaca. Pergi aja menonton filmnya dulu.]

pohn_jak_fah
A Gift (foto-foto Dok GDH 559).

Seumur-umur menonton film di bioskop, baru kemarin itulah aku diminta berdiri sebagai bentuk penghormatan sebelum film dimulai. Filmnya berjudul A Gift, film baru Thailand yang bakal diputar di Tanah Air.

Terus terang, karena berbahasa Thailand, aku tidak begitu mengerti konteksnya mengapa penonton disuruh berdiri. Yang jelas, film ini diawali dengan cuplikan-cuplikan dokumentasi tentang mendiang raja Thailand Bhumibol Adulyadej, raja yang amat dicintai rakyatnya dan belum lama ini wafat. Aku menduga, jangan-jangan ini hal standar yang sementara ini wajib dilakukan pada setiap pemutaran film Thailand. Karena, Thailand memang sedang dalam masa berkabung.

Cuplikan-cuplikan yang memakan waktu sekitar 10-15 menit itu lumayan menggugah. Diawali pidato raja Bhumibol pada tahun 1950-an, beliau mengajak seluruh rakyat Thailand untuk membangun negerinya. Kalimat-kalimatnya begitu menggugah. Terlihat jelas kepedulian raja terhadap rakyatnya. Amat wajar jika beliau begitu dicintai.

Yeah, mungkin itu sesuatu yang menarik. Tapi, aku tak mengira ada hubungannya dengan film yang akan ditonton… sampai nanti aku paham pada akhir film.

Yang jelas aku tertarik untuk ikut skrining film ini kemarin malam, Senin (9/1) karena sejumlah bintangnya lumayan akrab. Sebut saja pasangan Chantavit Dhanasevi (Ter) dan Nuengthida Sophon (Noona). Bagi penggemar film Thai, bohong banget kalau ingatan tidak melayang pada film komedi romantis Hello Stranger (2010). Ending film tentang sepasang muda-mudi Thai yang sedang berlibur ke Korea dan terlibat “cinta lokasi” tersebut menggantung sehingga penonton dipaksa menduga-duga, apa yang terjadi pada mereka setelah kembali ke Thailand.

Sayangnya, tidak ada kelanjutan atau sekuel film tersebut sehingga ketika Ter dan Noona bertemu kembali di film ini, penonton yang penasaran bolehlah berimajinasi dan membayang-bayangkan kelanjutan Hello Stranger.

Pasangan berikutnya adalah Violette Wautier dan Sunny Suwanmetanon. Keduanya sempat beradu akting di film Heart Attack (2015), yang berkisah tentang desainer grafis freelance yang gila kerja. Di film itu, karakter Yoon yang dimainkan Sunny cukup menonjol, sedangkan Violette hanya sebagai pemeran pembantu.

Dua nama lainnya dari 6 tokoh utama film ini, Naphat Siangsomboon (Nine) dan Nittha Jirayungyurn (Mew), baru ini aku tahu.

Film ini terbagi menjadi tiga cerita berbeda yang satu sama lain terhubung—meski secara cerita tidak berhubungan langsung (hehe, silakan bingung sendiri, tapi beberapa film Thai yang sempat aku tonton suka bermain dengan pola ini).

2115605
Violette dan Nine.

Bagian pertama bercerita, bagaimana kejadian-kejadian dalam sehari bisa membuka jalan bagi perjalanan hidup selanjutnya. Beam (Nine) sedang duduk menunggu dalam sebuah geladi resik seremoni pemberian beasiswa dari Russia ketika seorang staf event organizer memintanya untuk berperan menjadi duta besar. Ketika menanti dalam mobil, masuklah Pang (Violette Wautier) yang ternyata berperan menjadi isteri duta besar.

Ini mungkin yang namanya cinta pada pandangan pertama. Beam berusaha membuka percakapan dan memodusi (sori ya, istilahnya rada kekinian hahaha) Pang agar mendapatkan nomor teleponnya. Pang acuh tak acuh, malah cenderung bete. Kemudian ketahuan, Pang baru saja putus karena pacarnya selingkuh. Melalui kejadian-kejadian selama geladi resik, sikap Pang pelan-pelan mencair. Ternyata, Pang baru tahu bahwa Beam merupakan salah satu penerima beasiswa. Ia sendiri adalah penyanyi yang akan menghadirkan penampilan khusus menyanyikan lagu “Love at Sundown” untuk melepas para penerima beasiswa.

