Mengintip “Kos-kosan” Mahasiswa di Jatinangor

Aku ini anak rantau. Lahir di Pematang Siantar, besar di Medan, lalu lanjut kuliah di Bandung. Nah, buat sebagian anak Medan, mendengar nama Kota Kembang, yang segera terbayang adalah mojang-mojang Bandung yang katanya geulis-geulis. Selain itu, Bandung digambarkan sebagai kota yang sejuk, teduh, dan kondusif untuk belajar. Makanya, Bandung menjadi salah satu tujuan perantauan anak Medan untuk menuntut ilmu.

Ketika berangkat ke Bandung pada awal dekade 1990-an, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebagian masa kuliahku akan dihabiskan di tempat bernama Jatinangor. Nama ini pertama mampir di telinga saat penerimaan mahasiswa baru di Aula Unpad Dipati Ukur. Dalam rangkaian acara penerimaan itu, kami para mahasiswa baru wajib mengikuti penghijauan di Jatinangor. Naik bus Damri dari depan kampus Dipati Ukur, untuk pertama kalinya aku pun menjejakkan kaki di Jatinangor.

Kesannya waktu itu, Jatinangor begitu panas dan gersang. Kita udah kayak romusha, bergerombol menanam pohon. Seingatku, sejumlah kampus sedang dalam pembangunan, di antaranya Fisip yang mestinya sudah selesai atau paling nggak mendekati tahap akhir. Kalau tidak salah, setahun kemudian kampus Fisip yang semula di Dago pindah ke Jatinangor. Kampus-kampus yang sudah duluan ke Jatinangor antara lain Pertanian dan Peternakan. Sedangkan Fikom kayaknya waktu itu masih mulai dikerjakan. Baru saat aku semester VI, awal 1994, akhirnya Fikom pindah ke Jatinangor.

Naik bus

Jatinangor adalah kecamatan di Kabupaten Sumedang, sekitar 23 kilometer dari pusat kota Bandung. Saat pertengahan dekade 1990-an, perjalanan naik Damri pagi hari dari Kampus DU tidak sampai sejam. Rutenya Dipati Ukur – Supratman – A Yani – Cicaheum – Arcamanik – Ujung Berung – Cibiru – Cileunyi – Jatinangor. Kalo rada siangan, sudah pasti macet di A Yani – Cicaheum. Makanya, pagi-pagi benar, sekitar pukul enam, sudah harus rebutan naik bus di DU. Biasanya sudah ada 3-4 bus berjejer dan dalam waktu singkat sudah penuh dan mulai berangkat satu per satu.

Rebutan naik bus terjadi lagi pada saat pulang kuliah. Setelah jam makan siang, bus menuju DU yang baru tiba di pemberhentian di depan kampus Unwim (ini kepanjangannya apa ya?) kembali padat. Makanya banyak bela-belain nunggu di depan kampus Ikopin, mencegat bus sebelum tiba di Unwim, biar dapat tempat duduk. Perjuangannya cukup heroik, sehingga suatu kali pernah ada yang terjatuh ke dalam got karena kalah sikut-sikutan. Alamak!

Meski perjalanan Bandung-Jatinangor membutuhkan perjuangan, aku lebih memilih untuk tetap ngekos di Sekeloa. Sedangkan karib-karibku pada pindah semua ke Jatinangor. Alasan mereka biar dekat kampus sehingga tidak perlu keluar biaya transportasi. Ternyata kemudian, mereka tidak betah-betah amat tinggal di Jatinangor. Selain sepi, sejumlah kegiatan memang tetap harus dilakukan di Bandung. Makanya, tempat kosku malah acap menjadi rumah singgah kalau kebetulan temen-temen Jatinangor lagi main ke Bandung.

Sebenarnya, kalo alasannya sekadar biaya transportasi, dengan beli karcis langganan di pool Damri dekat stasiun kereta Bandung, biaya naik bus ini tidak mahal-mahal amat. Lagian, karena biasanya satu bundel karcis langganan tidak bakal habis dipakai sendiri, belinya bisa patungan. Kalau lagi terdesak, ya gerilya saja mencari yang punya lebihan karcis langganan.

Kamar kos

Di Sekeloa, pada tahun 1991, kos-kosan tempat aku tinggal sewanya Rp 350 ribu per tahun. Ini biaya untuk kamar kosong ukuran sekitar 2,5 meter x 2,5 meter. Itu belum termasuk biaya listrik. Kalau membawa komputer PC desktop, biasanya dikenakan biaya listrik tambahan. Hingga aku lulus pada 1997, biaya sewa terakhir yang aku bayarkan cuma Rp 400 ribu per tahun. Soalnya, aku termasuk penyewa setia, nyaris selama 6 tahun di Bandung selalu di tempat yang sama, kecuali setahun ngontrak rumah di Sekeloa Tengah bersama Abang Ember dan Andry. Makanya, induk semangku, Pak Endi, berbaik hati tidak menaikkan biaya sewa.

Kebanyakan kos-kosan di Sekeloa disewakan kosongan. Kalau mahalan dikit, mungkin sudah menyediakan kasur dan dipan plus lemari dan meja belajar. Seorang kawan yang menyewa kamar dengan kamar mandi di dalam, dikenakan biaya Rp 600 ribu per tahun. Ini sudah cukup bagus untuk ukuran kos-kosan kelas menengah.

