“Copy this and post as your status update”: 12 Album dan Lagu Klasik Thrashmetal

big-four

Sepanjang minggu kemarin, aku banyak membaca status orang di Facebook kira-kira demikian: “Rules of the Game: Copy this and post as your status update. List 12 albums that made a lasting impression on you, but only 1 per band/artist. Don’t take too long and don’t think too hard. Tag 12 friends to do the same, including me, so I can see what you chose.”

Selalu menarik untuk menyimak daftar-daftar beginian. Sempat tertarik untuk ikut-ikutan. Setelah jadi dan disimak ulang, kok isinya kebanyakan dari genre thrashmetal. Nggak heran juga sebenarnya, karena genre ini aku gilai sejak SMA dan masih sampai sekarang. Aku terpikir, ketimbang bikin daftar album dari band acak, mengapa tidak bikin khusus dari genre ini saja. Lebih lagi, sebagai rekomendasi bagi yang pengen mencicipi maknyusnya genre ini, langsung aku pilihkan lagu favorit dari tiap album, yang bisa memberikan gambaran tentang album dan band yang bersangkutan.

Sebagai fans thrashmetal (baca: old school thrashmetal), daftar yang aku bikin ini umumnya album terpopuler band-band thrashmetal generasi awal. Ini adalah etalase yang menggambarkan gaya khas tiap-tiap band dan—menurutku—pencapaian puncak pada saat musik mereka mencapai kematangan. Sebagai genre yang berkembang pada paruh pertama dekade 80-an, band-band ini rata-rata mencapai kematangan setelah album ketiga, yang dirilis pada paruh kedua dekade 80-an hingga awal dekade 90-an.

Di genre ini juga dikenal istilah “the big four”, untuk menyebut empat band terbesar dan tersukses (secara komersial?). Untuk memudahkan, urutan pada daftar ini mengikuti pamornya. Tentu saja berdasarkan penilaian dan selera subyektifku. Jadi, setelah the big four, pada urutan berikutnya, dari 5-8, adalah lapis kedua yang sangat disegani, tapi pencapaiannya belum mampu menyamai the big four. Lalu, lapis ketiga, pada urutan 9-12, benar-benar selera pribadi.

Untuk melengkapi, aku juga memasukkan 3 honorable mention. 2 band mungkin agak jarang terdengar tapi cukup potensial dan punya karakter tersendiri. Terakhir, 1 band dari Tanah Air yang mengiringi “masa berseminya cinta pada thrashmetal”.

So, berikut daftar selengkapnya plus link ke Spotify kalau mau menyimaknya.

  1. “Master of Puppets” dari album Master of Puppets (1986) oleh Metallica

Apakah masih perlu dijelaskan? Ini adalah nomor tajuk dari album masterpiece band thrashmetal nomor satu di dunia. Perkara kemudian Hetfield dkk bereksplorasi dengan gaya musik yang berbeda tidak dapat menghapuskan kepeloporan mereka.

Banyak orang boleh bilang Ride the Lightning (1984) merupakan album terbaik mereka. Sah-sah saja, karena di situ konsep thrashmetal Metallica sudah mewujud dengan segala elemennya. Tapi, menurutku, di album Master of Puppets-lah konsep itu menjadi matang. Nomor tajuk ini menjadi etalase bagaimana seharusnya thrashmetal dimainkan, dengan riff-riff gitar yang cepat dan dalam, serta seksi ritem yang solid dan agresif. Imho, inilah pencapaian puncak dari sang jawara thrashmetal.

Secara pribadi, nomor ini juga begitu berkesan, karena waktu nge-band dulu, mampu (dan berani) membawakan lagu ini di pentas benar-benar pencapaian. Trash, band pada zaman SMA di Medan dulu, pernah dua kali membawakan lagu ini. Yang pertama, di ajang Medan Fair tahun 1991, kami bahkan membawakannya dalam format trio. Benar-benar nekat, tapi sekaligus nikmat. Bodo amat apa kata orang, tapi this is the truest Metallica’s song baby…

  1. “Holy Wars… The Punishment Due” dari album Rust in Peace (1990) oleh Megadeth

Mustaine mungkin menyimpan dendam membara setelah didepak dari Metallica. Dari tiga album sebelumnya, dengan personal yang bergonta-ganti, dia terus mencoba membayangi Metallica. Namun, pada album dengan formasi klasik Mustaine, Ellefson, Friedman, dan Menza inilah mereka mampu memberi tekanan yang sangat serius.

