Akhirnya Kesampaian Nonton Julie Estelle

Ini bukan curcol, tapi sekadar menceritakan apa adanya. Setelah menikah, kalau kamu mencintai pasanganmu, kemungkinan besar kamu akan mengurangi waktu untuk hal-hal yang kamu sukai. Hal ini tak mesti berarti buruk, karena kamu (memang) akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk orang-orang yang kamu cintai.

Begitu juga dengan aku. Musik, buku, dan film adalah hal-hal yang aku sukai. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa henti untuk menikmati ketiga hal itu. Setelah menikah, porsi waktu untuk menikmati ketiga hal itu banyak yang dialihkan untuk ngobrol dengan isteri atau bermain dengan anak.

Bisa juga sih bersiasat. Misalnya, musik dapat aku nikmati sembari melaju mondar-mandir rumah-kantor. Nggak masalah, apalagi dengan Spotify, akses pada musik-musik terbaru menjadi sangat mudah dan praktis.

Yang paling sulit adalah baca buku. Ini kegiatan yang nyaris mustahil disambi. Nggak mungkin kan baca buku sambil jogging atau nyetir. Audio book mungkin bisa menjadi solusi, tapi karena baca buku itu butuh fokus, makanya butuh waktu khusus juga agar benar-benar efektif.

Sementara itu, nonton film agak di tengah-tengah. Dibandingkan denger musik dan baca buku yang cenderung dinikmati sendiri, nonton film bisa dilakukan bareng-bareng. Asal, filmnya cocok. Ini juga yang jadi masalah. Setelah Jeremy agak gedean, kami memang jadi sering nonton. Cuma, filmnya film anak-anak. Malah, Jeremy sekarang sudah ketularan hobi nonton. Kalau ada film anak-anak yang baru, dia lebih dulu tahu dan jauh-jauh hari sudah ngingetin untuk nonton itu film.

Sebenarnya, dari zaman pacaran dulu, aku dan Icha juga tidak terlalu sering nonton. Soalnya, Icha memang nggak hobi nonton. Dia lebih senang windowshopping (maunya sih shopping beneran, tapi berhubung budget sering terbatas ya cukuplah lihat-lihat dulu) dan ngobrol (tepatnya, dia bercerita, aku mendengarkan). Kalau pun kami nonton ala-ala orang pacaran, filmnya mesti film romantis. Nggak boleh yang berat-berat, yang berantem-berantem, yang ngagetin, apalagi yang nakutin. Bayangin aja, kami pernah nonton film Transformers bersama Jeremy. Usai film yang superseru itu, Icha bilang, sepanjang film dia mengantuk dan kayaknya sempat tertidur. “Habis filmnya berantem mulu dari awal sampai habis…” Alamak!

Yang lebih cilaka, meskipun sudah nonton film romantis, saat pacaran dulu aku masih suka diprotes. Pasalnya, kata Icha aku terlalu fokus pada film dan mencuekkan dia. Lah emang?… [blo’on mode ON]

Singkatnya, bisa nonton film sesuai keinginan itu buatku jadi problem. Walau pada dasarnya suka nonton film apa aja, kadang-kadang pengen juga dong nonton film sesuai selera atau keinginan pribadi.

“Surat Dari Praha”

Tentang hal ini, bukannya nggak bisa disiasati. Kan katanya di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ya tinggal pintar-pintarnya aja cari solusi. Nggak bisa di bioskop, ya nonton DVD di rumah waktu Jeremy dan Icha sudah tidur. Cuma, memang harus ada effort untuk nyari DVD-nya. Belum lagi, untuk film-film tertentu, kadang sulit ditemukan.

Ambil contoh, tahun lalu ada filmnya Julie Estelle yang bertajuk Surat Dari Praha. Selain karena bintangnya Julie Estelle (ehm), tema yang diangkat film ini juga menarik buatku, berkisah tentang eksil di Praha, Ceko, yang tidak bisa pulang karena situasi politik.

Tema ini menarik perhatian karena sebelumnya aku baru menuntaskan novel Leila Chudori yang bertajuk Pulang. Terinspirasi dari kehidupan Sobron Aidit dkk yang terdampar di Paris, novel Leila Chudori itu entah mengapa terasa sangat dekat. Kerinduan akan kampung halaman mungkin nggak bunyi bagi sebagian orang, tapi bagi orang-orang perantauan macam aku, ada bagian-bagian tertentu di mana aku merasa terhubung—walau tentu saja dengan level dan intensitas yang beda. Aku merasa dapat berempati pada karakter Dimas Surya. Selain itu, menarik juga mereka-reka kompleksitas perasaan anak seorang eksil yang separuh dirinya punya Tanah Air yang belum pernah dilihat.

Surat dari Praha mungkin tak sepenuhnya sama dengan novel Pulang. Tapi, pergulatan para eksil ini jelas menarik untuk disimak. Belum lagi, setting cerita Ceko tambah bikin penasaran. Jarang-jarang soalnya nonton film dengan latar belakang Eropa timur. Apalagi kemudian film ini dinobatkan jadi film terbaik Usmar Ismail Awards 2016. Jelas bukan film sembarangan.

