Kembalinya si “Pengabdi Setan”

Pengabdi Setan 2017
Tara Basro dan Ayu Laksmi dalam Pengabdi Setan 2017. (foto-foto Rapi Films)

Setelah sekian lama, akhirnya aku nonton lagi film lokal di bioskop (maksudnya, mau keluar duit untuk nonton). Biar lebih dramatis lagi, aku nonton sendiri dan sengaja mengatur gimana caranya biar Icha dan Jeremy bisa nonton film lain, biar nggak bete ditinggal nonton. Beruntung lagi ada film Lego Ninjago dan kebetulan sepupunya Jeremy kepengen nonton. Jadi, mereka beramai-ramai menonton Lego, dan aku misah studio sendiri untuk menonton film ini.

Emang film apa sih, sampai sebegitu niatnya nonton? Tidak lain tidak bukan film teranyarnya Joko Anwar, remake dari film lawas Pengabdi Setan. Mampus nggak tuh… hahahaha.

Sekadar background info, aku tertarik menonton bukan cuma gara-gara si Joko Anwar begitu gencar mempromosikan film ini di Instagramnya. Tapi, memang film ini memiliki tempat khusus di kepalaku yang sempit ini. Bayangin aja, udah sempit, masih dimuat-muatin dengan memori tentang film horor.

Pengabdi Setan 1980
Pengabdi Setan edisi 1980.

Buat mereka yang menjalani masa kecil pada awal dekade 1980-an, bohong banget kalau tidak sampai terpapar film ini. Jadi, zaman dulu itu, film-film berpromosi dengan memasang iklan di koran. Di Medan, koran Analisa tuh yang paling gede iklan-iklan filmnya. Terus, di tiap bioskop yang memutar filmnya, pasti ada spanduk kain berisi lukisan poster film (dulu belum ada digital printing, jadi kudu dilukis). Nah, film sontoloyo ini demikian gencar berpromosi sehingga (kalau nggak salah) di seputar jalan Sekip di Medan, ada baliho gede banget. Isinya apalagi kalau bukan sosok ketiga setan dengan wajah seram seakan hendak menerkam siapa saja yang melintas di jalan tersebut.

Aku tidak perlu menonton filmnya untuk merasakan teror yang mencekam. Buat bocah yang duduk di bangku kelas 2 SD, poster dan baliho segede bagong itu sudah cukup untuk membuatku tidak bisa tidur karena membayang-bayangkan sosok setan berwajah seram. Satu dua orang teman kelas yang menonton (aku tidak habis pikir, ada orangtua yang membiarkan anak kelas 2 SD menonton film ini, atau jangan-jangan mereka cuma omong besar doang, nggak tahulah… dan nggak mau tahu juga pada waktu itu) bercerita tentang betapa seramnya adegan setan yang bangkit dari kubur. Dimulai dari asap putih yang menembus sela-sela tanah hingga tangan yang mulai menyeruak, persis gambar pada poster filmnya.

Pada zaman itu sebenarnya banyak film horor, terutama yang dibintangi Suzanna. Tapi, entah kenapa, tidak ada yang menghadirkan kengerian seperti Pengabdi Setan. Mendengar namanya saja sudah bikin perut mules ketakutan.

Sekian tahun berlalu, bahkan sejak era film horor “modern” ala The Conjuring atau Paranormal Activity, aku tetap masih “males” untuk nonton Pengabdi Setan. Hingga terbetik kabar, Joko Anwar mau bikin remake film ini. Ceritanya bahwa ketertarikannya dengan dunia film antara lain karena Pengabdi Setan dan sebagai sesama anak Medan, sudah cukup untuk mengembalikan memori masa kecil yang terpendam sekian lama. Bohong kalau dibilang aku tidak penasaran.

Seseram-seramnya film horor buatan Hollywood, pasti tidak bisa mengalahkan keseraman film horor lokal. Antara lain karena setannya lebih “akrab”. Bukannya monster, vampire, atau zombie yang entah kenapa tetap saja terlihat keren, setan versi lokal ya pocong atau kuntilanak, lengkap dengan semua referensi cerita seram yang biasa kita dengar sejak kecil. Apalagi Pengabdi Setan

Aku berpikir, selengkap apa pun bacaan aku tentang film Pengabdi Setan yang lawas, tidak akan komplet jika tidak pernah menonton filmnya. Dan, memang, sejak beberapa waktu lalu, full film edisi lawas bisa ditonton di Youtube. Maka, untuk menumpas kepenasaranan sekaligus persiapan untuk menonton edisi remake, aku merasa harus menonton film yang lama.

Aku mengingat kembali semua referensi masa kecilku tentang film ini. Akhirnya, tuntas juga menontonnya. Dan hasilnya—seperti dibilang Joko Anwar—sontoloyo bin kurang ajar seremnya. Asli, nonton di siang bolong aja tetap mencekam. Gimana kalau ditonton malam-malam, pas malam Jumat Kliwon, sendirian pula… alamak.

Oke, itu sebagai background, dan sekarang aku siap menonton versi barunya.

Terus terang, di samping keseramannya sebagai film straightforward horor, Pengabdi Setan edisi lawas memiliki sejumlah kelemahan. Ceritanya maksa dan garing, aktingnya payah, kecuali si Ruth Pelupessy pemeran Bibi Darmina yang ngeliat mukanya aja sudah terasa aura evil-nya hahaha. Meski agak jor-joran menampilkan setan dari awal sampai habis, tapi bangunan kengeriannya cukup tertata hingga akhirnya mencapai klimaks pada finale, ketika si Bibi Darmina bersama ketiga setan menyerbu keluarga Munarto.

Sekadar info, yang bikin tambah mengganggu pada edisi lawas, ketiga setan itu adalah isteri Munarto alias ibunya anak-anak, Pak Karto si tukang kebun, dan Herman, pacarnya Rita si anak tertua. Kesan kita, mereka tadinya tokoh yang baik, kok bisa jadi setan? Itulah yang bikin hati galau dan makin benci pada karakter Bibi Darmina. Nah, bagaimana kira-kira pada versi Joko Anwar?

Kali ini, aku tidak mau menjadi spoiler bagi mereka yang pengen nonton Pengabdi Setan versi baru. Tapi, beberapa hal yang mungkin bisa aku sampaikan tanpa harus membocorkan cerita, secara teknis film ini sangat layak ditonton. Tidak kalah dibandingkan film-film horor James Wan. Kelemahan plot dan alur pada film terdahulu ditutupi dengan kisah yang solid, logis, dan mengalir lancar dari awal sampai akhir. Plus tambahan twist yang tak diduga menjelang akhir film, kerenlah si Joko Anwar. Nggak sia-sia dulu dia sekolah di Smansa Medan, hehehe.

