Tulisan Pertama dengan Gboard

girl-2239965_1920
Berbicara dengan handphone. (Photo by Pixabay)

Note: tulisan berikut ini sepenuhnya “diketik” menggunakan aplikasi Gboard pada ponsel Android, selesai dalam waktu kurang dari setengah jam, sembari nyetir dalam perjalanan menuju kantor. Butuh waktu sekitar kurang dari satu jam untuk mengeditnya sampai siap dipos.

Saat ini aku sedang menyetir sembari tanganku memegang handphone. Aku sedang mencoba menulis menggunakan Gboard.

Akhir pekan kemarin aku bertemu dengan seorang teman. Dibilang teman tapi sebenarnya dia sudah berusia cukup lanjut. Sudah pensiun dan biasanya untuk orang yang berumur lanjut seperti itu tidak akan fasih dengan benda-benda berteknologi tinggi seperti handphone. Tapi kali ini berbeda. Pak Yos, namanya, tiba-tiba berkata kepadaku, “Mas sudah tau yang namanya Gboard? Sekarang saya mengetik dengan Gboard.”

“Apa itu, Pak?” tanyaku. Terus terang ku belum tahu. Apakah mungkin aku ini termasuk sedikit dari orang-orang yang mungkin tidak pernah tahu perkembangan terkini dari handphone makanya ada orang tua yang justru lebih update daripada aku.

Pak Yos bilang bahwa sekarang dia tidak perlu lagi mengetik karena cukup ngomong aja, nanti dengan sendirinya akan terketik. Aku membayangkan cara-cara seperti ini sih sebenarnya bukan hal baru. Kayaknya sudah pernah ada. Namun, kayaknya belum ada yang benar-benar praktis, terutama menyangkut kemampuan untuk mengenali suara (voice recognition), apalagi dalam bahasa Indonesia. Makanya, aku tidak terlalu antusias..

Karena yang bicara orang tua, ya aku tidak enak. Aku coba saja. Waktu pertama kali install dan aku coba ternyata gagal. Tampaknya masalahnya karena memang aku selalu menggunakan setting dalam bahasa Inggris.

Nah, setelah sampai aku jajal beberapa kali, mengubah setting bahasa menjadi bahasa Indonesia, akhirnya bisa menggunakan Gboard ini.

Mudah dan praktis

Apa saja manfaat Gboard?

Yang pertama tentu saja kemudahan dan kepraktisan dalam mengetik. Karena bagaimanapun mengetik dengan jempol jauh lebih lambat ketimbang mengetik dengan 10 jari, dan “mengetik” dengan berbicara jauh lebih cepat ketimbang mengetik dengan 10 jari. Secepat-cepatnya jari-jari tangan mengetik dengan menari-nari di atas tuts keyboard, jauh lebih cepat komputer yang dapat menangkap dan mengubah kata-kata yang diucapkan menjadi aksara terketik. Dengan cara ini juga kita benar-benar dapat mengetik secara handsfree, karena tangan tidak perlu melakukan apa-apa

Hal lain lagi adalah bahasa yang digunakan jauh lebih natural. Agar suara dapat mudah dikenali tentunya artikulasi saat berbicara harus jelas. Selain itu, bahasa lisan membuat tulisan menjadi lebih natural. Pernah nggak mengalami, ketika menulis agak kesulitan untuk menuangkan dalam kata-kata yang pas. Kalau dipaksa memang akhirnya jadi juga, namun setelah dibaca ulang kok jadi aneh. Nah, ini yang sering kali aku anjurkan setelah selesai menulis atau pada saat menyunting naskah, usahakan untuk membaca kembali tulisan secara utuh, kalau perlu dibacakan dengan bersuara. Nanti, kita dapat mengetahui kalau ada bagian yang terasa janggal.

Mungkin karena kecepatan berpikir jauh lebih pesat ketimbang berkata-kata, apalagi mengetik, jadinya memang kata-kata itu kayak berebutan mau keluar. He he he, penjelasan macam apa ini? Tapi, ya gitulah, semoga mengerti yang aku maksud. Ya butuh kayak semacam penerjemahan gitu dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan. Nah, kalau kita sudah menggunakan bahasa lisan (baca: langsung berkata-kata), maka tulisan yang dihasilkan akan terasa lebih natural.

Kita juga bisa berbicara dengan senatural mungkin sehingga kita sudah membayangkan, bagaimana kalimat itu diucapkan, intonasinya seperti apa, dll. Tapi memang, kadang bahasa lisan itu tidak terlalu efektif jika dijadikan tulisan. Seringkali ada kata-kata ujaran yang pada saat diucapkan itu enak untuk melancarkan bahasa tapi sebenarnya jadi agak bertele-tele saat menjadi bahasa tulisan sehingga jadi agak kurang efektif. Tapi, saya kira masih lebih mudah untuk mengedit dan merapikan kalimat seperti itu ketimbang harus mengetik semuanya.

Karena bisa dilakukan tanpa harus menggunakan tangan maka “menulis” kini dapat dilakukan sambil melakukan pekerjaan lain. Misalnya seperti saat ini, saya sedang menyetir. Saya seringkali berpikir menyetir atau commuting itu adalah salah satu pekerjaan yang paling banyak menghabiskan waktu. Seringkali saya membutuhkan waktu antara satu setengah sampai dua jam untuk melaju dari kantor ke rumah atau sebaliknya. Dan jika kondisi jalanan sedang macet, waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi. Biasanya, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya menunggu saja membuang waktu percuma di dalam mobil. Paling-paling, saya hanya bisa mendengarkan musik atau podcast.

Tentu saja saya tidak dapat menonton karena harus tetap memfokuskan perhatian pada jalan di depan. Apalagi melakukan pekerjaan seperti menulis. Selama ini saya terpikir untuk merekam suara atau video sehingga saya tetap dapat “menulis”. Nanti saya tinggal mentranskrip perkataan saya itu agar jadi tulisan. Namun, mendengarkan ulang dan mentranskrip menjadi dua kali kerja dan pekerjaan mentranskrip itu tidak menyenangkan. Nah, dengan Gboard, apa yang hendak saya katakan langsung diubah menjadi kata-kata yang terketik.

Sangat menyenangkan. Nanti saya tinggal membuka kembali filenya dan mengeditnya –seperti yang saya lakukan saat ini. Memang, kita tidak bisa melakukan ini di sembarang tempat, katakanlah kalau sedang di bus atau di mikrolet. Salah-salah nanti bisa mengundang tatapan aneh dari orang sekitar, “Ini orang ini lagi ngapain, kok ngomong sendiri dengan handphone.”

Itu sisi menyenangkannya. Apakah ada sisi yang kurang menyenangkan. Berhubung belum terlalu lama menjajal, paling ada beberapa hal yang bisa saya bagikan. Menggunakan Gboard ini sangat mudah. Buka saja aplikasi untuk mengetik—kalau saya menggunakan Evernote—lalu saat siap mengetik akan muncul tombol Gboard. Klik saja gambar mikrofon, Anda siap untuk “mengetik”. Nah, saat “menulis” (baca: ngomong dengan handphone), kalau kelamaan diam, misalnya kalau sedang berpikir mau ngomong apa, mikrofon secara otomatis mati sehingga harus ditekan lagi agar kembali menyala. Tapi aku pikir ini tidak masalah karena jauh lebih cepat menekan tombol mikrofon ketimbang harus menekan tuts tuts keyboard.

