Mari Kita Bicara Cinta

couple-791461_1920Note dan disclaimer:

Jujur saja, ini sebenarnya bukan tulisan baru. Gagasan di dalamnya sudah berkembang sejak saya masih kuliah pada tahun 1990-an. Lalu, sudah pernah ditulis juga sebagai artikel untuk sebuah majalah internal. Namun, selalu menarik untuk merenungkan kembali pemikiran-pemikiran di dalamnya. Saya tulis kembali dengan mengganti beberapa bagian seperlunya. So, buat yang sudah berumur, nggak usah terlalu diambil hati. Ini cuma “kumur-kumur” anak yang belum cukup umur. Semoga bisa dipahami sebelum terlanjur uzur 🙂

Suatu kali, sekitar pertengahan dekade 1990-an, kami sekelompok mahasiswa Kristen dan Katolik di Fikom Unpad Bandung mengadakan retreat. Seingat saya, lokasi retreatnya di sebuah rumah tua di kawasan Lembang ke arah Maribaya.

Di antara pembicara yang diundang saya ingat ada Romo Sandy dan Th Sumartana, dua nama yang cukup populer kala itu. Romo Sandy saya baru tahu saat itu. Beberapa waktu kemudian namanya mencuat terkait kerusuhan di kantor PDIP atau dikenal dengan sebutan aneh, “Kudatuli” (kerusuhan dua puluh tujuh juli). Sedangkan Th Sumartana adalah pendeta pemikir yang giat dalam dialog lintas agama. Hebat nih panitia, bisa mengundang orang-orang top seperti mereka.

Saya tidak ingat persis urut-urutan acaranya. Tapi, tiba-tiba saja, ada sesi yang kosong. Saya lupa juga, apakah karena pembicaranya telat atau mungkin tidak hadir. Sejumlah kawan panitia menghampiri dan menanyakan kemungkinan saya mengisi sesi tersebut. Waduh, mau bicara apa saya di tengah-tengah kumpulan yang konon religius itu.

Akhirnya, muncul ide kilat. Mengapa tidak membahas buku saja. Kebetulan saya sering berkoar-koar tentang pemikiran Erich Fromm dari bukunya Seni Mencinta (The Art of Loving). Dibantu partner in crime saya, Daniel “Ember”, yang mengusung buku lain (kalo nggak salah karya Anthony de Mello), kita lalu sepakat untuk bicara tentang cinta.

Tak perlulah ditanya, mengapa cinta? Siapa anak muda pada usia awal 20-an tidak terjerat “masalah” ini? Atau, kalaupun masih malu-malu, paling tidak sekali-dua dalam benaknya pasti pernah terbetik soal ini. Dan, memang, seingat saya sesi tersebut kemudian berlangsung cukup hangat. Sejumlah kawan, bahkan kakak angkatan, ikut larut dalam diskusi. Terima kasih pada Mbah Erich Fromm yang membuat saya jadi terlihat begitu genuine dengan pemikiran-pemikiran tentang cinta yang “tidak biasa”.

Salah satu dosen di jurusan saya, namanya Sahala Tua Saragih, biasa mengisi kuliah dengan mengupas buku. Jadi, mestinya saya tidak terlalu asing dengan pola-pola diskusi seperti ini. Sedangkan buku Erich Fromm itu sudah bolak-balik saya baca, walau nggak benar-benar bisa dibilang ngerti. Ya, paling tidak, cukuplah untuk tampak seolah-olah pakar di depan para mahasiswa yang saya khawatir baru kali itu mendengar nama pemikir Jerman yang kerap diasosiasikan dengan Mazhab Frankfurt itu.

Saya tidak ingat persis apa yang saya omongkan saat itu. Karena tidak dipersiapkan, mestinya saat itu saya sporadis saja mengungkapkan pemikiran Fromm. Terutama tentang bagaimana ia memahami cinta sebagai sebuah aktivitas, yaitu mencintai atau loving.

Kata benda, sifat, dan kerja

Pada masa itu, kalau lagi sok-sok-an ngebahas tentang cinta, saya suka membedakannya menjadi tiga, sebagai kata benda, sebagai kata sifat, dan sebagai kata kerja.

