Ketika Dunia Tak Lagi Punya Privasi

anon (1)
Anon. [Dok Altitude Film Distribution]
Mestinya film ini bisa jadi sangat menarik. Entahlah, buatku film ini masih tetap menarik. Tetapi respons penonton pada saat skrining Anon ini, Selasa (15/5) pekan lalu berkata sebaliknya.

Sejak semula, film Anon ini sudah jadi perkara. Perjalanan menuju Plaza Semanggi selepas maghrib pekan lalu itu sudah menjadi perjuangan tersendiri. Dari Palmerah ke Semanggi tidaklah begitu jauh. Apalagi, aku sudah mengantisipasi macet dengan meniatkan diri naik ojek. Kayaknya gegara Persija main di Senayan, butuh waktu nyaris sejam untuk menempuh jarak yang hanya sekitar 4 kilometer itu.

Setiba di Cinemaxx Plaza Semanggi, aku diberitahu bahwa film yang sedianya diputar pukul 19.00 mundur setengah jam. Waktu melirik daftar penonton, aku lihat memang baru ada tiga orang yang hadir termasuk aku. Alamak!

Aku menduga, kayaknya film ini kurang menarik.

Sampai waktu yang ditunggu, dalam hitunganku hanya sekitar 10 orang saja yang memenuhi studio. Ya sudahlah, mari kita fokus pada filmnya.

Dunia tanpa privasi

Bayangkan jika di dunia ini tidak ada lagi privasi. Semua yang dilihat oleh mata manusia direkam dan disimpan dalam sebuah jaringan masif yang disebut Ether. Data itu kemudian dapat dipanggil dan disimak lagi di kemudian hari.

Kejahatan pun nyaris punah. Itulah yang diperlihatkan pada adegan-adegan awal film Anon ini. Polisi detektif Sal Frieland (Clive Owen) memecahkan berbagai kasus kriminal hanya dengan duduk diam di kantornya. Ia mendengarkan penuturan para pelapor. Di antaranya seorang perempuan yang kehilangan perhiasan. Dengan mengakses apa yang dilihat oleh si perempuan, Sal dengan mudah mengetahui apa yang terjadi atas perhiasan tersebut.

Demikian pula saat berjalan-jalan di tengah keramaian kota. Dalam penglihatan Sal langsung muncul informasi tentang apa saja yang ada di sekitarnya. Mulai dari nama dan keterangan orang-orang yang lalu-lalang, gedung, papan reklame, kendaraan, hingga hewan peliharaan. Tidak ada yang tidak dapat diketahui Sal.

Masalah muncul ketika terjadi sebuah pembunuhan. Saat mengakses data yang dilihat korban terakhir kali, yang terlihat bukanlah dari sudut pandang korban, melainkan dari sudut pandang si pembunuh. Polisi pun gempar, karena Ether yang digadang-gadang begitu aman dan mampu mengatasi semua masalah nyatanya bisa diretas. Padahal, ketergantungan pada Ether sudah demikian tinggi sehingga polisi harus mencari akal untuk menemukan si pembunuh misterius.

Anonim

Tak lama berselang, muncul lagi kasus serupa. Polisi menduga bahwa pembunuhan kedua pun dilakukan oleh orang yang sama. Menilik karakter dan latar belakang korban yang mirip, Sal lalu ditugaskan memancing si pembunuh dengan berpura-pura menjadi mangsa berikutnya. Dengan cara itu, ia bertemu dengan sosok anonim (Amanda Seyfried) yang diduga adalah sang pembunuh. Berhasilkah Sal mengungkap si pembunuh misterius?

Ide yang diangkat film ini cukup menarik. Dengan banyak menampilkan sudut pandang orang pertama, sutradara Andrew Niccol berhasil menggugah penonton untuk membayangkan dan merasakan sebuah dunia tanpa privasi. Semua data tersaji secara otomatis begitu mata melihat. Tak perlu lagi berkenalan, karena kita langsung dapat mengetahui nama, pekerjaan, dan informasi umum tentang orang yang berada di depan kita.

Menjadi menarik pula merenungkan yang dikatakan sosok anonim bahwa ia ingin tidak dikenal, ingin dilupakan. Apa menariknya dunia jika tak ada lagi rahasia? Hanya saja, karakter anonim yang diperankan Amanda Seyfried yang mestinya bisa jadi lebih menarik justru kurang mendapat porsi.

Drama psikologis?

Kisah dalam film ini digambarkan terjadi pada masa yang akan datang. Namun, tidak jelas benar seberapa jauh ke depan periode waktu yang dimaksud. Yang jelas, tidak ada gambaran suasana yang sangat futuristis seperti gedung-gedung pencakar langit ultra modern atau moda transportasi supercanggih. Sebaliknya, suasana yang dibangun justru begitu sunyi dan kelabu. Ada beberapa adegan yang mestinya berlangsung di tengah kota, namun suasana sekitar justru tampak begitu lengang dan kosong. Tidak jelas juga apakah penduduk masa depan jarang keluar atau memang populasinya sudah sangat berkurang.

Sebagai kisah pembunuhan, film ini sebenarnya bisa jadi menarik. Sayang, alur ceritanya kurang menggigit. Film lebih banyak dibentuk dari jalinan dialog ketimbang aksi. Ditambah penggambaran dari sudut pandang orang pertama, penonton seakan diajak mendalami kondisi psikologis si karakter.

Ketimbang sosok anonim pembunuh, film ini lebih banyak berkutat pada karakter Sal. Ia dikisahkan telah bercerai dan dulunya memiliki seorang anak laki-laki yang kemudian tewas akibat kecelakaan lalu-lintas. Ia bolak-balik mengakses rekaman visual tentang anaknya dan merasa kelimpungan ketika rekaman itu terhapus. Namun, hal itu tak terlalu banyak berkontribusi pada plot yang berkisah tentang pencarian pembunuh misterius.

Entah karena gregetan dengan cerita yang kurang menggigit, atau mungkin karena tak ingin terjebak macet lebih parah, satu per satu penonton skrining cabut sebelum film usai. Terakhir, aku sampai mengira tinggal sendirian di dalam studio.

Jadi? Ya sudahlah, jangan berharap terlalu banyak pada film ini. Gagasan tentang dunia tanpa privasi dan semua yang dilihat mata akan didokumentasikan sudah cukuplah sebagai penggugah imajinasi dan daya tarik film ini. Selebihnya, nikmati saja film ini sebagai salah satu interpretasi atas imajinasi tersebut. Tidak lebih.

