Baca Buku yang tak Lagi Keren

kindle-381242_1920
Kindle, gaman untuk baca buku. (Photo by Pixabay.com)

Saat wawancara untuk masuk ke perusahaan tempat aku bekerja sekarang, salah satu pertanyaan kunci yang “berhasil” aku jawab dengan baik adalah tentang hobi. Jawabannya sederhana saja: baca buku. General manager departemen yang aku tuju (kelak menjadi CEO sebelum akhirnya resign dan sekarang aktif di sebuah sekolah periklanan) tak percaya begitu saja. Ia lantas mengejar dengan pertanyaan lanjutan, siapa pengarang favoritku. Dengan sigap aku menjawab, Frederick Forsyth.

Hahaha, mungkin sekarang aku buka kartu. Sesungguhnya, hingga detik itu aku belum pernah menyentuh, apalagi membaca buku Forsyth. Hanya saja, aku berhitung, pertanyaan ini sangat penting untuk menentukan apakah aku diterima atau tidak pada posisi penulis yang aku lamar. Salah menjawab tentang hal ini bisa berarti kegagalan.

Nama Forsyth sangat membekas di kepala berkat iklan jam tangan mewah Rolex. Iklan yang kala itu kerap dimuat di majalah-majalah kenamaan ini sangat elegan. Isinya berupa artikel singkat tentang betapa seorang penulis andal sangat memperhatikan waktu. Ilustrasinya adalah foto si Forsyth di meja kerja sembari—tentu saja—mengenakan jam tangan Rolex.

Iklannya keren, jadi suka aku baca. Makanya, aku tahu kalau si Forsyth ini menulis thriller antara lain bertajuk The Day of the Jackal dan The Fourth Protocol. Dari iklan itu, aku bisa bicara—meski tak banyak—tentang Forsyth, juga karya-karyanya.

Aku berhitung, kemungkinan besar bapak GM yang terhormat itu belum pernah membaca karya Forsyth. Tapi namanya terdengar keren dan berkelas. Judul-judul bukunya juga mentereng. Kalau aku bisa bercerita dengan penuh percaya diri, kemungkinan besar citra aku di mata beliau akan sangat positif. Gile, muka kampung gini ternyata seleranya berkelas! Dan, ternyata kemudian, aku memang diterima. Salah satunya, aku yakin, gara-gara si Forsyth itu.

Sebenarnya aku tidak berbohong dengan mengatakan suka membaca. Hanya saja, aku pun harus bisa memberi jawaban yang sekaligus menjadi pencitraan. Waktu itu, karena belum lama membuat skripsi, kebanyakan buku yang aku lahap adalah buku-buku teks. Nggak asyik kayaknya untuk menyebutkan judul buku teks, karena kesannya student kali. Apalagi menyebut buku-buku filsafat terbitan Kanisius yang suka aku baca, seperti karya-karya Francisco Budi Hardiman, jangan-jangan udah dicoret duluan namaku.

Novel sebenarnya aku suka, tapi yang sering aku baca ya Balada si Roy atau, waktu di SMA, Lupus. Cuma, temanya remaja labil banget. Nggak menjual. Baru saat kuliah aja coba-coba menjajal buku-buku sastra terbitan Obor. Tapi kok aku pikir kesannya jadi sok nyeni banget. Bukan pilihan yang bagus juga untuk seorang penulis iklan.

Pernah juga sih baca-baca karya Agatha Christie. Tapi, menurutku ini terlalu mainstream. Boleh jadi si bapak GM lebih hafal. Bisa matek aku, karena sebenarnya nggak terlalu ngelotok dengan bacaan itu. Padahal, menyebut nama Forsyth juga sebenarnya agak berjudi. Kalo ternyata bapak GM pernah baca, alamat mampus kalo nggak bisa menjawab pertanyaan yang lebih detil.

Ini kejadian setelah beberapa waktu kemudian gantian aku yang mewawancara calon penulis di bagianku. Hobi baca buku ini aku jadikan pertanyaan standar. Dari sini aku bisa menakar wawasan si pelamar.

Suatu kali, pernah ada adik kelas yang melamar. Lupa angkatan berapa, tapi gayanya agak-agak sotoy. Dugaanku, dia ini dulu aktif di kampus dan banyak omong. Dia berkoar-koar bahwa dia peminat aliran Mazhab Frankfurt. Wah wah, dia berhadapan dengan orang yang salah… Langsung saja aku kuliti dengan menanyakan pendapat dia tentang pemikiran-pemikiran Horkheimer dan Habermas. Mati kutu dia, tak bisa lagi menjawab. Makanya, hati-hati Bung kalo ngomong.

