Tentang Musik Digital, Spotify, dan Record Store Day

smartphone-1735044_1280
Spotify, jadi pilihan praktis untuk dengar musik. (Foto-foto by Pixabay.com)

Hari ini, aku membawa sekantung plastik keresek kaset-kaset lama. Setelah sekian lama berdebu di salah satu pojokan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk menjual saja kaset-kaset itu. Aku titip pada seorang teman yang akan jualan di Record Store Day akhir pekan nanti.

Di antara kaset-kaset yang aku jual termasuk koleksi album Iron Maiden. Salah satunya album The X Factor, hasil buruan di lapak kaset bekas di Blok M. Sekitar 1,5 dekade silam, kaset album bersama vokalis Blaze Bayley ini mulai langka, menyusul kembalinya Bruce Dickinson mencekal mic di Iron Maiden.

Semula, aku termasuk yang menyesalkan keluarnya Dickinson dan menganggap Maiden telah selesai dengan masuknya Bayley. Namun, justru ketika Dickinson kembali, aku jadi penasaran untuk mendengarkan kembali lagu-lagu periode Bayley. Makanya, biar kata bekas dan dihargai lebih tinggi dari harga pasar, tetap aja album yang memuat epik “Sign of the Cross” itu aku tebus. Begitulah manusia, ketika ada dibenci, ketika pergi malah dicari. Hehehe…

Jadi, apa pasal, sudah repot-repot dibeli, kok malah dijual?

Sederhana saja, sekarang mostly aku mendengarkan musik via Spotify. Sebelum Spotify masuk ke Tanah Air, jujur saja aku lebih banyak mendengarkan musik-musik hasil “sedotan” alias bajakan. Bukannya tidak menghargai pemusik, tapi pada akhir dekade 1990-an band-band yang aku dengarkan kebanyakan sudah sulit ditemui albumnya di pasaran. Kalau ada kasetnya, biasanya aku beli. Begitu juga album-album baru. Waktu Christ Illusion (Slayer) dan Death Magnetic (Metallica) keluar sekitar satu dekade silam, saat pertama kali tahu, aku langsung membeli CD-nya. Bahkan, sekali waktu, saking penasarannya pengen dengerin lagi “Cum on Feel the Noize” versi Quiet Riot, aku bela-belain beli impor via Barnes and Noble.

Namun, ujung-ujungnya, tetap saja yang didengerin versi digital. Yang kaset cukup disimpan dalam rak. Yang CD, setelah di-rip jadi mp3 ya disimpan lagi.

Bukan apa-apa, waktu yang paling longgar untuk dengar-dengar musik ya saat melaju antara rumah dan kantor. Peranti yang aku gunakan adalah ponsel pintar. Pemutar kaset cuma ada di rumah, itupun lama-lama jarang digunakan. Waktu semalam aku coba untuk memutar kaset yang mau dijual, ternyata sudah wassalam. Sudah nggak keluar suara lagi.

Penyimpanan

Salah satu masalah yang makin lama makin mengganggu adalah menyangkut penyimpanan (storage). Semua musik dalam bentuk fisik, baik kaset maupun CD, menumpuk di rak. Lama-kelamaan tumpukannya makin tinggi, padahal jarang disentuh. Makanya, kalau beres-beres rumah suka diomelin sama nyonya rumah. Hehehe.

Ternyata kemudian, bukan cuma media fisik yang menjadi masalah. Media digital pun mengalami masalah yang lebih kurang sama. Dulu, punya harddisk eksternal 1 terabyte rasanya bingung, mau diisi apa aja tuh? Belakangan, file-file musik hasil rip maupun sedotan tembus 1 giga dan konsisten terus bertambah. Belum lagi simpanan file film (hayo ngaku, siapa yang punya hobi begini juga hahaha). Terakhir, ketika menjajal jadi Youtuber dan membuat banyak sekali footages, 1 terabyte penuh dalam hitungan kurang dari setengah tahun.

Nah, ketika mengais-ngais storage di harddisk eksternal, file-file film dan musik yang kurang begitu penting menjadi korban pertama. Nggak lama, Spotify masuk. Bagiku, ini benar-benar solusi tuntas buat hobi mendengar musik. Tak perlu lagi repot-repot beli CD atau mencari sedotan. Tinggal search dan play. Beruntungnya, band-band yang aku dengarkan pada umumnya ada di Spotify. Band-band old school thrashmetal, hairy metal 80-an, hard rock 70-an, lagu-lagu hits 80-an, nyaris semuanya tersedia. Bahkan, malah nemu band-band yang dulunya belum sempat denger, tapi ternyata lumayan maknyuss, misalnya Onslaught atau Korzus.

Memang, ada juga band atau album tertentu yang tidak tersedia di Spotify. Misalnya saja band Tool atau album legendaris Def Leppard, Hysteria. Tapi, overall, aku sangat puas dengan koleksi Spotify.

Yang menyenangkan, untuk album baru, bisa langsung didengarkan pada tanggal rilisnya. Ini udah kejadian beberapa kali, waktu album Babymetal, Kreator, dan Metallica. Nggak perlu repot lagi nyari di toko kaset, tinggal search dan play. Just that simple!

Akhirnya, aku memutuskan menghapus semua file-file musik simpanan dan bergantung sepenuhnya pada Spotify. Lumayan, bisa menghemat storage beberapa gigabyte. Ini termasuk salah satu keputusan penting yang aku ambil sebagai penikmat musik. Hehehe.

Tren streaming ini sedang dan terus bangkit, dan tampaknya akan menjadi norma dan kenormalan di masa mendatang. Terjadinya perlahan (tapi pasti), seiring dengan semakin canggihnya teknologi (baca: kecepatan koneksi internet). Awalnya mungkin tukar-menukar berkas digital berukuran kecil (dokumen teks), makin besar (gambar), makin besar lagi (musik), hingga file-file “raksasa” (film). Sekarang, streaming film berkualitas HD sudah dimungkinkan.

Masalah storage, yang sempat aku singgung sebelumnya, benar-benar riil. Dan, ketika dimungkinkan tak harus menyimpan sendiri file di komputer atau ponsel, mengapa tidak? Biarkan pihak lain yang menyimpannya, file baru diunduh ketika hendak digunakan. Pihak lain itu punya kemampuan untuk menyimpan dengan kapasitas yang tak terbayangkan besarnya. Jadi, ngapain harus repot nyimpan sendiri.

Bagi pengguna, cara ini benar-benar mudah dan praktis. Entah berapa kali aku dan Jeremy terlibat dalam pembicaraan tentang lagu atau artis tertentu. Dengan mudah kita langsung search di Spotify. Yang lebih menyenangkan, kalau kebetulan lagi jalan atau denger radio terus tiba-tiba denger lagu enak, langsung cari tahu pakai Shazam dan didengerin lagi pakai Spotify. Pengalaman dengan musik digital seperti ini jelas tidak mungkin terjadi jika menggunakan musik analog.

Record Store Day

Jadi, apakah musik analog sudah benar-benar mati?

Ternyata tidak (atau belum?). Kembali pada cerita di awal tulisan, pada akhir pekan ini berlangsung Record Store Day. Menurut Wikipedia, inisiatif yang berawal pada 2007 ini bertujuan “merayakan budaya ‘toko kaset’ independen”. Kata “toko kaset” aku sengaja tandai sebagai terjemahan “record store”. Karena meskipun toko tersebut kemudian menjual CD dan DVD, buat banyak orang segenerasiku dan sebelumnya tetap saja disebut “toko kaset”.

Inisiatif ini barangkali merespons turunnya penjualan musik secara fisik (kaset, CD, vinil). Maka dibuatlah hari khusus untuk jualan. Pada perkembangannya, momen ini acap dimanfaatkan untuk launching album dan menampilkan musisi-musisi beken. Sebut saja Metallica yang tampil pada kick off Record Store Day pertama pada 2008.