Advertisements

Liburan yang Membawa Bencana

MV5BNjQxOTI3NTQ5N15BMl5BanBnXkFtZTgwNzI4NTk0NDM@._V1_SX1500_CR0,0,1500,999_AL_
Olivia dan teman-teman sedang bermain truth or dare. [Foto-foto IMDB/Universal Pictures]
Hati-hati kalau mau iseng, salah-salah bisa fatal akibatnya. Kira-kira itulah pesan yang bisa dipetik dari Truth or Dare, film yang besok Sabtu (28/4) akan mulai midnight show di jaringan bioskop XXI.

Olivia (Lucy Hale) dan Markie (Violett Beane) adalah dua sahabat karib di sekolah menengah atas. Pada saat jeda sekolah musim semi (spring break), Markie mengajak Olivia berlibur ke Meksiko. Semula Olivia menolak. Tapi setelah dibujuk-bujuk dengan dalih siapa tahu ini akan menjadi liburan terakhir bersama sebelum nantinya masing-masing menempuh hidup sendiri saat kuliah.

Meskipun enggan, atas nama persahabatan, Olivia setuju. Maka, berangkatlah Olivia dan Markie serta sejumlah teman lain. Di antaranya, pacar Markie yaitu Lucas (Tyler Posey), pasangan pacaran Penelope (Sophia Ali) dan Tyson Curran (Nolan Gerard Funk), Brad Chang (Hayden Szeto) dan yang belakangan bergabung Ronnie (Sam Lerner). Selama dua minggu di Meksiko mereka menghabiskan waktu untuk hura-hura.

Pada malam terakhir liburan, rombongan ini menghabiskan waktu di sebuah kelab. Saat kelab tutup, mereka merasa belum puas dan ingin lanjut untuk menghabiskan waktu. Carter (Landon Liboiron), yang baru dikenal Olivia malam itu, mengajak mereka ke tempat yang menurut dia oke. Maka, berangkatlah mereka ke sebuah tempat yang ternyata merupakan reruntuhan gereja.

Merasa bosan, teman-teman Olivia mengajak pulang. Namun, ia bersikeras dan menahan mereka. Untuk pengisi waktu, iseng-iseng Carter mengusulkan untuk bermain truth of dare. Ternyata, suasana tambah tidak mengenakkan karena ada hal-hal yang selama ini tersembunyi jadi terbongkar gara-gara permainan itu. Malah, Carter tiba-tiba mengundurkan diri dan pergi begitu saja.

Olivia mencoba mengejar tapi Carter justru menyalahkannya, mengapa mau diajak pergi ke situ. Bingung dengan sikap Carter yang mendadak berubah, Olivia kembali ke tempat teman-temannya berkumpul. Namun, tak ada orang di situ. Dalam keadaan galau, mendadak teman-temannya muncul kembali dan heran dengan sikap Olivia yang kebingungan. Akhirnya, liburan ke Meksiko itu pun berakhir dengan tidak menyenangkan.

Kembali ke kehidupan sekolah, situasi tidak menjadi lebih baik. Olivia mengalami serangkaian hal aneh. Beberapa kali ia menemukan tulisan “truth or dare”. Semula, ia mengira teman-temannya yang usil ngerjain. Tanpa disadarinya, itu adalah bagian dari permainan yang harus ia mainkan. Kalau menolak atau gagal, taruhannya nyawa.

Satu per satu mereka yang ikut bermain truth or dare di Meksiko tewas mengenaskan. Olivia dan teman-temannya berkejaran dengan waktu untuk mengungkap rahasia di balik permainan tersebut sembari berusaha menyelamatkan nyawa. Berhasilkah mereka?

Film ini diproduseri orang yang sama dengan yang membuat film Happy Death Day. Makanya, tema dan ceritanya lebih kurang sama, horor/thriller anak muda. Kalo dibilang horor sih sebenarnya nanggung—atau malah nggak berasa horornya. Sebagai thriller juga kurang mencekam. Semuanya serba ringan dan di permukaan. Yang dijual ya paling tampang-tampang segar pemerannya.

Dari sisi cerita sebenarnya lumayan banyak yang bisa digali. Hubungan persahabatan Olivia dan Markie ternyata penuh warna. Tapi sayang kurang didalami dan penyajiannya kurang dramatis. Penonton tinggal dikasih tahu doang belakangan, ooo begitu ternyata. Ya lagi-lagi hanya di permukaan.

Yang menarik kalo setannya lagi coba berkomunikasi, biasanya si orang yang diajak ngomong akan melihat orang-orang di sekitarnya jadi berubah. Wajahnya jadi mencong-mencong kayak efek di Line. Kayaknya mau menegaskan kalo ini filmnya anak muda, jadi tampang hantunya juga harus kekinian. Halah…

Jadi, apakah film ini layak tonton? Kalo lagi iseng dan film lain udah ditonton semua, ya silakan aja. Tapi, jangan terlalu berharap banyak. Nikmati saja gimana tingkah laku anak muda zaman sekarang. Selebihnya ya cuma bumbu-bumbu doang… alamak!

Nyanyi atau Mati

Premika (5)
Premika. (Foto-foto dari IMDB/M Pictures)

Saya tidak punya ekspektasi apa pun terhadap film bertajuk Premika ini ketika sore itu tergopoh-gopoh ke CGV Grand Indonesia. Gara-gara pekerjaan masih menumpuk, sempat terpikir untuk tidak jadi berangkat. Ternyata, setengah jam lebih sedikit dari jadwal film diputar, kerjaan sudah bisa ditinggal. Segera saja saya memesan gojek, dan tak sampai setengah jam kemudian, saya sudah tiba di Grand Indonesia.

Film-film horor Thailand setahu saya cukup menyeramkan. Paling tidak, kisahnya kelam. Jelas bukan tipe yang umbar aurat, seperti yang sempat marak di Tanah Air. Kalaupun ada yang bercampur komedi seperti Pee Mak (2013), yang dibintangi Davika Hoorne, aura horornya masih kental. Jadi, saya kira, Premika ini pun 11-12-lah. Hanya saja, tidak ada satu nama pun dari pemain di film ini yang nyangkut di ingatan—secara saya hanya penikmat kasual film-film Thailand (ya kalo sebangsa Mario Maurer atau Baifern mungkin masih tahulah).

Adegan awal film ini dimulai dari ditemukannya potongan-potongan tubuh korban pembunuhan misterius di sebuah hutan. Karena identitasnya tidak dapat diketahui, korban kemudian disebut sebagai “Premika”, mengikuti merek baju seragam sekolah Jepang yang dikenakannya.

Belakangan, saya baru ingat bahwa Natthaca (Gena) De Souza yang memerankan Premika adalah orang yang sama dengan pemeran Miso di drama remaja Duck Idol. Pantesan seperti pernah tahu wajahnya. Tapi memang penampilannya di film ini bikin pangling, karena tampak lebih dewasa dibandingkan sosok Miso yang kerempeng dan nyebelin.