Ini tentu bukan urusan bahasa, tapi hanya pengandaian. Sebagai kata benda, cinta bisa dimiliki, disimpan, diperebutkan, dibuang, hilang, dan terinjak-injak. Bagi saya, pemahaman seperti ini berada pada taraf paling rendah. Mudah dikenali dan dipahami, tapi dangkal. Cinta dipahami sebagai gejala-gejala terlihat, seperti sorot mata, senyum, perbuatan memeluk atau mencium, dan seterusnya. Jika pemahaman kita sebatas benda, maka kita akan menjadikannya seperti benda pula.

Ada benda mahal, ada pula yang murahan. Harga benda juga bisa naik-turun. Yang paling menyakitkan, benda bisa dibuang ketika kita sudah tidak menyukainya lagi. Jelas, ini bukan pengertian cinta yang ideal.

Berikutnya, cinta bisa dipahami sebagai sifat. Cinta seperti ini lebih mengedepankan unsur perasaan. Bicara sifat berarti bicara sesuatu yang kualitatif—berbeda dengan benda yang sifatnya kuantitatif. Contohnya, sangat suka, kurang suka, agak suka, kayaknya suka, atau malah suka-suka. Pemahaman seperti ini boleh jadi sangat menyenangkan—tapi bisa juga menyakitkan.

Ketika seorang perempuan memandang laki-laki yang disukainya dan laki-laki itu berkata, “Betapa cantiknya engkau hari ini.” Mendadak, ada perasaan yang meluap dalam dada si perempuan. Dan, sebagai respons perkataan itu, ia menjawab pula, “Aku sangat mencintaimu.” Lain waktu, mereka bertengkar. Tanpa sadar, tangan si laki-laki mendarat di wajah si perempuan. Kali ini, si perempuan berteriak, “Aku membencimu.”

Dibandingkan pemahaman yang kuantitatif, sudah ada kemajuan dari pemahaman kualitatif ini. Pemahaman ini bukan sekadar apa yang terlihat, tapi sudah melibatkan hal-hal yang tidak (selalu) kelihatan seperti emosi. Hanya saja, tidak ada batasan normatif tentang apa yang seharusnya dilakukan. Semua semata-mata masalah perasaan.

Perasaan atau emosi seseorang dapat berubah-ubah dan mengalami pasang-surut. Terkadang, dia bisa begitu hangat. Namun, lain waktu begitu dingin. Dia bisa panas membakar, tapi bisa juga membeku. Tengok saja di tayangan infotainment, saya suka heran ada artis yang berkata tentang pasangannya, “Sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kami.” “Perasaanku terhadapnya sudah berubah.” Alas, ini pun bukan cinta ideal dalam kacamataku.

Nah, yang berikutnya lagi, meminjam Mbah Fromm, cinta dapat dipahami sebagai kerja atau aktivitas. Pemahaman ini sebenarnya juga memahami cinta sebagai sesuatu yang terlihat. Namun, yang terlihat bukan pertama-tama wujud bendanya, tetapi aktivitasnya: apa saja yang dilakukan terhadap subyek yang dicintai.

Rasa dan usaha

Sebenarnya, ketiga pemahaman ini tidak sepatutnya dipahami sebagai hal yang terpisah-pisah. Sebaliknya, ketiganya saling melengkapi untuk memahami apa yang dinamakan cinta. Namun, ketiganya baru menjelaskan tentang “gejala-gejala” cinta, belum lagi menukik pada “materi” atau “isi” cinta itu. Bicara konten, kira-kira ada dua komponen yang dapat kita kenal dari cinta. Yang pertama adalah rasa, emosi, perasaan atau apa pun yang kita istilahkan untuk menamai hal yang tidak nampak tapi bisa dirasakan itu. Yang kedua adalah usaha, yaitu segala hal yang terlihat dan dilakukan oleh dan karena cinta.

Sehubungan kedua hal ini, perlu dipahami sedikit bahwa rasa tanpa usaha atau perbuatan tidak akan menjadi apa-apa dan tidak akan ke mana-mana. Itulah yang terjadi sebutlah pada seorang laki-laki yang tidak berani menyatakan cintanya kepada perempuan idamannya. Ya matilah dia bersama perasaannya. Sebaliknya, usaha tanpa rasa adalah absurd, aneh, nggak jelas. Idealnya, keduanya harus hadir pada saat bersamaan. Jadi, cinta yang ideal menurutku harus ada rasa dan usaha.