Untuk akting pemerannya, aku harus bilang pilihan Joko Anwar memang top. Semua pemeran menjalankan porsinya dengan baik. Bahkan, karakter anak-anak Bondi (Nasar Annuz) dan Ian (M Adhiyat) bisa tampil begitu natural. Kalau pun ada ganjelan, sangat minor dan tidak terlalu mengganggu kalau tidak cukup peka dengan bahasa. Namun, aku agak ngganjel aja ada anak kecil ngomong “areal”, terus untuk konteks lain tokoh Rini (Tara Basro) pake istilah “mekanisme”. Kayaknya dalam percakapan sehari-hari di rumah, kecuali mungkin untuk keluarga yang isinya orang-orang teknik atau filsuf, mungkin tidak akan pake bahasa susah kayak gitu. Selebihnya sih cukup natural dan nggak dibuat-buat. Memang ada komentator yang bilang, telinganya agak terganggu dengan gaya bahasa yang ber-aku-kau. Tapi, buat kuping anak Medan yang memang terbiasa ngomong begitu, ya mantap-mantap ajalah.

Jadi? Hehehe, sayangnya aku harus jujur bilang, film ini tidak sesuai ekspektasiku dalam hal “tingkat keseraman”-nya. Film ini terlalu keren dan well crafted sebagai film horor. Mungkin malah jadi versi Indonesia dari film-film James Wan. Kesan horor muncul dari sekian banyak jump scare atau kaget-kagetan, bukannya mengeksploitasi sosok setan seperti edisi lawasnya. Jadi, menurutku, ambisi untuk menjadi film horor Indonesia terseram kok rasanya nggak tercapai.

Menyesal nonton? Nggak juga. Terus terang aku agak malas nonton film lokal karena sudah punya persepsi buruk akan kualitasnya. Tapi, tidak dengan film ini. Ini adalah film baru yang berbeda dibandingkan edisi lawasnya, menarik ditonton dengan kualitas sinematografi yang oke punya. Kalau mau nonton film horor yang bagus dan berkelas, ya mesti nonton film ini. Salut buat Joko Anwar, semoga makin banyak film horor yang keren kayak gini.

Pengabdi
Emang berani nonton sendiri, Bro?
Advertisements

Tulisan Pertama dengan Gboard

girl-2239965_1920
Berbicara dengan handphone. (Photo by Pixabay)

Note: tulisan berikut ini sepenuhnya “diketik” menggunakan aplikasi Gboard pada ponsel Android, selesai dalam waktu kurang dari setengah jam, sembari nyetir dalam perjalanan menuju kantor. Butuh waktu sekitar kurang dari satu jam untuk mengeditnya sampai siap dipos.

Saat ini aku sedang menyetir sembari tanganku memegang handphone. Aku sedang mencoba menulis menggunakan Gboard.

Akhir pekan kemarin aku bertemu dengan seorang teman. Dibilang teman tapi sebenarnya dia sudah berusia cukup lanjut. Sudah pensiun dan biasanya untuk orang yang berumur lanjut seperti itu tidak akan fasih dengan benda-benda berteknologi tinggi seperti handphone. Tapi kali ini berbeda. Pak Yos, namanya, tiba-tiba berkata kepadaku, “Mas sudah tau yang namanya Gboard? Sekarang saya mengetik dengan Gboard.”

“Apa itu, Pak?” tanyaku. Terus terang ku belum tahu. Apakah mungkin aku ini termasuk sedikit dari orang-orang yang mungkin tidak pernah tahu perkembangan terkini dari handphone makanya ada orang tua yang justru lebih update daripada aku.

Pak Yos bilang bahwa sekarang dia tidak perlu lagi mengetik karena cukup ngomong aja, nanti dengan sendirinya akan terketik. Aku membayangkan cara-cara seperti ini sih sebenarnya bukan hal baru. Kayaknya sudah pernah ada. Namun, kayaknya belum ada yang benar-benar praktis, terutama menyangkut kemampuan untuk mengenali suara (voice recognition), apalagi dalam bahasa Indonesia. Makanya, aku tidak terlalu antusias..

Karena yang bicara orang tua, ya aku tidak enak. Aku coba saja. Waktu pertama kali install dan aku coba ternyata gagal. Tampaknya masalahnya karena memang aku selalu menggunakan setting dalam bahasa Inggris.

Nah, setelah sampai aku jajal beberapa kali, mengubah setting bahasa menjadi bahasa Indonesia, akhirnya bisa menggunakan Gboard ini.

Mudah dan praktis

Apa saja manfaat Gboard?

Yang pertama tentu saja kemudahan dan kepraktisan dalam mengetik. Karena bagaimanapun mengetik dengan jempol jauh lebih lambat ketimbang mengetik dengan 10 jari, dan “mengetik” dengan berbicara jauh lebih cepat ketimbang mengetik dengan 10 jari. Secepat-cepatnya jari-jari tangan mengetik dengan menari-nari di atas tuts keyboard, jauh lebih cepat komputer yang dapat menangkap dan mengubah kata-kata yang diucapkan menjadi aksara terketik. Dengan cara ini juga kita benar-benar dapat mengetik secara handsfree, karena tangan tidak perlu melakukan apa-apa

Hal lain lagi adalah bahasa yang digunakan jauh lebih natural. Agar suara dapat mudah dikenali tentunya artikulasi saat berbicara harus jelas. Selain itu, bahasa lisan membuat tulisan menjadi lebih natural. Pernah nggak mengalami, ketika menulis agak kesulitan untuk menuangkan dalam kata-kata yang pas. Kalau dipaksa memang akhirnya jadi juga, namun setelah dibaca ulang kok jadi aneh. Nah, ini yang sering kali aku anjurkan setelah selesai menulis atau pada saat menyunting naskah, usahakan untuk membaca kembali tulisan secara utuh, kalau perlu dibacakan dengan bersuara. Nanti, kita dapat mengetahui kalau ada bagian yang terasa janggal.

Mungkin karena kecepatan berpikir jauh lebih pesat ketimbang berkata-kata, apalagi mengetik, jadinya memang kata-kata itu kayak berebutan mau keluar. He he he, penjelasan macam apa ini? Tapi, ya gitulah, semoga mengerti yang aku maksud. Ya butuh kayak semacam penerjemahan gitu dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. Nah, kalau kita sudah menggunakan bahasa lisan (baca: langsung berkata-kata), maka tulisan yang dihasilkan akan terasa lebih natural.

Kita juga bisa berbicara dengan senatural mungkin sehingga kita sudah membayangkan, bagaimana kalimat itu diucapkan, intonasinya seperti apa, dll. Tapi memang, kadang bahasa lisan itu tidak terlalu efektif jika dijadikan tulisan. Seringkali ada kata-kata ujaran yang pada saat diucapkan itu enak untuk melancarkan bahasa tapi sebenarnya jadi agak bertele-tele saat menjadi bahasa tulisan sehingga jadi agak kurang efektif. Tapi, saya kira masih lebih mudah untuk mengedit dan merapikan kalimat seperti itu ketimbang harus mengetik semuanya.