Konflik mulai kelihatan ketika pejabat polisi setempat yang memimpin penyelidikan di lokasi tampak acuh tak acuh. Ia lebih memilih pergi untuk urusan lain ketimbang menyelidiki pembunuhan tersebut. Ia beralasan, hampir dapat dipastikan korban adalah pekerja gelap yang kerap masuk ke Thailand. Tidak ada perlunya mengurusi pembunuhan demikian.

Poom (Todsapol Maisuk), seorang letnan polisi bawahannya berbeda pendapat. Ia bertekad mencari tahu identitas korban sekaligus menguak kasus pembunuhan tersebut. Sayangnya, petunjuk yang dimiliki hanyalah potongan tubuh dan pakaian yang dikenakan.

Sampai di sini, saya masih mengira ini bakal menjadi film horor “biasa”. Aura kelam dan bengisnya udah terasa. Hingga tiba-tiba scene berubah ke sebuah resor yang baru dibuka, tak jauh dari lokasi korban mutilasi ditemukan.

Pengelola resor mengundang sejumlah tamu VIP untuk menjajal suasana resor yang dikelilingi alam pegunungan yang menawan. Termasuk di antara para tamu adalah pasangan suami-isteri muda yang kurang harmonis, seorang produser musik beserta dua orang penari, sebuah kelompok band dengan penyanyinya Tul (Nutthasit Kotimanuswanich) yang tengah naik daun, serta sejumlah wartawan di bawah pimpinan Kreng (Pramothe Pathan).

Rombongan tamu VIP itu benar-benar tidak biasa. Si penari kesengsem berat pada si penyanyi band. Para anggota band ternyata pernah mengikuti audisi dan ditolak oleh si produser. Sementara, si isteri dari pasangan muda itu juga senang bisa bersama-sama dengan gerombolan tamu yang lain. Namun, semua ditampilkan dengan kekonyolan masing-masing yang sejenak menghalau aura kelam adegan sebelumnya.

Saat melihat-lihat fasilitas resor, tanpa sengaja salah satu tamu menyalakan sebuah mesin karaoke. Ternyata, mesin karaoke tersebut menghidupkan sosok hantu perempuan muda yang mendendam karena dibunuh. Ia lalu menghantui para tamu resor. Namun, caranya sangat unik. Korbannya disuruh untuk bernyanyi mengikuti lagu yang dipilih acak oleh mesin karaoke. Jika bernyanyi sumbang, korban akan gagal dan si hantu perempuan pun membunuhnya. Satu per satu tamu VIP resor itu pun menjadi korban.

Oke, sepanjang pengalaman saya menonton yang tidak seberapa, rasanya baru kali ini melihat hantu mengejar-ngejar korbannya untuk disuruh bernyanyi mengikuti lagu dari mesin karaoke. Sudah pasti ini merupakan kisah dari sebuah film horor komedi. Seram tapi lucu. Mengerikan sekaligus menghibur.

Yup, meski komedi, aura kelam film ini tetap terjaga—walau tidak sekelam Pee Mak. Lokasi resor yang terasing di tengah alam sebenarnya ambigu. Di satu sisi tampak indah. Tapi, memang keterasingannya bikin jeri. Istilahnya, ngeri-ngeri-sedap.

Sejumlah adegan pada film ini mengingatkan atau malah merujuk pada film-film horor lain, sebutlah misalnya Lights Out. Tapi, alih-alih menyeramkan, tepat pada saat kita merasa akan dikagetkan, mendadak adegan berubah menjadi konyol.  Dipaksakan? Mungkin, tapi tetap saja mengundang senyum dan tawa. Bahkan, beberapa kali penonton di bioskop bersorak. Hehe, bukti kalo film ini cukup bisa membawa emosi penonton.

Kritik sosial

Sementara itu, pencarian Letnan Poom berkembang ke sejumlah kelab malam yang beroperasi di seputar kawasan wisata tersebut. Tampaknya pencarian Letnan Poom menemukan titik terang karena kelab-kelab malam tersebut banyak mempekerjakan pekerja gelap dari negara tetangga. Mereka umumnya tanpa identitas jelas dan tidak bisa berbahasa Thailand. Ia lalu menelusuri, apakah ada yang mempekerjakan perempuan muda dengan seragam seperti murid sekolah Jepang.

Apakah ada hubungan antara perempuan muda yang menjadi korban pembunuhan mutilasi dengan hantu yang menggentayangi resor? Apakah ada yang berhasil melewati tantangan bernyanyi dengan mesin karaoke sehingga urung dibunuh?

Menurut saya, sutradara yang juga merupakan salah satu penulis naskah Siwakorn Charupongsa tak hanya menghadirkan berbagai kelucuan yang menghibur. Premika juga mengusung kritik sosial antara lain mengenai nasib para pekerja ilegal yang menjadi korban perdagangan manusia karena terbelenggu kemiskinan. Ia juga menghadirkan potret institusi yang semestinya menjadi lembaga pelindung masyarakat, tetapi malah menjadi beking kaum pengusaha. Penonton diajak tertawa tetapi pada saat yang sama merasa getir melihat ketidakadilan yang terjadi.

Sebagai tontonan, Premika cukup menghibur. Terdapat banyak situasi konyol yang membuat penonton terpingkal-pingkal. Bumbu horor cukup mengena, walau bagi penggemar horor sejati pasti dianggap basi. Jika menginginkan tontonan yang berbeda, film ini bolehlah dicoba.

 

Sutradara: Siwakorn Charupongsa

Skenario: Siwakorn Charupongsa, Komsun Nuntachit, Sukree Terakunvanich

Pemain: Natthaca (Gena) De Souza, Nutthasit Kotimanuswanich, Pramothe Pathan

Rilisan: Thailand

Tayang Perdana: 18 April 2018

Menghadapi Pengadilan Setelah Kematian

AWTG Main Poster - LR
Poster Along with the Gods: The Two Worlds (foto-foto Lotte Entertainment)

Misteri kematian selalu mengusik manusia dari waktu ke waktu. Berbagai keyakinan di berbagai tempat menawarkan jawabannya. Film Korea bertajuk Along with the Gods: The Worlds ini termasuk salah satunya.

Film ini menceritakan pengalaman Ja-Hong (Cha Tae-Hyun), seorang pemadam kebakaran yang tewas saat menjalankan tugas. Ia jatuh dari ketinggian gedung yang sedang terbakar saat menolong seorang bocah. Si bocah selamat, tetapi Ja-Hong tidak tertolong.

Semula Ja-Hong girang karena mengira selamat setelah jatuh. Tapi, demi melihat teman-temannya merubungi jasadnya sembari menangis, barulah ia sadar bahwa ia telah meninggal. Ja-Hong tidak dapat menerima kenyataan itu. Teringat akan ibunya, ia berteriak-teriak minta kembali. Tapi, Ja-Hong harus menuruti takdirnya yang sudah mati.

