Ngopi Lagi Berkat Susu

beverage-1842596_1280
Kopi campur susu. (Source: Pixabay.com)

Entah kapan persisnya, tapi sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, aku sudah terbiasa ngopi. Apalagi menjelang UMPTN (ehm… ketahuan ini angkatan jebot punya), membahas soal-soal tiap hari pasti ditemani secangkir kopi. Waktu di Medan dulu, di rumah selalu tersedia kopi sidikalang yang digiling agak kasar. Rasanya keras dan mantap.

Cara membuatnya juga “sadis”. Bubuk kopi, gula, dan air dimasukkan ke dalam cangkir kaleng, lalu dimasak di atas kompor. Begitu air menggelegak tanda mendidih, cangkir diangkat, lalu dimasukkan es batu. Jadilah es kopi yang sedap rasanya. Kalau sudah punya “amunisi” begini biasanya tahan mengerjakan soal sampai berjam-jam.

Pada saat kuliah di Bandung, bapakku biasanya menengok minimal setahun sekali. Oleh-oleh yang tak pernah lupa dia bawa adalah sekotak kopi sidikalang. Padahal, aku tak pernah meminta dan sebenarnya tak sebegitu doyannya ngopi. Cuma karena sudah terbiasa, aku jadi merasa kopi bubuk lain kurang mantap. Apalagi kopi sachetan yang beli di warung.

Kebiasaan buruk

Namanya mahasiswa, kondisi kantung suka tak menentu. Dan, kebiasaan buruk ngopi ini kian menjadi. Bayangkan saja, saat uang kiriman menipis, bahkan benar-benar “tongpes” tak punya uang sepeser pun, aku tak kehilangan akal. Tinggal jerang air panas, seduh kopi, hidup pun berlanjut. Saat itu, aku merasa tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut.

Aku suka menertawakan sejumlah teman yang menjauhi kopi karena sakit maag. Ada pula yang enggan ngopi karena membuat susah tidur. Jantungnya berdebar-debar katanya. Kalau aku, cukup lawan jenis saja yang bisa bikin berdebar-debar. Kalau cuma kopi, bergelas-gelas pun tak mempan. Mungkin karena termasuk orang yang “pelor”, nempel langsung molor, aku tak pernah punya masalah dengan tidur. Saat inilah kebiasaan ngopiku menjadi-jadi.

Aktif dalam kegiatan kampus, kami sering rapat sampai malam. Sudah begitu, masih berlanjut dengan main kartu. Kalau yang satu ini bisa dari pagi ketemu pagi lagi, nggak kelar-kelar. Tentu saja, kopi menjadi teman sejati—selain rokok tentu saja.

Kopi dan rokok sudah menjadi duet maut masa muda. Sering kali, “sarapanku” cukup dengan segelas kopi dan sebatang rokok. Baru siangnya diisi nasi. Benar-benar pola hidup yang tak akan pernah aku anjurkan pada orang lain.

Memasuki dunia kerja, lagi-lagi kopi menjadi teman baik. Kali ini, aku sudah berhenti merokok. Sebagai penulis yang hari-hari memelototi layar komputer, asupan kafein benar-benar membuat ide mengalir dan pikiran terang-benderang. Namun, pasokan kopi sidikalang sudah tidak ada lagi. Gantinya, kopi instan. Soal rasa memang beda, tapi saat berkejaran dengan deadline, rasanya lebih praktis menyesap kopi instan.

Sakit maag

Hingga beberapa waktu lalu, aku mulai merasa ada yang nggak beres dengan pencernaanku. Aku sering merasa perut kembung, tapi kalau ke belakang tidak ada yang mau dibuang. Kondisi ini semakin parah ketika beberapa kali pada malam hari perut terasa melilit dan nyeri. Ketika konsultasi ke dokter, aku pun divonis mengalami maag akut.

