Pembuktian si Remaja Galau

loncat
Tom Holland sebagai Spider-Man/Peter Parker. (Foto-foto: Sony Pictures Releasing)

Meski bukan fanatik, saya termasuk penggemar film-film pahlawan super. Superman adalah film pertama tentang pahlawan super yang saya tonton. Waktu itu, masih duduk di bangku kelas I SD di Medan. Sekuelnya, Superman II, yang memang lebih keren, tak ayal membuat saya tergila-gila. Makanya, sampai sekarang, Superman “sejati” menurut saya adalah Christopher Reeve.

Itu sebabnya, saya tak terlalu antusias dengan Brandon Routh atau Henry Cavill yang memerankan sekuel Superman pasca era Reeve dan versi reboot dalam semesta DC. Bukan. Itu bukan Superman yang saya kenal. Hehehe. Saya jadi menganggapnya pahlawan super yang lain, walau sama-sama menyandang nama Superman dan Clark Kent. Walau, harus jujur diakui, menonton kembali Superman I dan II sekarang ini kesannya kok jadi cupu banget. Tapi, biarlah, masing-masing punya tempat tersendiri dalam pikiran saya.

Berbeda halnya dengan Spider-Man. Sejak pergantian milennium, hingga kini tercatat sudah 5 edisi yang muncul. Tiga yang pertama diperankan Tobey Maguire, selanjutnya dua edisi reboot oleh Andrew Garfield, dan terakhir oleh Tom Holland.

Belakangan, di banyak forum di Internet, acap ditemui perdebatan tentang siapa yang paling pas memerankan Spider-Man.

Terus terang, dibandingkan Superman pada masa saya mulai mengenalnya (dekade 1980-an), saya lebih tidak mengenal Spider-Man. Yang saya tahu cuma nama aslinya Peter Parker dan pekerjaannya wartawan foto. Makanya, ketika muncul versi Tobey Maguire, saya kok merasa agak-agak kurang pas dengan gambaran yang tertanam di benak—yang sebenarnya minim itu.

Tobey terkesan terlalu culun, ceroboh, dan tidak menggambarkan sosok pahlawan super. Bukannya mau ikut berpolemik, itu sebabnya saya lebih menyukai Andrew Garfield.

Lalu bagaimana dengan Tom Holland?

Pemeran yang satu ini melakukan debut pada Captain America: Civil War (2016), sekaligus menandai hadirnya karakter ini dalam Marvel Cinematic Universe. Di film itu dikisahkan bagaimana Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr), pemimpin faksi Avengers, mendekati Peter Parker (Tom Holland), remaja yang memiliki kekuatan khusus setelah digigit laba-laba.

Kesan pertama, mau tak mau, saya langsung membandingkan dengan Maguire dan Garfield. Dan, saya merasa, Holland terlalu ceking dan masih kekanak-kanakan. Tapi, ya nikmati saja. Aksinya berantem dengan Captain America dan Ant Man cukup menghibur.

Nah, baru di Spider-Man: Homecoming garapan sutradara Jon Watts ini, si manusia laba-laba kembali diceritakan secara utuh. Setelah disuguhi 5 edisi, termasuk sekali reboot, tentu saya bertanya-tanya, apa lagi yang akan disajikan. Garing nggak?

Tanpa basa-basi

Pada edisi kelima ini ternyata Marvel merasa tak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan tentang latar belakang Spider-Man, bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan super. Termasuk tak lagi menampilkan sosok Ben Parker atau orang tua asli Peter. Yang juga tak terjelaskan adalah sosok Bibi May yang jauh lebih muda ketimbang dua edisi sebelumnya.

Tanpa basa-basi, Spider-Man: Homecoming langsung menuju pada persoalan yang dialami Peter Parker alias Spider-Man. Dikisahkan, Parker sedang dalam masa “magang” untuk menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk masuk ke dalam tim Avengers. Namun, mengingat usianya yang masih belia, Stark hanya mengizinkan dia untuk menjadi pahlawan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Maka, Spider-Man pun berurusan dengan maling sepeda atau membantu nenek-nenek tua.

Hal itu membuat Parker merasa tidak puas. Apalagi, dia harus melaporkan setiap tindak-tanduknya kepada Happy (Jon Favreau), kepala keamanan Stark Industries. Parker benar-benar ingin menjadi pahlawan super yang sesungguhnya dan berhadapan dengan penjahat kelas kakap.

Sementara itu, selepas pertempuran Avengers melawan makhluk luar angkasa di New York, Adrian Toomes (Michael Keaton) mendapat kontrak untuk membersihkan kota. Namun, tugas itu tiba-tiba diambil alih Department of Damage Control. Tidak puas dengan perlakuan itu, Toomes memanfaatkan teknologi makhluk luar angkasa untuk dikembangkan menjadi senjata. Dia sendiri mengembangkan sayap buatan dan menjadi penjahat berjuluk Vulture.

Dalam satu kesempatan pencurian, anak buah Vulture berhadapan dengan Spider-Man. Bagi Spider-Man, membongkar kejahatan Vulture dan kelompoknya menjadi pembuktian bahwa ia layak menjadi seorang pahlawan super. Meski, untuk itu, ia harus mengorbankan berbagai kegiatan di sekolahnya.

 

Kuat dan menyegarkan

Harus saya akui, Spider-Man: Homecoming menyajikan kisah yang kuat dan segar, tanpa harus mengingat-ingat kisah-kisah sebelumnya. Jika sebelumnya pikiran masih terkontaminasi dengan sosok Maguire atau Gardfield, sehingga Holland tampak terlalu ceking, kali ini penampilan Holland terasa pas. Pasalnya, ia memang digambarkan sebagai sosok remaja yang galau, naif, tapi punya kemauan kuat untuk mewujudkan mimpinya.

Jadi, saran saya, tontonlah film ini sebagai sebuah film yang utuh. Nggak perlu mengingat-ingat film sebelumnya. Niscaya, akan terhibur dan terhanyut menontonnya.

Secara umum, sebagai tontonan keluarga, Spider-Man: Homecoming sangat seru dan menyenangkan. Yup, ini tontonan keluarga yang “aman” ditonton oleh anak kecil. Nggak ada romansa yang terlalu berlebihan. Adegan-adegan aksinya juga tidak terlalu menonjolkan kekerasan. Bahkan, bisa dibilang tergolong minim. Selamat menonton, mumpung masih diputar, hehehe.

Tanggal rilis   : 28 Juni 2017

Sutradara       : Jon Watts

Pemain           : Tom Holland, Michael Keaton, Robert Downey Jr, Marisa Tomei

Catatan: sebagian naskah sudah pernah dimuat di Kompas, Kamis (13/7)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s