The Lego Batman Movie, Ketika Harga Diri Direndahkan

01the-lego-batman-movie
The Lego Batman Movie (foto-foto Dok Warner Bros)

Tertunda sepekan sejak mulai diputar di Tanah Air karena menunggu Jeremy selesai ulangan tengah semester, akhir pekan kemarin, Sabtu (18/2), kami akhirnya menonton The Lego Batman Movie.

Ketika kabar film ini akan diputar, Jeremy sudah mewanti-wanti untuk wajib nonton. Yup, entah dari teman-teman sekolahnya atau dari internet, Jeremy sangat update akan jadwal tayang film-film baru. Jangan coba-coba ngeles, pasti ditagih.

Tapi, aku sendiri tidak keberatan. Menurut desas-desus yang beredar, film ini cukup bagus. Jadi, walau Bekasi diguyur hujan sejak pagi, kami memutuskan untuk tetap berangkat menonton.

Konyolnya, di Grand Metropolitan Bekasi, The Lego Batman Movie diputar di studio yang tidak terlalu besar. Makanya, meskipun kami datang cukup awal, harus rela dapat tempat duduk nomor tiga dari layar.

Namun, tidak sia-sia susah payah kami menembus hujan. Terbukti, The Lego Batman Movie merupakan tontonan yang sangat menghibur. Premis yang ditawarkan juga cukup kuat: apa jadinya jika alasan keberadaan tokoh jawara mendadak hilang? Ya bingung, disorientasi, bahkan cenderung kalap.

Begitulah yang dialami Batman, yang pada awal cerita digambarkan begitu jemawa. Apa yang tidak dimiliki Batman? Dia kaya, fisiknya kuat, intelegensinya tinggi. Tidak ada yang dapat mengalahkan dia. Tidak juga Joker, musuh bebuyutan yang sudah merancang ide brilyan menghancurkan kota Gotham. Nyatanya, dengan mudah dipatahkan Batman dalam sekali gebrak.

Batman tak butuh siapa-siapa. Dia dapat menyelamatkan Gotham seorang diri. Usai mengalahkan Joker, sang pahlawan menghirup dalam-dalam semua puja-puji warga Gotham. Bahkan, bukan hanya mengalahkan, Batman juga mematahkan ego Joker dengan mengatakan bahwa dia tidak ada artinya di mata Batman. Direndahkan harga dirinya membuat Joker dendam dan mempersiapkan rencana lain yang tak terduga.

Siapa nyana, berikutnya justru giliran Batman yang direndahkan. Selang sehari setelah gegap gempita kemenangan atas Joker, Batman dalam wujud Bruce Wayne menghadiri pesta perpisahan komisaris polisi Jim Gordon. Penggantinya adalah anaknya, Barbara Gordon, polisi muda yang cerdas dan trengginas.

Sejenak terpesona oleh penampilannya, sejurus kemudian Batman atau Wayne dikejutkan oleh pernyataan Barbara. Menurut Barbara, kehadiran Batman tidak ada artinya. Meski menaklukkan banyak penjahat, nyatanya angka kejahatan di Gotham tetap tinggi. Maka, berbeda dengan ayahnya yang mengandalkan Batman, Barbara mengajak warga Gotham bersatu dan menolak kehadiran Batman.

Masih terkaget-kaget oleh pernyataan Barbara, tiba-tiba Joker dan gerombolannya menyerbu. Wayne pun langsung beralih wujud menjadi Batman. Ia berharap, momen ini dapat menjadi pembuktian bahwa dirinya dibutuhkan. Nyatanya tidak, karena Joker datang justru untuk menyerah tanpa syarat dan minta ditangkap. Batman pun kehilangan pijakan.

Takut masa lalu

Selain ego kepahlawanan, ternyata Batman punya “masalah” lain. Setiap kali usai dipuja-puji atas aksi kepahlawanannya, ia kembali ke dalam gua kelelawar, beralih wujud menjadi Wayne, dan menjalani keseharian dalam kesendirian. Ia tinggal di rumah besar yang mewah, dilengkapi berbagai fasilitas canggih, dan menikmati semua hal terbaik. Namun, ia sendiri. Tepatnya, hanya ditemani pelayan setia, Alfred.

Tak jarang, ia menatap dan “bercakap-cakap” dengan foto mendiang orang tuanya. Keluarga menjadi hal yang menakutkan bagi Wayne. Ia tak siap mengalami kembali kehilangan besar. Hingga akhirnya masuklah Dick Grayson, remaja yatim piatu pengagum Batman.

Alih-alih menjadi orangtua yang baik, Wayne alias Batman justru memanfaatkan Dick—yang kemudian menjadi Robin—untuk mewujudkan rencananya menghukum Joker. Mereka menyusup ke kediaman Superman, Fortress of Solitude, dan mencuri proyektor untuk mengirim Joker ke Phantom Zone. Ternyata, hal itu sudah diantisipasi Joker. Justru, tindakan kalap Batman itu membuka jalan untuk mewujudkan rencana pembalasan dendam Joker yang lebih mengerikan.

Menarik untuk menyimak bagaimana Batman mengatasi konflik ego kepahlawanan serta ketakutan akan masa lalu. Berhasilkah dia mengatasi Joker? Kemudian, bagaimana hubungannya dengan Robin dan Barbara? Silakan ditonton filmnya.

Yang jelas, meski konfliknya terhitung kompleks, film ini tetap nyaman ditonton oleh anak-anak. Tentu saja karena banyak aksi laga yang memikat. Belum lagi efek-efek khusus yang menggoda imajinasi siapa saja yang menggemari permainan potongan lego.

Mungkin aku tak lagi sebegitu terpesona dibandingkan saat menonton The Lego Movie (2014), melihat betapa potongan-potongan lego yang kaku bisa tampak begitu hidup dan dinamis. Kuncinya memang pada kekuatan cerita dan karakter para tokoh lego ini, yang sangat membius dan menghanyutkan.

Will Arnett, dengan suaranya, mampu menghadirkon karakter Batman yang angkuh, keras kepala, sekaligus konyol, dan sedikit nyinyir. Aku sudah mulai tertawa bahkan ketika narasi Batman mengomentari layar hitam kosong pada awal film. Siapa pula yang tak tergelak menyimak sandi rahasia memasuki gua kelelawar, “Iron Man sucks!” Puas banget kayaknya fans DC mengejek jagoan Marvel itu.

Kehadiran Superman dan jajaran Justice League yang berpesta di Fortress of Solitude juga menghadirkan situasi komedi yang tak akan terbayangkan muncul pada versi komiknya. Benar-benar menghibur, tanpa melupakan kedalaman cerita.

Meski demikian, ini tetaplah tontonan untuk semua usia. Jadi, begitu film usai, tak ada pikiran yang terlalu membebani. Premis yang ditawarkan juga tak perlu menjadi perenungan mendalam. Cukuplah dinikmati sebagai konflik yang menjadi warna cerita. Silakan beranjak dari bangku dan keluar studio selesai Batman mengomentari layar putih yang katanya menjadi kebiasaan pada film-film megah. Dasar! Hahaha.

Rilis perdana: Februari 2017 (AS)

Sutradara: Chris McKay

Produser: Dan Lin, Roy Lee, Phil Lord, Christopher Miller

Pemeran (suara): Will Arnett, Zach Galifianakis, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes

Distribusi: Warner Bros

1$_LEGO BATMAN_Final.jpg

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s