Oya, selama mewawancara calon-calon penulis baru, nama yang lazim disebutkan kalo aku bertanya tentang pengarang favorit adalah Pramoedya Ananta Toer. Keren sih kalo ada yang menjawab dengan menyebut nama Pram, tapi untuk posisi yang ditujukan agak-agak kurang pas. Setidaknya, begitu penilaianku terhadap mereka yang menjawab demikian. Entah benar-benar mereka menggemari Pram atau tidak, orang pasti akan punya penilaian tertentu jika nama itu yang disebut. Kalo yang menggemari Pram aku nilai sebagai orang yang kritis dan “sosialis”.

Ada masanya juga ketika hampir semua pelamar yang aku tanya menjawab dengan menyebut nama Paulo Coelho. Dan, herannya, kebanyakan yang menyebut nama ini adalah perempuan. Membandingkan karakter orangnya, mereka yang memfavoritkan Coelho cenderung kaum urban yang stylish dan agak-agak kenes. Gaul, tapi pengen dianggap punya otak. Hahaha.

Yang menyedihkan kalo ternyata si pelamar tidak suka baca, bahkan tidak dapat menyebutkan satu nama pengarang atau judul buku. Yang begini ini kalo asal nyablak menyebut nama pengarang secara random pasti gampang ketahuan. Dia nggak bakalan bisa ngomong kalo ditanya lebih jauh. Mohon maaf, pasti aku coret. Bagaimana mau jadi penulis kalau tidak suka baca buku.

Pentingnya buku sebagai pembentuk wawasan rasanya sudah sepasti 1 + 1 = 2. Setidaknya sampai kemarin-kemarin, ketika internet belum begitu marak. Makanya, aku sangat tersentak ketika mendengar wawancara Gary Vee. Entrepreneur dan tokoh medsos ini sangat menohok ketika diwawancarai Ken Coleman di salah satu episode podcast Entreleadership. Ditanya tentang buku yang sedang ia baca, dengan enteng Gary menjawab, “I don’t read book.” Alamak!

Ken berusaha menggali lebih jauh dan bertanya tentang buku yang mungkin berpengaruh pada pemikirannya, dan Gary tetap menjawab: tidak ada. Akhirnya dia menjawab, “Maybe history.” Ini kayaknya jawaban terpaksa, karena sejujurnya memang dia tidak suka membaca. Padahal, karena sekarang sedang sukses sebagai pembicara di mana-mana, Gary mendapat kontrak untuk menulis sejumlah judul buku. Boleh dicari yang sudah beredar antara lain Crush dan Jab, Jab, Jab, Right Hook. Busyet, ternyata ada juga penulis buku yang tidak pernah membaca. Ya Gary ini.

Semua buku Gary—yang lumayan laris itu—ditulis oleh ghost writer. Selama beberapa waktu terakhir, aku berusaha menuntaskan Crush. Kalo disimak, gaya bertuturnya seperti bahasa lisan, kayak membaca omongan Gary yang ditranskrip. Nyaris tidak ada beda dibandingkan apa yang sering ia sampaikan dalam berbagai podcast atau wawancara. Cuma kali ini dalam bentuk tertulis.

Poin aku sampai di sini, ternyata sekarang untuk memperkaya wawasan tak mesti membaca buku. Bisa saja dengan browsing internet, baca Wikipedia dan berbagai situs menarik, ikutin blog, mendengar podcast, dan menonton YouTube. Isi kepala millenial yang tak pernah baca buku boleh jadi sama, atau malah lebih kaya ketimbang mereka yang kutu buku.

Fenomena buku digital yang bisa dibaca melalui gaman seperti tablet, Kindle, atau Nook, sekarang agak-agak sulit dibedakan dengan membaca konten digital lainnya. Bedanya paling di plot/alur dan gaya tutur. Selain itu, jika dibandingkan dengan Wikipedia atau kumpulan blog seperti Lifehacker, boleh jadi buku digital—yang sebenarnya versi digital dari buku cetak—kalah kaya. Konten digital pada umumnya memiliki tautan ke sumber lain yang terkait. Selain itu, ada juga pengayaan dalam bentuk multimedia (video atau suara). Jadi, kalau tujuannya belajar dan menambah wawasan, ya tak mesti harus dari “buku”.

Bahkan, menyerap konten digital kini tak lagi harus dengan “membaca”. Tengok saja audio book alias buku digital yang dibacakan, atau juga podcast, konten bisa diserap semberi menyetir atau lari pagi. Hal ini tak mungkin dilakukan jika bentuknya buku cetakan.

Aku tak mau terkesan jadi orang tua yang mengelu-elukan masa lalu. Dunia sudah berubah. Buku barangkali kini tak lagi keren. Besok-besok, aku tak boleh lagi gegabah menakar wawasan orang hanya dari buku yang ia baca. Kini, konten adalah segalanya, entah dalam bentuk atau platform apa…*

Advertisements

One thought on “Baca Buku yang tak Lagi Keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s