Sejujurnya, musik dan terutama gaya bernyanyi Mustaine kurang kena di kupingku. Tapi, tidak dengan album ini. Ketika pertama kali mendengar intro “Holy Wars…”, aku kayak “whoaaa….” langsung terperangah dan adrenalin pun mengalir kencang. Gebukan drum Menza dan shreddingnya Friedman benar-benar menghanyutkan, sehingga aku lupa bahwa Mustaine masih bernyanyi dengan suaranya yang bikin sakit kuping itu. Hingga sekarang, cuma inilah album Megadeth yang sering aku ulik. Dan, nomor pembuka ini benar-benar penantang yang setanding dengan sang kampiun.

  1. “War Ensemble” dari album Seasons in the Abyss (1990) oleh Slayer

Banyak orang akan menyebut Reign in Blood (1986) sebagai album terdahsyat Slayer dan “Angel of Death” sebagai ikonnya. Memang benar, album itulah yang memastikan Slayer menjadi sejajar dengan the big four lainnya. Tapi, menurut selera pribadiku, Seasons in the Abyss merupakan album yang lebih variatif—ketimbang Reign in Blood yang cenderung ngebut semua. Dan, nomor pembuka ini juga menjadi etalase yang menjelaskan gaya thrashmetal versi Slayer.

Dibandingkan sound Master of Puppets dari Metallica yang crunchy dan Rust in Peace dari Megadeth yang sophisticated, Slayer di album ini terdengar kasar dan gelap. Dari jurusan inilah nanti thrashmetal berkembang menjadi deathmetal atau blackmetal. Duet gitar King dan Hanneman terdengar menderu-deru, vokal Araya yang menggeram, dan gebukan Lombardo yang brutal—semua tetap terjaga dalam tempo dan momentum yang membuat darah terus menggelegak.

  1. “Imitation of Life” dari album Among the Living (1987) oleh Anthrax

Satu-satunya anggota the big four yang bukan berasal dari kawasan California atau Pantai Barat Amerika. Anthrax berasal dari sisi timur Amerika, tepatnya di The Big Apple, New York City. Rasanya banyak penggemar akan mudah sepakat bahwa Among the Living merupakan pencapaian terbaik Anthrax dibandingkan album-album sebelumnya. Namun, yang menjadi sulit adalah memilih salah satu nomor favorit dari album keren yang didedikasikan bagi Cliff Burton, mendiang basis Metallica yang saat album ini diluncurkan belum lama meninggal dalam kecelakaan.

Dari nomor pembuka hingga nomor pamungkas semuanya keren. Aku sempat mendua antara “Imitation of Life” atau “Caught in the Mosh”. Akhirnya aku memilih nomor ini karena memang aku lebih terobsesi dengan kecepatan. Nomor pamungkas ini lebih brutal dan menunjukkan semua karakter khas Anthrax yang berbeda dengan anggota the big four lainnya. Jangan bandingkan Dan Spitz dengan Kirk Hammett, Dave Mustaine, atau Marty Friedman. Hetfield pun barangkali masih lebih jago ketimbang Scott Ian. Namun, soal riff-riff metal yang solid dan beraura gembira, Spitz dan Ianlah jagonya. Inilah Anthrax yang konyol, nggak jago, tapi lagunya enak didengar.

  1. “The Haunting” dari album The Legacy (1987) oleh Testament

Bay Area di San Francisco California akan dikenal sebagai starting point thrashmetal, karena banyak nama-nama beken genre ini berawal dari sini, termasuk Metallica dan Megadeth. Masalahnya, dua band itu sebenarnya pendatang. Justru pemain lokal seperti Testament, kalah pamor sehingga meski tetap disegani masih dianggap belum sejajar dengan the big four.