Ceritanya sederhana dan mungkin terkesan basi. Tapi, akting Nine dan Violette benar-benar memikat. Nine sukses menampilkan karakter mahasiswa pintar yang songong dan pede habis. Sedang Violette, di luar kemampuan bernyanyi, bisa menghadirkan sosok yang perasaannya sedang terombang-ambing. Gayanya masih mirip dengan sosok Je di film Heart Attack yang nggak pedulian tapi ngotot. Namun, kali ini ia harus lebih banyak bereksplorasi dengan karakter Pang.

Pada akhir bagian ini, fokus beralih pada Fa (Mew), pekerja event organizer yang di awal film meminta Beam memerankan duta besar. Di tengah kesibukan mengemasi barang-barang sehabis geladi resik, ia menerima panggilan telepon dari ibunya. Dengan cepat dikisahkan bahwa ibu Fa kemudian meninggal dunia sedangkan ayahnya mengidap alzheimer sehingga mulai lupa banyak hal. Penyakit lupa si ayah ternyata sangat parah sehingga ia harus didampingi terus-menerus. Fa pun merelakan diri meninggalkan pekerjaannya agar dapat menjaga ayahnya.

2115609
Mew dan Sunny.

Meski melupakan banyak hal, ayah Fa masih mengingat tentang ibunya dan bagaimana mereka bertemu. Ia mengira bahwa isterinya masih ada dan selalu mencarinya. Ketika memainkan sebuah lagu favorit ibunya “Still on My Mind” di piano, Fa menyadari bahwa lagu itu dapat memicu ingatan masa lalu ayahnya. Fa bertekad untuk belajar memainkan lagu tersebut sebagai hadiah ulang tahun pernikahan ayahnya.

Sayang, karena lama tak dimainkan, piano di rumah Fa sudah fals. Maka, ia memanggil tukang setem piano langganan ibunya, yaitu Aey (Sunny Suwanmetanon). Ternyata, Aey selama ini dekat dengan ayah-ibu Fa dan mengetahui lagu “Still on My Mind”. Aey pun membantu Fa untuk mengajari lagu tersebut dan mempersiapkan hadiah ulang tahun pernikahan bagi sang ayah. Bagian ini diakhiri adegan di mana Fa memainkan kembali lagu “Still on My Mind” di halaman rumah yang dihias seperti layaknya pesta pernikahan. Justru pada saat itulah ia benar-benar menyadari bahwa isterinya telah tiada dan berterima kasih atas semua yang dilakukan Fa.

Bagian ini memang banyak sedihnya, tetapi pesannya sangat positif, yaitu bagaimana membahagiakan orang lain. Karakter Fa cukup kuat sebagai anak yang berbakti, walau terkadang lelah dengan penyakit lupa ayahnya. Sementara itu, karakter Aey rada maksa dan agak berlebihan sebagai tukang setem piano. Tapi, tingkah konyolnya lumayan menghangatkan cerita sehingga tidak jadi sedih-sedih amat. Di tengah-tengah bagian ini, diperkenalkan karakter Kim (Noona) sebagai rekan kerja di kantor mendiang ibu Fa. Juga Llong (Ter), anak band yang punya usaha butik jas.

Masuk bagian ketiga, kemunculan karakter Llong agak membingungkan juga. Dia konon pemain gitar di band rock yang menghasilkan lagu “Fight for Your Dreams”. Dia juga pengusaha butik jas. Tiba-tiba, di bagian ketiga ini dia menjadi karyawan baru di bagian analis keuangan. Llong tak mau lagi bermain musik karena merasa impiannya sebagai bintang rock tidak kesampaian. Maka, ia banting setir menjadi pekerja kantoran, meski dicap cemen dan pengkhianat oleh orang tuanya.

