Ada Cinta dalam Es Krim

[PERINGATAN!!! Tulisan ini merupakan spoiler. Jadi, kalau berniat menonton film ini, sebaiknya tidak usah meneruskan membaca. Pergi aja menonton filmnya dulu.]

ig
Foto dok Mp Pro Pictures & Limelight Pictures

Jangan coba-coba berjanji, kalau kau tak bisa menepati. Itulah pesan yang aku tangkap usai menonton film Remember the Flavor semalam, Rabu (8/2).

Eit, jangan salah, biar kata judulnya Remember the Flavor, ini film lokal. Memang nggak biasanya aku menonton film Indonesia. Ini juga karena kebetulan urusan kantor, jadi ya nggak ada salahnya sesekali menyimak perkembangan film lokal. Terlepas dari sejumlah ganjelan, menurutku film besutan Dyan Sunu P ini lumayan bagus.

Remember the Flavor mengangkat kisah pasangan yang telah berteman sejak SMP, Dimas (Tarra Budiman) dan Melodi (Sahira Anjani). Dibuka dengan suasana kota Yogya dan keseharian Dimas sebagai pemilik kedai es krim, adegan lalu berpindah ke stasiun kereta. Melodi yang telah tiga tahun merantau di Ibu Kota hendak pulang kampung ke Yogyakarta. Dia menelepon. Di ujung telepon, Dimas berjanji akan menjemput. Ah, sangat tipikal. Pulang ke Yogyakarta naik kereta. Apalagi latar musiknya lagu “Yogyakarta” dari Kla Project. Paling tidak, awal ini sudah mencuri perhatian.

Di kereta, Melodi bertemu dengan Arnesti (Annisa Pagih), perempuan muda yang hendak ke Yogya untuk mengurus pernikahannya. Dua perempuan muda dalam sebuah perjalanan panjang, cerita yang naskahnya digarap Ratih Kumala ini pun mengalir.

Tiga tahun sebelumnya, Melodi juga menempuh perjalanan pulang serupa. Ia ke Ibu Kota untuk mewujudkan mimpi jadi penyanyi dengan ikut audisi. Sayang, gagal.

Keinginan menjadi penyanyi muncul karena ibunya Melodi (Djenar Maesa Ayu) adalah penyanyi klub malam. Melodi kecil terpesona melihat ibunya bernyanyi di atas panggung di hadapan banyak penonton. Maka, ia pun bercita-cita suatu saat menjadi penyanyi terkenal.

Kepulangannya mengikuti audisi tidak disambut baik oleh ibunya, yang lebih suka Melodi mencari pekerjaan yang “normal”. Namun, Melodi berkeras. Dari sebuah insiden di klub malam tempat ibunya bernyanyi, Melodi justru mendapat kesempatan untuk menggantikan ibunya sebagai penyanyi utama klub malam tersebut. Tak pelak, pecah perang antara ibu dan anak yang membuat Melodi angkat kaki dari rumahnya.

Tidak jelas benar hubungan antara Dimas dan Melodi, yang jelas Dimas sangat mendukung Melodi. Tidak tahu mau ke mana, Melodi lalu meminta izin untuk tinggal di kedai es krim milik Pak Hendro (Ferry Salim), orang tua Dimas. Sebagai imbalannya, ia bersedia untuk bekerja tanpa dibayar.

Sementara itu, bisnis kedai es krim Pak Hendro mulai sepi. Dimas mengusulkan untuk mengubah suasana kedai menjadi lebih kekinian dan menghadirkan varian rasa baru yang inovatif, yang ia sebut “pinakolada” (?). Namun, ayahnya berkeras tidak mau berubah. Selain karena kisah nostalgia dengan ibunya Dimas yang telah tiada, juga karena ia meyakini resep yang membuat kedai tersebut bisa bertahan hingga tiga generasi.