Debut album The Legacy merupakan album thrashmetal yang cukup solid, tapi sulit menemukan nomor yang benar-benar mengena. Yang nyangkut di telinga justru nomor unik “Alone in the Dark”. Tapi, untuk menggambarkan Testament, imho dengarlah “The Haunting”. Inilah thrashmetal ala Testament, yang cepat, agresif, dan berkarakter gelap. Ciri khasnya adalah duet gitar Peterson dan Skolnick yang sangat dinamis. Seperti pada lagu ini, riff-riffnya sangat melodius dan garang pada saat bersamaan. Vokal Chuck Billy yang beraroma kemarahan memberi karakter lain.

Barangkali, pada formasi awal ini titik lemahnya ada pada drummer Louie Clemente. Lagu ini kemudian dirilis ulang pada album kompilasi First Strike Still Deadly (2001), tapi tukang gebuknya udah ganti jadi John Tempesta. Lebih bertenaga memang, tapi justru vokal Billy jadi seperti kehilangan energi. Mungkin karena sudah tidak muda lagi. Kalau mau dengar versi yang raw, silakan simak di The Legacy. Tapi, kalau mau yang lebih polished, bisa jajal di First Strike Still Deadly.

  1. “Extreme Aggression” dari album Extreme Aggression (1989) oleh Kreator

Dari Essen, Jerman, wabah thrashmetal juga merebak. Penyebarnya adalah Kreator. Thrashmetal yang mereka tawarkan relatif berbeda ketimbang sejawatnya di Amerika. Orang-orang Eropa ini lebih melodius, kelam, dan sarat kemarahan. Wujud paling nyata adalah geraman parau Mille yang lebih tepat disebut sebagai teriakan kemarahan ketimbang bernyanyi. Dan, kemarahan paling pecah dan tumpah adalah di album Extreme Aggression ini.

Gaya unik thrashmetal Kreator sudah mulai stabil di Terrible Certainty (1987), tapi di Extreme Aggression-lah mencapai kematangan. Nyaris semua lagu di album ini menurutku merupakan karya klasik Kreator, termasuk hits MTV “Betrayer” dan “Some Pain Will Last”. Tapi, etalase musik Kreator paling komplit ya di lagu tajuk ini.

  1. “Desperate Cry” dari album Arise (1991) oleh Sepultura

Seperti halnya orang menganggap Ride the Lightning lebih bagus ketimbang Master of Puppets, begitupun banyak yang menganggap Beneath the Remains (1989) lebih keren ketimbang Arise. Tapi, bagiku, di album Arise inilah sound band asal Brasil, Sepultura, paling sempurna. Tidak lebih, tidak kurang. Kalau Beneath the Remains merupakan lompatan dari Schizoprenia (1987) yang masih sangat raw, maka Arise adalah penyempurnaan yang paling pas.

Semua nomor di album ini terhitung sebagai yang klasik dari Sepultura, dengan nilai lebih pada “Dead Embryonic Cells”, “Arise”, dan “Under Siege (Regnum Irae)”. Tapi, bagiku yang paling komplet adalah “Desperate Cry”. Vokal growl Max pada baris awal yang sangat memorable, “Sacrifice if pleasure, when life ends in pain…”, struktur lagu yang dimulai dari intro lambat, berkembang menjadi mid tempo, hingga kemudian ngebut menjelang melodi, dan kembali mid tempo, sungguh menggugah emosi. Yang jelas, nomor ini hanya bisa dibawakan oleh Max. Karakternya berubah ketika dibawakan oleh Derrick Green.

  1. “Elimination” dari album The Years of Decay (1989) oleh Overkill

Ini adalah sejawat Anthrax, sama-sama berasal dari Pantai Timur, dan formasi awalnya pun sempat diisi oleh Dan Spitz. Berangkat dari akar musik punk, Overkill kemudian mengambil momentum mewabahnya thrashmetal. Tidak tanggung-tanggung, mereka meng-copy template yang dibikin Metallica. Simak saja intro “Elimination”, bohong banget kalau tidak teringat pada “Master of Puppets”. Namun, Overkill mampu memberikan sentuhan dan karakter yang berbeda, utamanya karena vokal Bobby Ellsworth yang khas.

