Tentang Musik Digital, Spotify, dan Record Store Day

smartphone-1735044_1280
Spotify, jadi pilihan praktis untuk dengar musik. (Foto-foto by Pixabay.com)

Hari ini, aku membawa sekantung plastik keresek kaset-kaset lama. Setelah sekian lama berdebu di salah satu pojokan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk menjual saja kaset-kaset itu. Aku titip pada seorang teman yang akan jualan di Record Store Day akhir pekan nanti.

Di antara kaset-kaset yang aku jual termasuk koleksi album Iron Maiden. Salah satunya album The X Factor, hasil buruan di lapak kaset bekas di Blok M. Sekitar 1,5 dekade silam, kaset album bersama vokalis Blaze Bayley ini mulai langka, menyusul kembalinya Bruce Dickinson mencekal mic di Iron Maiden.

Semula, aku termasuk yang menyesalkan keluarnya Dickinson dan menganggap Maiden telah selesai dengan masuknya Bayley. Namun, justru ketika Dickinson kembali, aku jadi penasaran untuk mendengarkan kembali lagu-lagu periode Bayley. Makanya, biar kata bekas dan dihargai lebih tinggi dari harga pasar, tetap aja album yang memuat epik “Sign of the Cross” itu aku tebus. Begitulah manusia, ketika ada dibenci, ketika pergi malah dicari. Hehehe…

Jadi, apa pasal, sudah repot-repot dibeli, kok malah dijual?

Sederhana saja, sekarang mostly aku mendengarkan musik via Spotify. Sebelum Spotify masuk ke Tanah Air, jujur saja aku lebih banyak mendengarkan musik-musik hasil “sedotan” alias bajakan. Bukannya tidak menghargai pemusik, tapi pada akhir dekade 1990-an band-band yang aku dengarkan kebanyakan sudah sulit ditemui albumnya di pasaran. Kalau ada kasetnya, biasanya aku beli. Begitu juga album-album baru. Waktu Christ Illusion (Slayer) dan Death Magnetic (Metallica) keluar sekitar satu dekade silam, saat pertama kali tahu, aku langsung membeli CD-nya. Bahkan, sekali waktu, saking penasarannya pengen dengerin lagi “Cum on Feel the Noize” versi Quiet Riot, aku bela-belain beli impor via Barnes and Noble.

Namun, ujung-ujungnya, tetap saja yang didengerin versi digital. Yang kaset cukup disimpan dalam rak. Yang CD, setelah di-rip jadi mp3 ya disimpan lagi.

Bukan apa-apa, waktu yang paling longgar untuk dengar-dengar musik ya saat melaju antara rumah dan kantor. Peranti yang aku gunakan adalah ponsel pintar. Pemutar kaset cuma ada di rumah, itupun lama-lama jarang digunakan. Waktu semalam aku coba untuk memutar kaset yang mau dijual, ternyata sudah wassalam. Sudah nggak keluar suara lagi.

Penyimpanan

Salah satu masalah yang makin lama makin mengganggu adalah menyangkut penyimpanan (storage). Semua musik dalam bentuk fisik, baik kaset maupun CD, menumpuk di rak. Lama-kelamaan tumpukannya makin tinggi, padahal jarang disentuh. Makanya, kalau beres-beres rumah suka diomelin sama nyonya rumah. Hehehe.

Ternyata kemudian, bukan cuma media fisik yang menjadi masalah. Media digital pun mengalami masalah yang lebih kurang sama. Dulu, punya harddisk eksternal 1 terabyte rasanya bingung, mau diisi apa aja tuh? Belakangan, file-file musik hasil rip maupun sedotan tembus 1 giga dan konsisten terus bertambah. Belum lagi simpanan file film (hayo ngaku, siapa yang punya hobi begini juga hahaha). Terakhir, ketika menjajal jadi Youtuber dan membuat banyak sekali footages, 1 terabyte penuh dalam hitungan kurang dari setengah tahun.

Nah, ketika mengais-ngais storage di harddisk eksternal, file-file film dan musik yang kurang begitu penting menjadi korban pertama. Nggak lama, Spotify masuk. Bagiku, ini benar-benar solusi tuntas buat hobi mendengar musik. Tak perlu lagi repot-repot beli CD atau mencari sedotan. Tinggal search dan play. Beruntungnya, band-band yang aku dengarkan pada umumnya ada di Spotify. Band-band old school thrashmetal, hairy metal 80-an, hard rock 70-an, lagu-lagu hits 80-an, nyaris semuanya tersedia. Bahkan, malah nemu band-band yang dulunya belum sempat denger, tapi ternyata lumayan maknyuss, misalnya Onslaught atau Korzus.

Memang, ada juga band atau album tertentu yang tidak tersedia di Spotify. Misalnya saja band Tool atau album legendaris Def Leppard, Hysteria. Tapi, overall, aku sangat puas dengan koleksi Spotify.

Yang menyenangkan, untuk album baru, bisa langsung didengarkan pada tanggal rilisnya. Ini udah kejadian beberapa kali, waktu album Babymetal, Kreator, dan Metallica. Nggak perlu repot lagi nyari di toko kaset, tinggal search dan play. Just that simple!