 

Tujuh pengadilan

Setelah memasuki dunia orang mati, Ja-Hong disambut tiga orang penjaga yaitu Kang Lim (Ha Jung-Woo), Hewonmak (Ju Ji-Hoon), dan Deok-Choon (Kim Hyang-Gi). Mereka mendampinginya untuk menghadapi 7 pengadilan yang  mencari tahu apakah Ja-Hong menjalani hidupnya dengan baik. Jika berhasil melewati ketujuh pengadilan tersebut, ia dapat bereinkarnasi kembali ke dunia orang hidup.

Karena mati untuk menolong orang lain, Ja-Hong termasuk kategori “teladan”. Hal itu ternyata sudah langka. Kali terakhir orang mati sebagai teladan terjadi 19 tahun sebelumnya. Para teladan biasanya mendapatkan perlakukan istimewa saat menghadapi pengadilan. Makanya, Kang Lim dan sejawatnya sangat berharap Ja-Hong dapat melewati ketujuh pengadilan tersebut dengan cepat.

Dari pengadilan demi pengadilan, terkuaklah rahasia kehidupan Ja-Hong yang sebenarnya. Penyesalan bahwa ia tidak dapat bertemu lagi dengan ibunya ternyata bukan hanya karena ia merasa bertanggung jawab atas nafkah, tetapi juga karena alasan masa lalu yang belum tuntas.

Sementara itu, perjalanan Ja-Hong dan para penjaganya diganggu oleh roh pendendam. Kang Lim menemukan bahwa roh itu adalah adik Ja-Hong yang telah mati. Ternyata, sewaktu kecil Ja-Hong pernah memukuli adiknya lalu lari dari rumah. Ia meninggalkan adik dan ibunya dan tak pernah kembali.

Mampukah Ja-Hong melewati pengadilan-pengadilan di akhirat? Akankah adiknya terus mendendam? Dibantu oleh ketiga penjaganya, Ja-Hong menyelesaikan satu per satu masalahnya saat hidup.

Spektakuler

Terus terang saya bukan penggemar film Korea sehingga tidak tahu apakah para pemerannya ini termasuk bintang top apa bukan. Akting mereka sih menurutku biasa saja, tidak ada yang terlalu menonjol.

Dari segi plot cerita, lumayan menarik. Kita diajak untuk bolak-balik melihat perjalanan Ja-Hong di akhirat lalu kembali pada kejadian saat ia hidup. Dengan cara ini, penonton diajak merenungkan makna sebuah perbuatan. Apakah kebohongan benar-benar sebuah kesalahan? Boleh jadi penilaian kita tidak akan sehitam-putih itu kalau saja kita tahu alasan di baliknya. Untuk itu, silakan kembali pada keyakinan masing-masing. Saya tak hendak mencampuri.

Yang lebih menarik sebenarnya adalah penggambaran akhirat. Pembuatan Along with the Gods: The Worlds menelan biaya lebih dari 36 juta dollar AS. Sebagian besar habis untuk efek khusus yang menggambarkan suasana akhirat. Harus saya akui, penggambaran dalam film ini cukup spektakuler. Manusia yang melayang-layang dan dihantam bebatuan atau berlari-lari menghindari gilasan gerinda… luar biasa. Sukseslah untuk membikin penonton merasa jeri.

Apakah karena efek khusus yang spektakuler itu atau karena ceritanya, yang jelas film ini mendulang sukses besar, baik di Korea maupun di sejumlah negara Asia. Hanya dalam sepekan pemutaran perdananya, biaya pembuatannya telah tertutup dengan menarik lebih dari 4,76 juta penonton. Tapi entahlah di Indonesia. Kalau tertarik, film ini masih diputar di Cinemaxx.

Sutradara: Kim Yong-Hwa

Skenario: Kim Yong-Hwa

Pemain: Cha Tae-Hyun, Ha Jung-Woo, Ju Ji-Hoon, Kim Hyang-Gi

Rilisan: Korea

Tayang Perdana: 5 Januari 2018

Menaksir Cara Berpikir Orang Tajir Melintir

foto 3
Christopher Plummer sebagai Jean Paul Getty. (Foto-foto STXinternational/IMDB)

Jean Paul Getty adalah manusia terkaya di dunia. Setidaknya, begitulah kata majalah Fortune pada tahun 1957, jauh sebelum Mark Zukerberg atau Bill Gates mendominasi daftar orang terkaya di dunia.

Lahir tahun 1892, Getty sudah mengumpulkan harta senilai 1 juta dollar AS sebelum usia 25 tahun. Kekayaan itu diperoleh dari bisnis minyak. Pada 1949, Getty membayar Ibnu Saud atau lebih dikenal sebagai Raja Abdulaziz dari Arab Saudi sebanyak 9,5 juta dollar dalam bentuk tunai dan 1 juta dollar setahun untuk mendapatkan konsesi penambangan minyak di lahan tandus perbatasan Arab Saudi dan Kuwait.

Getty berjudi karena di kawasan itu belum pernah ditemukan minyak. Dalam 4 tahun ia sudah menghabiskan 30 juta dollar dan belum ada tanda-tanda ditemukannya minyak. Namun, sejak 1953, perjudian Getty berbuah manis dan menghasilkan 16 juta barrel per tahun. Hal itulah yang meroketkan dia menjadi orang terkaya di planet ini.

Meski kaya, Getty terkenal hemat—atau malah kikir. Salah satu kejadian yang dengan gamblang memperlihatkan sikap Getty terhadap uang yaitu ketika cucunya, John Paul Getty III, diculik dan penculiknya minta tebusan 17 juta dollar. Kisah itulah yang coba dibingkai sutradara kawakan Ridley Scott (Blade Runner, Black Hawk Down, Gladiator) dalam film bertajuk All the Money in the World.

Hemat menjurus kikir

Cerita dimulai dari diculiknya Getty III alias Paul saat sedang keluyuran lepas tengah malam di Piazza Farnese Roma, Italia. Sekadar background, Paul beserta ibunya Abigail “Gail” Harris dan adik-adiknya memang tinggal di Roma. Mereka pindah ke Italia karena Getty Junior, ayah Paul, ditunjuk untuk mengurus bisnis minyak di negeri Pizza tersebut. Belakangan, Getty Junior malah selingkuh dan hidup berfoya-foya di Maroko sehingga Gail meminta cerai. Gail memutuskan tetap tinggal di Roma.