Namun, banyak yang menganggap Record Store Day cuma kerjaan mereka yang hobi mengoleksi musik, bukan peminat musik pada umumnya. Ya iyalah, peminat musik pada umumnya barangkali cukup langganan Spotify atau membeli musik di Itunes. Tapi, bagaimana pun, kaum kolektor ini menjadi pasar yang niche.

Tahun 2016 lalu, penjualan vinil tercatat tercatat sebagai yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Lebih dari 3,2 juta piringan hitam terjual atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan musik digital dengan cara mengunduh mengalami penurunan. Sebagai gantinya, ya itu tadi, mereka melakukan streaming.

Kemudahan navigasi, mencari, dan mendengarkan musik dengan cara streaming ternyata menyisakan “ruang kosong” pada sebagian penikmat musik. Tidak ada rasa kepemilikan, karena musik digital secara streaming “dimiliki” oleh penyedia jasa. Pengguna hanya diberikan “hak akses”. Beda halnya dengan vinil, yang memungkinkan kepemilikan fisik. Terbukti, meninggalnya sejumlah musisi besar ikut mendorong larisnya vinil. Meninggalnya David Bowie tahun lalu membuat dia menjadi artis vinil terlaris karena banyak orang lalu memborong karya-karyanya sebagai kenang-kenangan. Terdapat 5 album Bowie yang bercokol pada 30 album vinil terlaris 2016.

Nah, itu pula sebabnya ketika aku menjual koleksi kaset-kaset lawas, yang laku bukan album-album sukses Iron Maiden. Tapi justru album-album yang kurang terdengar, seperti A Matter of Life and Death. Sama seperti dulu aku membeli The X Factor, sepertinya yang membeli AMOLAD itu juga buat dikoleksi, bukan buat didengarkan secara reguler.

Sekali lagi, bukan karena nggak cinta nggak sayang, tapi karena ruangan di rumah mungilku sudah tidak memadai, aku menyerahkan kepemilikan kaset-kaset lawasku pada siapa saja yang berminat. Aku cukuplah jadi pendengar casual yang hasratnya telah terpenuhi oleh Spotify. Kalau ada yang berminat jadi penadah, boleh hubungi aku. Atau, sila datang ke event Record Store Day di P7 Kuningan City pada Jumat-Sabtu, 21-22 April besok.

Inilah Tiga Vokalis Metal Favorit

Boleh percaya, boleh nggak, tapi kiprah saya ngeband yang singkat itu (dari sekitar 1989 sampai 1994) dimulai dengan menjadi vokalis. Waktu itu kelas II SMA dan mengisi pentas musik 17 Agustus, membawakan dua lagu, “Semut Hitam” dari God Bless dan lagu ciptaan sendiri bertajuk “Sajak Mesiu” (wtf! lagu ciptaan sendiri, hahaha).

Nggak usah heran, namanya juga masih remaja labil. Pengen ngeband tapi kemampuan pas-pasan, yang paling masuk akal ya jadi vokalis. Padahal, departemen vokal jelas-jelas bukan perkara gampang. Apalagi kalau mau membawakan lagu-lagu rock milik—di Medan waktu itu nyaris identik dengan—Purple atau Zeppelin. Ya nggak nariklah kalau mau bawain “Highway Star” atau “Black Dog”.

Ketika saya dan karib masa SMA, Bogard, ngobrol-ngobrol pengen bikin band, kita kesulitan mencari vokalis. Sama-sama suka Maiden, tapi vokal bergaya opera Dickinson ya mampus aja nyanyiinnya. Di Medan waktu itu yang nekat bawain Maiden cuma band Greaf Metal (ini nggak tahu salah tulis atau emang mereka maunya begitu, tapi memang namanya “greaf”, bukan “great”) dengan vokalisnya yang kuntet dan kriwil, Nabo. Biar kata pelafalannya ngaco, tapi pede aja bawain “The Trooper”. Salut sih, walau selalu pengen ketawa kalo mengingat dia melengkingkan baris pertama “The Trooper”, “Yu tek mi lof bet ai tek yos tu…”

Sempat terpikir untuk bawain lagu band-band metal standar macam Kiss atau Motley Crue. Yang kepikiran waktu itu “Heaven’s on Fire”-nya Kiss. Tapi ya vokalnya Stanley dan Neil juga bukannya enteng. Tetap aja ada bagian melengking yang sulit dikejar. Nah, akhirnya, pilihan kita jatuh untuk menjadi imitator Metallica, karena range vokal Hetfield terhitung masih “normal”. Secara berseloroh, saking sebelnya pada vokal-vokal tinggi, kita bilang, “Kapanlah musik metal ini nggak perlu vokal yang tinggi… Kalo perlu makin rendah.” Eee, ternyata beneran tuh jadi kenyataan.

Saat itu, vokalis rock nyaris identik dengan vokal tinggi. Nggak, cuma Purple atau Zeppelin, nyaris semua vokalis rock atau metal yang top waktu itu pasti jago mendaki nada-nada tinggi. Nah, mulai dari Metallica, kita berkenalan dengan band-band yang unik karena tak lagi mengejar nada-nada tinggi. Malah, sebaliknya, turun semakin dalam dengan nada-nada rendah.

Kalo menyimak the big four thrashmetal, merekalah pionir yang menjadi jembatan untuk generasi vokalis berikutnya. Belladonna dari Anthrax masih bermain di nada-nada tinggi, simak misalnya album Spreading the Disease. Mustaine imho sebenarnya nggak bisa jadi vokalis, tapi secara dia bos dan yang empunya Megadeth, ya terserah dialah. Dua lainnya, Hetfield dan Araya, menurutku menyanyi apa adanya.

Band-band thrashmetal yang akar punknya masih kuat, seperti Suicidal Tendencies, Nuclear Assault, atau DRI punya gaya vokal yang cenderung nge-punk, lempeng mirip-mirip Johnny Rotten. Yang masih seirama dengan mereka adalah band-band trashmetal papan atas seperti Exodus dan Overkill. Gaya vokalnya cenderung masih konvensional, minus jeritan melengking. Nuansa kelam mulai terasa kalau menyebut Testament, walau gaya bernyanyi Chuck Billy sebenarnya teriakan biasa saja.

Hal itu tampaknya dipengaruhi karakter musik dan tema yang diangkat. Karakter musik thrashmetal lebih garang dan agresif. Lalu, jika band-band metal sebelumnya umumnya mengangkat tema seks dan percintaan, band-band thrashmetal dan penerusnya masuk ke tema-tema yang lebih serius seperti politik, peperangan, lingkungan, hingga masalah keyakinan. Rata-rata bernada kemarahan dan pemberontakan. Jadi ya nggak terlalu pas lagi dengan vokal melengking tinggi.

Sejumlah band mulai bereksperimen. Dari jurusan death metal, yang mengangkat tema satanisme dan kematian, muncullah gaya vokal growl, seperti orang menggeram. Juga “throat”, suara yang tertahan di tenggorokan. Hingga upaya untuk menirukan suara setan ala ala penyihir abad pertengahan.

Beberapa vokalis yang menurutku unik dan khas, di antaranya, Mille Petrozza dari Kreator. Pada album-album awal, sebutlah Endless Pain, vokal Mille lebih mengarah pada gaya umum death metal yang nge-growl. Tapi, mulai Terrible Certainty, Extreme Aggression, hingga Coma of Souls, mulai ajeg dengan teriakan suara palsu yang parau khas Kreator.

John Tardy dari Obituary dan Dani Filth dari Cradle of Filth bisa menjadi contoh suara-suara vokal ala penyihir abad pertengahan. Tapi, ternyata, bisa jadi sangat keren waktu bawain “Hallowed Be Thy Name”-nya Iron Maiden. Gila, lagu masterpiecenya Maiden itu jadi terdengar satanis…

Suara yang mengandalkan tenggorokan bisa disimak pada Max Cavalera dari Sepultura. Sama halnya dengan Kreator, pada album-album awal (Bestial Devastation, Morbid Visions), Max cenderung bergaya death metal. Namun, sejak Beneath the Remains, Max mulai menampilkan karakter yang menjadi ciri khas. Throat yang dalam dan parau sangat pas dengan musik penuh distorsi Sepultura. Gaya ini berlanjut terus hingga album bergaya tribal, Roots. Benar-benar maknyus vokalnya.