Pengenalan akan bahasa Indonesia menurut saya sudah lumayan oke. Untuk kata-kata yang baku sudah hampir tidak ada masalah. Bahkan untuk kalimat-kalimat atau kata-kata yang tidak baku alias slank, dia juga cukup ngerti. Malah, tersedia juga—kalau perlu—pengenalan dalam bahasa Jawa atau Sunda.

Sayangnya, saya belum menemukan cara untuk membuat tanda bahasa seperti titik (.) atau koma (,). Setiap kali saya mengatakan “titik” atau “koma” yang tertulis adalah kata “titik” dan “koma”. Berbeda halnya kalau dengan bahasa Inggris. Kalau hendak mengakhiri sebuah kalimat, saya cukup mengatakan “period” atau kalau sedang membutuhkan jeda, saya cukup mengatakan “comma”. Untuk paragraf baru, saya juga tinggal katakan “new paragraph”. Langsung jadi tuh.

Nah, jadi dalam bahasa Indonesia, ada pekerjaan tambahan pada saat menyunting naskah. Saya harus menambahkan titik atau koma secara manual pada tempatnya. Tapi, ini pun masih terasa jauh jauh jauh lebih efisien. Yang penting saya sudah mengetikkan setiap kata yang saya butuhkan.

Semua orang bisa nulis

Nah, ini semakin menguatkan argumentasi saya bahwa setiap orang itu pada dasarnya bisa menulis. Istri saya kerap mengeluh bahwa dia tidak bisa menulis. Padahal, dia adalah seorang yang sangat gemar berkata-kata. Kalau sudah bercerita dia bisa terus bercerita selama 2 jam tanpa henti. Entah apa saja yang dia ceritakan. Semua bisa menjadi cerita yang menarik bagi dia karena dia berbicara dengan penuh semangat penuh emosi. Dia mampu membuat kita seolah-olah mengalami peristiwa yang dia ceritakan. Makanya, dia sering mengkritik saya kalau cerita terlalu datar, cenderung seperti bahasa laporan. Dia tidak bisa membayangkan apa yang saya ceritakan.

Nah, tapi dia mengeluh dia tidak bisa menulis. Makanya saya suka bilang, mengapa tidak kamu rekam saja kamu sedang bercerita. Nanti kamu bisa mentranskripnya dan jadi sebuah tulisan.

Pada intinya kan komunikasi. Kamu menyampaikan apa yang ada dalam pikiran. Tinggal bentuknya saja yang berbeda, kalau selama ini kamu menggunakan bahasa lisan berkata-kata tulisan itu kan sebenarnya cuman mengubah bentuknya dari yang tadinya bahasa lisan menjadi tulisan. Saya pikir dengan adanya Gboard ini sekarang dia tidak perlu lagi pusing dengan kata-katanya. Dia cukup cerita saja apa adanya nanti aku bisa mengeditkannya menjadi sebuah tulisan.

Oke, agak bertele-tele memang ceritaku kali ini. Karena memang sedang mau menjajal, apakah bisa jadi jauh lebih produktif dengan menggunakan Gboard. Tapi yang jelas untuk beberapa menit berkata-kata di depan handphone ini saja aku sudah menghasilkan tulisan yang cukup panjang, walau aku belum hitung jumlah karakternya. Yang jelas, aku harus terpaksa scrolling cukup panjang. Mungkin sekitar 3 ribuan karakter. Nanti coba aku hitung secara lebih cermat. (Notes: setelah aku cek pakai MS Word, ternyata panjang naskah yang aku hasilkan mencapai lebih dari 7.000 karakter, dua kali lipat dari perkiraan semula. Not bad… not bad at all…).

Advertisements

Tentang Musik Digital, Spotify, dan Record Store Day

smartphone-1735044_1280
Spotify, jadi pilihan praktis untuk dengar musik. (Foto-foto by Pixabay.com)

Hari ini, aku membawa sekantung plastik keresek kaset-kaset lama. Setelah sekian lama berdebu di salah satu pojokan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk menjual saja kaset-kaset itu. Aku titip pada seorang teman yang akan jualan di Record Store Day akhir pekan nanti.

Di antara kaset-kaset yang aku jual termasuk koleksi album Iron Maiden. Salah satunya album The X Factor, hasil buruan di lapak kaset bekas di Blok M. Sekitar 1,5 dekade silam, kaset album bersama vokalis Blaze Bayley ini mulai langka, menyusul kembalinya Bruce Dickinson mencekal mic di Iron Maiden.

Semula, aku termasuk yang menyesalkan keluarnya Dickinson dan menganggap Maiden telah selesai dengan masuknya Bayley. Namun, justru ketika Dickinson kembali, aku jadi penasaran untuk mendengarkan kembali lagu-lagu periode Bayley. Makanya, biar kata bekas dan dihargai lebih tinggi dari harga pasar, tetap aja album yang memuat epik “Sign of the Cross” itu aku tebus. Begitulah manusia, ketika ada dibenci, ketika pergi malah dicari. Hehehe…

Jadi, apa pasal, sudah repot-repot dibeli, kok malah dijual?

Sederhana saja, sekarang mostly aku mendengarkan musik via Spotify. Sebelum Spotify masuk ke Tanah Air, jujur saja aku lebih banyak mendengarkan musik-musik hasil “sedotan” alias bajakan. Bukannya tidak menghargai pemusik, tapi pada akhir dekade 1990-an band-band yang aku dengarkan kebanyakan sudah sulit ditemui albumnya di pasaran. Kalau ada kasetnya, biasanya aku beli. Begitu juga album-album baru. Waktu Christ Illusion (Slayer) dan Death Magnetic (Metallica) keluar sekitar satu dekade silam, saat pertama kali tahu, aku langsung membeli CD-nya. Bahkan, sekali waktu, saking penasarannya pengen dengerin lagi “Cum on Feel the Noize” versi Quiet Riot, aku bela-belain beli impor via Barnes and Noble.

Namun, ujung-ujungnya, tetap saja yang didengerin versi digital. Yang kaset cukup disimpan dalam rak. Yang CD, setelah di-rip jadi mp3 ya disimpan lagi.

Bukan apa-apa, waktu yang paling longgar untuk dengar-dengar musik ya saat melaju antara rumah dan kantor. Peranti yang aku gunakan adalah ponsel pintar. Pemutar kaset cuma ada di rumah, itupun lama-lama jarang digunakan. Waktu semalam aku coba untuk memutar kaset yang mau dijual, ternyata sudah wassalam. Sudah nggak keluar suara lagi.

Penyimpanan

Salah satu masalah yang makin lama makin mengganggu adalah menyangkut penyimpanan (storage). Semua musik dalam bentuk fisik, baik kaset maupun CD, menumpuk di rak. Lama-kelamaan tumpukannya makin tinggi, padahal jarang disentuh. Makanya, kalau beres-beres rumah suka diomelin sama nyonya rumah. Hehehe.