Akhirnya, aku memutuskan menghapus semua file-file musik simpanan dan bergantung sepenuhnya pada Spotify. Lumayan, bisa menghemat storage beberapa gigabyte. Ini termasuk salah satu keputusan penting yang aku ambil sebagai penikmat musik. Hehehe.

Tren streaming ini sedang dan terus bangkit, dan tampaknya akan menjadi norma dan kenormalan di masa mendatang. Terjadinya perlahan (tapi pasti), seiring dengan semakin canggihnya teknologi (baca: kecepatan koneksi internet). Awalnya mungkin tukar-menukar berkas digital berukuran kecil (dokumen teks), makin besar (gambar), makin besar lagi (musik), hingga file-file “raksasa” (film). Sekarang, streaming film berkualitas HD sudah dimungkinkan.

Masalah storage, yang sempat aku singgung sebelumnya, benar-benar riil. Dan, ketika dimungkinkan tak harus menyimpan sendiri file di komputer atau ponsel, mengapa tidak? Biarkan pihak lain yang menyimpannya, file baru diunduh ketika hendak digunakan. Pihak lain itu punya kemampuan untuk menyimpan dengan kapasitas yang tak terbayangkan besarnya. Jadi, ngapain harus repot nyimpan sendiri.

Bagi pengguna, cara ini benar-benar mudah dan praktis. Entah berapa kali aku dan Jeremy terlibat dalam pembicaraan tentang lagu atau artis tertentu. Dengan mudah kita langsung search di Spotify. Yang lebih menyenangkan, kalau kebetulan lagi jalan atau denger radio terus tiba-tiba denger lagu enak, langsung cari tahu pakai Shazam dan didengerin lagi pakai Spotify. Pengalaman dengan musik digital seperti ini jelas tidak mungkin terjadi jika menggunakan musik analog.

Record Store Day

Jadi, apakah musik analog sudah benar-benar mati?

Ternyata tidak (atau belum?). Kembali pada cerita di awal tulisan, pada akhir pekan ini berlangsung Record Store Day. Menurut Wikipedia, inisiatif yang berawal pada 2007 ini bertujuan “merayakan budaya ‘toko kaset’ independen”. Kata “toko kaset” aku sengaja tandai sebagai terjemahan “record store”. Karena meskipun toko tersebut kemudian menjual CD dan DVD, buat banyak orang segenerasiku dan sebelumnya tetap saja disebut “toko kaset”.

Inisiatif ini barangkali merespons turunnya penjualan musik secara fisik (kaset, CD, vinil). Maka dibuatlah hari khusus untuk jualan. Pada perkembangannya, momen ini acap dimanfaatkan untuk launching album dan menampilkan musisi-musisi beken. Sebut saja Metallica yang tampil pada kick off Record Store Day pertama pada 2008.

Namun, banyak yang menganggap Record Store Day cuma kerjaan mereka yang hobi mengoleksi musik, bukan peminat musik pada umumnya. Ya iyalah, peminat musik pada umumnya barangkali cukup langganan Spotify atau membeli musik di Itunes. Tapi, bagaimana pun, kaum kolektor ini menjadi pasar yang niche.

Tahun 2016 lalu, penjualan vinil tercatat tercatat sebagai yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Lebih dari 3,2 juta piringan hitam terjual atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan musik digital dengan cara mengunduh mengalami penurunan. Sebagai gantinya, ya itu tadi, mereka melakukan streaming.

Kemudahan navigasi, mencari, dan mendengarkan musik dengan cara streaming ternyata menyisakan “ruang kosong” pada sebagian penikmat musik. Tidak ada rasa kepemilikan, karena musik digital secara streaming “dimiliki” oleh penyedia jasa. Pengguna hanya diberikan “hak akses”. Beda halnya dengan vinil, yang memungkinkan kepemilikan fisik. Terbukti, meninggalnya sejumlah musisi besar ikut mendorong larisnya vinil. Meninggalnya David Bowie tahun lalu membuat dia menjadi artis vinil terlaris karena banyak orang lalu memborong karya-karyanya sebagai kenang-kenangan. Terdapat 5 album Bowie yang bercokol pada 30 album vinil terlaris 2016.

Nah, itu pula sebabnya ketika aku menjual koleksi kaset-kaset lawas, yang laku bukan album-album sukses Iron Maiden. Tapi justru album-album yang kurang terdengar, seperti A Matter of Life and Death. Sama seperti dulu aku membeli The X Factor, sepertinya yang membeli AMOLAD itu juga buat dikoleksi, bukan buat didengarkan secara reguler.

Sekali lagi, bukan karena nggak cinta nggak sayang, tapi karena ruangan di rumah mungilku sudah tidak memadai, aku menyerahkan kepemilikan kaset-kaset lawasku pada siapa saja yang berminat. Aku cukuplah jadi pendengar casual yang hasratnya telah terpenuhi oleh Spotify. Kalau ada yang berminat jadi penadah, boleh hubungi aku. Atau, sila datang ke event Record Store Day di P7 Kuningan City pada Jumat-Sabtu, 21-22 April besok.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s