Karena bisa dilakukan tanpa harus menggunakan tangan maka “menulis” kini dapat dilakukan sambil melakukan pekerjaan lain. Misalnya seperti saat ini, saya sedang menyetir. Saya seringkali berpikir menyetir atau commuting itu adalah salah satu pekerjaan yang paling banyak menghabiskan waktu. Seringkali saya membutuhkan waktu antara satu setengah sampai dua jam untuk melaju dari kantor ke rumah atau sebaliknya. Dan jika kondisi jalanan sedang macet, waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi. Biasanya, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya menunggu saja membuang waktu percuma di dalam mobil. Paling-paling, saya hanya bisa mendengarkan musik atau podcast.

Tentu saja saya tidak dapat menonton karena harus tetap memfokuskan perhatian pada jalan di depan. Apalagi melakukan pekerjaan seperti menulis. Selama ini saya terpikir untuk merekam suara atau video sehingga saya tetap dapat “menulis”. Nanti saya tinggal mentranskrip perkataan saya itu agar jadi tulisan. Namun, mendengarkan ulang dan mentranskrip menjadi dua kali kerja dan pekerjaan mentranskrip itu tidak menyenangkan. Nah, dengan Gboard, apa yang hendak saya katakan langsung diubah menjadi kata-kata yang terketik.

Sangat menyenangkan. Nanti saya tinggal membuka kembali filenya dan mengeditnya –seperti yang saya lakukan saat ini. Memang, kita tidak bisa melakukan ini di sembarang tempat, katakanlah kalau sedang di bus atau di mikrolet. Salah-salah nanti bisa mengundang tatapan aneh dari orang sekitar, “Ini orang ini lagi ngapain, kok ngomong sendiri dengan handphone.”

Itu sisi menyenangkannya. Apakah ada sisi yang kurang menyenangkan. Berhubung belum terlalu lama menjajal, paling ada beberapa hal yang bisa saya bagikan. Menggunakan Gboard ini sangat mudah. Buka saja aplikasi untuk mengetik—kalau saya menggunakan Evernote—lalu saat siap mengetik akan muncul tombol Gboard. Klik saja gambar mikrofon, Anda siap untuk “mengetik”. Nah, saat “menulis” (baca: ngomong dengan handphone), kalau kelamaan diam, misalnya kalau sedang berpikir mau ngomong apa, mikrofon secara otomatis mati sehingga harus ditekan lagi agar kembali menyala. Tapi aku pikir ini tidak masalah karena jauh lebih cepat menekan tombol mikrofon ketimbang harus menekan tuts tuts keyboard.

Pengenalan akan bahasa Indonesia menurut saya sudah lumayan oke. Untuk kata-kata yang baku sudah hampir tidak ada masalah. Bahkan untuk kalimat-kalimat atau kata-kata yang tidak baku alias slank, dia juga cukup ngerti. Malah, tersedia juga—kalau perlu—pengenalan dalam bahasa Jawa atau Sunda.

Sayangnya, saya belum menemukan cara untuk membuat tanda bahasa seperti titik (.) atau koma (,). Setiap kali saya mengatakan “titik” atau “koma” yang tertulis adalah kata “titik” dan “koma”. Berbeda halnya kalau dengan bahasa Inggris. Kalau hendak mengakhiri sebuah kalimat, saya cukup mengatakan “period” atau kalau sedang membutuhkan jeda, saya cukup mengatakan “comma”. Untuk paragraf baru, saya juga tinggal katakan “new paragraph”. Langsung jadi tuh.

Nah, jadi dalam bahasa Indonesia, ada pekerjaan tambahan pada saat menyunting naskah. Saya harus menambahkan titik atau koma secara manual pada tempatnya. Tapi, ini pun masih terasa jauh jauh jauh lebih efisien. Yang penting saya sudah mengetikkan setiap kata yang saya butuhkan.

Semua orang bisa nulis

Nah, ini semakin menguatkan argumentasi saya bahwa setiap orang itu pada dasarnya bisa menulis. Istri saya kerap mengeluh bahwa dia tidak bisa menulis. Padahal, dia adalah seorang yang sangat gemar berkata-kata. Kalau sudah bercerita dia bisa terus bercerita selama 2 jam tanpa henti. Entah apa saja yang dia ceritakan. Semua bisa menjadi cerita yang menarik bagi dia karena dia berbicara dengan penuh semangat penuh emosi. Dia mampu membuat kita seolah-olah mengalami peristiwa yang dia ceritakan. Makanya, dia sering mengkritik saya kalau cerita terlalu datar, cenderung seperti bahasa laporan. Dia tidak bisa membayangkan apa yang saya ceritakan.

Nah, tapi dia mengeluh dia tidak bisa menulis. Makanya saya suka bilang, mengapa tidak kamu rekam saja kamu sedang bercerita. Nanti kamu bisa mentranskripnya dan jadi sebuah tulisan.

Pada intinya kan komunikasi. Kamu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran. Tinggal bentuknya saja yang berbeda, kalau selama ini kamu menggunakan bahasa lisan berkata-kata tulisan itu kan sebenarnya cuman mengubah bentuknya dari yang tadinya bahasa lisan menjadi tulisan. Saya pikir dengan adanya Gboard ini sekarang dia tidak perlu lagi pusing dengan kata-katanya. Dia cukup cerita saja apa adanya nanti aku bisa mengeditkannya menjadi sebuah tulisan.

Oke, agak bertele-tele memang ceritaku kali ini. Karena memang sedang mau menjajal, apakah bisa jadi jauh lebih produktif dengan menggunakan Gboard. Tapi yang jelas untuk beberapa menit berkata-kata di depan handphone ini saja aku sudah menghasilkan tulisan yang cukup panjang, walau aku belum hitung jumlah karakternya. Yang jelas, aku harus terpaksa scrolling cukup panjang. Mungkin sekitar 3 ribuan karakter. Nanti coba aku hitung secara lebih cermat. (Notes: setelah aku cek pakai MS Word, ternyata panjang naskah yang aku hasilkan mencapai lebih dari 7.000 karakter, dua kali lipat dari perkiraan semula. Not bad… not bad at all…).

Ketika Bocah Dirasuk Setan

AC-FP-109r copy
Janice, yang dirasuk setan, menyerang suster. (Foto-foto: Dok Warner Bros Pictures)

Sebelum membaca lebih jauh, aku harus memperingatkan buat yang berminat nonton, tulisan ini bukan cuma spoiler, tapi menguliti semua-semuanya. Jadi, kalo tidak mau kehilangan kejutan, ya jangan dibaca dulu.

Seminggu sebelum film ini diputar perdana, aku mendapatkan kesempatan untuk skrining. Lumayan ketat juga ketentuan embargonya, sampai harus tanda tangan pernyataan segala, untuk tidak memuat dalam bentuk apa pun sampai film benar-benar resmi diputar.

Oke, jadi cukup serius ternyata. Bahkan, denger-denger reviu sejumlah sumber asing, kayaknya film ini cukup menjanjikan.