Ternyata kemudian, bukan cuma media fisik yang menjadi masalah. Media digital pun mengalami masalah yang lebih kurang sama. Dulu, punya harddisk eksternal 1 terabyte rasanya bingung, mau diisi apa aja tuh? Belakangan, file-file musik hasil rip maupun sedotan tembus 1 giga dan konsisten terus bertambah. Belum lagi simpanan file film (hayo ngaku, siapa yang punya hobi begini juga hahaha). Terakhir, ketika menjajal jadi Youtuber dan membuat banyak sekali footages, 1 terabyte penuh dalam hitungan kurang dari setengah tahun.

Nah, ketika mengais-ngais storage di harddisk eksternal, file-file film dan musik yang kurang begitu penting menjadi korban pertama. Nggak lama, Spotify masuk. Bagiku, ini benar-benar solusi tuntas buat hobi mendengar musik. Tak perlu lagi repot-repot beli CD atau mencari sedotan. Tinggal search dan play. Beruntungnya, band-band yang aku dengarkan pada umumnya ada di Spotify. Band-band old school thrashmetal, hairy metal 80-an, hard rock 70-an, lagu-lagu hits 80-an, nyaris semuanya tersedia. Bahkan, malah nemu band-band yang dulunya belum sempat denger, tapi ternyata lumayan maknyuss, misalnya Onslaught atau Korzus.

Memang, ada juga band atau album tertentu yang tidak tersedia di Spotify. Misalnya saja band Tool atau album legendaris Def Leppard, Hysteria. Tapi, overall, aku sangat puas dengan koleksi Spotify.

Yang menyenangkan, untuk album baru, bisa langsung didengarkan pada tanggal rilisnya. Ini udah kejadian beberapa kali, waktu album Babymetal, Kreator, dan Metallica. Nggak perlu repot lagi nyari di toko kaset, tinggal search dan play. Just that simple!

Akhirnya, aku memutuskan menghapus semua file-file musik simpanan dan bergantung sepenuhnya pada Spotify. Lumayan, bisa menghemat storage beberapa gigabyte. Ini termasuk salah satu keputusan penting yang aku ambil sebagai penikmat musik. Hehehe.

Tren streaming ini sedang dan terus bangkit, dan tampaknya akan menjadi norma dan kenormalan di masa mendatang. Terjadinya perlahan (tapi pasti), seiring dengan semakin canggihnya teknologi (baca: kecepatan koneksi internet). Awalnya mungkin tukar-menukar berkas digital berukuran kecil (dokumen teks), makin besar (gambar), makin besar lagi (musik), hingga file-file “raksasa” (film). Sekarang, streaming film berkualitas HD sudah dimungkinkan.

Masalah storage, yang sempat aku singgung sebelumnya, benar-benar riil. Dan, ketika dimungkinkan tak harus menyimpan sendiri file di komputer atau ponsel, mengapa tidak? Biarkan pihak lain yang menyimpannya, file baru diunduh ketika hendak digunakan. Pihak lain itu punya kemampuan untuk menyimpan dengan kapasitas yang tak terbayangkan besarnya. Jadi, ngapain harus repot nyimpan sendiri.

Bagi pengguna, cara ini benar-benar mudah dan praktis. Entah berapa kali aku dan Jeremy terlibat dalam pembicaraan tentang lagu atau artis tertentu. Dengan mudah kita langsung search di Spotify. Yang lebih menyenangkan, kalau kebetulan lagi jalan atau denger radio terus tiba-tiba denger lagu enak, langsung cari tahu pakai Shazam dan didengerin lagi pakai Spotify. Pengalaman dengan musik digital seperti ini jelas tidak mungkin terjadi jika menggunakan musik analog.

Record Store Day

Jadi, apakah musik analog sudah benar-benar mati?

Ternyata tidak (atau belum?). Kembali pada cerita di awal tulisan, pada akhir pekan ini berlangsung Record Store Day. Menurut Wikipedia, inisiatif yang berawal pada 2007 ini bertujuan “merayakan budaya ‘toko kaset’ independen”. Kata “toko kaset” aku sengaja tandai sebagai terjemahan “record store”. Karena meskipun toko tersebut kemudian menjual CD dan DVD, buat banyak orang segenerasiku dan sebelumnya tetap saja disebut “toko kaset”.

Inisiatif ini barangkali merespons turunnya penjualan musik secara fisik (kaset, CD, vinil). Maka dibuatlah hari khusus untuk jualan. Pada perkembangannya, momen ini acap dimanfaatkan untuk launching album dan menampilkan musisi-musisi beken. Sebut saja Metallica yang tampil pada kick off Record Store Day pertama pada 2008.

Namun, banyak yang menganggap Record Store Day cuma kerjaan mereka yang hobi mengoleksi musik, bukan peminat musik pada umumnya. Ya iyalah, peminat musik pada umumnya barangkali cukup langganan Spotify atau membeli musik di Itunes. Tapi, bagaimana pun, kaum kolektor ini menjadi pasar yang niche.

Tahun 2016 lalu, penjualan vinil tercatat tercatat sebagai yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Lebih dari 3,2 juta piringan hitam terjual atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan musik digital dengan cara mengunduh mengalami penurunan. Sebagai gantinya, ya itu tadi, mereka melakukan streaming.

Kemudahan navigasi, mencari, dan mendengarkan musik dengan cara streaming ternyata menyisakan “ruang kosong” pada sebagian penikmat musik. Tidak ada rasa kepemilikan, karena musik digital secara streaming “dimiliki” oleh penyedia jasa. Pengguna hanya diberikan “hak akses”. Beda halnya dengan vinil, yang memungkinkan kepemilikan fisik. Terbukti, meninggalnya sejumlah musisi besar ikut mendorong larisnya vinil. Meninggalnya David Bowie tahun lalu membuat dia menjadi artis vinil terlaris karena banyak orang lalu memborong karya-karyanya sebagai kenang-kenangan. Terdapat 5 album Bowie yang bercokol pada 30 album vinil terlaris 2016.

Nah, itu pula sebabnya ketika aku menjual koleksi kaset-kaset lawas, yang laku bukan album-album sukses Iron Maiden. Tapi justru album-album yang kurang terdengar, seperti A Matter of Life and Death. Sama seperti dulu aku membeli The X Factor, sepertinya yang membeli AMOLAD itu juga buat dikoleksi, bukan buat didengarkan secara reguler.

Sekali lagi, bukan karena nggak cinta nggak sayang, tapi karena ruangan di rumah mungilku sudah tidak memadai, aku menyerahkan kepemilikan kaset-kaset lawasku pada siapa saja yang berminat. Aku cukuplah jadi pendengar casual yang hasratnya telah terpenuhi oleh Spotify. Kalau ada yang berminat jadi penadah, boleh hubungi aku. Atau, sila datang ke event Record Store Day di P7 Kuningan City pada Jumat-Sabtu, 21-22 April besok.

Akhirnya Kesampaian Nonton Julie Estelle

Ini bukan curcol, tapi sekadar menceritakan apa adanya. Setelah menikah, kalau kamu mencintai pasanganmu, kemungkinan besar kamu akan mengurangi waktu untuk hal-hal yang kamu sukai. Hal ini tak mesti berarti buruk, karena kamu (memang) akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk orang-orang yang kamu cintai.