Para penculik menghubungi Gail dan meminta tebusan 17 juta dollar. Karena tidak memiliki uang sebesar itu, Gail lalu meminta bantuan Getty Senior. Alih-alih mendapatkan uang pembayar tebusan, Getty Senior menugaskan orang kepercayaannya Fletcher Chase (Mark Wahlberg) untuk bernegosiasi dengan para penculik. Instruksi Getty pada Chase cukup ringkas, yaitu membawa kembali Paul dengan biaya sekecil mungkin.

Sikap Getty jelas, ia tidak mau membayar uang tebusan. Dalam sebuah konferensi pers, ia mengemukakan alasannya. Karena jika ia memenuhi permintaan penculik, maka 14 cucu lainnya juga berisiko diculik.

Tokoh sentral pada film ini sebenarnya Gail, yang diperankan Michelle Williams. Tapi daya tarik film ini justru ada pada karakter Getty Senior yang diperankan Christopher Plummer. Karakternya sendiri sudah unik dari sononya.

Sikap hemat Getty digambarkan dengan agak lebay. Misalnya, saat ditemui Getty Junior sekeluarga di sebuah hotel mewah di Roma, Getty Senior baru mencuci pakaian dan menjemurkan di dalam kamar hotel. Alasannya, biaya laundry hotel kemahalan sehingga lebih baik ia mencuci sendiri. Alamak!

Saat bertemu dengan anak-cucunya juga tidak tampak kehangatan sebuah keluarga. Getty Junior tampak canggung bertemu ayah sendiri. Bahkan keluar ucapan dari mulut Getty Senior yang entah sinis atau ironis, “Ayo kita rayakan pertemuan ini dengan makan, seperti layaknya dilakukan sebuah keluarga.”

Getty Senior dikenal sebagai kolektor benda-benda seni. Dalam sebuah adegan, ia digambarkan begitu jengkel dengan anak-cucunya yang setelah besar hanya tertarik pada uangnya dan mau menghambur-hamburkannya saja. Lebih baik benda seni, kata Getty. Tidak seperti manusia, karya seni tetap seperti apa adanya, tidak pernah berubah. Sedangkan manusia berubah yang tadinya baik bisa jadi serakah.

Sikap itu dengan lebay digambarkan Scott melalui dua adegan kontras. Pertama, Getty bersikukuh menolak membayar tebusan yang setelah melalui negosiasi turun menjadi 4 juta dollar dengan alasan tidak punya uang karena harga minyak bergejolak. Namun, sejurus kemudian, tanpa banyak pikir ia menggelontorkan 1,5 juta dollar untuk membeli sebuah lukisan yang sudah lama ia incar.

Takut

Ada adegan di mana Getty diwawancarai seputar kekayaan. Si wartawan mencoba mengonfirmasi kekayaannya yang ditaksir mencapai miliaran dollar. Dengan enteng, Getty menjawab, “Kalau kau masih dapat menghitung kekayaanmu, berarti kau bukan seorang miliarder.” Makjleb. Hehehe, sombong nian dikau pak…

Mengapa Getty selalu berusaha menjadi lebih kaya? Kepada Cache ia mengaku bahwa ia takut kekurangan uang. Maka, satu-satunya jalan keluar adalah mencari lebih banyak lagi uang.

Terkait hal ini, aku jadi ingat suatu kali pernah mewawancarai pembicara sukses Tung Desem Waringin. Tung mengritisi ungkapan terkenal, bahwa akar segala kejahatan adalah (cinta) uang. Menurut Tung, ini kurang tepat. Ia bersikap pragmatis dan berkata justru dengan uang kita bisa melakukan lebih banyak kebaikan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Tung adalah murid sejati Jim Collins sehingga ia berkata bahwa good tidak cukup. Harus great. Malah, good adalah musuh great, karena banyak orang merasa sudah cukup dengan good sehingga tidak mau lagi berusaha untuk menjadi great.

Dengan gregetan, aku bertanya, jadi sampai di mana hal ini harus berakhir, when enough is enough? Seingatku, waktu itu jawaban Tung jadi agak muter-muter dan akhirnya dia bilang bahwa banyak orang melupakan satu hal yang tak kalah penting, yaitu bersyukur. Di sini, aku merasa ada kontradiksi dalam pendapat Tung. Di satu sisi ia menyarankan untuk punya rasa lapar yang membuat kau merasa tidak pernah puas sehingga terus mencari dan mencari. Tapi di sisi lain dia bilang bahwa kau harus mengucap syukur. Bukankah ucapan syukur hanya bisa timbul dari hati yang merasa cukup? Jika kau tidak pernah merasa cukup, bagaimana kau dapat mengucap syukur? Hehe, boleh dong beda pendapat dengan narasumber.

Kembali pada Getty, inilah problem yang menjerat dirinya. Sehingga ia kehilangan banyak hal baik dalam hidupnya. Pendapat ini tentu saja jika mengacu pada potret diri yang diajukan Scott dalam film ini. Kurang tahu juga aslinya Getty ini seperti apa, mesti banyak baca lagi.

Nggak jelas

Seperti aku sebut sebelumnya, film ini mestinya bercerita tentang Gail dan Cache. Namun, imho karakter keduanya kurang kuat. Sebagai ibu, wajar saja Gail merasa panik dan akan melakukan apa saja agar anaknya kembali. Dalam film, peran ayah Paul alias Getty Junior tidak terlalu jelas, karena ia sudah tidak nongol lagi sejak berasyik masyuk dengan selingkuhannya di Maroko. Ia baru muncul lagi belakangan ketika akhirnya Getty Senior setuju untuk memberikan uang tebusan. Tapi demi menghindari pajak, dicairkan dalam bentuk pinjaman kepada Getty Junior. Busyet banget nggak tuh, hahaha…

Karakter yang lebih tidak jelas adalah sosok Cache. Dia ini orang kepercayaan Getty Senior yang melakukan negosiasi dengan para raja dan syeikh penguasa minyak di Timur Tengah. Ia juga merancang sistem keamanan dan melatih para tenaga keamanan. Tapi, dalam film ini nggak begitu jelas peran dan kontribusinya dalam bernegosiasi. Dia lebih terlihat seperti pengawal dan sopir Gail.

Kalau melihat trailernya, kayaknya ada adegan-adegan aksi yang seru. Tapi, pas nonton filmnya, nggak kelihatan tuh. Film ini terasa lebih seperti film drama untuk menyelami pikiran dan perasaan para tokohnya.

Memang harus dipisahkan antara karakter dan akting para pemerannya. Secara karakter, sudah pasti yang kuat adalah Getty Senior. Angle cerita yang berpusat pada Gail masih sulit membendung ketokohan Getty Senior. Semula, Getty Senior ini mau diperankan oleh aktor kawakan Kevin Spacey, dan bahkan sudah sempat digunakan untuk materi pemasaran pada tahap awal. Namun, karena Spacey lagi dirundung masalah terkait perilaku seksual, peran ini dialihkan kepada Plummer. Komentator dari New York Magazine David Edelstein menduga, keputusan Scott untuk mengganti Spacey adalah untuk “menyelamatkan” film ini, terutama penampilan cemerlang Williams, agar tidak terseret skandal.