Memang sih, semesta seri film The Conjuring kini menjadi barometer kesuksesan film horor. Bukan cuma kisah utamanya seputar tokoh Ed dan Lorraine Warren yang menuai sukses, tapi cerita ikutannya, kayak Annabelle (2014), jadi dapat panggung. Terus, sukses sosok suster Valak di The Conjuring 2 (2016) membuat spin off berikutnya, The Nun, siap-siap diluncurkan tahun depan.

Kisah seputar boneka Annabelle ternyata masih menggelitik. Makanya prekuel dari film rilisan 2014 ini pun dibuat. Sesuai judulnya, Annabelle: Creation berkisah tentang asal muasal boneka menyeramkan itu.

Jadi, sekitar 24 tahun sebelum kisah pada Annabelle, tersebutlah pasangan Samuel (Anthony LaPaglia) dan Esther Mullins (Miranda Otto) yang punya seorang anak bernama Annabelle alias Bee. Mereka tinggal di rumah yang terpencil, dikelilingi perbukitan. Samuel bekerja sebagai pembuat boneka. Pada intro film, ditampilkan bagaimana ia membuat boneka Annabelle.

Bee, anak tunggal mereka, digambarkan sebagai bocah yang ceria, gemar main petak umpet, lalu menaruh sejumlah petunjuk agar Samuel mencarinya. Lalu, tragedi pun terjadi. Bee tewas mengenaskan ditabrak mobil. Dalam sekejap, rumah yang tadinya penuh gelak tawa dan canda Bee menjadi muram dan sunyi.

12 tahun berlalu. Untuk mengobati duka mendalam yang mengerogoti, pasangan Mullins sepakat menampung enam anak perempuan yatim piatu beserta seorang suster. Termasuk di antara mereka adalah dua sahabat, Janice (Talitha Bateman) dan Linda (Lulu Wilson).

Anak-anak itu menempati kamar-kamar kosong di kediaman keluarga Mullins yang besar. Namun, ada satu kamar yang tak boleh dimasuki, yaitu bekas kamas Bee. Kamar itu dikunci dan dibiarkan seperti saat Bee masih hidup.

Pada malam pertama, Janice yang tidak dapat berjalan normal karena polio, mendengar suara dari kamar Bee. Penasaran, ia masuk ke dalam kamar itu yang secara misterius mendadak tidak terkunci. Ia kemudian membuka sebuah pintu di dinding dan mendapati sebuah boneka di dalamnya.

Malam berikutnya, Janice diganggu oleh kekuatan yang tak terlihat. Dengan bersusah payah, ia berhasil naik lift khusus yang disediakan untuk dia turun naik tangga. Namun, kekuatan tak terlihat itu menangkapnya dan melemparnya dari lantai dua. Janice pun terjatuh dan cedera sehingga harus dibawa ke dokter.

Linda kemudian mengaku pada Samuel bahwa mereka telah masuk ke kamar Bee dan menemukan boneka yang tersimpan dalam lemari. Mengetahui hal itu, Samuel menjadi marah. Ternyata, pasangan Mullins menyimpan sebuah rahasia tentang kuasa supernatural yang diam dalam boneka tersebut.

Di sinilah aku jadi merasa terganggu. Janice jelas menggambarkan sosok yang kalah dan tak berdaya. Tapi, dia pula yang harus jadi korban, sasaran gangguan setan. Karakter yang kalah begini kan enaknya belakangan jadi pemenang, sedangkan teman-teman lain yang kerap meninggalkan dan melecehkan dia harusnya jadi pecundang, atau setidak-tidaknya mengalami nasib sial.

Ini tidak. Malah, sekembali dari dokter, Janice harus duduk di kursi roda. Belum cukup dengan itu, ia kemudian ditinggal di kursi roda lalu diserang setan (rada nggak jelas juga bagian ini, kok bisa tiba-tiba di siang bolong ada setan yang mendorong kursi rodanya ke dalam gudang). Janice akhirnya kerasukan lalu menyerang Samuel dan isterinya. Sosok yang menderita tadi berbalik jadi antagonis. Kasihan sekali…

Sebagai film horor, kejutan demi kejutan yang dihadirkan dalam Annabelle: Creation sangat intens. Ketegangan mengalir nyaris tanpa jeda dari awal film hingga akhir. Bagi penggemar genre horor, film ini sangat pas.

Di salah satu bagian, ada clue tentang Valak. Ternyata dia ada hubungannya dengan suster yang mendampingi para yatim piatu ini.

Setelah klimaks film, di bagian akhir ternyata Janice tidak mati. Ia malah menjadi anak yang “normal”, tidak lagi perlu bantuan kruk atau kursi roda. Suatu hari, datanglah keluarga Higgins dan mengadopsi dia. Namanya berubah menjadi Annabelle. Bukan, bukan Bee. Tapi setan yang sempat merasuk boneka lalu pindah ke Janice. Annabelle Higgins inilah yang kemudian menjadi sosok perempuan yang menyerang keluarga Form di sekuel film Annabelle. Oalah….

Tanggal rilis    : Agustus 2017

Sutradara        : David F Sandberg

Skenario          : Gary Dauberman

Pemeran         : Stephanie Sigman, Talitha Bateman, Anthony LaPaglia, Miranda Otto, Lulu Wilson

 

Ketika Impian Jadi Kenyataan

wish-upon05
Joey King sebagai Clare. (Foto-foto: Broad Green Pictures, Orion Pictures)

Versi lain tulisan ini baru dimuat hari ini, Rabu (9/8) di Layar Perak, Kompas halaman 24. Berhubung di koran nulisnya harus “jaim”, setelah aku edit lagi, ini versi yang lebih personal.

Sebelum menonton, aku sudah membaca-baca review film ini dari beberapa sumber luar. Tidak terlalu bagus komentarnya. Padahal, beberapa nama yang terlibat semestinya cukup menjanjikan. Antara lain John R Leonetti yang sebelumnya menggarap Annabelle (2014), terus Joey King yang ikut berperan di The Conjuring (2013).

Dari nama-nama itu, dapat ditebak kalo film ini bergenre horor. So, sejauh mana film ini dapat menakut-nakuti penontonnya?

Cerita dalam film ini berkisar seputar Clare (Joey King), seorang remaja yatim. 12 tahun sebelum setting cerita, ia menyaksikan ibunya (Elisabeth Rohm) tewas gantung diri. Ia lalu tinggal bersama ayahnya (Ryan Phillippe), seorang pemulung.

Hehehe, jadi ternyata di Amrik sono juga ada pemulung. Cuma, keren. Ke sana kemari naik pikap dan ngubek-ngubek sampah pakai sarung tangan. Detail-detail begini yang suka aku perhatikan kalau nonton film. Bukan sekadar cerita, tapi keseharian yang menggambarkan kebiasaan dan budaya setempat.