Begitu juga dengan aku. Musik, buku, dan film adalah hal-hal yang aku sukai. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa henti untuk menikmati ketiga hal itu. Setelah menikah, porsi waktu untuk menikmati ketiga hal itu banyak yang dialihkan untuk ngobrol dengan isteri atau bermain dengan anak.

Bisa juga sih bersiasat. Misalnya, musik dapat aku nikmati sembari melaju mondar-mandir rumah-kantor. Nggak masalah, apalagi dengan Spotify, akses pada musik-musik terbaru menjadi sangat mudah dan praktis.

Yang paling sulit adalah baca buku. Ini kegiatan yang nyaris mustahil disambi. Nggak mungkin kan baca buku sambil jogging atau nyetir. Audio book mungkin bisa menjadi solusi, tapi karena baca buku itu butuh fokus, makanya butuh waktu khusus juga agar benar-benar efektif.

Sementara itu, nonton film agak di tengah-tengah. Dibandingkan denger musik dan baca buku yang cenderung dinikmati sendiri, nonton film bisa dilakukan bareng-bareng. Asal, filmnya cocok. Ini juga yang jadi masalah. Setelah Jeremy agak gedean, kami memang jadi sering nonton. Cuma, filmnya film anak-anak. Malah, Jeremy sekarang sudah ketularan hobi nonton. Kalau ada film anak-anak yang baru, dia lebih dulu tahu dan jauh-jauh hari sudah ngingetin untuk nonton itu film.

Sebenarnya, dari zaman pacaran dulu, aku dan Icha juga tidak terlalu sering nonton. Soalnya, Icha memang nggak hobi nonton. Dia lebih senang windowshopping (maunya sih shopping beneran, tapi berhubung budget sering terbatas ya cukuplah lihat-lihat dulu) dan ngobrol (tepatnya, dia bercerita, aku mendengarkan). Kalau pun kami nonton ala-ala orang pacaran, filmnya mesti film romantis. Nggak boleh yang berat-berat, yang berantem-berantem, yang ngagetin, apalagi yang nakutin. Bayangin aja, kami pernah nonton film Transformers bersama Jeremy. Usai film yang superseru itu, Icha bilang, sepanjang film dia mengantuk dan kayaknya sempat tertidur. “Habis filmnya berantem mulu dari awal sampai habis…” Alamak!

Yang lebih cilaka, meskipun sudah nonton film romantis, saat pacaran dulu aku masih suka diprotes. Pasalnya, kata Icha aku terlalu fokus pada film dan mencuekkan dia. Lah emang?… [blo’on mode ON]

Singkatnya, bisa nonton film sesuai keinginan itu buatku jadi problem. Walau pada dasarnya suka nonton film apa aja, kadang-kadang pengen juga dong nonton film sesuai selera atau keinginan pribadi.

“Surat Dari Praha”

Tentang hal ini, bukannya nggak bisa disiasati. Kan katanya di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ya tinggal pintar-pintarnya aja cari solusi. Nggak bisa di bioskop, ya nonton DVD di rumah waktu Jeremy dan Icha sudah tidur. Cuma, memang harus ada effort untuk nyari DVD-nya. Belum lagi, untuk film-film tertentu, kadang sulit ditemukan.

Ambil contoh, tahun lalu ada filmnya Julie Estelle yang bertajuk Surat Dari Praha. Selain karena bintangnya Julie Estelle (ehm), tema yang diangkat film ini juga menarik buatku, berkisah tentang eksil di Praha, Ceko, yang tidak bisa pulang karena situasi politik.

Tema ini menarik perhatian karena sebelumnya aku baru menuntaskan novel Leila Chudori yang bertajuk Pulang. Terinspirasi dari kehidupan Sobron Aidit dkk yang terdampar di Paris, novel Leila Chudori itu entah mengapa terasa sangat dekat. Kerinduan akan kampung halaman mungkin nggak bunyi bagi sebagian orang, tapi bagi orang-orang perantauan macam aku, ada bagian-bagian tertentu di mana aku merasa terhubung—walau tentu saja dengan level dan intensitas yang beda. Aku merasa dapat berempati pada karakter Dimas Surya. Selain itu, menarik juga mereka-reka kompleksitas perasaan anak seorang eksil yang separuh dirinya punya Tanah Air yang belum pernah dilihat.

Surat dari Praha mungkin tak sepenuhnya sama dengan novel Pulang. Tapi, pergulatan para eksil ini jelas menarik untuk disimak. Belum lagi, setting cerita Ceko tambah bikin penasaran. Jarang-jarang soalnya nonton film dengan latar belakang Eropa timur. Apalagi kemudian film ini dinobatkan jadi film terbaik Usmar Ismail Awards 2016. Jelas bukan film sembarangan.

Terkait pemain, Julie ini dari pemahamanku yang cetek tentang bintang-bintang film nasional, termasuk berkelas dan tidak norak. Genre film yang dibintanginya juga sangat bervariasi, dari film remaja, horor, hingga film laga. Di The Raid 2, meski tampil amat singkat, tapi perannya sebagai the hammer girl sangat memorable. Makanya, ketika Julie main di film yang menyambar-nyambar tema politik, aku jadi penasaran.

Untuk ngajak Icha nonton film ini ke bioskop, rada-rada mustahil. Meski ada muatan kisah cinta, tapi film ini kayaknya termasuk kategori berat. Yang paling masuk akal ya nyari DVD-nya nanti kalo sudah beredar.

Hooq

Beberapa waktu lalu, nggak sengaja aku terima SMS pemberitahuan dari 3 bahwa nonton Hooq kini bisa dengan potong pulsa. Biasanya aku nggak terlalu antusias dengan penawaran-penawaran begini, cuma karena yang ditawari film, aku pikir nggak ada salahnya dilihat-lihat dulu.

Setelah menginstall Hooq, mataku langsung berbinar-binar begitu membuka aplikasi ini. Surat dari Praha ternyata nangkring dengan manisnya di jajaran film Indonesian Hits. Kalau mau nonton juga nggak repot. Tinggal beli paketnya, ikuti tombol menu, potong pulsa, voila… sudah bisa akses film-film di Hooq.

Ada sejumlah paket atau plan yang tersedia, mulai dari paket 7 hari seharga Rp 18.700, paket 30 hari seharga Rp 49.500, paket 90 hari seharga Rp 124.000, paket 180 hari seharga Rp 244.000, dan paket 360 hari seharga Rp 440.000. Belinya bisa lepasan atau langsung auto-renew biar nggak repot-repot memperpanjang. Itupun bisa di-cancel kapan saja. Berhubung mau coba-coba dulu, aku pilih paket yang paling murah, yang 7 hari Rp 18.700.

Selain Surat dari Praha, mengintip koleksi film Hooq ternyata lumayan banyak. Katalognya meliputi lebih dari 10 ribu judul film dan acara TV. Untuk film-film Hollywood, kayaknya yang baru-baru belum banyak. Tapi, untuk serial TV lumayan bagus-bagus. Yang terhitung baru ada Supergirl. Sementara yang lawas, ada Friends yang komplet 10 seasons.