Terkait pemain, Julie ini dari pemahamanku yang cetek tentang bintang-bintang film nasional, termasuk berkelas dan tidak norak. Genre film yang dibintanginya juga sangat bervariasi, dari film remaja, horor, hingga film laga. Di The Raid 2, meski tampil amat singkat, tapi perannya sebagai the hammer girl sangat memorable. Makanya, ketika Julie main di film yang menyambar-nyambar tema politik, aku jadi penasaran.

Untuk ngajak Icha nonton film ini ke bioskop, rada-rada mustahil. Meski ada muatan kisah cinta, tapi film ini kayaknya termasuk kategori berat. Yang paling masuk akal ya nyari DVD-nya nanti kalo sudah beredar.

Hooq

Beberapa waktu lalu, nggak sengaja aku terima SMS pemberitahuan dari 3 bahwa nonton Hooq kini bisa dengan potong pulsa. Biasanya aku nggak terlalu antusias dengan penawaran-penawaran begini, cuma karena yang ditawari film, aku pikir nggak ada salahnya dilihat-lihat dulu.

Setelah menginstall Hooq, mataku langsung berbinar-binar begitu membuka aplikasi ini. Surat dari Praha ternyata nangkring dengan manisnya di jajaran film Indonesian Hits. Kalau mau nonton juga nggak repot. Tinggal beli paketnya, ikuti tombol menu, potong pulsa, voila… sudah bisa akses film-film di Hooq.

Ada sejumlah paket atau plan yang tersedia, mulai dari paket 7 hari seharga Rp 18.700, paket 30 hari seharga Rp 49.500, paket 90 hari seharga Rp 124.000, paket 180 hari seharga Rp 244.000, dan paket 360 hari seharga Rp 440.000. Belinya bisa lepasan atau langsung auto-renew biar nggak repot-repot memperpanjang. Itupun bisa di-cancel kapan saja. Berhubung mau coba-coba dulu, aku pilih paket yang paling murah, yang 7 hari Rp 18.700.

Selain Surat dari Praha, mengintip koleksi film Hooq ternyata lumayan banyak. Katalognya meliputi lebih dari 10 ribu judul film dan acara TV. Untuk film-film Hollywood, kayaknya yang baru-baru belum banyak. Tapi, untuk serial TV lumayan bagus-bagus. Yang terhitung baru ada Supergirl. Sementara yang lawas, ada Friends yang komplet 10 seasons.

Penggemar film lawas Indonesia pasti termehek-mehek, karena koleksinya cukup banyak. Mulai dari film-filmnya Warkop, Suzanna, Ateng, Si Boy, hingga film-film pemenang FFI macam Nagabonar atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Agar lebih mudah dijelajahi, Hooq bikin macam-macam kategori. Ada Superhero Sensations, Hollywood Hits, Martial Arts, Anime, Indonesia Era Lama, Best of Bollywood, For Toddlers, dan banyak lagi. Atau, langsung saja ketikkan judulnya di kotak pencarian.

Yang keren, ada fitur untuk download. Jadi, kalo ketemu wi-fi bisa download dulu, nontonnya ntar bisa di mana aja. Fitur ini membantu banget, karena nontonnya jadi nggak tergantung koneksi data alias bisa di mana aja. Cuma yang perlu diingat, space di ponsel harus lega, karena downloadan film itu ukurannya lumayan gede.

Fitur lain yang cukup membantu adalah ketersediaan subtitle, jadi nggak bakalan nemu terjemahan aneh-aneh kayak nonton DVD bajakan. Selain itu, pilihan kualitas video juga memungkinkan kita menyesuaikan dengan koneksi internet yang tersedia.

Overall, meski aplikasi dan koleksinya bukan yang paling canggih, Hooq patut dipertimbangkan karena keunikannya. Selain paket yang terjangkau dan nggak mesti pakai kartu kredit, Hooq juga punya koleksi film yang jarang ditemui di tempat lain. Dan, yang paling penting tentu saja bisa ditonton kapan dan di mana saja.

Inilah yang aku lakukan. Setelah download Surat dari Praha, nontonnya “nyicil-nyicil” kalo ada waktu. Menjelang tidur, di sela-sela waktu istirahat kantor, atau kalo lagi menyepi di kamar kecil. Dalam dua hari, tuntaslah film itu.

Jadi, nggak perlu ngeluh kalo kamu belum bisa mendapatkan atau melakukan yang kamu mau. Katanya, good things come to those who wait. Sabar aja, nanti pasti ada jalannya. Udah ah, kayaknya sok tua banget gw. Mumpung udah mau weekend lagi, aku sudah mikir-mikir untuk nonton Soekarno dan Filosofi Kopi di Hooq. Yok mareee…

Advertisements

5 thoughts on “Akhirnya Kesampaian Nonton Julie Estelle

  1. “Sabar aja, nanti pasti jalannya.” Mas Aca, kurang kata “ada”. 😄
    Kereeenn tulisannya, Mas. Jadi kepingin travelling *lho salah ya..* pesan moral baca ini jagalah keseimbangan supaya tetap waras & bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s