Nah, jadilah kehidupan masa remaja Clare sama sekali tidak menyenangkan. Ia ke sekolah naik sepeda. Di sekolah, ia bukan anak yang populer. Malah, ia acap menjadi obyek perundungan Darcie, murid perempuan kaya yang paling populer. Darcie dan teman-temannya yang naik mobil sengaja memepet Clare sehingga ia terjatuh. Belum lagi saat memergoki ayahnya memulung di area sekitar sekolah, Clare pun menjadi bahan olokan. Darcie juga sengaja menumpahkan minuman saat bertemu Clare di lorong sekolah. Bener-bener, life sucks buat Clare.

Di sekolah, Clare hanya bisa duduk mojok dengan teman-teman karibnya, Meredith (Sydney Park) dan June (Shannon Purser) sambil memandangi kelakuan gengnya Darcie. Bukannya tanpa nyali, suatu kali ia pun terlibat adu mulut hingga akhirnya berkelahi dengan Darcie.

Kotak beraksara mandarin

Suatu kali, ayahnya menemukan sebuah kotak unik bertuliskan aksara China. Karena ingat Clare mengambil kelas Bahasa Mandarin, ayahnya memberikan kotak tersebut sebagai hadiah ulang tahun.

Dengan keterbatasan Bahasa Mandarinnya, Clare hanya mengerti bahwa kotak itu menyebut tentang tujuh permintaan. Dalam keadaan marah sehabis bertengkar dengan Darcie, Clare mengucapkan keinginannya agar Darcie membusuk. Ternyata, keesokan harinya tersiar kabar Darcie tidak masuk ke sekolah karena menderita penyakit yang ditandai membusuknya bagian tubuh.

Mengetahui keinginannya menjadi kenyataan, Clare mulai mengucapkan keinginan-keinginannya yang lain. Kehidupannya pun berubah 180 derajat. Namun, serentetan kejadian berikutnya menunjukkan bahwa terkabulnya keinginan Clare bukannya tanpa “biaya”.

Ternyata, keinginan yang terkabul tidak selamanya menyenangkan. Apalagi jika harga yang harus dibayar untuk itu terlalu mahal. Itulah yang menjadi inti cerita film Wish Upon.

Sebagai film horor remaja, film ini kurang seram. Tidak ada klimaks cerita yang benar-benar mengentak. Jumpscare di sejumlah bagian juga terlalu klise dan mudah ditebak. Akting para pemainnya juga tidak banyak membantu. Jadi, overall, ini cuma film remaja galau aja. Paling-paling, film ini mengungkap semua keinginan terdasar manusia yang berputar antara harta, popularitas, dan lawan jenis. Ketamakan dan rasa tak pernah puas begitu kuat mengikat siapa pun yang punya kesempatan untuk mewujudkan keinginannya.

Ya sudah, itu aja. Cukup sekian dan terima kasih.

Tanggal rilis   : 14 Juli 2017

Sutradara       : John R Leonetti

Penulis            : Barbara Marshall

Pemeran         : Joey King, Ryan Phillippe, Ki Hong Lee, Mitchell Slaggert, Shannon Purser, Sydney Park

wish-upon-poster02

Pembuktian si Remaja Galau

loncat
Tom Holland sebagai Spider-Man/Peter Parker. (Foto-foto: Sony Pictures Releasing)

Meski bukan fanatik, saya termasuk penggemar film-film pahlawan super. Superman adalah film pertama tentang pahlawan super yang saya tonton. Waktu itu, masih duduk di bangku kelas I SD di Medan. Sekuelnya, Superman II, yang memang lebih keren, tak ayal membuat saya tergila-gila. Makanya, sampai sekarang, Superman “sejati” menurut saya adalah Christopher Reeve.

Itu sebabnya, saya tak terlalu antusias dengan Brandon Routh atau Henry Cavill yang memerankan sekuel Superman pasca era Reeve dan versi reboot dalam semesta DC. Bukan. Itu bukan Superman yang saya kenal. Hehehe. Saya jadi menganggapnya pahlawan super yang lain, walau sama-sama menyandang nama Superman dan Clark Kent. Walau, harus jujur diakui, menonton kembali Superman I dan II sekarang ini kesannya kok jadi cupu banget. Tapi, biarlah, masing-masing punya tempat tersendiri dalam pikiran saya.

Berbeda halnya dengan Spider-Man. Sejak pergantian milennium, hingga kini tercatat sudah 5 edisi yang muncul. Tiga yang pertama diperankan Tobey Maguire, selanjutnya dua edisi reboot oleh Andrew Garfield, dan terakhir oleh Tom Holland.

Belakangan, di banyak forum di Internet, acap ditemui perdebatan tentang siapa yang paling pas memerankan Spider-Man.

Terus terang, dibandingkan Superman pada masa saya mulai mengenalnya (dekade 1980-an), saya lebih tidak mengenal Spider-Man. Yang saya tahu cuma nama aslinya Peter Parker dan pekerjaannya wartawan foto. Makanya, ketika muncul versi Tobey Maguire, saya kok merasa agak-agak kurang pas dengan gambaran yang tertanam di benak—yang sebenarnya minim itu.

Tobey terkesan terlalu culun, ceroboh, dan tidak menggambarkan sosok pahlawan super. Bukannya mau ikut berpolemik, itu sebabnya saya lebih menyukai Andrew Garfield.

Lalu bagaimana dengan Tom Holland?

Pemeran yang satu ini melakukan debut pada Captain America: Civil War (2016), sekaligus menandai hadirnya karakter ini dalam Marvel Cinematic Universe. Di film itu dikisahkan bagaimana Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr), pemimpin faksi Avengers, mendekati Peter Parker (Tom Holland), remaja yang memiliki kekuatan khusus setelah digigit laba-laba.

Kesan pertama, mau tak mau, saya langsung membandingkan dengan Maguire dan Garfield. Dan, saya merasa, Holland terlalu ceking dan masih kekanak-kanakan. Tapi, ya nikmati saja. Aksinya berantem dengan Captain America dan Ant Man cukup menghibur.

Nah, baru di Spider-Man: Homecoming garapan sutradara Jon Watts ini, si manusia laba-laba kembali diceritakan secara utuh. Setelah disuguhi 5 edisi, termasuk sekali reboot, tentu saya bertanya-tanya, apa lagi yang akan disajikan. Garing nggak?

Tanpa basa-basi

Pada edisi kelima ini ternyata Marvel merasa tak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan tentang latar belakang Spider-Man, bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan super. Termasuk tak lagi menampilkan sosok Ben Parker atau orang tua asli Peter. Yang juga tak terjelaskan adalah sosok Bibi May yang jauh lebih muda ketimbang dua edisi sebelumnya.

Tanpa basa-basi, Spider-Man: Homecoming langsung menuju pada persoalan yang dialami Peter Parker alias Spider-Man. Dikisahkan, Parker sedang dalam masa “magang” untuk menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk masuk ke dalam tim Avengers. Namun, mengingat usianya yang masih belia, Stark hanya mengizinkan dia untuk menjadi pahlawan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Maka, Spider-Man pun berurusan dengan maling sepeda atau membantu nenek-nenek tua.