Penggemar film lawas Indonesia pasti termehek-mehek, karena koleksinya cukup banyak. Mulai dari film-filmnya Warkop, Suzanna, Ateng, Si Boy, hingga film-film pemenang FFI macam Nagabonar atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Agar lebih mudah dijelajahi, Hooq bikin macam-macam kategori. Ada Superhero Sensations, Hollywood Hits, Martial Arts, Anime, Indonesia Era Lama, Best of Bollywood, For Toddlers, dan banyak lagi. Atau, langsung saja ketikkan judulnya di kotak pencarian.

Yang keren, ada fitur untuk download. Jadi, kalo ketemu wi-fi bisa download dulu, nontonnya ntar bisa di mana aja. Fitur ini membantu banget, karena nontonnya jadi nggak tergantung koneksi data alias bisa di mana aja. Cuma yang perlu diingat, space di ponsel harus lega, karena downloadan film itu ukurannya lumayan gede.

Fitur lain yang cukup membantu adalah ketersediaan subtitle, jadi nggak bakalan nemu terjemahan aneh-aneh kayak nonton DVD bajakan. Selain itu, pilihan kualitas video juga memungkinkan kita menyesuaikan dengan koneksi internet yang tersedia.

Overall, meski aplikasi dan koleksinya bukan yang paling canggih, Hooq patut dipertimbangkan karena keunikannya. Selain paket yang terjangkau dan nggak mesti pakai kartu kredit, Hooq juga punya koleksi film yang jarang ditemui di tempat lain. Dan, yang paling penting tentu saja bisa ditonton kapan dan di mana saja.

Inilah yang aku lakukan. Setelah download Surat dari Praha, nontonnya “nyicil-nyicil” kalo ada waktu. Menjelang tidur, di sela-sela waktu istirahat kantor, atau kalo lagi menyepi di kamar kecil. Dalam dua hari, tuntaslah film itu.

Jadi, nggak perlu ngeluh kalo kamu belum bisa mendapatkan atau melakukan yang kamu mau. Katanya, good things come to those who wait. Sabar aja, nanti pasti ada jalannya. Udah ah, kayaknya sok tua banget gw. Mumpung udah mau weekend lagi, aku sudah mikir-mikir untuk nonton Soekarno dan Filosofi Kopi di Hooq. Yok mareee…

Baca Buku yang tak Lagi Keren

kindle-381242_1920
Kindle, gaman untuk baca buku. (Photo by Pixabay.com)

Saat wawancara untuk masuk ke perusahaan tempat aku bekerja sekarang, salah satu pertanyaan kunci yang “berhasil” aku jawab dengan baik adalah tentang hobi. Jawabannya sederhana saja: baca buku. General manager departemen yang aku tuju (kelak menjadi CEO sebelum akhirnya resign dan sekarang aktif di sebuah sekolah periklanan) tak percaya begitu saja. Ia lantas mengejar dengan pertanyaan lanjutan, siapa pengarang favoritku. Dengan sigap aku menjawab, Frederick Forsyth.

Hahaha, mungkin sekarang aku buka kartu. Sesungguhnya, hingga detik itu aku belum pernah menyentuh, apalagi membaca buku Forsyth. Hanya saja, aku berhitung, pertanyaan ini sangat penting untuk menentukan apakah aku diterima atau tidak pada posisi penulis yang aku lamar. Salah menjawab tentang hal ini bisa berarti kegagalan.

Nama Forsyth sangat membekas di kepala berkat iklan jam tangan mewah Rolex. Iklan yang kala itu kerap dimuat di majalah-majalah kenamaan ini sangat elegan. Isinya berupa artikel singkat tentang betapa seorang penulis andal sangat memperhatikan waktu. Ilustrasinya adalah foto si Forsyth di meja kerja sembari—tentu saja—mengenakan jam tangan Rolex.

Iklannya keren, jadi suka aku baca. Makanya, aku tahu kalau si Forsyth ini menulis thriller antara lain bertajuk The Day of the Jackal dan The Fourth Protocol. Dari iklan itu, aku bisa bicara—meski tak banyak—tentang Forsyth, juga karya-karyanya.

Aku berhitung, kemungkinan besar bapak GM yang terhormat itu belum pernah membaca karya Forsyth. Tapi namanya terdengar keren dan berkelas. Judul-judul bukunya juga mentereng. Kalau aku bisa bercerita dengan penuh percaya diri, kemungkinan besar citra aku di mata beliau akan sangat positif. Gile, muka kampung gini ternyata seleranya berkelas! Dan, ternyata kemudian, aku memang diterima. Salah satunya, aku yakin, gara-gara si Forsyth itu.

Sebenarnya aku tidak berbohong dengan mengatakan suka membaca. Hanya saja, aku pun harus bisa memberi jawaban yang sekaligus menjadi pencitraan. Waktu itu, karena belum lama membuat skripsi, kebanyakan buku yang aku lahap adalah buku-buku teks. Nggak asyik kayaknya untuk menyebutkan judul buku teks, karena kesannya student kali. Apalagi menyebut buku-buku filsafat terbitan Kanisius yang suka aku baca, seperti karya-karya Francisco Budi Hardiman, jangan-jangan udah dicoret duluan namaku.

Novel sebenarnya aku suka, tapi yang sering aku baca ya Balada si Roy atau, waktu di SMA, Lupus. Cuma, temanya remaja labil banget. Nggak menjual. Baru saat kuliah aja coba-coba menjajal buku-buku sastra terbitan Obor. Tapi kok aku pikir kesannya jadi sok nyeni banget. Bukan pilihan yang bagus juga untuk seorang penulis iklan.

Pernah juga sih baca-baca karya Agatha Christie. Tapi, menurutku ini terlalu mainstream. Boleh jadi si bapak GM lebih hafal. Bisa matek aku, karena sebenarnya nggak terlalu ngelotok dengan bacaan itu. Padahal, menyebut nama Forsyth juga sebenarnya agak berjudi. Kalo ternyata bapak GM pernah baca, alamat mampus kalo nggak bisa menjawab pertanyaan yang lebih detil.

Ini kejadian setelah beberapa waktu kemudian gantian aku yang mewawancara calon penulis di bagianku. Hobi baca buku ini aku jadikan pertanyaan standar. Dari sini aku bisa menakar wawasan si pelamar.

Suatu kali, pernah ada adik kelas yang melamar. Lupa angkatan berapa, tapi gayanya agak-agak sotoy. Dugaanku, dia ini dulu aktif di kampus dan banyak omong. Dia berkoar-koar bahwa dia peminat aliran Mazhab Frankfurt. Wah wah, dia berhadapan dengan orang yang salah… Langsung saja aku kuliti dengan menanyakan pendapat dia tentang pemikiran-pemikiran Horkheimer dan Habermas. Mati kutu dia, tak bisa lagi menjawab. Makanya, hati-hati Bung kalo ngomong.

