Jam yang Berhenti Berdetak

clock-316604_1280.jpg
Jam yang berhenti berdetak (Photo by Pixabay.com)

Kisah ini dimuat di sebuah majalah anak-anak yang aku baca waktu kecil dulu. Kisahnya masih membekas sampai sekarang.

Suatu kali, ada sebuah jam yang sedang kurang kerjaan. Pada saat lagi bengong, ia mulai berpikir-pikir, berapa banyak ia harus berdetak.

Ia menghitung, dalam satu menit ia harus berdetak 60 kali. Lumayanlah, nggak berat-berat amat.

Dalam satu jam, 3.600 kali. Eh, kok banyak juga ya.

Dalam satu hari, 86.400 kali. Waduh…

Dalam satu minggu, 604.800 kali. Busyet….

Dalam satu bulan, 2.419.200 kali. Alamak!

Dalam satu tahun, 29.030.400 kali. Mampus!!!

Si jam pun mendadak lemas memikirkan angka yang demikian banyak. Begitu lemasnya, sampai ia tak mampu lagi berdetak. Kemudian, lewatlah seekor tikus. Melihat jam tak berdetak, tikus bertanya. “Hei, Jam. Kok ente nggak berdetak?”

“Iya nih, aku lemas,” sahut jam.

“Kenapa lemas?”

“Ternyata, dalam setahun ke depan, aku harus berdetak sebanyak 29.030.400 kali. Bayangkan… banyak sekali. Entahlah, apakah aku sanggup melakukannya.”

Si tikus menyeringai. “Kamu ini bodoh. Mengapa harus pusing memikirkan berapa kali harus berdetak setahun ke depan. Pikirkan saja, berapa kali kau harus berdetak dalam sedetik?”

“Satu kali…”

“Ya sudah. Itu saja lakukan, mengapa harus pusing-pusing memikirkan setahun ke depan,” ujar tikus sembari ngeloyor pergi.

Pelan-pelan jam merenung. Iya juga, pikirnya. Selama ini telah bertahun-tahun ia berdetak tanpa masalah. Berarti, ia sudah berdetak jauh lebih banyak ketimbang jumlah yang ia pikirkan untuk setahun ke depan. Toh, ia mampu melakukannya. Mengapa pula sekarang ia harus cemas dan khawatir untuk tugas yang harus ia lakukan. Cukup berdetak satu kali setiap saat. Hanya itu saja yang ia perlu lakukan.

Ini kisah aku ceritakan ulang pakai bahasaku sendiri. Aku tak ingat persis detail ceritanya, tapi logika dan moral of the storynya begitu kuat, sehingga aku masih mengingatnya setelah puluhan tahun berselang.

Pagi ini, dalam perjalanan mengantar Jeremy ke sekolah, tiba-tiba saja kisah ini melintas di kepala dan aku bagikan pada Jeremy. Dia cuma mengangguk-angguk dan bilang kalau dia sudah pernah mendengarnya. Barangkali, ini memang bukan pertama kalinya aku menceritakan kisah ini padanya.

Bukan sok tua, tapi memang aku kira ini adalah proses alamiah antara orangtua dan anak. Sebagaimana ada banyak nilai yang aku terima dari bapakku, sekarang pun aku mulai mentransfer nilai-nilai yang aku anggap baik kepada anakku.

Mengapa kisah ini jadi penting?

Jadi ceritanya, kemarin Jeremy mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ada tugas kelompok dari sekolah dan dia minta aku nge-print artikel tentang pemanasan global dan beruang kutub. Biasanya memang begitu, daripada mencari dan nge-print sendiri di rumah, Jeremy minta tolong pada babenye. Namanya sayang anak, ya sudah aku kerjain. Toh, cuma googling dikit dan nge-print doang, nggak sampai 5 menitlah. Karena pulang kantor Jeremy sudah tidur, aku menaruh print-an artikel itu dekat tas sekolahnya.

Subuh tadi, tiba-tiba saja dia panik. “Lho, kok dalam bahasa Inggris, Pa?” tanyanya.

“Lha kan sudah difoto kemarin, papanya tanya, ‘yang kayak gini’. Anaknya bilang ‘iya’. Ya sudah, papanya print.”

Jadi, ternyata yang dia butuhkan artikel dalam bahasa Indonesia. Kalau sudah begini, dia langsung panik dan misuh-misuh sendiri.

“Ya sudah, mari kita cari lagi. Sebentar kok. Nanti bisa langsung di-print,” ujarku.

Sembari begitu, isteriku Icha nyamber dari kamar sebelah, “Kenapa lagi itu?”

Hahaha, isteriku ini memang tidak sabaran orangnya. Makanya, Jeremy yang suka slebor sering jadi sasaran omelan. Kali ini pun pasti nggak lama dia akan kena omel panjang-pendek. Daripada suasana rumah subuh-subuh sudah tensi tinggi, aku ketawa-ketawa saja dan memutar lagu dari Spotify. Lumayanlah, cukup bisa meredam Icha agar tidak terlalu heboh ngomelnya.

Dalam situasi begini kami memang sangat kontras. Icha pasti langsung meradang, sementara aku langsung fokus bagaimana bisa menyelesaikan masalah. Marah-marah bagiku cuma membuang energi yang (sebenarnya) bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain.

“Aku memang tidak bisa seperti kamu,” kata Icha sambil memeluk dari belakang. Rasa kesal dan betenya mengambang dan pelan-pelan hilang karena aku bersikap santai. Memang, meski komputer agak lemot dan hasil print-an printer deskjet di rumah tak sebagus printer laser di kantor, googling artikel dan mencetaknya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit sejak komputer dinyalakan. Jadi, ngapain buang-buang waktu untuk marah, yang kalau dituruti mungkin sejam nggak kelar-kelar. Hehehe.

Pagi ini, aku tiba di kantor pukul setengah tujuh. Itu sudah termasuk mengantar Jeremy ke sekolahnya, lalu mendengarkan playlist musik di Spotify sepanjang perjalanan, sembari memikirkan tentang posting ini.

Icha mungkin lebih tertarik untuk mengritik Jeremy yang tak lengkap memberi instruksi dan tak menyimak foto yang aku kirim semalam. Jeremy juga cuma panik membayangkan reaksi guru dan teman-teman sekelompoknya gegara keliru mengerjakan tugas. Sementara aku, ya cukup berpikir apa yang harus aku lakukan pada saat itu saja. Tadi googling artikel dan nge-print, habis itu mandi, sarapan, dan siap-siap berangkat. Terus lagi, nganter Jeremy sembari ngobrol lalu lanjut ke kantor sambil mikirin postingan blog. Sampai di kantor baca koran sikit lalu langsung ngetik postingan ini. Sebelum pukul delapan, postingan ini kayaknya sudah bisa diupload di blog.

Begitulah, sebuah pelajaran yang aku petik dari cerita anak-anak puluhan tahun silam masih aku praktikkan sampai hari ini. Do one thing (at a time) and do it well.

Selamat berkarya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s