Hal itu membuat Parker merasa tidak puas. Apalagi, dia harus melaporkan setiap tindak-tanduknya kepada Happy (Jon Favreau), kepala keamanan Stark Industries. Parker benar-benar ingin menjadi pahlawan super yang sesungguhnya dan berhadapan dengan penjahat kelas kakap.

Sementara itu, selepas pertempuran Avengers melawan makhluk luar angkasa di New York, Adrian Toomes (Michael Keaton) mendapat kontrak untuk membersihkan kota. Namun, tugas itu tiba-tiba diambil alih Department of Damage Control. Tidak puas dengan perlakuan itu, Toomes memanfaatkan teknologi makhluk luar angkasa untuk dikembangkan menjadi senjata. Dia sendiri mengembangkan sayap buatan dan menjadi penjahat berjuluk Vulture.

Dalam satu kesempatan pencurian, anak buah Vulture berhadapan dengan Spider-Man. Bagi Spider-Man, membongkar kejahatan Vulture dan kelompoknya menjadi pembuktian bahwa ia layak menjadi seorang pahlawan super. Meski, untuk itu, ia harus mengorbankan berbagai kegiatan di sekolahnya.

 

Kuat dan menyegarkan

Harus saya akui, Spider-Man: Homecoming menyajikan kisah yang kuat dan segar, tanpa harus mengingat-ingat kisah-kisah sebelumnya. Jika sebelumnya pikiran masih terkontaminasi dengan sosok Maguire atau Gardfield, sehingga Holland tampak terlalu ceking, kali ini penampilan Holland terasa pas. Pasalnya, ia memang digambarkan sebagai sosok remaja yang galau, naif, tapi punya kemauan kuat untuk mewujudkan mimpinya.

Jadi, saran saya, tontonlah film ini sebagai sebuah film yang utuh. Nggak perlu mengingat-ingat film sebelumnya. Niscaya, akan terhibur dan terhanyut menontonnya.

Secara umum, sebagai tontonan keluarga, Spider-Man: Homecoming sangat seru dan menyenangkan. Yup, ini tontonan keluarga yang “aman” ditonton oleh anak kecil. Nggak ada romansa yang terlalu berlebihan. Adegan-adegan aksinya juga tidak terlalu menonjolkan kekerasan. Bahkan, bisa dibilang tergolong minim. Selamat menonton, mumpung masih diputar, hehehe.

Tanggal rilis   : 28 Juni 2017

Sutradara       : Jon Watts

Pemain           : Tom Holland, Michael Keaton, Robert Downey Jr, Marisa Tomei

Catatan: sebagian naskah sudah pernah dimuat di Kompas, Kamis (13/7)

Tentang Musik Digital, Spotify, dan Record Store Day

smartphone-1735044_1280
Spotify, jadi pilihan praktis untuk dengar musik. (Foto-foto by Pixabay.com)

Hari ini, aku membawa sekantung plastik keresek kaset-kaset lama. Setelah sekian lama berdebu di salah satu pojokan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk menjual saja kaset-kaset itu. Aku titip pada seorang teman yang akan jualan di Record Store Day akhir pekan nanti.

Di antara kaset-kaset yang aku jual termasuk koleksi album Iron Maiden. Salah satunya album The X Factor, hasil buruan di lapak kaset bekas di Blok M. Sekitar 1,5 dekade silam, kaset album bersama vokalis Blaze Bayley ini mulai langka, menyusul kembalinya Bruce Dickinson mencekal mic di Iron Maiden.

Semula, aku termasuk yang menyesalkan keluarnya Dickinson dan menganggap Maiden telah selesai dengan masuknya Bayley. Namun, justru ketika Dickinson kembali, aku jadi penasaran untuk mendengarkan kembali lagu-lagu periode Bayley. Makanya, biar kata bekas dan dihargai lebih tinggi dari harga pasar, tetap aja album yang memuat epik “Sign of the Cross” itu aku tebus. Begitulah manusia, ketika ada dibenci, ketika pergi malah dicari. Hehehe…

Jadi, apa pasal, sudah repot-repot dibeli, kok malah dijual?

Sederhana saja, sekarang mostly aku mendengarkan musik via Spotify. Sebelum Spotify masuk ke Tanah Air, jujur saja aku lebih banyak mendengarkan musik-musik hasil “sedotan” alias bajakan. Bukannya tidak menghargai pemusik, tapi pada akhir dekade 1990-an band-band yang aku dengarkan kebanyakan sudah sulit ditemui albumnya di pasaran. Kalau ada kasetnya, biasanya aku beli. Begitu juga album-album baru. Waktu Christ Illusion (Slayer) dan Death Magnetic (Metallica) keluar sekitar satu dekade silam, saat pertama kali tahu, aku langsung membeli CD-nya. Bahkan, sekali waktu, saking penasarannya pengen dengerin lagi “Cum on Feel the Noize” versi Quiet Riot, aku bela-belain beli impor via Barnes and Noble.

Namun, ujung-ujungnya, tetap saja yang didengerin versi digital. Yang kaset cukup disimpan dalam rak. Yang CD, setelah di-rip jadi mp3 ya disimpan lagi.

Bukan apa-apa, waktu yang paling longgar untuk dengar-dengar musik ya saat melaju antara rumah dan kantor. Peranti yang aku gunakan adalah ponsel pintar. Pemutar kaset cuma ada di rumah, itupun lama-lama jarang digunakan. Waktu semalam aku coba untuk memutar kaset yang mau dijual, ternyata sudah wassalam. Sudah nggak keluar suara lagi.

Penyimpanan

Salah satu masalah yang makin lama makin mengganggu adalah menyangkut penyimpanan (storage). Semua musik dalam bentuk fisik, baik kaset maupun CD, menumpuk di rak. Lama-kelamaan tumpukannya makin tinggi, padahal jarang disentuh. Makanya, kalau beres-beres rumah suka diomelin sama nyonya rumah. Hehehe.

Ternyata kemudian, bukan cuma media fisik yang menjadi masalah. Media digital pun mengalami masalah yang lebih kurang sama. Dulu, punya harddisk eksternal 1 terabyte rasanya bingung, mau diisi apa aja tuh? Belakangan, file-file musik hasil rip maupun sedotan tembus 1 giga dan konsisten terus bertambah. Belum lagi simpanan file film (hayo ngaku, siapa yang punya hobi begini juga hahaha). Terakhir, ketika menjajal jadi Youtuber dan membuat banyak sekali footages, 1 terabyte penuh dalam hitungan kurang dari setengah tahun.