Oya, selama mewawancara calon-calon penulis baru, nama yang lazim disebutkan kalo aku bertanya tentang pengarang favorit adalah Pramoedya Ananta Toer. Keren sih kalo ada yang menjawab dengan menyebut nama Pram, tapi untuk posisi yang ditujukan agak-agak kurang pas. Setidaknya, begitu penilaianku terhadap mereka yang menjawab demikian. Entah benar-benar mereka menggemari Pram atau tidak, orang pasti akan punya penilaian tertentu jika nama itu yang disebut. Kalo yang menggemari Pram aku nilai sebagai orang yang kritis dan “sosialis”.

Ada masanya juga ketika hampir semua pelamar yang aku tanya menjawab dengan menyebut nama Paulo Coelho. Dan, herannya, kebanyakan yang menyebut nama ini adalah perempuan. Membandingkan karakter orangnya, mereka yang memfavoritkan Coelho cenderung kaum urban yang stylish dan agak-agak kenes. Gaul, tapi pengen dianggap punya otak. Hahaha.

Yang menyedihkan kalo ternyata si pelamar tidak suka baca, bahkan tidak dapat menyebutkan satu nama pengarang atau judul buku. Yang begini ini kalo asal nyablak menyebut nama pengarang secara random pasti gampang ketahuan. Dia nggak bakalan bisa ngomong kalo ditanya lebih jauh. Mohon maaf, pasti aku coret. Bagaimana mau jadi penulis kalau tidak suka baca buku.

Pentingnya buku sebagai pembentuk wawasan rasanya sudah sepasti 1 + 1 = 2. Setidaknya sampai kemarin-kemarin, ketika internet belum begitu marak. Makanya, aku sangat tersentak ketika mendengar wawancara Gary Vee. Entrepreneur dan tokoh medsos ini sangat menohok ketika diwawancarai Ken Coleman di salah satu episode podcast Entreleadership. Ditanya tentang buku yang sedang ia baca, dengan enteng Gary menjawab, “I don’t read book.” Alamak!

Ken berusaha menggali lebih jauh dan bertanya tentang buku yang mungkin berpengaruh pada pemikirannya, dan Gary tetap menjawab: tidak ada. Akhirnya dia menjawab, “Maybe history.” Ini kayaknya jawaban terpaksa, karena sejujurnya memang dia tidak suka membaca. Padahal, karena sekarang sedang sukses sebagai pembicara di mana-mana, Gary mendapat kontrak untuk menulis sejumlah judul buku. Boleh dicari yang sudah beredar antara lain Crush dan Jab, Jab, Jab, Right Hook. Busyet, ternyata ada juga penulis buku yang tidak pernah membaca. Ya Gary ini.

Semua buku Gary—yang lumayan laris itu—ditulis oleh ghost writer. Selama beberapa waktu terakhir, aku berusaha menuntaskan Crush. Kalo disimak, gaya bertuturnya seperti bahasa lisan, kayak membaca omongan Gary yang ditranskrip. Nyaris tidak ada beda dibandingkan apa yang sering ia sampaikan dalam berbagai podcast atau wawancara. Cuma kali ini dalam bentuk tertulis.

Poin aku sampai di sini, ternyata sekarang untuk memperkaya wawasan tak mesti membaca buku. Bisa saja dengan browsing internet, baca Wikipedia dan berbagai situs menarik, ikutin blog, mendengar podcast, dan menonton YouTube. Isi kepala millenial yang tak pernah baca buku boleh jadi sama, atau malah lebih kaya ketimbang mereka yang kutu buku.

Fenomena buku digital yang bisa dibaca melalui gaman seperti tablet, Kindle, atau Nook, sekarang agak-agak sulit dibedakan dengan membaca konten digital lainnya. Bedanya paling di plot/alur dan gaya tutur. Selain itu, jika dibandingkan dengan Wikipedia atau kumpulan blog seperti Lifehacker, boleh jadi buku digital—yang sebenarnya versi digital dari buku cetak—kalah kaya. Konten digital pada umumnya memiliki tautan ke sumber lain yang terkait. Selain itu, ada juga pengayaan dalam bentuk multimedia (video atau suara). Jadi, kalau tujuannya belajar dan menambah wawasan, ya tak mesti harus dari “buku”.

Bahkan, menyerap konten digital kini tak lagi harus dengan “membaca”. Tengok saja audio book alias buku digital yang dibacakan, atau juga podcast, konten bisa diserap semberi menyetir atau lari pagi. Hal ini tak mungkin dilakukan jika bentuknya buku cetakan.

Aku tak mau terkesan jadi orang tua yang mengelu-elukan masa lalu. Dunia sudah berubah. Buku barangkali kini tak lagi keren. Besok-besok, aku tak boleh lagi gegabah menakar wawasan orang hanya dari buku yang ia baca. Kini, konten adalah segalanya, entah dalam bentuk atau platform apa…*

Lebih Seru dan Menyenangkan Menggunakan Spotify

music-on-your-smartphone-1796117_640
Kini lebih praktis gunakan Spotify. (Photo by Pixabay.com)

Praktis Spotify kini menjadi aplikasi utama bagi saya untuk mendengarkan musik. Database lagu yang banyak banget dari berbagai genre dan periode waktu serta kemudahan penggunaan menjadi alasan utama. Sudahlah, lupakan mengunduh musik bajakan. Selain makin repot mencarinya, riskan juga terkena virus. Jauh lebih praktis dan efisien mendengarkan di Spotify. Harganya toh nggak mahal-mahal amat. Dan, pengalaman saya, lebih mudah juga ketimbang membeli album satu per satu.

Sebagai aplikasi, Spotify juga memiliki dan menawarkan fitur-fitur yang menyenangkan—yang membuatnya lebih diminati ketimbang aplikasi sejenis lainnya. Kalau mau digali, ada fitur-fitur menarik yang membuat dengar musik lebih seru dan menyenangkan. Berikut adalah beberapa di antaranya.

Jajal musik baru

Meski menggilai Iron Maiden dan Metallica, ada waktunya saya bosan mendengarkan playlist standar yang berisi “Master of Puppets”, “Creeping Death”, “Two Minutes to Midnight”, atau “Wasted Years”. Kadang, saya mulai mendengarkan track-track yang kurang dikenal, sebut saja “Trapped Under Ice” atau nomor-nomor di St Anger. Atau, boleh juga mendengarkan lagi Maiden era Blaze Bayley atau Paul Dianno.

Ternyata, ada cara lebih seru yang ditawarkan Spotify.

whatsapp-image-2017-01-06-at-7-04-21-pm
Playlist Discover Weekly, suka ada nomor-nomor keren.

Setiap minggu, Spotify menawarkan playlist Discover Weekly. Playlist ini disusun berdasarkan musik yang biasa kita dengar. Mirip zaman dulu, waktu masih eranya musik pakai pita kaset, banyak yang suka bikin kaset kompilasi. Nah, kira-kira ini yang bikin kompilasi adalah teman yang mengerti selera musik kita. Seperti minggu ini, saya ditawarkan untuk mendengarkan “Deathhammer”, sebuah nomor dari album bertajuk sama, besutan band Asphyx. Ini ternyata salah satu band death metal Belanda yang dibentuk oleh eks pemain Pestilence. Nomor yang cukup gahar dan bersemangat. Mungkin karena playlist saya selama ini sering berisi nomor-nomor death metal kali ya.