2115613
Ter dan Noona bertemu kembali di layar lebar.

Ternyata, kantor tersebut merupakan tempat mendiang ibu Fa dulu bekerja. Oleh rekan-rekan kerjanya, ia dikenal sebagai pribadi yang menyenangkan dan senang musik. Ia mendorong rekan-rekan kerjanya bermain musik agar tetap bersemangat. Setelah kepergiannya, rekan-rekannya merasa kehilangan. Ruang tempat mereka dulu bermain musik juga telah dialihfungsikan sebagai tempat berolahraga. Mengetahui Llong adalah musisi beneran, Kim mengajaknya untuk terlibat dalam band amatir para karyawan yang diharapkan mengembalikan gairah bekerja di kantor tersebut.

Sayangnya, niat tersebut terhalang oleh bos killer yang tak sudi kantornya dijadikan tempat bermain musik. Secara khusus ia membenci Llong, karena anaknya adalah penggemar band Llong terdahulu. Belakangan, ternyata yang dimaksud anak si bos adalah Beam.

Bagian ketiga ini berkisah tentang upaya Llong dan Kim untuk memperjuangkan agar karyawan dapat memiliki ruang khusus untuk bermain musik. Mereka harus memilih para pemusik dan curi-curi waktu untuk latihan agar tidak ketahuan bos killer. Puncaknya, Llong dan Kim diberi kesempatan untuk berbicara di rapat petinggi perusahaan dan menampilkan lagu “New Year Greeting”. Melihat antusiasme para karyawan, pimpinan perusahaan menyetujui proposal tersebut. Ia membocorkan bahwa proposal itu tidak akan sampai ke meja pimpinan kalau bukan karena si bos killer.

Secara alur, kisah di bagian ketiga ini melompat-lompat dan tak terlalu mementingkan logika. Unsur komedinya begitu kental dengan menampilkan tingkah polah Llong yang konyol. Ter memang jagoan untuk menampilkan karakter seperti ini. Sedangkan karakter Kim tak terlalu memberi nilai tambah pada cerita. Mungkin, Noona dipilih lebih karena kemampuannya bernyanyi.

Yang baru ketahuan di akhir film (setidaknya karena ada keterangan tertulis, entah kalo sebelumnya sudah diucapkan pada narasi pendahuluan film) bahwa ketika lagu tersebut, yaitu “Love at Sundown”, “Still on My Mind”, dan “New Year Greeting” adalah karya dari mendiang raja Bhumibol Adulyadej. Luar biasa. Menurut Bangkok Post, lagu-lagu tersebut mungkin sudah ribuan kali dimainkan, tetapi film A Gift mampu menampilkannya dengan begitu menyenangkan.

“Love at Sundown” yang ditampilkan secara acapella dan menggunakan “perkusi tubuh” meledak menjadi hits di kalangan generasi muda Thailand. Bahkan, di Youtube tersedia tutorial perkusi tubuh yang dibawakan langsung oleh Violette.

“Still on My Mind” barangkali memang tembang percintaan untuk generasi jadoel. Tapi, lagu romantis yang dimainkan dengan piano ini akan tetap menyentuh pasangan mana pun yang sedang jatuh cinta. Sedangkan “New Year Greeting” yang bercorak ska, benar-benar lincah dan riang.

Seperti dikatakan Bangkok Post, meski kisah yang ditawarkan film ini begitu sederhana dan ketebak, tapi kemasannya yang sangat positif benar-benar melegakan. Selepas kepergian sang raja yang dicintai, mengenangnya melalui lagu-lagu yang menyenangkan ini dapat menghibur. Penonton bisa tersenyum sejenak.

“New Year Greeting” atau “Pohn Pee Mai” dalam bahasa Thai dirilis raja pada 1 Januari 1952 sebagai ungkapan harapannya terhadap rakyatnya saat memasuki tahun baru. Liriknya antara lain berbunyi, “I beg for the blessing from heaven for all to be joyous. Please bestow thy blessing with mercy for all to be met with fortune.” Sangat wajar jika penonton berdiri sebagai tanda penghormatan dan banyak yang bertepuk tangan setelah film berakhir. Ini benar-benar sebuah hadiah (a gift) yang tak terlupakan dari seorang raja besar kepada rakyatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s