Lokasinya biasanya gank-to-gank alias masuk-masuk ke dalam gang. Nggak heran, enam tahun bermukim di Sekeloa, aku jadi hafal jalan-jalan tikus dari Pasar Dago hingga Kantor Telkom dan dari Dipati Ukur hingga Sadang Serang. Gang-gang yang berliku-liku dan sambung-menyambung itu menjadi makanan sehari-hari. Nggak perlu khusus olahraga lah, macam temanku Andibachtiar Yusuf yang rajin joging itu. Setiap hari bolak-balik kos-kosan ke kampus Jatinangor aja sudah cukup membakar kalori.

Tinggal di kos-kosan dekat jalan besar itu kemewahan. Apalagi kalo di jalan sebesar jalan Dago. Seperti karibku, Bogard, yang menyewa kos-kosan di Jalan Ir H Djuanda (Dago bawah), kira-kira 300 meter dari Simpang Dago, harus membayar Rp 150 ribu per bulan. Ini mah udah sebesar kiriman bulananku waktu itu. Jelas untuk ukuran mahasiswa kelas menengah (ke bawah), kos-kosan ini tergolong mewah.

Kamar-kamarnya menyatu dengan rumah induk yang sangat besar. Tersedia halaman parkir yang luas dan garasinya juga bisa menampung beberapa mobil. Kamarnya sudah isi, dipan, meja, dan lemari. Selain itu, sudah disediakan pula nasi, sehingga kalau mau makan penghuni cukup membeli lauk. Isinya kebanyakan anak-anak Unpar dan ITB.

Apartemen

Begitulah gambaran kehidupan anak rantau di Bandung tahun 1990-an yang aku ingat. Nah, ketika kemarin ada kesempatan menjenguk Jatinangor, pengen tahu juga, bagaimana kehidupan di kawasan ini dan gaya hidup anak kos zaman sekarang. Frankly speaking, ini tepat dua dekade aku mampir lagi ke kawasan ini setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada Maret 1997 silam. Busyett!…

Denger-denger, Jatinangor sekarang sudah jauh berkembang. Dan, memang, begitu keluar tol Cileunyi, belok kanan, aku nyaris tidak mengenali lagi Kampus IPDN (dulunya STPDN), karena di depannya sudah tegak berdiri apartemen Easton Park Residence. Kampus Ikopin, tempat anak-anak mencegat bus yang baru datang dari Bandung, samar-samar kayaknya masih sama (sejujurnya karena aku juga tak terlalu ingat lagi). Tapi aku sulit menemukan spot tempat anak-anak dulu suka menunggu bus.

Sesudah itu jalan memecah dua, lalu tampak kampus ITB. Sejurus kemudian baru kampus Unpad. Gerbang utama Unpad nyaris tidak aku kenali lagi. Tampak sumpek dan kumuh. Baru setelah diperhatikan baik-baik, tampak bulevar yang tengahnya bertuliskan UNPAD. Ah, betapa nama itu dulu pernah begitu akrab…

Selain Easton Park, ada sejumlah apartemen lain yang sudah tegak berdiri yaitu Pinewood, Skyland, dan Taman Melati. Kebetulan aku sempat mampir ke tempat terakhir. Masuk dari jalan Cikuda, apartemen besutan Adhi Karya ini bersisian dengan kampus Unpad. Menariknya, apartemen ini punya view ke arah Gunung Manglayang dan Jembatan Cingcin, salah satu ikon Jatinangor. Jembatan ini juga menjadi jalan akses mencapai Unpad dengan berjalan kaki. Tembus-tembusnya dekat kampus Fikom.

Mengintip dalemannya, nyaman sekali mahasiswa yang bisa tinggal di Taman Melati. Lantai-lantai bawah dioperasikan sebagai hotel, untuk mengantisipasi banyaknya kegiatan wisuda mahasiswa. Jadi orangtua atau keluarga wisudawan dari luar kota tak perlu jauh-jauh menginap di Bandung. Pinter banget nih pengembang mencium peluang bisnis. Selain kolam renang, terdapat pula mini market sehingga penghuni hanya perlu turun ke bawah kalau cuma membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Konon, katanya, di lantai teratas (roof top) nantinya akan difungsikan sebagai kafe. Alamak mantap kali, sore-sore nongkrong di kafe sambil memandang-mandang Gunung Manglayang bersaput awan. Kalau aku dulu, cukup puaslah memandang-mandang dari jendela kontrakan di Sekeloa Tengah ke arah ladang padi di Sadang Serang (entah masih ada apa nggak tuh padi).

Masuk ke dalam unit yang sudah fully furnished, untuk tipe studio memang tidak terlalu besar, ukuran 3,25 meter x 5,32 meter. Tapi jelas lebih besar ketimbang kamar kosku di Sekeloa dulu. Kamar mandi di dalam dan sudah dilengkapi pemanas air. Kamar sudah pasti ber-AC dan tiap-tiap kamar ada balkon untuk memandang-mandang.

Dengan semakin banyaknya kampus dan fakultas yang pindah ke Jatinangor, termasuk jurusan-jurusan yang dihuni mahasiswa-mahasiswa tajir seperti teknik dan kedokteran, peluang untuk apartemen seperti ini rasanya cukup menjanjikan. Buat mereka, sewa Rp 3 jutaan per bulan mungkin masih terjangkau. Apalagi kalo bayarnya berdua.

Aku cuma bisa membayang-bayangkan saja, seandainya dulu punya fasilitas seperti ini… mhh, nggak tahulah. Nggak terbayang juga. Semoga saja mahasiswa-mahasiswa sekarang itu jadi lebih cerdas-cerdas dan mau berkontribusi buat bangsa ini. Entah dalam bentuk apa pun. Semoga…

Advertisements

3 thoughts on “Mengintip “Kos-kosan” Mahasiswa di Jatinangor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s