Ada juga lagu unik bertajuk “Cry of the Banshee” dari album Defender of the Crown milik band bernama Brocas Helm. Band yang berdiri awal dekade 80-an ini ternyata berasal dari Bay Area, kawah candradimuka tempat para dedengkot thrashmetal seperti Metallica dan Exodus muncul. Tapi, Brocas Helm justru memunculkan elemen-elemen power metal, bahkan chant-chant gregorian. Sementara, permainan basnya mengingatkan pada Steve Harris Iron Maiden. Hehehe, benar-benar unik. Jadi pengen denger lagu-lagu mereka yang lain.

Menurut Spotify, lebih dari 1 triliun lagu telah diputar melalui Discover Weekly dan lebih dari 70 persen pendengar menyimpan setidaknya satu track dari playlist itu ke playlist mereka. Jadi, kalau pengen mendengarkan lagu atau musik yang lain, Discover Weekly bolehlah dijajal.

Berbagi lebih seru

share
Share ke Facebook dengan embed code.

Sekarang zamannya sharing. Entah karena pengen dianggap keren atau memang yang dibagikan itu mungkin diminati orang lain, dengan gampang kita meng-klik tombol “share”. Tidak terkecuali untuk musik. Biar terlihat cadas, boleh dong sekali-sekali membagikan nomor ajaib dari Metallica, padahal mungkin sendirinya keberisikan, hehehe… (kalo tersinggung salah sendiri ya, siapa suruh baca)

Nah, dengan menu “share” di ponsel, Spotify memberikan pilihan untuk “post to…” untuk membagikan ke aplikasi media sosial populer seperti Facebook atau Twitter. Pilihan lain adalah “send to…” untuk membagikan ke email atau aplikasi pesan instan seperti SMS atau Whatsapp.

Selain itu, pada versi desktop, Anda juga dapat copy link, URL, atau embed code. Yang terakhir ini, kalo di-paste di Facebook, akan memunculkan kotak player kecil berikut cover album, sehingga tampak lebih keren.

Intip dan sembunyi

privat
Private session dulu kalau mau bergalau-galau.

Mendengarkan musik itu lebih seru kalau ada teman. Kita saling merekomendasikan lagu yang kita anggap keren dan orang lain mesti dengar. Dengan Spotify, kita tidak harus bertemu secara langsung untuk dapat saling merekomendasikan lagu. Bahkan, kita tak perlu repot berkoar-koar membagikan lagu melalui media sosial.

Di Spotify, kita dapat berteman dengan pengguna lain. Antarpengguna dapat saling melihat aktivitas di Spotify, ini orang sedang mendengarkan lagu apa. Ini cara yang elegan untuk pamer selera musik ketimbang share ke mana-mana. Biarin orang lain yang kepo melihat sendiri apa yang sedang kita dengar. Tapi, ada kalanya, Anda mungkin sedang pengen larut dalam lagu-lagu galau tapi tidak pengen ketahuan. Jangan khawatir, tersedia menu “Private Session”.

Unduh untuk hemat data

offline
Pindahkan ke Offline mode untuk hemat data.

Pada dasarnya Spotify merupakan layanan streaming musik. Artinya, untuk mendengarkan musik, Anda harus punya koneksi internet. Namun, kalau Anda sedang tidak punya koneksi internet misalnya bertualang ke alam bebas, jangan khawatir karena Anda masih tetap dapat menggunakan Spotify.

Ini hanya berlaku bagi pengguna premium. Anda dapat mendownload album atau lagu pilihan, lalu mengaktifkan tombol “Available Offline”. Lagu-lagu yang dapat didengarkan secara offline akan ditandai oleh ikon berwarna hijau. Spotify membatasi maksimum lagu yang dapat didengarkan secara offline pada sebuah device adalah sebanyak 3.333 lagu. Opsi offline ini berlaku hingga maksimal 30 hari sebelum pengguna diminta untuk online lagi.

Demikian beberapa fitur menarik yang membuat pengalaman menggunakan Spotify jadi lebih menyenangkan. Anda punya tips/trik menarik lain menggunakan Spotify? Bolehlah dibagikan di kolom komentar. Tabik!

Video yang Sedang Jadi Konten Kekinian

skateboard-1245680_1280
Anak muda yang sedang membuat video tentang keseharian. (Photos by Pixabay.com)

Sekarang zamannya video. Setidaknya begitu kata Gary Vaynerchuk.

Pada posting terdahulu, aku cerita tentang mesin tik pinjaman yang mendorongku produktif menulis. Sebegitu susah dan manualnya peralatan untuk menulis, sehingga sebelum penggunaan smartphone populer, aku berangan-angan ada gadget yang dapat dipakai menulis tapi dapat dibawa-bawa dengan mudah. Tentu menyenangkan sekali karena menulis lebih mudah dan dapat dilakukan di mana saja. Bayanganku, aplikasi menulis itu terintegrasi dengan ponsel.

Waktu itu aku masih menggunakan feature phone Siemens yang punya fasilitas notes. Tapi, mengetiknya butuh kesabaran karena menggunakan tombol alfanumerik. Belum lagi kapasitas penyimpanannya amat minim, karena memang tidak dirancang untuk menulis. Paling cuma untuk membuat catatan singkat.

Sekarang, sudah punya smartphone canggih plus wireless keyboard, nggak juga tambah rajin tuh menulis. Hehehe, ketersediaan fasilitas tampaknya memang tidak berbanding lurus dengan produktivitas. Malah sebaliknya. Ketika fasilitas minim, kok malah jadi tertantang.

Itu sekelumit tentang masalah peranti pendukung menulis. Dengan teknologi terkini, kita tak lagi (sekadar) bicara tulisan. Sekarang kita bicara konten. Itu termasuk juga gambar dan video.

Di bangku kuliah aku sempat belajar fotografi dan film. Jadi serba sedikit, aku paham kedua bidang tersebut. Sepanjang dan selebar pengetahuanku setelah belajar, untuk menghasilkan foto dan video yang bagus dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan khusus.

Namun, sekarang, Terima kasih pada teknologi. Berapa banyak orang yang bahkan tidak pernah mendengar soal speed, aperture, depth of field, atau white balance, tapi bisa menghasilkan foto-foto bagus.

Belajar komposisi foto juga begitu mudah sekarang. Kalau dulu, benar-benar harus mikir sebelum menekan tombol shutter kamera manual. Pastikan semua udah benar-benar oke. Bukan apa-apa, dana untuk beli film dan cuci cetak foto terbatas. Sekarang sih tinggal jeprat-jepret seenak perut. Kalau jelek, tinggal delete. Belajar komposisi bisa dengan learning by doing dan practice makes perfect.

Bukan cuma foto, video pun idem. Tengok saja Youtube, berapa banyak channel keren yang ternyata dibikin bermodal kamera ponsel atau cuma kelas prosumer. Yang penting idenya, bukan alatnya, begitu antara lain kata Youtuber beken Casey Neistat.

