Inilah Tiga Vokalis Metal Favorit

Boleh percaya, boleh nggak, tapi kiprah saya ngeband yang singkat itu (dari sekitar 1989 sampai 1994) dimulai dengan menjadi vokalis. Waktu itu kelas II SMA dan mengisi pentas musik 17 Agustus, membawakan dua lagu, “Semut Hitam” dari God Bless dan lagu ciptaan sendiri bertajuk “Sajak Mesiu” (wtf! lagu ciptaan sendiri, hahaha).

Nggak usah heran, namanya juga masih remaja labil. Pengen ngeband tapi kemampuan pas-pasan, yang paling masuk akal ya jadi vokalis. Padahal, departemen vokal jelas-jelas bukan perkara gampang. Apalagi kalau mau membawakan lagu-lagu rock milik—di Medan waktu itu nyaris identik dengan—Purple atau Zeppelin. Ya nggak nariklah kalau mau bawain “Highway Star” atau “Black Dog”.

Ketika saya dan karib masa SMA, Bogard, ngobrol-ngobrol pengen bikin band, kita kesulitan mencari vokalis. Sama-sama suka Maiden, tapi vokal bergaya opera Dickinson ya mampus aja nyanyiinnya. Di Medan waktu itu yang nekat bawain Maiden cuma band Greaf Metal (ini nggak tahu salah tulis atau emang mereka maunya begitu, tapi memang namanya “greaf”, bukan “great”) dengan vokalisnya yang kuntet dan kriwil, Nabo. Biar kata pelafalannya ngaco, tapi pede aja bawain “The Trooper”. Salut sih, walau selalu pengen ketawa kalo mengingat dia melengkingkan baris pertama “The Trooper”, “Yu tek mi lof bet ai tek yos tu…”

Sempat terpikir untuk bawain lagu band-band metal standar macam Kiss atau Motley Crue. Yang kepikiran waktu itu “Heaven’s on Fire”-nya Kiss. Tapi ya vokalnya Stanley dan Neil juga bukannya enteng. Tetap aja ada bagian melengking yang sulit dikejar. Nah, akhirnya, pilihan kita jatuh untuk menjadi imitator Metallica, karena range vokal Hetfield terhitung masih “normal”. Secara berseloroh, saking sebelnya pada vokal-vokal tinggi, kita bilang, “Kapanlah musik metal ini nggak perlu vokal yang tinggi… Kalo perlu makin rendah.” Eee, ternyata beneran tuh jadi kenyataan.

Saat itu, vokalis rock nyaris identik dengan vokal tinggi. Nggak, cuma Purple atau Zeppelin, nyaris semua vokalis rock atau metal yang top waktu itu pasti jago mendaki nada-nada tinggi. Nah, mulai dari Metallica, kita berkenalan dengan band-band yang unik karena tak lagi mengejar nada-nada tinggi. Malah, sebaliknya, turun semakin dalam dengan nada-nada rendah.

Kalo menyimak the big four thrashmetal, merekalah pionir yang menjadi jembatan untuk generasi vokalis berikutnya. Belladonna dari Anthrax masih bermain di nada-nada tinggi, simak misalnya album Spreading the Disease. Mustaine imho sebenarnya nggak bisa jadi vokalis, tapi secara dia bos dan yang empunya Megadeth, ya terserah dialah. Dua lainnya, Hetfield dan Araya, menurutku menyanyi apa adanya.

Band-band thrashmetal yang akar punknya masih kuat, seperti Suicidal Tendencies, Nuclear Assault, atau DRI punya gaya vokal yang cenderung nge-punk, lempeng mirip-mirip Johnny Rotten. Yang masih seirama dengan mereka adalah band-band trashmetal papan atas seperti Exodus dan Overkill. Gaya vokalnya cenderung masih konvensional, minus jeritan melengking. Nuansa kelam mulai terasa kalau menyebut Testament, walau gaya bernyanyi Chuck Billy sebenarnya teriakan biasa saja.

Hal itu tampaknya dipengaruhi karakter musik dan tema yang diangkat. Karakter musik thrashmetal lebih garang dan agresif. Lalu, jika band-band metal sebelumnya umumnya mengangkat tema seks dan percintaan, band-band thrashmetal dan penerusnya masuk ke tema-tema yang lebih serius seperti politik, peperangan, lingkungan, hingga masalah keyakinan. Rata-rata bernada kemarahan dan pemberontakan. Jadi ya nggak terlalu pas lagi dengan vokal melengking tinggi.

Sejumlah band mulai bereksperimen. Dari jurusan death metal, yang mengangkat tema satanisme dan kematian, muncullah gaya vokal growl, seperti orang menggeram. Juga “throat”, suara yang tertahan di tenggorokan. Hingga upaya untuk menirukan suara setan ala ala penyihir abad pertengahan.