Sampai di sini, aku menduga-duga, konflik apa yang sebenarnya ingin diutarakan pembuat cerita? Kayaknya ini bukan murni kisah percintaan, tapi kok lebih mengarah pada konflik antargenerasi.

Oya, sesekali adegan kembali pada percakapan antara Melodi dan Arnesti dalam perjalanan kereta menuju Yogya. Kisah demi kisah yang meluncur tentang kehidupan Melodi ternyata menarik perhatian Arnesti.

Kisah berlanjut dengan insiden lain di klub malam yang membuat Melodi memutuskan untuk hengkang. Kejadian itu pula yang membuat ibunya berbalik menemuinya. Akhirnya, ibunya mengizinkan Melodi merantau ke Ibu Kota mengejar impiannya. Sedangkan Dimas? Dia bertahan di Yogya mengelola kedai es krim milik keluarga dan yakin bahwa menu pinakolada racikannya bakal digemari.

Biar nggak spoiler semuanya, cerita aku sudahi sampai di sini saja. Aku cuma mau bilang, akhirnya ini memang kisah percintaan—bukan seserius masalah konflik antargenerasi.

Pembuat cerita cukup berhasil menjalin kejadian demi kejadian, sehingga penonton terhanyut, sebelum akhirnya ada twist di penghujung film. Kerenlah, walau memang ini untuk konsumsi usia kaum dewasa muda. Mereka yang di usia pertengahan hingga akhir 20-an, ketika mulai bergulat dengan kehidupan sesungguhnya, berpikir tentang karier, dan masa depan.

Kisah cinta yang ditawarkan bukan yang norak, bertabur kalimat-kalimat basi, dan terjebak dalam situasi-situasi yang bikin risih. Yup, di sini kita bicara cinta yang dewasa, cinta yang “riil”, apa adanya, dan yang berbagai versinya sedang dialami oleh banyak orang. Tak ada kalimat cinta, tak ada puisi, tak ada rayuan.

Yang ada adalah sosok Dimas yang dengan polosnya bertanya tentang perasaan Melodi terhadap dia. Yup, ketololan seperti inilah yang acap terjadi. Bukan rayuan gombal oleh laki-laki galan dengan gaya elegan.

Respons Melodi pun begitu apa adanya. Bukanlah kata-kata yang menenangkan atau malah kemarahan yang lebay. Cukup diam saja dengan wajah tidak suka lalu melengos meninggalkan Dimas. Eat it, Dude.

Adegan perpisahan di stasiun kereta, ketika Dimas dan ibunya melepas Melodi, menurutku adalah adegan lebay tertakar. Sengaja dibikin lebay untuk mempersiapkan twist. Dan, di situlah Dimas mengucapkan janjinya.

Menurut Bobby, teman wartawan film yang kemarin ketemu, untuk ukuran film Indonesia, Remember the Flavor terhitung bagus. Ya, aku pun mengamininya. Terlepas dari sejumlah hal yang menurutku rada nggak masuk akal. Di antaranya, apakah segampang itu seorang perempuan bisa tinggal di kedai es krim. Aku juga tidak tahu, sudah seberapa kosmopolitnya kehidupan di Yogya, tapi ya mungkin Yogya sekarang sudah tak berbeda dengan Ibu Kota. Bukan lagi kampung halaman yang ramah dan bersahabat sehingga senantiasa dikenang seperti kata lagu Katon cs.

So, kalo kamu pengen mengudar rasa ntar di hari yang katanya menjadi hari kasih sayang, sila menonton film ini. Rencananya  akan tayang di bioskop pada 15 Februari mendatang. Buat yang perempuan, merujuk pada karakter Dimas, boleh kok mengingatkan pasangannya agar tak gampang mengumbar janji. Buat yang laki-laki, ya dinikmati aja. Ya seperti karakter Dimas itu (hope you know what I mean, he he he).

Advertisements

2 thoughts on “Ada Cinta dalam Es Krim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s