Di Inggris ada Napalm Death. Band ini semula kental dengan gaya punk yang dibalut kemasan death metal, jadilah grindcore. Namun, pada Harmony Corruption, mereka lebih kental dengan nuansa death metal. Vokal Barney menjadi total growl dan throat dengan nada sangat rendah. Dari jurusan ini, yang lebih ekstrim lagi ya tentu saja rajanya deathmetal, Suffocation. Gaya “bernyanyi” Frank Mullen bisa dianggap menjadi standar vokal death metal.

Dari jurusan ini masih muncul band-band technical seperti Nile atau Cryptopsy, tempat bermukimnya dua drummer technical tercanggih yaitu George Kollias dan Flo Mournier. Entah mengapa, udah musiknya supercepat, brutal, gelap, dan rumit (hahaha, eat it dude!!), vokalisnya terdengar seperti menggeram, menggerutu, dan kumur-kumur nggak jelas juntrungannya. Hebat kalo masih ada yang bisa menangkap apa yang mereka katakan. Sampai di sini, aku melihatnya yang dikejar adalah efek suara (musikal?) ketimbang pesan melalui lirik.

Band-band metal yang lebih muda, yang membawakan metalcore, juga punya gaya sendiri. Simak misalnya Austin Dickinson dari Rise to Remains. Anaknya Bruce Dickinson ini bisa menyanyi teriakan growl dan teriakan bersih secara bergantian. Simak misalnya di lagu “The Serpent”. Gaya seperti ini diusung juga oleh vokalis perempuan Alyssa White-Gluz waktu masih di The Agonist serta penerusnya, Vicky Psarakis. Cuma, karena karakter vokal growl dan suara beningnya sangat kontras, kok kadang malah jadi annoying mendengarnya.

Rasanya nggak adil juga kalo tidak menyinggung genre metal lain yang juga menjadi favorit aku, power metal. Di sini, jawaranya jelas, siapa lagi kalo bukan Michael Kiske dari Helloween. Dialah peletak fondasi bernyanyi power metal yang bergaya opera dengan tenaga penuh dan jangkauan lebar. Itulah yang kemudian diikuti band-band seperti Stratovarius, Blind Guardian, atau Dragonforce. Sementara, favorit pribadiku adalah Fabio Lione dari Rhapsody. Selain melengking tinggi, karakter suaranya juga gagah, sehingga pas membawakan lagu-lagu epik bergaya opera.

Panjang kali lebar ke sana kemari, aku sebenarnya pengen kasih gambaran macam-macam gaya bernyanyi metal yang ada sampai sekarang. Jadi kembali ke judul tulisan, siapa vokalis metal favorit?

Untuk old school heavymetal, udah nggak perlu ditanya lagi, pastinya the mighty Bruce Dickinson. Simak terutama album-album klasik seperti The Number of the Beast, Piece of Mind, dan Powerslave. Untuk old school thrashmetal, aku menjagokan Max Cavalera. Imho, vokal Max di Arise sangat pas dengan thrashmetal. Untuk jurusan powermetal, Michael Kiske rasanya sangat layak. Ya pastinya dari album klasik Keeper of the Sevens Keys Part I dan Part II. So far, tiga nama ini yang menurutku vokalis terbaik di genrenya masing-masing. Tabik!

Pengawal Setia “Old School Thrashmetal”

kreator_-_gods_of_violence
Gods of Violence, album baru Kreator

Ada yang menarik perhatian dari ponsel Androidku belakangan ini. Tiap mengecek ponsel saat bangun pagi, suka ada notifikasi. Bukan message atau email, tapi misalnya skor pertandingan Juventus, ditandai ikon bola. Lalu, ada berita-berita yang menarik. Nah, pagi ini muncul ikon “G” logo Google. Begitu diklik, isinya ternyata pemberitahuan bahwa album baru Kreator yang bertajuk Gods of Violence sudah dirilis.

Sepertinya, Google mencatat minat kita dan secara berkala menghadirkan cards berisi informasi yang kira-kira bakal kita minati. Aku lihat, deretan cards yang muncul kalau aku membuka Google now memang tidak jauh-jauh dari Juventus, Kreator, Casey Neistat, atau update dari blog-blog yang aku ikuti. How nice… tapi sekaligus mengkhawatirkan juga. Rasanya seperti ada yang memantau kita terus-menerus.

Anyway, 26 Januari 2017 memang menjadi tanggal rilis album baru Kreator. Di akun resmi Instagram Kreator kemarin memang sudah diumumkan, akan ada official release show yang disiarkan live melalui radio online www.fritz.de/livestream. Sayang, waktu dibuka, aku nggak ngerti karena bahasa Jerman.

Tapi, itulah enaknya sekarang ada Spotify. Begitu ada notifikasi albumnya resmi dirilis, aku langsung cek Spotify. Bener aja, album ini sudah bertengger dengan manisnya. Ada 11 lagu baru yang disodorkan dengan total sepanjang 51 menit 43 detik. Di Spotify, ada tambahan bonus 14 lagu (alamak) yang diambil dari DVD Live at Wacken 2014. Mantap!…

Sebagai teaser, aku sudah sempat menyimak “Satan is Real” sejak sebulan silam, dilanjutkan kemarin-kemarin ini “Totalitarion Terror”. Dua nomor ini saja sudah cukup untuk mereka-reka, bakal seperti apa album baru Kreator ini.

Kembali ke akar

Seperti aku sampaikan pada posting terdahulu, Kreator merupakan lapis kedua dari elite thrashmetal. Mereka masih di luar the big four, tetapi bisa dibilang merupakan yang terbesar di Eropa—sejajar dengan Sepultura di Brasil. Secara karakter, thrashmetal ala Kreator berbeda dengan kompatriot mereka dari AS. Musik mereka cenderung lebih kasar dan agresif. Sementara itu, vokal suara palsu Mille terdengar penuh kemarahan. Bandingkan dengan vokal Mustaine yang lebih terdengar seperti nenek-nenek cerewet.

Mari kembali sejenak ke masa lalu. Extreme Aggression yang dirilis 1989 imho menjadi salah satu pencapaian puncak Kreator. Kreator masih mengeluarkan album keren Coma of Souls setahun kemudian, tapi sehabis itu mereka mulai bereksperimen. Awal dekade 1990-an menjadi titik persimpangan genre thrashmetal, sebelum kemudian habis diterpa kebangkitan grunge.

Banyak yang bingung menentukan arah, termasuk dedengkotnya, Metallica, yang malah mengeluarkan album Metallica atau lebih dikenal sebagai black album. Anthrax, Testament, dan Sepultura juga bereksperimen, meninggalkan akar thrashmetal yang cepat dan agresif. Kreator sami mawon, bereksperimen dengan corak industrial pada album Renewal (1992) yang terbukti kemudian menjadi pembaruan yang gagal. Bahkan, Mille berusaha meninggalkan vokal palsunya dan mencoba bernyanyi dengan suara “asli”. Tapi, itu bukan Kreator yang dikenal orang.

Masa terhilang itu berlangsung hingga pergantian milenium. Pada 2001, masuk Sami Yli-Sirnio yang berusia lebih muda sekitar satu dekade dibandingkan personil-personil Kreator lainnya. Masuknya darah segar ini benar-benar menyegarkan. Tahun itu juga Kreator merilis Violent Revolution. Aku ingat, lagu pertama album itu judulnya “Reconquering the Throne”. Yup, Mille sudah datang kembali dan bersiap mengambil alih tahta sebagai jawara metal yang selama ini mereka tinggalkan. Mereka kembali dengan akar musik thrashmetal yang membesarkan mereka. Cepat, agresif, dan penuh kemarahan. Album ini juga yang membuat aku mendengarkan kembali Kreator.

Perang dan kehancuran

Pasca Violent Revolution, Kreator konsisten mengeluarkan album tiap 3-4 tahun. Dan, Gods of Violence ini merupakan album kelima dengan formasi yang sudah ajeg sejak masuknya Sami.