Kalau mau tahu sound “standar” thrashmetal, ya simak saja Overkill. Beginilah seharusnya old school thrashmetal dimainkan.

  1. “Agent Orange” dari album Agent Orange (1989) oleh Sodom

Kompatriot Kreator. Album ini merupakan kontribusi terakhir Frank Blackfire, sebelum kemudian bergabung dengan Kreator dan membuat Coma of Souls (1990). Mengangkat tema peperangan, dari sisi sound dan gaya bermusik, Sodom cenderung lebih “kalem” dibandingkan Kreator. Meski demikian, thrashmetal yang ditawarkan tetap solid dan bertenaga, seperti dapat disimak pada nomor tajuk album ini.

  1. “The Toxic Waltz” dari album Fabulous Disaster (1989) oleh Exodus

Bersama-sama Testament, Exodus adalah dedengkot Bay Area. Band ini sebenarnya dibentuk oleh Kirk Hammett, tetapi ia kemudian bergabung dengan Metallica ketika Dave Mustaine ditendang. Meski demikian, Gary Holt dkk jalan terus dan menghasilkan sejumlah album thrashmetal yang dianggap klasik, salah satunya Fabulous Disaster. “The Toxic Waltz” merupakan lagu Exodus paling terkenal. Lagu ini bercerita tentang keriuhan di moshpit, salah satu fenomena khas yang mewarnai konser band-band thrashmetal.

  1. “New Song” dari album Handle with Care (1989) oleh Nuclear Assault

Ini juga genk New York, bersama-sama Anthrax dan Overkill. Dibentuk antara lain oleh jebolan Anthrax, Dan Lilker, aroma punk masih sangat kentara pada musik Nuclear Assault. Simak saja gaya bernyanyi John Connelly. Menurutku, ini salah satu album thrashmetal keren dengan warna yang sedikit berbeda.

  1. “Fake Healer” dari album Blessing in Disguise (1989) oleh Metal Church

Nama Metal Church melejit setelah album debut selftitled pada 1984. Namun, album ketiga inilah yang menurutku karya klasik terbaik mereka. Nomor pembuka “Fake Healer” ini paling mantap untuk dijadikan teman headbang gila-gilaan. Begitu heavy sekaligus groovy. Sayang, album ini tidak sediakan Spotify. Jadi, untuk mengenal Metal Church, sila didengar nomor selftitled dari album debut mereka.

Honorable mention termasuk:

  1. “Choir of Horrors” dari album Messiah (1991) oleh Messiah

Ini band Swiss yang potensial pada masanya. Album selftitled ini menurutkan sangat keren sebagai karya klasik thrashmetal. Sayang, band ini akhirnya nggak ke mana-mana.

  1. “The Clerical Conspiracy” dari album Dreamweaver (1989) oleh Sabbat

Warna thrashmetal band asal Inggris ini sangat unik. Sound gitarnya yang full distorsi cempreng habis. Sementara vokalisnya Martin Walkyier bisa menyanyi tak putus-putus. Mengangkat tema folklore dan kisah-kisah abad pertengahan, band ini salah satu favorit, meski mungkin tidak banyak dikenal.

  1. “Seruan Setan” dari album 10 Finalis Festival Rock Se-Indonesia Ke-VI (1991) oleh Valhalla

Satu-satunya band Tanah Air yang aku masukkan. Maklum, anak Medan coi. Siapa yang tak kenal nama bandnya Bang Kevi dan Iruv ini. Boleh jadi Roxx lebih dulu mengeluarkan lagunya di kaset, tapi baru Valhalla yang mengeluarkan lagu thrashmetal.

So, itulah daftar pilihanku. Kalau mau mendengar sekaligus, aku sudah menyusunnya jadi playlist di Spotify. Silakan follow di sini. Tabik!

Advertisements

2 thoughts on ““Copy this and post as your status update”: 12 Album dan Lagu Klasik Thrashmetal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s