Overall, jika tertarik menyelami pikiran dan perilaku orang-orang tajir melintir, sila mampir di bioskop terdekat untuk menonton film ini. Cukup seru dan menghibur kok.

“Hallelujah”, Karya Jenius yang Berproses

800px-Leonard_Cohen_at_Edinburgh_Castle
Leonard Cohen tahun 2008. (Foto dari Wikipedia)

Kalau lagi boring saat melaju sendiri di mobil, banyak hal yang biasa aku lakukan. Salah satunya, mendengarkan podcast. Tapi, kadang bosan juga mendengarkan podcast yang itu-itu lagi, seperti Gary Vee atau Michael Hyatt. Makanya, pagi ini, aku coba dengar episode-episode lama podcast Revisionist History dari si pengarang Tipping Point, Malcolm Gladwell. Random aja, aku mendengarkan episode bertajuk “Hallelujah” tertanggal 28 Juli 2016.

Malcolm ini memang ajegile kalo ngangkat topik. Podcast Revisionist History mempertanyakan kembali tentang apa yang kita anggap telah menjadi bagian dari sejarah. Sometimes the past deserves a second chance kira-kira menjadi moto podcast ini. Salah satu topik menarik yang pernah diangkat misalnya tentang bagaimana McDonald’s mengganti minyak goreng yang digunakan, yang membuat kentang gorengnya tidak lagi seenak dulu. Padahal, dulu McDonald’s digemari antara lain karena kentang gorengnya.

Hehehe, penting nggak sih topik ini. Tapi ternyata kalo didalami, keputusan mengganti minyak goreng bagi McDonald’s ternyata sangat strategis dan melibatkan banyak pertimbangan yang menarik kalo disimak ceritanya. Di situlah hebatnya si Malcolm ini. Membuat sesuatu yang tampak sepele menjadi luar biasa. Makanya, waktu kemarin-kemarin ada cerita tentang Trump yang ternyata penggemar McDonald’s, aku langsung teringat episode Revisionist History yang satu ini.

Nah, soal lagu “Hallelujah” ini pun begitu. Ngaku saja, aku baru tahu ada lagu ini setelah dengerin podcast si Malcolm. What?!!! Kemane aje aku selama ini? Ya nggak ke mana-mana. Emang nggak pernah terpapar aja. Habis belum pernah dibawain sama Kreator atau Slayer sih lagunya. Tapi ternyata, menurut Malcolm, sejumlah artis kenamaan, sebut saja Bob Dylan, Bon Jovi, U2, Jeff Buckley, John Cale, dan masih banyak lagi, pernah membawakan lagu ini. Lagu ini termasuk dalam 500 lagu terbaik versi majalah Rolling Stone dan salah satu dari 10 lagu terbaik sepanjang masa berdasarkan survei terhadap penulis lagu yang dilakukan Q, majalah musik Inggris.

Malcolm menambahkan, kalau Anda kebetulan naik subway di New York sana, setiap hari pasti ada pengamen yang menyanyikannya. Begitu pun kalau dia mampir di salah satu pub orang-orang Kanada di Manhattan, setiap hari jadi Kanada, selalu ada penyanyi yang membawakan lagu ini.

Mengapa Kanada? Karena si Malcolm ini aslinya orang Kanada, jadi ya semacam fanatisme kampung asal aja. Karena juga sejatinya lagu “Hallelujah” ditulis oleh penulis lagu Kanada Leonard Cohen. Lagu ini dirilis pertama kali tahun 1984, waktu si Malcolm berusia 20 tahun. Dan, mengutip sebuah penelitian psikologi, katanya musik yang didengar pada usia 19 atau 20 tahun akan tercetak sangat dalam pada kesadaran kita. Opo iyo? Buatku itu berarti antara 1992-1993 dan seingatku pada tahun-tahun segitu aku agak kehilangan minat dan tidak terlalu update musik lagi setelah band-band old school thrashmetal terbenam. Aku ingat, pada masa itu aku justru mendengarkan lagi lagu-lagu jadoel, terutama Simon & Garfunkel, Rush, dan bahkan karya-karya klasik dari Mozart dan Beethoven.

Proses panjang

Tidak diragukan lagi, “Hallelujah” adalah karya jenius dari Cohen. Namun, untuk menjadi terkenal dan diakui sebagai karya jenius ternyata butuh waktu.

Menurut Malcolm, Cohen menghabiskan waktu 5 tahun untuk menulis “Hallelujah”. Ia akhirnya merekamnya pada 1984, masuk dalam album bertajuk Various Positions. Ia sempat membawa rekaman itu pada label gede CBS dan memperdengarkannya kepada Walter Yetnikoff, orang yang pernah menangani Thriller-nya Michael Jackson dan Born in the USA-nya Bruce Springsteen. Jelas bukan orang kemarin sore di bidang musik, kata Malcolm. Tapi, setelah mendengarkan versi Cohen, Yetnikoff berkomentar, “What is this? We’re not releasing it, it’s a disaster”. Ck ck ck… Akhirnya, album Cohen dirilis oleh label indie Passport Records dan tidak banyak yang mendengarnya.

Meski demikian, Cohen tetap tidak puas. Ia terus mengulik “Hallelujah”. Ia membawakannya dalam konser dan menurunkan temponya sehingga menjadi dua kali lebih panjang dari versi orisinal. Ia juga mengubah baris-baris lirik sehingga lagu ini kemudian terdengar lebih kelam.

Nasib “Hallelujah” menemukan jalannya ketika John Cale, musisi legendaris yang berpengaruh serta salah satu pendiri Velvet Underground, menyaksikan Cohen membawakannya dalam sebuah konser di Beacon Ballroom, New York. Cale terpesona dan meminta Cohen mengirimkan liriknya. Ia mau membuat versinya sendiri. Maka, Cohen mengirimkan faks 15 halaman berbagai versi yang pernah ia tulis. Cale memilih bagian-bagian yang ia anggap menarik, dua baris dari versi orisinal dan tiga baris dari versi live. Ia juga melakukan sejumlah perubahan kata dan mengembalikan rujukan alkitab yang semual terdapat pada versi orisinal. Di tangan Cale, nuansa lagu ini berubah.

“Hallelujah” versi Cale muncul dalam album tribute untuk Cohen yang dirilis oleh sebuah majalah musik Perancis. Album bertajuk I’m Your Fan itu keluar tahun 1991. Menurut Malcolm, ia termasuk satu dari hanya segelintir orang yang tertarik untuk membeli album yang kurang laku itu. Selain dia, orang lain yang membeli I’m Your Fan adalah seorang perempuan bernama Janine yang tinggal di apartemen di Brooklyn, New York. Ia adalah teman baik penyanyi muda bernama Jeff Buckley.