Sejak pagi, aku sudah mendengarkan album ini utuh satu putaran. Kesan secara umum, yesss… ini Kreator yang aku kenal. Mereka yang terobsesi dengan kecepatan dan agresivitas dijamin puas. Semua yang disukai fans dari Kreator ada di sini. Sebagian orang mungkin bilang, apa nggak bosan? Tapi, justru aku bilang, katalog lagu mereka makin banyak sehingga pilihan jadi lebih banyak.

Patut diingat, band-band thrashmetal seperti Kreator ini tidak akan menelurkan hits yang bakal nangkring di tangga lagu populer. Tidak. Menikmati musik mereka justru lebih asoy kalo didengarkan dari awal sampai habis. Ibarat novel, dari awal, pertengahan, hingga habis, kita dibawa menjelajahi pengalaman musikal. Untuk itu, turun-naik tempo dan emosi yang dibangun menjadi lebih penting.

“Apocalypticon” menjadi intro yang menegaskan arah perjalanan kita kali ini. Judul instrumentalia yang bagaikan tabuhan genderang perang ini seakan mengisyaratkan tentang sebuah kisah kehancuran yang akan kita hadapi. Langsung aja, nomor kedua garukan gitar Sami dan Mille dan gempuran drum Ventor menggebrak, “World War Now”. Peperangan dan kehancuran menjadi tema dan benang merah album ini.

Seperti kebiasaan yang mulai aku amati sejak Violent Revolution, Kreator selalu menyisipkan part untuk sing along yang diulang-ulang pada bagian reff. Kebayang, kalau lagi konser, pada bagian ini pasti teriakan membahana bersama tangan-tangan yang teracung ke udara.

Sami bukan hanya mengembalikan kecepatan dan agresivitas Kreator. Sejak kehadirannya, aku merasa Kreator menjadi lebih melodius. Di beberapa bagian juga dapat disimak nada-nada klasik, misalnya pada solo “Gods of Violence”. Satu lagi yang seakan menjadi pola adalah hadirnya lagu mid tempo yang easy listening, seperti “People of the Lie” atau “Violent Revolution”. Nah, di album ini, tugas itu diemban “Fallen Brother”.

Overall, dari awal sampai habis, telinga diajak berpacu. Memang, ada beberapa titik jeda dengan hadirnya intro-intro gitar akustik, tapi langsung disambar lagi dengan distorsi penuh. Benar-benar maknyus. Nomor-nomor yang kuat menurutku “World War Now”, “Lion with Eagle Wings”, dan “Fallen Brother”.

Matang, tapi tidak orisinal

Barusan sempat ngobrol singkat dengan Aldo, temen kantor yang juga gitaris band metal. Aku perdengarkan album baru ini sekilas, dia cuma berkomentar singkat, “Soundnya jadoel.” Hehehe, mungkin aku yang sudah tidak mengerti atau ketinggalan, sound metal yang modern itu kayak apa. Tapi, untuk ukuran orang sebayaku, yang sudah menapaki kepala empat, yang nikmat itu ya begini. Ketimbang band-band metalcore atau metal alternatif yang menurutku terlalu rumit.

Yep, setiap orang pasti merupakan anak zamannya. Zaman boleh berubah, tapi selera atau cinta mula-mula sulit berubah. Aku jadi merasa seperti para seniorku, yang zaman waktu thrashmetal meledak, masih saja setia menantikan album baru dari Purple, Stones, atau Zeppelin. Aku tidak akan pernah lupa masa-masa labil yang penuh kemarahan zaman SMA dan mahasiswa dulu. Dan, setiap kali aku akan mengingat sebaris lirik dari lagu “Love Us Or Hate Us”: “…. we don’t want to be a part of this sick society“. Lepas banget rasanya.

Untuk genre seperti ini, secara teknik dan kualitas permainan, rasanya sudah advance. Orisinalitasnya yang sudah sulit berkembang. Di genre ini, so far Kreator dan Slayer yang tetap setia dengan formula “orisinal” seperti yang mereka tawarkan tiga dekade silam. Menurutku, lebih baik begitu. Tidak usahlah mereka bereksperimen lagi seperti pada era Renewal dulu. Bukannya tidak mau open mind, tapi biarlah masing-masing punya karakter dan ciri khas sendiri.

Gitu aja review selintas yang berkepanjangan ini. Yuk mari jajal di sini.

“Copy this and post as your status update”: 12 Album dan Lagu Klasik Thrashmetal

big-four

Sepanjang minggu kemarin, aku banyak membaca status orang di Facebook kira-kira demikian: “Rules of the Game: Copy this and post as your status update. List 12 albums that made a lasting impression on you, but only 1 per band/artist. Don’t take too long and don’t think too hard. Tag 12 friends to do the same, including me, so I can see what you chose.”

Selalu menarik untuk menyimak daftar-daftar beginian. Sempat tertarik untuk ikut-ikutan. Setelah jadi dan disimak ulang, kok isinya kebanyakan dari genre thrashmetal. Nggak heran juga sebenarnya, karena genre ini aku gilai sejak SMA dan masih sampai sekarang. Aku terpikir, ketimbang bikin daftar album dari band acak, mengapa tidak bikin khusus dari genre ini saja. Lebih lagi, sebagai rekomendasi bagi yang pengen mencicipi maknyusnya genre ini, langsung aku pilihkan lagu favorit dari tiap album, yang bisa memberikan gambaran tentang album dan band yang bersangkutan.

Sebagai fans thrashmetal (baca: old school thrashmetal), daftar yang aku bikin ini umumnya album terpopuler band-band thrashmetal generasi awal. Ini adalah etalase yang menggambarkan gaya khas tiap-tiap band dan—menurutku—pencapaian puncak pada saat musik mereka mencapai kematangan. Sebagai genre yang berkembang pada paruh pertama dekade 80-an, band-band ini rata-rata mencapai kematangan setelah album ketiga, yang dirilis pada paruh kedua dekade 80-an hingga awal dekade 90-an.

Di genre ini juga dikenal istilah “the big four”, untuk menyebut empat band terbesar dan tersukses (secara komersial?). Untuk memudahkan, urutan pada daftar ini mengikuti pamornya. Tentu saja berdasarkan penilaian dan selera subyektifku. Jadi, setelah the big four, pada urutan berikutnya, dari 5-8, adalah lapis kedua yang sangat disegani, tapi pencapaiannya belum mampu menyamai the big four. Lalu, lapis ketiga, pada urutan 9-12, benar-benar selera pribadi.

Untuk melengkapi, aku juga memasukkan 3 honorable mention. 2 band mungkin agak jarang terdengar tapi cukup potensial dan punya karakter tersendiri. Terakhir, 1 band dari Tanah Air yang mengiringi “masa berseminya cinta pada thrashmetal”.

So, berikut daftar selengkapnya plus link ke Spotify kalau mau menyimaknya.

  1. “Master of Puppets” dari album Master of Puppets (1986) oleh Metallica

Apakah masih perlu dijelaskan? Ini adalah nomor tajuk dari album masterpiece band thrashmetal nomor satu di dunia. Perkara kemudian Hetfield dkk bereksplorasi dengan gaya musik yang berbeda tidak dapat menghapuskan kepeloporan mereka.

Banyak orang boleh bilang Ride the Lightning (1984) merupakan album terbaik mereka. Sah-sah saja, karena di situ konsep thrashmetal Metallica sudah mewujud dengan segala elemennya. Tapi, menurutku, di album Master of Puppets-lah konsep itu menjadi matang. Nomor tajuk ini menjadi etalase bagaimana seharusnya thrashmetal dimainkan, dengan riff-riff gitar yang cepat dan dalam, serta seksi ritem yang solid dan agresif. Imho, inilah pencapaian puncak dari sang jawara thrashmetal.