Beberapa vokalis yang menurutku unik dan khas, di antaranya, Mille Petrozza dari Kreator. Pada album-album awal, sebutlah Endless Pain, vokal Mille lebih mengarah pada gaya umum death metal yang nge-growl. Tapi, mulai Terrible Certainty, Extreme Aggression, hingga Coma of Souls, mulai ajeg dengan teriakan suara palsu yang parau khas Kreator.

John Tardy dari Obituary dan Dani Filth dari Cradle of Filth bisa menjadi contoh suara-suara vokal ala penyihir abad pertengahan. Tapi, ternyata, bisa jadi sangat keren waktu bawain “Hallowed Be Thy Name”-nya Iron Maiden. Gila, lagu masterpiecenya Maiden itu jadi terdengar satanis…

Suara yang mengandalkan tenggorokan bisa disimak pada Max Cavalera dari Sepultura. Sama halnya dengan Kreator, pada album-album awal (Bestial Devastation, Morbid Visions), Max cenderung bergaya death metal. Namun, sejak Beneath the Remains, Max mulai menampilkan karakter yang menjadi ciri khas. Throat yang dalam dan parau sangat pas dengan musik penuh distorsi Sepultura. Gaya ini berlanjut terus hingga album bergaya tribal, Roots. Benar-benar maknyus vokalnya.

Di Inggris ada Napalm Death. Band ini semula kental dengan gaya punk yang dibalut kemasan death metal, jadilah grindcore. Namun, pada Harmony Corruption, mereka lebih kental dengan nuansa death metal. Vokal Barney menjadi total growl dan throat dengan nada sangat rendah. Dari jurusan ini, yang lebih ekstrim lagi ya tentu saja rajanya deathmetal, Suffocation. Gaya “bernyanyi” Frank Mullen bisa dianggap menjadi standar vokal death metal.

Dari jurusan ini masih muncul band-band technical seperti Nile atau Cryptopsy, tempat bermukimnya dua drummer technical tercanggih yaitu George Kollias dan Flo Mournier. Entah mengapa, udah musiknya supercepat, brutal, gelap, dan rumit (hahaha, eat it dude!!), vokalisnya terdengar seperti menggeram, menggerutu, dan kumur-kumur nggak jelas juntrungannya. Hebat kalo masih ada yang bisa menangkap apa yang mereka katakan. Sampai di sini, aku melihatnya yang dikejar adalah efek suara (musikal?) ketimbang pesan melalui lirik.

Band-band metal yang lebih muda, yang membawakan metalcore, juga punya gaya sendiri. Simak misalnya Austin Dickinson dari Rise to Remains. Anaknya Bruce Dickinson ini bisa menyanyi teriakan growl dan teriakan bersih secara bergantian. Simak misalnya di lagu “The Serpent”. Gaya seperti ini diusung juga oleh vokalis perempuan Alyssa White-Gluz waktu masih di The Agonist serta penerusnya, Vicky Psarakis. Cuma, karena karakter vokal growl dan suara beningnya sangat kontras, kok kadang malah jadi annoying mendengarnya.

Rasanya nggak adil juga kalo tidak menyinggung genre metal lain yang juga menjadi favorit aku, power metal. Di sini, jawaranya jelas, siapa lagi kalo bukan Michael Kiske dari Helloween. Dialah peletak fondasi bernyanyi power metal yang bergaya opera dengan tenaga penuh dan jangkauan lebar. Itulah yang kemudian diikuti band-band seperti Stratovarius, Blind Guardian, atau Dragonforce. Sementara, favorit pribadiku adalah Fabio Lione dari Rhapsody. Selain melengking tinggi, karakter suaranya juga gagah, sehingga pas membawakan lagu-lagu epik bergaya opera.

Panjang kali lebar ke sana kemari, aku sebenarnya pengen kasih gambaran macam-macam gaya bernyanyi metal yang ada sampai sekarang. Jadi kembali ke judul tulisan, siapa vokalis metal favorit?

Untuk old school heavymetal, udah nggak perlu ditanya lagi, pastinya the mighty Bruce Dickinson. Simak terutama album-album klasik seperti The Number of the Beast, Piece of Mind, dan Powerslave. Untuk old school thrashmetal, aku menjagokan Max Cavalera. Imho, vokal Max di Arise sangat pas dengan thrashmetal. Untuk jurusan powermetal, Michael Kiske rasanya sangat layak. Ya pastinya dari album klasik Keeper of the Sevens Keys Part I dan Part II. So far, tiga nama ini yang menurutku vokalis terbaik di genrenya masing-masing. Tabik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s