Ketika Impian Jadi Kenyataan

wish-upon05
Joey King sebagai Clare. (Foto-foto: Broad Green Pictures, Orion Pictures)

Versi lain tulisan ini baru dimuat hari ini, Rabu (9/8) di Layar Perak, Kompas halaman 24. Berhubung di koran nulisnya harus “jaim”, setelah aku edit lagi, ini versi yang lebih personal.

Sebelum menonton, aku sudah membaca-baca review film ini dari beberapa sumber luar. Tidak terlalu bagus komentarnya. Padahal, beberapa nama yang terlibat semestinya cukup menjanjikan. Antara lain John R Leonetti yang sebelumnya menggarap Annabelle (2014), terus Joey King yang ikut berperan di The Conjuring (2013).

Dari nama-nama itu, dapat ditebak kalo film ini bergenre horor. So, sejauh mana film ini dapat menakut-nakuti penontonnya?

Cerita dalam film ini berkisar seputar Clare (Joey King), seorang remaja yatim. 12 tahun sebelum setting cerita, ia menyaksikan ibunya (Elisabeth Rohm) tewas gantung diri. Ia lalu tinggal bersama ayahnya (Ryan Phillippe), seorang pemulung.

Hehehe, jadi ternyata di Amrik sono juga ada pemulung. Cuma, keren. Ke sana kemari naik pikap dan ngubek-ngubek sampah pakai sarung tangan. Detail-detail begini yang suka aku perhatikan kalau nonton film. Bukan sekadar cerita, tapi keseharian yang menggambarkan kebiasaan dan budaya setempat.

Nah, jadilah kehidupan masa remaja Clare sama sekali tidak menyenangkan. Ia ke sekolah naik sepeda. Di sekolah, ia bukan anak yang populer. Malah, ia acap menjadi obyek perundungan Darcie, murid perempuan kaya yang paling populer. Darcie dan teman-temannya yang naik mobil sengaja memepet Clare sehingga ia terjatuh. Belum lagi saat memergoki ayahnya memulung di area sekitar sekolah, Clare pun menjadi bahan olokan. Darcie juga sengaja menumpahkan minuman saat bertemu Clare di lorong sekolah. Bener-bener, life sucks buat Clare.

Di sekolah, Clare hanya bisa duduk mojok dengan teman-teman karibnya, Meredith (Sydney Park) dan June (Shannon Purser) sambil memandangi kelakuan gengnya Darcie. Bukannya tanpa nyali, suatu kali ia pun terlibat adu mulut hingga akhirnya berkelahi dengan Darcie.

Kotak beraksara mandarin

Suatu kali, ayahnya menemukan sebuah kotak unik bertuliskan aksara China. Karena ingat Clare mengambil kelas Bahasa Mandarin, ayahnya memberikan kotak tersebut sebagai hadiah ulang tahun.

Dengan keterbatasan Bahasa Mandarinnya, Clare hanya mengerti bahwa kotak itu menyebut tentang tujuh permintaan. Dalam keadaan marah sehabis bertengkar dengan Darcie, Clare mengucapkan keinginannya agar Darcie membusuk. Ternyata, keesokan harinya tersiar kabar Darcie tidak masuk ke sekolah karena menderita penyakit yang ditandai membusuknya bagian tubuh.

Mengetahui keinginannya menjadi kenyataan, Clare mulai mengucapkan keinginan-keinginannya yang lain. Kehidupannya pun berubah 180 derajat. Namun, serentetan kejadian berikutnya menunjukkan bahwa terkabulnya keinginan Clare bukannya tanpa “biaya”.

Ternyata, keinginan yang terkabul tidak selamanya menyenangkan. Apalagi jika harga yang harus dibayar untuk itu terlalu mahal. Itulah yang menjadi inti cerita film Wish Upon.

Sebagai film horor remaja, film ini kurang seram. Tidak ada klimaks cerita yang benar-benar mengentak. Jumpscare di sejumlah bagian juga terlalu klise dan mudah ditebak. Akting para pemainnya juga tidak banyak membantu. Jadi, overall, ini cuma film remaja galau aja. Paling-paling, film ini mengungkap semua keinginan terdasar manusia yang berputar antara harta, popularitas, dan lawan jenis. Ketamakan dan rasa tak pernah puas begitu kuat mengikat siapa pun yang punya kesempatan untuk mewujudkan keinginannya.

Ya sudah, itu aja. Cukup sekian dan terima kasih.

Tanggal rilis   : 14 Juli 2017

Sutradara       : John R Leonetti

Penulis            : Barbara Marshall

Pemeran         : Joey King, Ryan Phillippe, Ki Hong Lee, Mitchell Slaggert, Shannon Purser, Sydney Park

wish-upon-poster02

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s