Secara pribadi, nomor ini juga begitu berkesan, karena waktu nge-band dulu, mampu (dan berani) membawakan lagu ini di pentas benar-benar pencapaian. Trash, band pada zaman SMA di Medan dulu, pernah dua kali membawakan lagu ini. Yang pertama, di ajang Medan Fair tahun 1991, kami bahkan membawakannya dalam format trio. Benar-benar nekat, tapi sekaligus nikmat. Bodo amat apa kata orang, tapi this is the truest Metallica’s song baby…

  1. “Holy Wars… The Punishment Due” dari album Rust in Peace (1990) oleh Megadeth

Mustaine mungkin menyimpan dendam membara setelah didepak dari Metallica. Dari tiga album sebelumnya, dengan personal yang bergonta-ganti, dia terus mencoba membayangi Metallica. Namun, pada album dengan formasi klasik Mustaine, Ellefson, Friedman, dan Menza inilah mereka mampu memberi tekanan yang sangat serius.

Sejujurnya, musik dan terutama gaya bernyanyi Mustaine kurang kena di kupingku. Tapi, tidak dengan album ini. Ketika pertama kali mendengar intro “Holy Wars…”, aku kayak “whoaaa….” langsung terperangah dan adrenalin pun mengalir kencang. Gebukan drum Menza dan shreddingnya Friedman benar-benar menghanyutkan, sehingga aku lupa bahwa Mustaine masih bernyanyi dengan suaranya yang bikin sakit kuping itu. Hingga sekarang, cuma inilah album Megadeth yang sering aku ulik. Dan, nomor pembuka ini benar-benar penantang yang setanding dengan sang kampiun.

  1. “War Ensemble” dari album Seasons in the Abyss (1990) oleh Slayer

Banyak orang akan menyebut Reign in Blood (1986) sebagai album terdahsyat Slayer dan “Angel of Death” sebagai ikonnya. Memang benar, album itulah yang memastikan Slayer menjadi sejajar dengan the big four lainnya. Tapi, menurut selera pribadiku, Seasons in the Abyss merupakan album yang lebih variatif—ketimbang Reign in Blood yang cenderung ngebut semua. Dan, nomor pembuka ini juga menjadi etalase yang menjelaskan gaya thrashmetal versi Slayer.

Dibandingkan sound Master of Puppets dari Metallica yang crunchy dan Rust in Peace dari Megadeth yang sophisticated, Slayer di album ini terdengar kasar dan gelap. Dari jurusan inilah nanti thrashmetal berkembang menjadi deathmetal atau blackmetal. Duet gitar King dan Hanneman terdengar menderu-deru, vokal Araya yang menggeram, dan gebukan Lombardo yang brutal—semua tetap terjaga dalam tempo dan momentum yang membuat darah terus menggelegak.

  1. “Imitation of Life” dari album Among the Living (1987) oleh Anthrax

Satu-satunya anggota the big four yang bukan berasal dari kawasan California atau Pantai Barat Amerika. Anthrax berasal dari sisi timur Amerika, tepatnya di The Big Apple, New York City. Rasanya banyak penggemar akan mudah sepakat bahwa Among the Living merupakan pencapaian terbaik Anthrax dibandingkan album-album sebelumnya. Namun, yang menjadi sulit adalah memilih salah satu nomor favorit dari album keren yang didedikasikan bagi Cliff Burton, mendiang basis Metallica yang saat album ini diluncurkan belum lama meninggal dalam kecelakaan.

Dari nomor pembuka hingga nomor pamungkas semuanya keren. Aku sempat mendua antara “Imitation of Life” atau “Caught in the Mosh”. Akhirnya aku memilih nomor ini karena memang aku lebih terobsesi dengan kecepatan. Nomor pamungkas ini lebih brutal dan menunjukkan semua karakter khas Anthrax yang berbeda dengan anggota the big four lainnya. Jangan bandingkan Dan Spitz dengan Kirk Hammett, Dave Mustaine, atau Marty Friedman. Hetfield pun barangkali masih lebih jago ketimbang Scott Ian. Namun, soal riff-riff metal yang solid dan beraura gembira, Spitz dan Ianlah jagonya. Inilah Anthrax yang konyol, nggak jago, tapi lagunya enak didengar.

  1. “The Haunting” dari album The Legacy (1987) oleh Testament

Bay Area di San Francisco California akan dikenal sebagai starting point thrashmetal, karena banyak nama-nama beken genre ini berawal dari sini, termasuk Metallica dan Megadeth. Masalahnya, dua band itu sebenarnya pendatang. Justru pemain lokal seperti Testament, kalah pamor sehingga meski tetap disegani masih dianggap belum sejajar dengan the big four.

Debut album The Legacy merupakan album thrashmetal yang cukup solid, tapi sulit menemukan nomor yang benar-benar mengena. Yang nyangkut di telinga justru nomor unik “Alone in the Dark”. Tapi, untuk menggambarkan Testament, imho dengarlah “The Haunting”. Inilah thrashmetal ala Testament, yang cepat, agresif, dan berkarakter gelap. Ciri khasnya adalah duet gitar Peterson dan Skolnick yang sangat dinamis. Seperti pada lagu ini, riff-riffnya sangat melodius dan garang pada saat bersamaan. Vokal Chuck Billy yang beraroma kemarahan memberi karakter lain.

Barangkali, pada formasi awal ini titik lemahnya ada pada drummer Louie Clemente. Lagu ini kemudian dirilis ulang pada album kompilasi First Strike Still Deadly (2001), tapi tukang gebuknya udah ganti jadi John Tempesta. Lebih bertenaga memang, tapi justru vokal Billy jadi seperti kehilangan energi. Mungkin karena sudah tidak muda lagi. Kalau mau dengar versi yang raw, silakan simak di The Legacy. Tapi, kalau mau yang lebih polished, bisa jajal di First Strike Still Deadly.

  1. “Extreme Aggression” dari album Extreme Aggression (1989) oleh Kreator

Dari Essen, Jerman, wabah thrashmetal juga merebak. Penyebarnya adalah Kreator. Thrashmetal yang mereka tawarkan relatif berbeda ketimbang sejawatnya di Amerika. Orang-orang Eropa ini lebih melodius, kelam, dan sarat kemarahan. Wujud paling nyata adalah geraman parau Mille yang lebih tepat disebut sebagai teriakan kemarahan ketimbang bernyanyi. Dan, kemarahan paling pecah dan tumpah adalah di album Extreme Aggression ini.

Gaya unik thrashmetal Kreator sudah mulai stabil di Terrible Certainty (1987), tapi di Extreme Aggression-lah mencapai kematangan. Nyaris semua lagu di album ini menurutku merupakan karya klasik Kreator, termasuk hits MTV “Betrayer” dan “Some Pain Will Last”. Tapi, etalase musik Kreator paling komplit ya di lagu tajuk ini.

  1. “Desperate Cry” dari album Arise (1991) oleh Sepultura

Seperti halnya orang menganggap Ride the Lightning lebih bagus ketimbang Master of Puppets, begitupun banyak yang menganggap Beneath the Remains (1989) lebih keren ketimbang Arise. Tapi, bagiku, di album Arise inilah sound band asal Brasil, Sepultura, paling sempurna. Tidak lebih, tidak kurang. Kalau Beneath the Remains merupakan lompatan dari Schizoprenia (1987) yang masih sangat raw, maka Arise adalah penyempurnaan yang paling pas.

Semua nomor di album ini terhitung sebagai yang klasik dari Sepultura, dengan nilai lebih pada “Dead Embryonic Cells”, “Arise”, dan “Under Siege (Regnum Irae)”. Tapi, bagiku yang paling komplet adalah “Desperate Cry”. Vokal growl Max pada baris awal yang sangat memorable, “Sacrifice if pleasure, when life ends in pain…”, struktur lagu yang dimulai dari intro lambat, berkembang menjadi mid tempo, hingga kemudian ngebut menjelang melodi, dan kembali mid tempo, sungguh menggugah emosi. Yang jelas, nomor ini hanya bisa dibawakan oleh Max. Karakternya berubah ketika dibawakan oleh Derrick Green.

