Pengawal Setia “Old School Thrashmetal”

kreator_-_gods_of_violence
Gods of Violence, album baru Kreator

Ada yang menarik perhatian dari ponsel Androidku belakangan ini. Tiap mengecek ponsel saat bangun pagi, suka ada notifikasi. Bukan message atau email, tapi misalnya skor pertandingan Juventus, ditandai ikon bola. Lalu, ada berita-berita yang menarik. Nah, pagi ini muncul ikon “G” logo Google. Begitu diklik, isinya ternyata pemberitahuan bahwa album baru Kreator yang bertajuk Gods of Violence sudah dirilis.

Sepertinya, Google mencatat minat kita dan secara berkala menghadirkan cards berisi informasi yang kira-kira bakal kita minati. Aku lihat, deretan cards yang muncul kalau aku membuka Google now memang tidak jauh-jauh dari Juventus, Kreator, Casey Neistat, atau update dari blog-blog yang aku ikuti. How nice… tapi sekaligus mengkhawatirkan juga. Rasanya seperti ada yang memantau kita terus-menerus.

Anyway, 26 Januari 2017 memang menjadi tanggal rilis album baru Kreator. Di akun resmi Instagram Kreator kemarin memang sudah diumumkan, akan ada official release show yang disiarkan live melalui radio online www.fritz.de/livestream. Sayang, waktu dibuka, aku nggak ngerti karena bahasa Jerman.

Tapi, itulah enaknya sekarang ada Spotify. Begitu ada notifikasi albumnya resmi dirilis, aku langsung cek Spotify. Bener aja, album ini sudah bertengger dengan manisnya. Ada 11 lagu baru yang disodorkan dengan total sepanjang 51 menit 43 detik. Di Spotify, ada tambahan bonus 14 lagu (alamak) yang diambil dari DVD Live at Wacken 2014. Mantap!…

Sebagai teaser, aku sudah sempat menyimak “Satan is Real” sejak sebulan silam, dilanjutkan kemarin-kemarin ini “Totalitarion Terror”. Dua nomor ini saja sudah cukup untuk mereka-reka, bakal seperti apa album baru Kreator ini.

Kembali ke akar

Seperti aku sampaikan pada posting terdahulu, Kreator merupakan lapis kedua dari elite thrashmetal. Mereka masih di luar the big four, tetapi bisa dibilang merupakan yang terbesar di Eropa—sejajar dengan Sepultura di Brasil. Secara karakter, thrashmetal ala Kreator berbeda dengan kompatriot mereka dari AS. Musik mereka cenderung lebih kasar dan agresif. Sementara itu, vokal suara palsu Mille terdengar penuh kemarahan. Bandingkan dengan vokal Mustaine yang lebih terdengar seperti nenek-nenek cerewet.

Mari kembali sejenak ke masa lalu. Extreme Aggression yang dirilis 1989 imho menjadi salah satu pencapaian puncak Kreator. Kreator masih mengeluarkan album keren Coma of Souls setahun kemudian, tapi sehabis itu mereka mulai bereksperimen. Awal dekade 1990-an menjadi titik persimpangan genre thrashmetal, sebelum kemudian habis diterpa kebangkitan grunge.

Banyak yang bingung menentukan arah, termasuk dedengkotnya, Metallica, yang malah mengeluarkan album Metallica atau lebih dikenal sebagai black album. Anthrax, Testament, dan Sepultura juga bereksperimen, meninggalkan akar thrashmetal yang cepat dan agresif. Kreator sami mawon, bereksperimen dengan corak industrial pada album Renewal (1992) yang terbukti kemudian menjadi pembaruan yang gagal. Bahkan, Mille berusaha meninggalkan vokal palsunya dan mencoba bernyanyi dengan suara “asli”. Tapi, itu bukan Kreator yang dikenal orang.

Masa terhilang itu berlangsung hingga pergantian milenium. Pada 2001, masuk Sami Yli-Sirnio yang berusia lebih muda sekitar satu dekade dibandingkan personil-personil Kreator lainnya. Masuknya darah segar ini benar-benar menyegarkan. Tahun itu juga Kreator merilis Violent Revolution. Aku ingat, lagu pertama album itu judulnya “Reconquering the Throne”. Yup, Mille sudah datang kembali dan bersiap mengambil alih tahta sebagai jawara metal yang selama ini mereka tinggalkan. Mereka kembali dengan akar musik thrashmetal yang membesarkan mereka. Cepat, agresif, dan penuh kemarahan. Album ini juga yang membuat aku mendengarkan kembali Kreator.