Aku sempat protes karena menurutku pola hidup dan makanku tidak ada yang salah. Gizi cukup, konsumsi buah pun—walau tak rutin-rutin amat—lumayan. Mengapa justru sekarang terkena maag? Penjelasan dokter cukup menohok. Ibarat petinju, kalau sekarang aku KO bukan karena mendadak ada pukulan lawan yang mematikan. Selama ini aku telah dihajar habis-habisan dan mungkin pertahananku sudah semakin rapuh. Dalam kondisi demikian, tak perlulah pukulan yang mematikan, “jab-jab” ringan saja sudah bisa bikin tumbang.

Apa mau dikata? Salahku selama bertahun-tahun dulu tidak menjaga pola makan. Aku merasa kuat, padahal tubuhku tidak. Ya sudah, akibatnya sekarang. Dokter menasihati agar aku menjaga pola makan dan menerapkan hidup sehat, antara lain istirahat dan aktivitas fisik cukup. Kedengarannya mudah, tapi menjalannya setengah mati. Apalagi ada pantangan, harus mengurangi atau tidak boleh sama sekali ngopi… alamak!

Ini sudah aku buktikan. Kebiasaanku kalau ngopi takarannya cukup banyak dan tidak pakai gula. Terakhir aku melakukannya, malamnya sukses perut melilit nggak keruan. Jadi, benar-benar harus dihindari.

Dicampur susu cair

Hingga suatu kali, kebetulan ada meeting di kedai kopi modern. Tak tahan dengan aroma yang menguar begitu kuat, aku pun memesan kopi. Kali ini latte, kopi campur susu. Sepulang meeting, aku sudah was-was perut melilit. Ternyata, sampai keesokan paginya, perutku aman-aman saja. Wah, jangan-jangan kalau dicampur susu nggak apa-apa. Penasaran, aku pun membeli susu cair seperti yang digunakan di kedai kopi. Dengan perbandingan 1:1, kopi latte bikinan sendiri itu ternyata aman buat perut.

Ternyata memang setelah googling info sana-sini, aku ketemu antara lain artikel ini. Disebutkan, bagi mereka yang tidak tahan asam, menambahkan susu dapat mengurangi akibat buruk kopi.

Lebih dari itu, tak diragukan lagi bahwa susu memang punya banyak manfaat kesehatan. Kandungan kalsiumnya membentuk dan menguatkan tulang, kalsium juga berpengaruh besar terhadap sistem metabolisme energi dalam tubuh yang mengakibatkan melancarkan buang air besar serta membantu penghancuran lemak tubuh.

Minum susu juga sangat mengenyangkan. Banyak orang yang jadi tidak nafsu lagi makan gara-gara minum susu. Katanya, ini karena volume susu yang dikonsumsi akan meregangkan otot-otot perut, sehingga membuat merasa kenyang. Menurut sebuah sumber, mengonsumsi segelas susu menjelang siang dan sore dapat membantu menghilangkan keinginan makan karbohidrat pada malam hari. Cocok nih buat mereka yang pengen diet.

Yang paling enak buat campuran kopi itu susu cair. Nah, baru-baru ini aku menemukan campuran susu cair baru yang pas, yaitu susu segar full cream Indomilk UHT. Produk ini mudah ditemukan di mini-mini market. Kemasan 250 ml cukup pas untuk membikin secangkir penuh kopi campur susu. Selain itu, diminum langsung dalam keadaan dingin juga enak dan menyegarkan. Makanya sekarang kalau mampir di supermarket atau mini market, aku selalu menyetok susu Indomilk UHT ini. Buat campuran kopi atau diminum sendiri, sama mantapnya.

Berkat susu, sekarang aku sudah bisa ngopi lagi. Rasanya mungkin tidak sama persis dengan kopi yang dulu biasa aku minum. Tapi, justru sekarang lebih sehat dengan tambahan susu. Ngopinya dapat, hidup sehatnya pun tak ketinggalan.

DSC_0001

Advertisements

One thought on “Ngopi Lagi Berkat Susu

  1. “Kopi dan rokok sudah menjadi duet maut masa muda.”

    Dua hal ini memang sulit untuk dipisahkan, apalagi kalau sehabis makan. Susu bagus juga kok buat kesehatan apalagi yang susu UHT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s