  1. “Elimination” dari album The Years of Decay (1989) oleh Overkill

Ini adalah sejawat Anthrax, sama-sama berasal dari Pantai Timur, dan formasi awalnya pun sempat diisi oleh Dan Spitz. Berangkat dari akar musik punk, Overkill kemudian mengambil momentum mewabahnya thrashmetal. Tidak tanggung-tanggung, mereka meng-copy template yang dibikin Metallica. Simak saja intro “Elimination”, bohong banget kalau tidak teringat pada “Master of Puppets”. Namun, Overkill mampu memberikan sentuhan dan karakter yang berbeda, utamanya karena vokal Bobby Ellsworth yang khas.

Kalau mau tahu sound “standar” thrashmetal, ya simak saja Overkill. Beginilah seharusnya old school thrashmetal dimainkan.

  1. “Agent Orange” dari album Agent Orange (1989) oleh Sodom

Kompatriot Kreator. Album ini merupakan kontribusi terakhir Frank Blackfire, sebelum kemudian bergabung dengan Kreator dan membuat Coma of Souls (1990). Mengangkat tema peperangan, dari sisi sound dan gaya bermusik, Sodom cenderung lebih “kalem” dibandingkan Kreator. Meski demikian, thrashmetal yang ditawarkan tetap solid dan bertenaga, seperti dapat disimak pada nomor tajuk album ini.

  1. “The Toxic Waltz” dari album Fabulous Disaster (1989) oleh Exodus

Bersama-sama Testament, Exodus adalah dedengkot Bay Area. Band ini sebenarnya dibentuk oleh Kirk Hammett, tetapi ia kemudian bergabung dengan Metallica ketika Dave Mustaine ditendang. Meski demikian, Gary Holt dkk jalan terus dan menghasilkan sejumlah album thrashmetal yang dianggap klasik, salah satunya Fabulous Disaster. “The Toxic Waltz” merupakan lagu Exodus paling terkenal. Lagu ini bercerita tentang keriuhan di moshpit, salah satu fenomena khas yang mewarnai konser band-band thrashmetal.

  1. “New Song” dari album Handle with Care (1989) oleh Nuclear Assault

Ini juga genk New York, bersama-sama Anthrax dan Overkill. Dibentuk antara lain oleh jebolan Anthrax, Dan Lilker, aroma punk masih sangat kentara pada musik Nuclear Assault. Simak saja gaya bernyanyi John Connelly. Menurutku, ini salah satu album thrashmetal keren dengan warna yang sedikit berbeda.

  1. “Fake Healer” dari album Blessing in Disguise (1989) oleh Metal Church

Nama Metal Church melejit setelah album debut selftitled pada 1984. Namun, album ketiga inilah yang menurutku karya klasik terbaik mereka. Nomor pembuka “Fake Healer” ini paling mantap untuk dijadikan teman headbang gila-gilaan. Begitu heavy sekaligus groovy. Sayang, album ini tidak sediakan Spotify. Jadi, untuk mengenal Metal Church, sila didengar nomor selftitled dari album debut mereka.

Honorable mention termasuk:

  1. “Choir of Horrors” dari album Messiah (1991) oleh Messiah

Ini band Swiss yang potensial pada masanya. Album selftitled ini menurutkan sangat keren sebagai karya klasik thrashmetal. Sayang, band ini akhirnya nggak ke mana-mana.

  1. “The Clerical Conspiracy” dari album Dreamweaver (1989) oleh Sabbat

Warna thrashmetal band asal Inggris ini sangat unik. Sound gitarnya yang full distorsi cempreng habis. Sementara vokalisnya Martin Walkyier bisa menyanyi tak putus-putus. Mengangkat tema folklore dan kisah-kisah abad pertengahan, band ini salah satu favorit, meski mungkin tidak banyak dikenal.

  1. “Seruan Setan” dari album 10 Finalis Festival Rock Se-Indonesia Ke-VI (1991) oleh Valhalla

Satu-satunya band Tanah Air yang aku masukkan. Maklum, anak Medan coi. Siapa yang tak kenal nama bandnya Bang Kevi dan Iruv ini. Boleh jadi Roxx lebih dulu mengeluarkan lagunya di kaset, tapi baru Valhalla yang mengeluarkan lagu thrashmetal.

So, itulah daftar pilihanku. Kalau mau mendengar sekaligus, aku sudah menyusunnya jadi playlist di Spotify. Silakan follow di sini. Tabik!

Lebih Seru dan Menyenangkan Menggunakan Spotify

music-on-your-smartphone-1796117_640
Kini lebih praktis gunakan Spotify. (Photo by Pixabay.com)

Praktis Spotify kini menjadi aplikasi utama bagi saya untuk mendengarkan musik. Database lagu yang banyak banget dari berbagai genre dan periode waktu serta kemudahan penggunaan menjadi alasan utama. Sudahlah, lupakan mengunduh musik bajakan. Selain makin repot mencarinya, riskan juga terkena virus. Jauh lebih praktis dan efisien mendengarkan di Spotify. Harganya toh nggak mahal-mahal amat. Dan, pengalaman saya, lebih mudah juga ketimbang membeli album satu per satu.

Sebagai aplikasi, Spotify juga memiliki dan menawarkan fitur-fitur yang menyenangkan—yang membuatnya lebih diminati ketimbang aplikasi sejenis lainnya. Kalau mau digali, ada fitur-fitur menarik yang membuat dengar musik lebih seru dan menyenangkan. Berikut adalah beberapa di antaranya.

Jajal musik baru

Meski menggilai Iron Maiden dan Metallica, ada waktunya saya bosan mendengarkan playlist standar yang berisi “Master of Puppets”, “Creeping Death”, “Two Minutes to Midnight”, atau “Wasted Years”. Kadang, saya mulai mendengarkan track-track yang kurang dikenal, sebut saja “Trapped Under Ice” atau nomor-nomor di St Anger. Atau, boleh juga mendengarkan lagi Maiden era Blaze Bayley atau Paul Dianno.

Ternyata, ada cara lebih seru yang ditawarkan Spotify.

whatsapp-image-2017-01-06-at-7-04-21-pm
Playlist Discover Weekly, suka ada nomor-nomor keren.

Setiap minggu, Spotify menawarkan playlist Discover Weekly. Playlist ini disusun berdasarkan musik yang biasa kita dengar. Mirip zaman dulu, waktu masih eranya musik pakai pita kaset, banyak yang suka bikin kaset kompilasi. Nah, kira-kira ini yang bikin kompilasi adalah teman yang mengerti selera musik kita. Seperti minggu ini, saya ditawarkan untuk mendengarkan “Deathhammer”, sebuah nomor dari album bertajuk sama, besutan band Asphyx. Ini ternyata salah satu band death metal Belanda yang dibentuk oleh eks pemain Pestilence. Nomor yang cukup gahar dan bersemangat. Mungkin karena playlist saya selama ini sering berisi nomor-nomor death metal kali ya.

Ada juga lagu unik bertajuk “Cry of the Banshee” dari album Defender of the Crown milik band bernama Brocas Helm. Band yang berdiri awal dekade 80-an ini ternyata berasal dari Bay Area, kawah candradimuka tempat para dedengkot thrashmetal seperti Metallica dan Exodus muncul. Tapi, Brocas Helm justru memunculkan elemen-elemen power metal, bahkan chant-chant gregorian. Sementara, permainan basnya mengingatkan pada Steve Harris Iron Maiden. Hehehe, benar-benar unik. Jadi pengen denger lagu-lagu mereka yang lain.

Menurut Spotify, lebih dari 1 triliun lagu telah diputar melalui Discover Weekly dan lebih dari 70 persen pendengar menyimpan setidaknya satu track dari playlist itu ke playlist mereka. Jadi, kalau pengen mendengarkan lagu atau musik yang lain, Discover Weekly bolehlah dijajal.

Berbagi lebih seru

share
Share ke Facebook dengan embed code.