Buckley suka nongkrong di apartemen Janine dan tanpa sengaja mendengarkan “Hallelujah” versi Cale. Ia lalu memutuskan untuk membuat versinya sendiri. Saat membawakannya di sebuah bar kecil di kawasan East Village. Kebetulan, seorang eksekutif dari Columbia Records sedang mampir di bar itu dan singkat cerita Buckley merekam “Hallelujah” versinya untuk album bertajuk Grace pada 1994. Itu adalah album studio Buckley yang pertama dan satu-satunya.

Buckley belakangan diakui sebagai sebagai inspirasi oleh Radiohead dan Coldplay. Tapi pada waktu Grace keluar, tak banyak yang menaruh perhatian. Hingga tragedi tenggelamnya Buckley di Sungai Mississippi pada 1997, barulah karya-karyanya menjadi lebih dikenal, termasuk “Hallellujah”. Lagu itu kemudian dirilis sebagai single pada 2007, sepuluh tahun setelah tewasnya Buckley. Versi Buckley ini kemudian muncul di mana-mana, antara lain juga dibawakan oleh Jason Castro, salah satu peserta kontes American Idol musim ketujuh. Berkat Castro, “Hallelujah” merajai tangga lagu digital Billboard periode Maret 2008.

Begitulah, kata Malcolm, dibutuhkan waktu 15 tahun untuk mengenali dan mengakui jeniusnya karya Cohen. Perjalanannya juga berliku. Ditolak oleh CBS, masuk dalam album Perancis yang tidak dikenal, terdengar dari apartemen seorang perempuan tak dikenal, hingga dikenal akibat sebuah tragedi. Jika saja salah satu dari kejadian random itu tidak terjadi, barangkali “Hallelujah” tidak akan menempati posisinya seperti sekarang.

Dua macam jenius

Mengutip pakar ekonomi David Galenson, menurut Malcolm, ada dua macam orang jenius. Yang pertama adalah orang-orang yang dalam usia muda dan sekali jadi langsung menelurkan karya-karya monumental. Contohnya Pablo Picasso, Herman Melville, atau Bob Dylan. Selain itu, ada juga orang-orang yang butuh waktu seumur hidup hingga diakui sebagai jenius. Pada kategori ini ada nama-nama seperti Auguste Rodin, Mark Twain, dan termasuk juga Leonard Cohen.

Dalam blognya, Joshua McNall menceritakan tentang percakapan Dylan dan Cohen pada suatu kesempatan makan siang. Dylan termasuk yang tertarik pada “Hallelujah” dan bertanya pada Cohen, berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menulis lagu tersebut. Cohen berbohong dan menyebutkan dua tahun. Kebetulan Cohen juga memiliki lagu favorit dari karya Dylan, “I and I”, lalu balik bertanya, berapa lama yang dibutuhkan Dylan untuk menulis lagu tersebut. Kali ini Dylan menjawab dengan jujur: sekitar 15 menit saja!

Keberhasilan Cohen tak lepas dari keras kepalanya untuk terus memoles karyanya. Alan Light secara khusus menulis sebuah buku tentang “Hallelujah”, yaitu The Holy or the Broken. Dalam wawancara dengan Malcolm, Light menjelaskan bahwa Cohen adalah seorang penulis yang mengerjakan lirik, baris demi baris, kata demi kata, dan menghabiskan begitu banyak waktu untuk sebuah karya. Bahkan, tegas Light, “Hallelujah” barangkali lagu yang paling menghantui Cohen.

Sikap kerja seperti itu barangkali bisa disejajarkan dengan pengarang peraih Nobel, Ernest Hemingway. Bagi Hemingway, “The first draft of anything is shit.” Pengarang The Old Man and the Sea ini bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas hingga akhirnya mendapatkan baris-baris kalimat yang memuaskan dirinya.

Demikian pula dengan Cohen. Kata Light, Cohen seperti sedang mengejar sebuah ide, tapi belum ketemu-ketemu juga. Meski demikian, ia terus menulis dan menulis. Tergantung pada apa yang ingin disampaikan, Cohen bisa menulis 50, 60, hingga 70 bait untuk karyanya. Tak heran, ketika diminta Cale, ia mengirim tak kurang dari 15 lembar faks untuk sebuah lagu yang berdurasi kurang dari 5 menit.

Inilah yang disebut Galenson sebagai jenius eksperimental. Dan buat aku yang sangat menghargai proses dan usaha, orang-orang semacam Cohen ini adalah hero yang sesungguhnya. Jauh lebih nikmat mengapresiasi kerja keras yang hingga berdarah-darah, ketimbang ketemu jenius yang bisa berhasil dalam sekejap mata. Hail!

Tetap Teguh pada Masa Paling Rapuh

DARKEST HOUR
Sir Winston Churchill, diperankan oleh Gary Oldman. (Foto-foto dok Focus Features)

Penggemar Iron Maiden yang mendengarkan album Live After Death (1985) pasti ingat intro laki-laki bersuara berat dan seperti kehabisan napas sedang berpidato. Jangan bandingkan dengan Bung Karno yang pidatonya begitu menggelora, yang ini terkesan seperti sedang membaca naskah. Namun, kita tahu yang sedang disampaikan begitu penting dan genting. Ada wibawa di situ. Ada keyakinan. Dan, tepat ketika ia memungkas pidatonya dengan berkata, “and we will never surrender!”, gebukan drum Nicko McBrain langsung menggempur dengan intro Aces High.

Belakangan, aku dapat informasi dari seorang teman bahwa itu adalah suara dari Perdana Menteri Inggris yang bernama Winston Churchill pada waktu Perang Dunia Kedua. Kalau baca-baca buku sejarah, nama ini mungkin segera akrab. Tapi, aku tidak pernah benar-benar tahu konteks dan situasi saat Churchill menyampaikan pidato itu.

Aku memang membayangkan itu adalah kata-kata penyemangat, semacam propaganda pada saat Inggris menghadapi Perang Dunia Kedua. Sama seperti halnya cerita tentang Bung Tomo yang menggelorakan semangat perjuangan pada perang di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Ketika beberapa waktu lalu saat nonton di bioskop aku melihat trailer film Darkest Hour yang memuat pidato Churchill, yang segera teringat tentu saja intro Live After Death yang megah itu. Aku langsung berkata dalam hati, aku harus menonton film ini. Makanya, waktu kemarin ada undangan skrining menonton film ini dengan serta-merta aku mengajukan diri.