Bicara konten, nggak perlu juga canggih-canggih amat. Tengok saja video-video yang viral. Banyak yang kualitasnya bukan cuma amatir, amburadul malah. Tapi karena kontennya menarik ya asyik-asyik aja menontonnya. Sekali lagi, yang dicari konten, bukan kualitas video (secara teknis).

Nggak heran kalau sekarang Jeremy lebih suka menonton Youtube ketimbang siaran TV. Meski agak bombastis, bisalah sekarang dibilang bahwa apa saja ada di Youtube. Dari tutorial membuat hal remeh-temeh, khotbah keagamaan, video narsis-narsisan, sampai film bokep. Dan, karena disajikan secara pandang-dengar (ini istilah yang lebih pas sebenarnya ketimbang audio-visual), ya jadi lebih menarik.

Bicara video di internet, persaingan antarchannel menarik pengguna juga kian sengit karena ujung-ujungnya menentukan aliran duit masuk. Seperti kata Gary, Youtube sekarang bisa dibilang nenek moyangnya video daring. Setiap menit konon ada sekitar 300 jam tontonan yang diunggah. Seumur hidup pun rasanya nggak cukup untuk tuntas menonton seluruh konten Youtube. Tapi, Facebook siap mengancam. Setiap hari ada aliran 4 miliar video di Facebook. Tren ini mestinya cukup bikin Youtube ketar-ketir.

Menurut Gary, capaian Youtube sekarang bisa dianggap tren menurun jika dibandingkan pesatnya pertumbuhan Facebook. Dan, tidak sedikit pengguna Youtube yang cross posting di Facebook untuk menarik lebih banyak audiens.

Bagi pemasang iklan, video yang langsung diunggah di Facebook lebih menarik. Pasalnya, Facebook memiliki data yang jauh lebih komplit ketimbang Youtube. Selain data demografis, mestinya data seputar gaya hidup dan minat seseorang dapat dengan mudah ditelusuri di Facebook. Data ini memungkinkan pengiklan untuk menyusun kampanye yang lebih tepat sasaran.

Lalu, apa hubungannya sih di awal ngomong soal menulis lalu melompat ngomongin video?

Apakah latah atau memang lagi senang menyimak video, belakangan aku jadi tertarik untuk membuat konten video. Tadinya dimaksudkan sebagai dokumentasi pribadi. Ternyata, bisa diolah jadi konten yang (semoga) bermanfaat. Sekalian nyenengin dan mendorong kreativitas anak, kami lagi coba untuk bikin channel Youtube di sini.

Platform lain yang sedang aku jajal adalah Snapchat. Ini kira-kira kombinasi foto-video-chat. Oya, video Snapchat ini singkat saja, hanya 10 detik. Selain komunikasi video one-on-one, fitur menarik dari Snapchat adalah Stories, yaitu rangkaian foto dan video selama sehari yang membentuk kisah. Terobosan menarik ini belakangan ditiru mentah-mentah oleh Instagram. Dan, gilanya, diberi nama Stories. Entah apa di benak Gary Vee, yang merupakan investor Snapchat, melihat langkah Instagram ini. Tapi, Gary toh rajin juga bikin Stories di Instagram.

Sebelumnya, populer juga platform Vine, yang menawarkan looping video berdurasi 6 detik. Ini menurut Gary juga sedang menjadi tren, yaitu video-video singkat. Yup, di tengah jagat internet yang kian riuh dengan begitu banyaknya konten di beragam platform, orang hanya akan punya waktu yang sangat terbatas. Mereka terbiasa scanning atau scrolling. Nah, menarik perhatian mereka dan mengajaknya terlibat dalam percakapan dalam tempo yang sangat terbatas itulah yang menjadi PR tiap-tiap platform.

Teks, foto, video. Pada akhirnya, semua adalah konten. Medium untuk menyampaikan pesan dan gagasan. Kalau lagi jenuh merangkai kata, tak ada salahnya juga berkisah melalui video. Yuk mari…

Menampilkan Lirik pada Spotify

dsc_0150
Tampilan lirik pada Spotify di peranti genggam.

Bagi sebagian orang, menikmati musik itu ya dengan menyanyikannya. Mereka nggak bisa cuma diam terpekur, menikmati musik sambil memejamkan mata ala seorang audiophile. Kalau bisa, mereka malah akan bernyanyi sekeras-kerasnya dan jejingkrakan meniru aksi penyanyi aslinya. Nah, buat orang-orang seperti ini, ketersediaan lirik atau teks lagu itu wajib.

Kalau zaman analog dulu, lirik biasanya disertakan pada lembar cover. Tak heran, cover kaset atau CD bisa lecek, karena terus dibolak-balik untuk melihat liriknya.

Bagaimana pada era digital?

Kalau kamu membeli musik dari toko musik digital seperti iTunes, biasanya mereka juga menyertakan lembar cover digital dalam format PDF. Tinggal download, habis itu bisa di-print atau dilihat langsung pada layar.

Nah, bagaimana kalau mendengarkan musik dari layanan streaming seperti Spotify? Sebenarnya, beberapa waktu silam, pada aplikasi Spotify untuk desktop tersedia menu Lirik. Kontennya dipasok oleh Musixmatch. Sayang, pada akhir Mei 2016 silam, Spotify dan Musixmatch bercerai, sehingga fitur ini tidak lagi tersedia di Spotify desktop.

Musixmatch

Namun, bukan berarti kamu tidak bisa menampilkan lirik saat menggunakan Spotify. Untuk pengguna ponsel atau tablet, cara termudah yaitu dengan menginstal Musixmatch.

Musixmatch saat ini memang merupakan tempat tujuan utama pendengar musik digital yang ingin mencari lirik. Aplikasi ini digunakan oleh sekitar 40 juta pendengar musik. Nggak usah heran, pasalnya lirik merupakan salah hal yang paling banyak dicari di Google.

Sekilas, Musixmatch terlihat seperti pemutar musik biasa. Namun, aplikasi ini sejatinya dirancang untuk mencocokkan musik dengan lagu. Itu sebabnya, founder dan CEO Musixmatch Massimo Ciociolia mengatakan, pihaknya menamakan produknya “musixmatch” karena memang bertujuan mencocokkan lirik dengan musik.

Perusahaan yang bermarkas di Bologna, Italia, ini sangat memaklumi betapa pentingnya lirik saat mendengar musik. Dengan adanya lirik, waktu yang dihabiskan orang untuk mendengarkan musik cenderung lebih lama ketimbang tanpa lirik.

Jika kamu memutar musik menggunakan Musixmatch, aplikasi ini secara otomatis akan menampilkan lirik sesuai lagu. Musixmatch juga otomatis akan menampilkan lirik saat memainkan musik menggunakan aplikasi lain, termasuk Poweramp dan Spotify.

Bahkan, kamu juga dapat menampilkan lirik saat menonton video musik di Youtube. Syaratnya, Youtube harus dibuka menggunakan browser Chrome. Tinggal instal extention Musixmatch melalui Web Store, voila… lirik akan muncul saat kamu menonton video musik di Youtube. Silakan berkaraoke bersama teman-teman, dijamin lebih seru.

Jadi, tak perlu bingung lagi mencari lirik saat mendengar musik. Instal saja Musixmatch.