Sekarang zamannya sharing. Entah karena pengen dianggap keren atau memang yang dibagikan itu mungkin diminati orang lain, dengan gampang kita meng-klik tombol “share”. Tidak terkecuali untuk musik. Biar terlihat cadas, boleh dong sekali-sekali membagikan nomor ajaib dari Metallica, padahal mungkin sendirinya keberisikan, hehehe… (kalo tersinggung salah sendiri ya, siapa suruh baca)

Nah, dengan menu “share” di ponsel, Spotify memberikan pilihan untuk “post to…” untuk membagikan ke aplikasi media sosial populer seperti Facebook atau Twitter. Pilihan lain adalah “send to…” untuk membagikan ke email atau aplikasi pesan instan seperti SMS atau Whatsapp.

Selain itu, pada versi desktop, Anda juga dapat copy link, URL, atau embed code. Yang terakhir ini, kalo di-paste di Facebook, akan memunculkan kotak player kecil berikut cover album, sehingga tampak lebih keren.

Intip dan sembunyi

privat
Private session dulu kalau mau bergalau-galau.

Mendengarkan musik itu lebih seru kalau ada teman. Kita saling merekomendasikan lagu yang kita anggap keren dan orang lain mesti dengar. Dengan Spotify, kita tidak harus bertemu secara langsung untuk dapat saling merekomendasikan lagu. Bahkan, kita tak perlu repot berkoar-koar membagikan lagu melalui media sosial.

Di Spotify, kita dapat berteman dengan pengguna lain. Antarpengguna dapat saling melihat aktivitas di Spotify, ini orang sedang mendengarkan lagu apa. Ini cara yang elegan untuk pamer selera musik ketimbang share ke mana-mana. Biarin orang lain yang kepo melihat sendiri apa yang sedang kita dengar. Tapi, ada kalanya, Anda mungkin sedang pengen larut dalam lagu-lagu galau tapi tidak pengen ketahuan. Jangan khawatir, tersedia menu “Private Session”.

Unduh untuk hemat data

offline
Pindahkan ke Offline mode untuk hemat data.

Pada dasarnya Spotify merupakan layanan streaming musik. Artinya, untuk mendengarkan musik, Anda harus punya koneksi internet. Namun, kalau Anda sedang tidak punya koneksi internet misalnya bertualang ke alam bebas, jangan khawatir karena Anda masih tetap dapat menggunakan Spotify.

Ini hanya berlaku bagi pengguna premium. Anda dapat mendownload album atau lagu pilihan, lalu mengaktifkan tombol “Available Offline”. Lagu-lagu yang dapat didengarkan secara offline akan ditandai oleh ikon berwarna hijau. Spotify membatasi maksimum lagu yang dapat didengarkan secara offline pada sebuah device adalah sebanyak 3.333 lagu. Opsi offline ini berlaku hingga maksimal 30 hari sebelum pengguna diminta untuk online lagi.

Demikian beberapa fitur menarik yang membuat pengalaman menggunakan Spotify jadi lebih menyenangkan. Anda punya tips/trik menarik lain menggunakan Spotify? Bolehlah dibagikan di kolom komentar. Tabik!

“The King of Metal is Back… Hail!!!”

metallica-in-spotify
Tampilan di Spotify.

Yup. Sang raja sudah kembali. Yang lain boleh minggir. Penantian panjang setelah Death Magnetic dirilis pada 2008 tuntas sudah. Selama delapan tahun itu, Metallica acap dicaci karena tak kunjung menelorkan album.

Dibandingkan tiga godfather thrashmetal lain, Metallica kalah produktif. Pada rentang yang sama, Slayer dan Anthrax menelorkan dua album. Megadeth, rival lama Metallica, lebih produktif lagi, dengan menelorkan empat album. Terakhir, dalam tahun ini juga, Mustaine dkk merilis Dystopia. Jadi, wajar kalau fans Metallica sudah tak sabar menanti kehadiran album baru.

Rumour tentang album baru Metallica meruyak pada Oktober 2011, ketika Trujillo mengatakan Metallica kembali ke studio untuk mengerjakan album baru. Si Yahudi brewok Rick Rubin yang juga menjadi sosok di balik album band-band seperti Slayer, AC/DC, dan Aerosmith, disebut-sebut ikut terlibat. Namun, belum diketahui, kapan persisnya album baru tersebut akan dirilis.

Tahun demi tahun berlalu, aku pun tidak terlalu ambil pusing lagi dengan album baru Metallica. Ketika akhirnya video “Hardwired” dirilis sehari setelah HUT RI ke 2016, aku tak terlalu antusias. Ini tampaknya akan menjadi lagu tajuk dari album yang tajuk resminya Hardwired… to Self-Destruct. Judul yang aneh menurutku.

Dibandingkan ketika Death Magnetic keluar, orang akan membandingkannya dengan St Anger, sehingga jelas merupakan lompatan yang menyenangkan ke “jalan yang benar”. Mendengarkan “Hardwired”, aku merasa tidak ada yang baru. Ini cuma perpanjangan dari Death Magnetic. Tidak jelek, tapi ya gitu deh… biasa aja.

Ketika “Moth Into Flame” keluar sebulan kemudian, ini pun kental nuansa Death Magnetic. Tapi memang harus diakui cukup keren. Kalau dimasukkan di Death Magnetic, pasti menjadi salah satu nomor yang kuat. Namun, sampai di sini pun, tak menggugah minat lebih jauh. Metallica masih sempat mengeluarkan satu single lagi, “Atlas, Rise!” Biasa…

channel-metallica
Tiap dua jam, muncul video baru di channel Youtube Metallica.

Semua berubah drastis sehari sebelum album ini dirilis. Ya, kemarin, mendadak setiap dua jam Metallica mengeluarkan klip video musik dari album barunya. Tak pelak, sepanjang sore hingga malam kemarin, aku sibuk menyimak video tersebut satu per satu. Baru terbayang wujud album secara keseluruhan. Dan, seperti kata paham holistis, keseluruhan memberikan aksentuasi yang berbeda dibandingkan jumlah bagian-bagiannya. Yup, ini satu album utuh yang keren.

Pagi ini, ketika bangun sebelum pukul lima, aku langsung menyambangi Spotify. Dan, Hardwired… to Self-Destruct sudah nangkring dengan manisnya.

Versi resminya (seperti tertera di situs web Metallica), susunan lagu di album ini adalah sebagai berikut:

DISC ONE

  1. HARDWIRED
  2. ATLAS, RISE!
  3. NOW THAT WE’RE DEAD
  4. MOTH INTO FLAME
  5. DREAM NO MORE
  6. HALO ON FIRE

DISC TWO

  1. CONFUSION
  2. MANUNKIND
  3. HERE COMES REVENGE
  4. AM I SAVAGE?
  5. MURDER ONE
  6. SPIT OUT THE BONE

Tapi, di Spotify, ada tambahan berikut:

  1. Lords of Summer
  2. Ronnie Rising Medley (A Light in the Black/Tarot Woman/Stargazer/Kill the King)
  3. When a Blind Man Cries
  4. Remember Tomorrow
  5. Helpless – Live
  6. Hit the Lights – Live
  7. The Four Horsemen – Live
  8. Ride the Lightning – Live
  9. Fade to Black – Live
  10. Jump in the Fire – Live
  11. For Whom the Bell Tolls – Live
  12. Creeping Death – Live
  13. Metal Militia – Live
  14. Hardwired – Live

Total ada 26 lagu yang dimuntahkan. Busyet… Mungkin mereka gedeg diolok-olok selama ini, jadi sekalian aja. Ibarat kalau lagi makan, porsinya porsi batak dewasa. Blenger blenger dah…

Jadi, apa yang bisa dikatakan setelah satu putaran penuh mendengarkan album ini?

Pertama, seperti judul tulisan ini, sang raja metal sudah kembali. Ini tak dapat ditolak. Sama yakinnya aku bahwa album ini akan sukses di pasar. Inilah metal yang sebenar-benarnya, yang dibawakan oleh maestronya. Bukannya album ini tanpa kekurangan, tapi berbagai sisi menariknya lebih dari cukup untuk menutupi berbagai kekurangannya.