Kondisi yang menunjukkan gejala-gejala cinta ini bisa disebut kondisi orang lagi “jatuh cinta”. Kondisi tersebut baru pada tahap yang sangat awal. Dalam perjalanan, cinta akan diuji. Cinta sejati adalah cinta yang sudah diuji oleh waktu. Jadi, memang sulit membenarkan orang yang mengatakan sudah menemukan cinta sejatinya, padahal baru sekali-dua kali bertemu. Jadi, pertanyaan berikutnya adalah cinta yang bagaimana yang ideal?

Banyak orang telah berbicara tentang cinta yang ideal ini. Banyak orang sekadar mengartikan cinta sebagai “perasaan menyenangkan” di mana kita bisa “terjatuh” ke dalamnya. Di sinilah aku bertemu dengan Mbah Fromm. Menurut dia, cinta itu seni. Jika cinta merupakan seni, berarti ia dapat dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan. Untuk itu, kita juga dituntut untuk disiplin, sabar, dan konsentrasi.

Pembahasan Fromm dalam buku Seni Mencinta sangat berbeda dengan buku-buku lain (bandingkan misalnya dengan pakar cinta Leo Buscaglia yang lebih praktis dan menarik minat). Jangan harap buku ini menjadi panduan praktis untuk menaklukkan lawan jenis. Bukan. Erich Fromm justru mengajak kita berkeliling, memikirkan ulang apa yang selama ini kita anggap telah kita mengerti. Kebanyakan bukan pandangan atau hal baru, misalnya saja pembahasan tentang cinta orang tua pada anak, cinta persaudaraan, dan cinta erotis. Namun, pada akhirnya, Fromm mengunci semua pandangan dengan kesimpulan bahwa cinta sebenarnya merupakan “jawaban terhadap masalah eksistensi manusia”. Sederhananya, kehidupan modern yang sangat hiruk-pikuk ini ternyata menyisakan kesepian dan perasaan terasing dalam diri banyak orang. Dan, mereka mencari jawaban atau solusinya dalam cinta dan lembaga yang disebut pernikahan.

Menjadi dengan memberi

Mencintai menurut Fromm bukan masalah “memiliki”, melainkan “menjadi”. Caranya, dengan “memberi”. Fromm berkata, menjadi kaya bukanlah karena berapa banyak yang dimiliki, melainkan berapa banyak yang dapat diberikan. Maka, menjadi kaya oleh cinta berarti bukan menerima dan memiliki banyak cinta, melainkan memberikan banyak cinta.

Memberi menjadi hal penting dalam gagasan Fromm. Yang dimaksud bukanlah memberi materi, melainkan memberi hal yang paling berharga milik seseorang, yaitu dirinya sendiri. Fromm berkata, “Ia memberi dari apa yang hidup di dalam dirinya; memberi kegembiraannya, dari minatnya, dari pengertiannya, dari pengetahuannya, humornya, kesedihannya – segala ungkapan dan pernyataan dari apa yang hidup di dalam dirinya. Dengan memberi hidupnya, ia memperkaya pribadi yang lain”

Cinta menurut Fromm adalah perhatian aktif pada orang yang dicintai. Seseorang mencintai apa yang ia usahakan dan berusaha untuk apa yang ia cintai. Apakah terdengar terlalu penuh pengorbanan dan seakan-akan tidak memikirkan diri sendiri? Tidak juga. Justru, menurut Fromm, dengan memiliki pandangan yang “benar” tentang cinta dan tekun berlatih mencintai, pelaku akan mendapatkan manfaat dapat mengatasi masalah keterasingan yang dialaminya, sekaligus membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka yang mempraktikkan latihan cinta juga akan lebih dapat menikmati hidup. “Memberi berarti membuat pribadi yang lain itu menjadi seorang pemberi juga dan mereka berdua ambil bagian dalam kegembiraan atas apa yang mereka bawa pada hidup ini.”

Happy valentine’s day! Sudahkah kamu memberikan dirimu hari ini pada yang kamu cintai?

IMG_20170209_070837

 

Advertisements

One thought on “Mari Kita Bicara Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s