Beauty and the Beast, Membuai Diri dalam Dongeng Masa Kecil

Beauty and the Beast01
Beauty and the Beast (Kredit foto: Walt Disney Studios Motion Pictures, via IMDB.com)

Siapa yang tak suka kisah dongeng? Jika kecilnya suka membaca dongeng, besar kemungkinan pernah mendengar dongeng-dongeng seperti Putri Putih Salju (Snow White), Cinderella, atau Si Cantik dan Si Buruk Rupa (Beauty and the Beast).

Meski kisah putri yang cantik, pangeran yang tampan, dan kastel yang megah umumnya merupakan impian anak perempuan, namun waktu kecil dulu aku akrab dengan kisah-kisah ini. Beranjak dewasa, aku mulai berjarak dengan dongeng-dongeng ini. Namun, tampaknya, tidak demikian halnya dengan kaum perempuan. Setelah menjadi “mamak-mamak” pun mereka masih ingin terbuai imajinya menikmati dongeng.

Makanya, ketika terbetik kabar versi terbaru Beauty and the Beast akan tayang di bioskop, yang antusias hanya Icha. Jeremy jauh-jauh hari sudah bilang ogah menonton film ini. Berhubung waktu penayangannya berdekatan dengan ultah Icha, aku menasihati Jeremy untuk “merelakan diri” menonton bersama untuk menyenangkan mamanya. Jadilah, akhir pekan kemarin, dua jagoan mengawal si cantik menonton film ini. Hahaha. Hebatnya, Jeremy yang biasanya suka nggerundel kalau tidak suka sesuatu, kali ini anteng saja.

Jadi, apa yang bisa dinikmati dari edisi terbaru Beauty and the Beast? Karena tak menonton versi animasi yang tayang saat aku mulai kuliah tahun 1991 lalu, aku tak punya pembanding. Katanya, film musikal romantis ini dibuat tak jauh berbeda dengan versi animasinya. Tapi, ya sudahlah, aku mencoba menikmati saja film ini.

Kisah dongeng percintaan ini diadaptasi dari karya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont, penulis Perancis abad ke-18. Dikisahkan, di desa Villeneuve, Perancis, hidup seorang perempuan muda bernama Belle (Emma Watson). Ia tinggal bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), seorang seniman. Meski wajahnya rupawan, Belle dianggap aneh oleh penduduk desa yang kehidupannya selalu rutin dan begitu-begitu saja. Pasalnya, Belle yang gemar membaca selalu haus pengetahuan baru.

Kecantikan Belle menawan hati Gaston (Luke Evans), veteran perang yang narsistik. Ia mau melakukan apa saja, asalkan Belle mau menjadi isterinya. Sayangnya, gayung tak bersambut. Belle tak berminat menjadi isteri Gaston.

Hingga suatu kali, dalam perjalanan menjual karyanya, Maurice tersesat di sebuah hutan dan menemukan sebuah kastel yang dimiliki seekor makhluk menyerupai binatang buas (Dan Stevens). Karena dituduh mencuri mawar, Maurice ditawan oleh makhluk tersebut. Belle kemudian menyusul ayahnya dan menggantikannya sebagai tawanan.

Ternyata kemudian, makhluk buruk rupa tersebut adalah pangeran yang gagah dan tampan. Ia berubah wujud karena dikutuk akibat kesombongannya. Kutuk akan patah apabila ada seorang putri yang mencintainya sepenuh hati. Endingnya ketebaklah, pasti Belle yang menjadi putri yang ditunggu-tunggu itu. And then they live happily ever after. Itu nggak usah ditanya lagi. Udah pasti begitu kalo cerita-cerita dongeng.

Yang membuat Beauty and the Beast edisi terbaru ini menjadi pembicaraan adalah ucapan si sutradara Bill Condon. Ia mengatakan bahwa film ini adalah film Disney pertama yang menampilkan adegan gay. Ternyata, adegan yang dimaksud tidaklah heboh-heboh amat. Itu adalah bagian di mana Le Fou (Josh Gad) menyatakan kekagumannya pada Gaston yang disajikan dalam tarian dan nyanyian.

Memang, sejak awal muncul karakter Le Fou yang tidak macho, sudah membuat aku menduga-duga. Walau seingatku tidak ada dialog atau tindakan yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia gay, tapi sorot mata dan terutama kalimat-kalimat pemujaan pada lagu tersebut “sangat mengarah”. Imho, anak kecil mungkin tidak akan menyadari hal tersebut. Walau demikian, imho bisa diterima jika film ini diberi rating R atau 13 tahun ke atas.

Secara umum, film Beauty and the Beast ini berhasil menghidupkan kembali dongeng klasitersebut. Kecanggihan teknologi digital mampu mewujudkan khayalan pembuat kisah menjadi begitu riil. Sementara itu, sajian tarian dan nyanyian bergaya opera membuat film ini menjadi tontonan yang memikat sekaligus menghibur.

Menurut Icha, dibandingkan Cinderella yang tayang beberapa waktu, Beauty and the Beast jauh lebih keren dan memorable. Aktingnya, lagu-lagunya, koreografi dan cut-to-cut pada musik dan tariannya, semua memanjakan panca indera dan membuai angan. Ia jadi membayang-bayangkan diri menjadi Belle… Alamak!

Tayang perdana: 17 Maret 2017

Sutradara Bill Condon

Produser David Hoberman, Todd Lieberman

Skenario Stephen Chbosky, Evan Spiliotopoulos

Pemeran Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad

Produksi Walt Disney Pictures dan Mandeville Films

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s