Nah, ketika mengais-ngais storage di harddisk eksternal, file-file film dan musik yang kurang begitu penting menjadi korban pertama. Nggak lama, Spotify masuk. Bagiku, ini benar-benar solusi tuntas buat hobi mendengar musik. Tak perlu lagi repot-repot beli CD atau mencari sedotan. Tinggal search dan play. Beruntungnya, band-band yang aku dengarkan pada umumnya ada di Spotify. Band-band old school thrashmetal, hairy metal 80-an, hard rock 70-an, lagu-lagu hits 80-an, nyaris semuanya tersedia. Bahkan, malah nemu band-band yang dulunya belum sempat denger, tapi ternyata lumayan maknyuss, misalnya Onslaught atau Korzus.

Memang, ada juga band atau album tertentu yang tidak tersedia di Spotify. Misalnya saja band Tool atau album legendaris Def Leppard, Hysteria. Tapi, overall, aku sangat puas dengan koleksi Spotify.

Yang menyenangkan, untuk album baru, bisa langsung didengarkan pada tanggal rilisnya. Ini udah kejadian beberapa kali, waktu album Babymetal, Kreator, dan Metallica. Nggak perlu repot lagi nyari di toko kaset, tinggal search dan play. Just that simple!

Akhirnya, aku memutuskan menghapus semua file-file musik simpanan dan bergantung sepenuhnya pada Spotify. Lumayan, bisa menghemat storage beberapa gigabyte. Ini termasuk salah satu keputusan penting yang aku ambil sebagai penikmat musik. Hehehe.

Tren streaming ini sedang dan terus bangkit, dan tampaknya akan menjadi norma dan kenormalan di masa mendatang. Terjadinya perlahan (tapi pasti), seiring dengan semakin canggihnya teknologi (baca: kecepatan koneksi internet). Awalnya mungkin tukar-menukar berkas digital berukuran kecil (dokumen teks), makin besar (gambar), makin besar lagi (musik), hingga file-file “raksasa” (film). Sekarang, streaming film berkualitas HD sudah dimungkinkan.

Masalah storage, yang sempat aku singgung sebelumnya, benar-benar riil. Dan, ketika dimungkinkan tak harus menyimpan sendiri file di komputer atau ponsel, mengapa tidak? Biarkan pihak lain yang menyimpannya, file baru diunduh ketika hendak digunakan. Pihak lain itu punya kemampuan untuk menyimpan dengan kapasitas yang tak terbayangkan besarnya. Jadi, ngapain harus repot nyimpan sendiri.

Bagi pengguna, cara ini benar-benar mudah dan praktis. Entah berapa kali aku dan Jeremy terlibat dalam pembicaraan tentang lagu atau artis tertentu. Dengan mudah kita langsung search di Spotify. Yang lebih menyenangkan, kalau kebetulan lagi jalan atau denger radio terus tiba-tiba denger lagu enak, langsung cari tahu pakai Shazam dan didengerin lagi pakai Spotify. Pengalaman dengan musik digital seperti ini jelas tidak mungkin terjadi jika menggunakan musik analog.

Record Store Day

Jadi, apakah musik analog sudah benar-benar mati?

Ternyata tidak (atau belum?). Kembali pada cerita di awal tulisan, pada akhir pekan ini berlangsung Record Store Day. Menurut Wikipedia, inisiatif yang berawal pada 2007 ini bertujuan “merayakan budaya ‘toko kaset’ independen”. Kata “toko kaset” aku sengaja tandai sebagai terjemahan “record store”. Karena meskipun toko tersebut kemudian menjual CD dan DVD, buat banyak orang segenerasiku dan sebelumnya tetap saja disebut “toko kaset”.

Inisiatif ini barangkali merespons turunnya penjualan musik secara fisik (kaset, CD, vinil). Maka dibuatlah hari khusus untuk jualan. Pada perkembangannya, momen ini acap dimanfaatkan untuk launching album dan menampilkan musisi-musisi beken. Sebut saja Metallica yang tampil pada kick off Record Store Day pertama pada 2008.

Namun, banyak yang menganggap Record Store Day cuma kerjaan mereka yang hobi mengoleksi musik, bukan peminat musik pada umumnya. Ya iyalah, peminat musik pada umumnya barangkali cukup langganan Spotify atau membeli musik di Itunes. Tapi, bagaimana pun, kaum kolektor ini menjadi pasar yang niche.

Tahun 2016 lalu, penjualan vinil tercatat tercatat sebagai yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Lebih dari 3,2 juta piringan hitam terjual atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan musik digital dengan cara mengunduh mengalami penurunan. Sebagai gantinya, ya itu tadi, mereka melakukan streaming.

Kemudahan navigasi, mencari, dan mendengarkan musik dengan cara streaming ternyata menyisakan “ruang kosong” pada sebagian penikmat musik. Tidak ada rasa kepemilikan, karena musik digital secara streaming “dimiliki” oleh penyedia jasa. Pengguna hanya diberikan “hak akses”. Beda halnya dengan vinil, yang memungkinkan kepemilikan fisik. Terbukti, meninggalnya sejumlah musisi besar ikut mendorong larisnya vinil. Meninggalnya David Bowie tahun lalu membuat dia menjadi artis vinil terlaris karena banyak orang lalu memborong karya-karyanya sebagai kenang-kenangan. Terdapat 5 album Bowie yang bercokol pada 30 album vinil terlaris 2016.

Nah, itu pula sebabnya ketika aku menjual koleksi kaset-kaset lawas, yang laku bukan album-album sukses Iron Maiden. Tapi justru album-album yang kurang terdengar, seperti A Matter of Life and Death. Sama seperti dulu aku membeli The X Factor, sepertinya yang membeli AMOLAD itu juga buat dikoleksi, bukan buat didengarkan secara reguler.

Sekali lagi, bukan karena nggak cinta nggak sayang, tapi karena ruangan di rumah mungilku sudah tidak memadai, aku menyerahkan kepemilikan kaset-kaset lawasku pada siapa saja yang berminat. Aku cukuplah jadi pendengar casual yang hasratnya telah terpenuhi oleh Spotify. Kalau ada yang berminat jadi penadah, boleh hubungi aku. Atau, sila datang ke event Record Store Day di P7 Kuningan City pada Jumat-Sabtu, 21-22 April besok.

Ngopi Lagi Berkat Susu

beverage-1842596_1280
Kopi campur susu. (Source: Pixabay.com)

Entah kapan persisnya, tapi sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, aku sudah terbiasa ngopi. Apalagi menjelang UMPTN (ehm… ketahuan ini angkatan jebot punya), membahas soal-soal tiap hari pasti ditemani secangkir kopi. Waktu di Medan dulu, di rumah selalu tersedia kopi sidikalang yang digiling agak kasar. Rasanya keras dan mantap.

Cara membuatnya juga “sadis”. Bubuk kopi, gula, dan air dimasukkan ke dalam cangkir kaleng, lalu dimasak di atas kompor. Begitu air menggelegak tanda mendidih, cangkir diangkat, lalu dimasukkan es batu. Jadilah es kopi yang sedap rasanya. Kalau sudah punya “amunisi” begini biasanya tahan mengerjakan soal sampai berjam-jam.