Perang dan kehancuran

Pasca Violent Revolution, Kreator konsisten mengeluarkan album tiap 3-4 tahun. Dan, Gods of Violence ini merupakan album kelima dengan formasi yang sudah ajeg sejak masuknya Sami.

Sejak pagi, aku sudah mendengarkan album ini utuh satu putaran. Kesan secara umum, yesss… ini Kreator yang aku kenal. Mereka yang terobsesi dengan kecepatan dan agresivitas dijamin puas. Semua yang disukai fans dari Kreator ada di sini. Sebagian orang mungkin bilang, apa nggak bosan? Tapi, justru aku bilang, katalog lagu mereka makin banyak sehingga pilihan jadi lebih banyak.

Patut diingat, band-band thrashmetal seperti Kreator ini tidak akan menelurkan hits yang bakal nangkring di tangga lagu populer. Tidak. Menikmati musik mereka justru lebih asoy kalo didengarkan dari awal sampai habis. Ibarat novel, dari awal, pertengahan, hingga habis, kita dibawa menjelajahi pengalaman musikal. Untuk itu, turun-naik tempo dan emosi yang dibangun menjadi lebih penting.

“Apocalypticon” menjadi intro yang menegaskan arah perjalanan kita kali ini. Judul instrumentalia yang bagaikan tabuhan genderang perang ini seakan mengisyaratkan tentang sebuah kisah kehancuran yang akan kita hadapi. Langsung aja, nomor kedua garukan gitar Sami dan Mille dan gempuran drum Ventor menggebrak, “World War Now”. Peperangan dan kehancuran menjadi tema dan benang merah album ini.

Seperti kebiasaan yang mulai aku amati sejak Violent Revolution, Kreator selalu menyisipkan part untuk sing along yang diulang-ulang pada bagian reff. Kebayang, kalau lagi konser, pada bagian ini pasti teriakan membahana bersama tangan-tangan yang teracung ke udara.

Sami bukan hanya mengembalikan kecepatan dan agresivitas Kreator. Sejak kehadirannya, aku merasa Kreator menjadi lebih melodius. Di beberapa bagian juga dapat disimak nada-nada klasik, misalnya pada solo “Gods of Violence”. Satu lagi yang seakan menjadi pola adalah hadirnya lagu mid tempo yang easy listening, seperti “People of the Lie” atau “Violent Revolution”. Nah, di album ini, tugas itu diemban “Fallen Brother”.

Overall, dari awal sampai habis, telinga diajak berpacu. Memang, ada beberapa titik jeda dengan hadirnya intro-intro gitar akustik, tapi langsung disambar lagi dengan distorsi penuh. Benar-benar maknyus. Nomor-nomor yang kuat menurutku “World War Now”, “Lion with Eagle Wings”, dan “Fallen Brother”.

Matang, tapi tidak orisinal

Barusan sempat ngobrol singkat dengan Aldo, temen kantor yang juga gitaris band metal. Aku perdengarkan album baru ini sekilas, dia cuma berkomentar singkat, “Soundnya jadoel.” Hehehe, mungkin aku yang sudah tidak mengerti atau ketinggalan, sound metal yang modern itu kayak apa. Tapi, untuk ukuran orang sebayaku, yang sudah menapaki kepala empat, yang nikmat itu ya begini. Ketimbang band-band metalcore atau metal alternatif yang menurutku terlalu rumit.

Yep, setiap orang pasti merupakan anak zamannya. Zaman boleh berubah, tapi selera atau cinta mula-mula sulit berubah. Aku jadi merasa seperti para seniorku, yang zaman waktu thrashmetal meledak, masih saja setia menantikan album baru dari Purple, Stones, atau Zeppelin. Aku tidak akan pernah lupa masa-masa labil yang penuh kemarahan zaman SMA dan mahasiswa dulu. Dan, setiap kali aku akan mengingat sebaris lirik dari lagu “Love Us Or Hate Us”: “…. we don’t want to be a part of this sick society“. Lepas banget rasanya.

Untuk genre seperti ini, secara teknik dan kualitas permainan, rasanya sudah advance. Orisinalitasnya yang sudah sulit berkembang. Di genre ini, so far Kreator dan Slayer yang tetap setia dengan formula “orisinal” seperti yang mereka tawarkan tiga dekade silam. Menurutku, lebih baik begitu. Tidak usahlah mereka bereksperimen lagi seperti pada era Renewal dulu. Bukannya tidak mau open mind, tapi biarlah masing-masing punya karakter dan ciri khas sendiri.

Gitu aja review selintas yang berkepanjangan ini. Yuk mari jajal di sini.

Advertisements

3 thoughts on “Pengawal Setia “Old School Thrashmetal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s