Kalau mau dibilang album ini kepanjangan dari Death Magnetic, dilihat dari sound yang dikembangkan, boleh-boleh saja. Tapi, menurutku, sound yang dikembangkan sejak Death Magnetic makin matang di album ini.

Upaya lain yang kelihatan adalah menziarahi kembali akar-akar musik Metallica. Secara gamblang, ini diperlihatkan melalui sejumlah lagu tribute. Nomor yang aku kenal yaitu Remember Tomorrow, lagu Maiden dari periode Dianno. Seperti diakui sendiri oleh Metallica, lagu ini merupakan blue print dari lagu semacam “Fade to Black” dan “Sanitarium”. Jejak Maiden, khususnya pada periode emas The Number of the Beast hingga Powerslave, dengan mudah tercium pada riff-riff lagu “Atlas, Rise!” dan “Halo on Fire”.

Nomor lain adalah “When a Blind Man Cries”, balad dahsyat milik supergrup hardrock Deep Purple. Ulrich kelihatannya memang tergila-gila pada band Inggris ini, seperti pernah terlihat pada video Cliff em All, betapa dengan girang ia menirukan pukulan drum pada intro lagu “Black Night”. Di tangan Metallica, “When a Blind Man Cries” jadi lebih cadas.

Terus, bohong banget kalo nggak teringat lagu “Am I Evil” waktu dengerin drumnya Ulrich di intro lagu “Confusion”. Tapi, begitu masuk ke riff-riff awal, kocokan gitarnya terasa menyambar-nyambar lagu “Eye of the Beholder” dari album Justice.

Sementara itu, “Now That We’re Dead” mengingatkan pada “Seek and Destroy”. Tapi, terutama pada bagian reff-nya, bisa juga disandingkan dengan lagu-lagu heavymetal standar pada periode 1980-an. Hetfield benar-benar “bernyanyi” di sini. Juga pada lagu “Here Comes Revenge” atau “Am I Savage”. Mungkin kembali pada masa-masa Load dan Reload? Entahlah, karena aku tidak pernah mendengar kedua album itu. Tapi, yang jelas, meski temponya lambat, lagu-lagu tersebut masih terasa heavy dan garang, khas metal. Ya itu tadi, dengan sound Death Magnetic yang makin matang.

Bicara soal tempo yang lambat, ada yang menyarankan untuk coba mendengar “Atlas, Rise!” dengan tempo yang sedikit dipercepat. Kalau di Youtube, coba klik ikon gear dan ubah speed menjadi 1,25. Asli, jadi supermaknyuss… Hahaha, aku yakin, kalau dibawakan live, pasti asyik benar lagu ini.

Lagu yang paling kencang di album ini adalah lagu pamungkas, “Spit Out the Bone”. Whohooo… this is Metallica, baby! Walau tidak segahar “Damage Inc” atau “Dyers Eve”, “Spit Out the Bone” sudah cukup untuk membungkam mereka yang bilang Metallica sudah habis.

Apa yang aku tangkap, Metallica tidak lagi memaksakan diri. Mereka terasa nyaman memainkan musik yang memang mereka ingin mainkan. Di usia personilnya yang sudah lebih dari setengah abad, jelas akan kedodoran kalau konstan bermain di tempo tinggi. Metal toh tak harus kencang, tapi heavy itu pasti. Dan, Metallica kembali memberikan contoh yang tepat bagaimana harus memainkannya.

Kalaupun ada kekurangan, aku merasa Ulrich sekarang seperti kedodoran kalau bermain di tempo cepat. Entah karena setelan snare yang lebih longgar dan injakan bass drum yang kurang kentara, sound drum jadi terdengar “ketinggalan” dan “terengah-engah” mengikuti kocokan gitar yang solid. Fill in-nya juga ketebak. Andai saja Lombardo yang berada di balik set drum, mungkin lebih mantap. Tapi, sedodol-dodolnya Ulrich, dia tetap figur penting yang tak tergantikan di Metallica.

Hal lain adalah Hammett. Pada album ini, untuk pertama kalinya Hammett tidak menyumbang lagu. Permainannya juga standar, banyak melodi yang ketebak, ujung-ujungnya pasti mengandalkan pedal wah. Seperti kata teman aku Wak Bogard, Hammett mestinya malu pada gitaris-gitaris muda zaman sekarang.

Overall, Hardwired… to Self-Destruct merupakan album yang kuat dan sekali lagi membuktikan siapa Metallica sebenarnya. Lagu-lagu yang direkomendasikan yaitu “Atlas, Rise!”, “Now That We’re Dead”, dan “Spit Out the Bone”.

Album ini mungkin bukan masterpiece. Tapi, kalau mau mendengarkan musik metal yang sesungguhnya, silakan dengar dari rajanya, the one and the only Metallica. Hail!

Menampilkan Lirik pada Spotify

dsc_0150
Tampilan lirik pada Spotify di peranti genggam.

Bagi sebagian orang, menikmati musik itu ya dengan menyanyikannya. Mereka nggak bisa cuma diam terpekur, menikmati musik sambil memejamkan mata ala seorang audiophile. Kalau bisa, mereka malah akan bernyanyi sekeras-kerasnya dan jejingkrakan meniru aksi penyanyi aslinya. Nah, buat orang-orang seperti ini, ketersediaan lirik atau teks lagu itu wajib.

Kalau zaman analog dulu, lirik biasanya disertakan pada lembar cover. Tak heran, cover kaset atau CD bisa lecek, karena terus dibolak-balik untuk melihat liriknya.

Bagaimana pada era digital?

Kalau kamu membeli musik dari toko musik digital seperti iTunes, biasanya mereka juga menyertakan lembar cover digital dalam format PDF. Tinggal download, habis itu bisa di-print atau dilihat langsung pada layar.

Nah, bagaimana kalau mendengarkan musik dari layanan streaming seperti Spotify? Sebenarnya, beberapa waktu silam, pada aplikasi Spotify untuk desktop tersedia menu Lirik. Kontennya dipasok oleh Musixmatch. Sayang, pada akhir Mei 2016 silam, Spotify dan Musixmatch bercerai, sehingga fitur ini tidak lagi tersedia di Spotify desktop.

Musixmatch

Namun, bukan berarti kamu tidak bisa menampilkan lirik saat menggunakan Spotify. Untuk pengguna ponsel atau tablet, cara termudah yaitu dengan menginstal Musixmatch.

Musixmatch saat ini memang merupakan tempat tujuan utama pendengar musik digital yang ingin mencari lirik. Aplikasi ini digunakan oleh sekitar 40 juta pendengar musik. Nggak usah heran, pasalnya lirik merupakan salah hal yang paling banyak dicari di Google.

Sekilas, Musixmatch terlihat seperti pemutar musik biasa. Namun, aplikasi ini sejatinya dirancang untuk mencocokkan musik dengan lagu. Itu sebabnya, founder dan CEO Musixmatch Massimo Ciociolia mengatakan, pihaknya menamakan produknya “musixmatch” karena memang bertujuan mencocokkan lirik dengan musik.

Perusahaan yang bermarkas di Bologna, Italia, ini sangat memaklumi betapa pentingnya lirik saat mendengar musik. Dengan adanya lirik, waktu yang dihabiskan orang untuk mendengarkan musik cenderung lebih lama ketimbang tanpa lirik.

Jika kamu memutar musik menggunakan Musixmatch, aplikasi ini secara otomatis akan menampilkan lirik sesuai lagu. Musixmatch juga otomatis akan menampilkan lirik saat memainkan musik menggunakan aplikasi lain, termasuk Poweramp dan Spotify.

Bahkan, kamu juga dapat menampilkan lirik saat menonton video musik di Youtube. Syaratnya, Youtube harus dibuka menggunakan browser Chrome. Tinggal instal extention Musixmatch melalui Web Store, voila… lirik akan muncul saat kamu menonton video musik di Youtube. Silakan berkaraoke bersama teman-teman, dijamin lebih seru.

Jadi, tak perlu bingung lagi mencari lirik saat mendengar musik. Instal saja Musixmatch.