Pada saat kuliah di Bandung, bapakku biasanya menengok minimal setahun sekali. Oleh-oleh yang tak pernah lupa dia bawa adalah sekotak kopi sidikalang. Padahal, aku tak pernah meminta dan sebenarnya tak sebegitu doyannya ngopi. Cuma karena sudah terbiasa, aku jadi merasa kopi bubuk lain kurang mantap. Apalagi kopi sachetan yang beli di warung.

Kebiasaan buruk

Namanya mahasiswa, kondisi kantung suka tak menentu. Dan, kebiasaan buruk ngopi ini kian menjadi. Bayangkan saja, saat uang kiriman menipis, bahkan benar-benar “tongpes” tak punya uang sepeser pun, aku tak kehilangan akal. Tinggal jerang air panas, seduh kopi, hidup pun berlanjut. Saat itu, aku merasa tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut.

Aku suka menertawakan sejumlah teman yang menjauhi kopi karena sakit maag. Ada pula yang enggan ngopi karena membuat susah tidur. Jantungnya berdebar-debar katanya. Kalau aku, cukup lawan jenis saja yang bisa bikin berdebar-debar. Kalau cuma kopi, bergelas-gelas pun tak mempan. Mungkin karena termasuk orang yang “pelor”, nempel langsung molor, aku tak pernah punya masalah dengan tidur. Saat inilah kebiasaan ngopiku menjadi-jadi.

Aktif dalam kegiatan kampus, kami sering rapat sampai malam. Sudah begitu, masih berlanjut dengan main kartu. Kalau yang satu ini bisa dari pagi ketemu pagi lagi, nggak kelar-kelar. Tentu saja, kopi menjadi teman sejati—selain rokok tentu saja.

Kopi dan rokok sudah menjadi duet maut masa muda. Sering kali, “sarapanku” cukup dengan segelas kopi dan sebatang rokok. Baru siangnya diisi nasi. Benar-benar pola hidup yang tak akan pernah aku anjurkan pada orang lain.

Memasuki dunia kerja, lagi-lagi kopi menjadi teman baik. Kali ini, aku sudah berhenti merokok. Sebagai penulis yang hari-hari memelototi layar komputer, asupan kafein benar-benar membuat ide mengalir dan pikiran terang-benderang. Namun, pasokan kopi sidikalang sudah tidak ada lagi. Gantinya, kopi instan. Soal rasa memang beda, tapi saat berkejaran dengan deadline, rasanya lebih praktis menyesap kopi instan.

Sakit maag

Hingga beberapa waktu lalu, aku mulai merasa ada yang nggak beres dengan pencernaanku. Aku sering merasa perut kembung, tapi kalau ke belakang tidak ada yang mau dibuang. Kondisi ini semakin parah ketika beberapa kali pada malam hari perut terasa melilit dan nyeri. Ketika konsultasi ke dokter, aku pun divonis mengalami maag akut.

Aku sempat protes karena menurutku pola hidup dan makanku tidak ada yang salah. Gizi cukup, konsumsi buah pun—walau tak rutin-rutin amat—lumayan. Mengapa justru sekarang terkena maag? Penjelasan dokter cukup menohok. Ibarat petinju, kalau sekarang aku KO bukan karena mendadak ada pukulan lawan yang mematikan. Selama ini aku telah dihajar habis-habisan dan mungkin pertahananku sudah semakin rapuh. Dalam kondisi demikian, tak perlulah pukulan yang mematikan, “jab-jab” ringan saja sudah bisa bikin tumbang.

Apa mau dikata? Salahku selama bertahun-tahun dulu tidak menjaga pola makan. Aku merasa kuat, padahal tubuhku tidak. Ya sudah, akibatnya sekarang. Dokter menasihati agar aku menjaga pola makan dan menerapkan hidup sehat, antara lain istirahat dan aktivitas fisik cukup. Kedengarannya mudah, tapi menjalannya setengah mati. Apalagi ada pantangan, harus mengurangi atau tidak boleh sama sekali ngopi… alamak!

Ini sudah aku buktikan. Kebiasaanku kalau ngopi takarannya cukup banyak dan tidak pakai gula. Terakhir aku melakukannya, malamnya sukses perut melilit nggak keruan. Jadi, benar-benar harus dihindari.

Dicampur susu cair

Hingga suatu kali, kebetulan ada meeting di kedai kopi modern. Tak tahan dengan aroma yang menguar begitu kuat, aku pun memesan kopi. Kali ini latte, kopi campur susu. Sepulang meeting, aku sudah was-was perut melilit. Ternyata, sampai keesokan paginya, perutku aman-aman saja. Wah, jangan-jangan kalau dicampur susu nggak apa-apa. Penasaran, aku pun membeli susu cair seperti yang digunakan di kedai kopi. Dengan perbandingan 1:1, kopi latte bikinan sendiri itu ternyata aman buat perut.

Ternyata memang setelah googling info sana-sini, aku ketemu antara lain artikel ini. Disebutkan, bagi mereka yang tidak tahan asam, menambahkan susu dapat mengurangi akibat buruk kopi.

Lebih dari itu, tak diragukan lagi bahwa susu memang punya banyak manfaat kesehatan. Kandungan kalsiumnya membentuk dan menguatkan tulang, kalsium juga berpengaruh besar terhadap sistem metabolisme energi dalam tubuh yang mengakibatkan melancarkan buang air besar serta membantu penghancuran lemak tubuh.

Minum susu juga sangat mengenyangkan. Banyak orang yang jadi tidak nafsu lagi makan gara-gara minum susu. Katanya, ini karena volume susu yang dikonsumsi akan meregangkan otot-otot perut, sehingga membuat merasa kenyang. Menurut sebuah sumber, mengonsumsi segelas susu menjelang siang dan sore dapat membantu menghilangkan keinginan makan karbohidrat pada malam hari. Cocok nih buat mereka yang pengen diet.

Yang paling enak buat campuran kopi itu susu cair. Nah, baru-baru ini aku menemukan campuran susu cair baru yang pas, yaitu susu segar full cream Indomilk UHT. Produk ini mudah ditemukan di mini-mini market. Kemasan 250 ml cukup pas untuk membikin secangkir penuh kopi campur susu. Selain itu, diminum langsung dalam keadaan dingin juga enak dan menyegarkan. Makanya sekarang kalau mampir di supermarket atau mini market, aku selalu menyetok susu Indomilk UHT ini. Buat campuran kopi atau diminum sendiri, sama mantapnya.

Berkat susu, sekarang aku sudah bisa ngopi lagi. Rasanya mungkin tidak sama persis dengan kopi yang dulu biasa aku minum. Tapi, justru sekarang lebih sehat dengan tambahan susu. Ngopinya dapat, hidup sehatnya pun tak ketinggalan.

DSC_0001