Oya, ada alasan lain yang menguatkan. Lewat penampilan pada film ini, aktor Gary Oldman yang memerankan Churchill mendapatkan penghargaan Golden Globes 2018. Memang, jika melihat sekilas saja dari trailer film ini, penampilan Oldman sangat memukau.

Bahkan, cucu Churchill, Sir Nicholas Soames, menyatakan apresiasinya. “There have been brilliant Churchill actors before, like Robert Hardy and there have been some absolute snorkers – but I think Gary Oldman has absolutely nailed it. They each have their own way of doing it, but his portrayal of my grandfather is very vivid. One of the very best,” begitu katanya seperti dikutip http://www.express.co.uk.

Bukan pilihan utama

Darkest Hour bercerita tentang masa tiga pekan pertama setelah Jerman dengan taktik Blitzrieg-nya menyapu Belgia, Belanda, dan Luksemburg pada 10 Mei 1945. Berikutnya, giliran Perancis yang akan digasak.

Inggris yang hanya dipisahkan oleh Selat Dover selebar 33 kilometer dari daratan Perancis tentu ketar-ketir. Parlemen Inggris memaksa Perdana Menteri Neville Chamberlain mengundurkan diri karena dinilai terlalu lembek menghadapi Hitler. Dalam hitungan hari Perancis diperkirakan akan jatuh dan kemungkinan yang dipikirkan Chamberlain adalah bernegosiasi dengan Hitler agar tidak menyerang Inggris.

Apakah mau merundingkan perdamaian atau mau terus berperang. Itulah yang menjadi inti cerita dari film ini. Pilihannya tampak sederhana, tapi taruhannya luar biasa. Mulai dari ratusan ribu pasukan Inggris yang membantu Perancis yang sudah terdesak ke Dunkirk hingga jutaan penduduk Inggris yang akan menjadi korban kalau sampai Inggris diserang oleh Jerman. Siapa pun yang memimpin Inggris harus memilih. Dan, tidak ada yang berani.

Yang menjadi tokoh antagonis atau yang berseberangan dengan Churchill dalam film ini adalah Lord Halifax dan Chamberlain. Mereka khawatir, generasi muda Inggris tidak dapat melihat negara ini berdiri dan memiliki masa depan kalau hancur diserbu Jerman. Tapi Churchill bersikukuh, tidak mungkin bernegosiasi dengan monster seperti Hitler.

Churchill sebenarnya bukan pilihan utama. Ia memiliki track record yang kurang bagus, antara lain dinilai gagal dalam pertempuran Gallipoli pada Perang Dunia Pertama, lalu salah bersikap pada kasus turun tahta Raja Edward VIII yang mau menikahi sosialita AS Wallis Simpson.

Halifax yang dekat dengan Raja sebenarnya pengganti favorit. Namun, ia tidak bersedia karena merasa tidak memiliki kemampuan memimpin pada saat yang genting seperti itu. Dengan latar belakang militer dan sempat menjabat menteri pertahanan, Churchill dianggap lebih tepat—atau mungkin lebih tepatnya karena tidak ada pilihan lain. Lagi pula, Churchill dianggap yang dapat diterima oleh pihak oposisi.

Situasi semakin sulit bagi Churchill ketika ratusan ribu pasukan Inggris yang tersisa dari perang di Perancis terjebak di Dunkirk. Nyaris tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali bertahan dan hancur di tepi pantai.

Belakangan, ada informasi bahwa masih ada sepasukan lainnya dalam jumlah lebih kecil tersisa di Calais, sekitar 40 kilometer dari Dunkirk. Oleh Churchill, pasukan ini diminta untuk mengalihkan perhatian pasukan Jerman, sementara ia mengupayakan untuk mengevakuasi pasukan di Dunkirk yang jumlahnya jauh lebih besar. Gagasan ini ditentang Halifax karena dianggap sebagai misi bunuh diri. Tidak ada jaminan juga Inggris mampu mengevakuasi ratusan ribu tentara dalam waktu singkat. Jika semuanya hancur, habislah Inggris.

Tapi Churchill bersikukuh dan berani mengambil risiko itu dengan keyakinan bahwa Jerman tidak akan berani dengan gegabah menyeberang lautan untuk menyerang Inggris.

Pantang menyerah

Ini adalah film drama. Kita diajak untuk mengalami perasaan Churchill yang tertekan, bingung, dan ketakutan. Dia digambarkan seorang yang sangat emosional, tapi dia juga seorang yang begitu kukuh pada keyakinannya dan begitu bersemangat melakukan tugasnya. Pada jam-jam paling kelam, Churchill berdiam diri dalam kegelapan di kamarnya dalam keadaan tidak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya Raja sendiri yang mendatangi dia dan menyatakan dukungannya bahwa Inggris tidak boleh menyerah.

Raja menyarankan dia untuk menanyakan langsung pendapat warga Inggris. Sebagai seorang aristokrat, Churchill tidak pernah bergaul dengan masyarakat kebanyakan. Tapi akhirnya dia mengikuti saran Raja, keluar dari mobilnya, naik kereta bawah tanah, dan berbicara dengan orang banyak. Dia dapat menangkap semangat dari warga Inggris yang tidak mau menyerah. Mereka memilih lebih baik mati ketimbang harus tunduk pada Jerman.

Hal itu menambah keyakinan Churchill dan itulah yang kemudian ia sampaikan saat berpidato di depan parlemen Inggris (House of Commons) pada 4 Juni 1940.

… we shall fight in France, we shall fight on the seas and oceans, we shall fight with growing confidence and growing strength in the air, we shall defend our island, whatever the cost may be, we shall fight on the beaches, we shall fight on the landing grounds, we shall fight in the fields and in the streets, we shall fight in the hills; we shall never surrender.

Kalau pengen mendalami kondisi kejiwaan seseorang merasakan bagaimana seorang pemimpin harus membuat keputusan bersejarah pada salah satu episode paling kelam dalam kehidupan di planet ini maka film ini akan sangat menarik.

Akhirnya sejarah mencatat bahwa Churchill adalah orang yang paling tepat untuk memimpin Inggris pada masa Perang Dunia kedua. Keputusannya untuk mengorbankan ribuan tentara di Calais tidak sia-sia, pada 27 Mei hingga 4 Juni 1940 lebih dari 300 ribu tentara Inggris dapat dievakuasi dari Dunkirk. Dan, 5 tahun setelah pidato bersejarah itu, Jerman menyerah pada sekutu. Sebuah kejadian yang juga menentukan nasib negara kepulauan yang bernama Indonesia ini.

Tidak dapat dibayangkan, bagaimana Inggris dapat melewati masa-masa yang paling susah itu tanpa kehadiran Churchill. Ia kemudian dikenal menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh dan secara konsisten selalu menduduki daftar orang-orang atau perdana menteri yang paling berpengaruh di Inggris. Up the irons!