Mengintip “Kos-kosan” Mahasiswa di Jatinangor

Aku ini anak rantau. Lahir di Pematang Siantar, besar di Medan, lalu lanjut kuliah di Bandung. Nah, buat sebagian anak Medan, mendengar nama Kota Kembang, yang segera terbayang adalah mojang-mojang Bandung yang katanya geulis-geulis. Selain itu, Bandung digambarkan sebagai kota yang sejuk, teduh, dan kondusif untuk belajar. Makanya, Bandung menjadi salah satu tujuan perantauan anak Medan untuk menuntut ilmu.

Ketika berangkat ke Bandung pada awal dekade 1990-an, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebagian masa kuliahku akan dihabiskan di tempat bernama Jatinangor. Nama ini pertama mampir di telinga saat penerimaan mahasiswa baru di Aula Unpad Dipati Ukur. Dalam rangkaian acara penerimaan itu, kami para mahasiswa baru wajib mengikuti penghijauan di Jatinangor. Naik bus Damri dari depan kampus Dipati Ukur, untuk pertama kalinya aku pun menjejakkan kaki di Jatinangor.

Kesannya waktu itu, Jatinangor begitu panas dan gersang. Kita udah kayak romusha, bergerombol menanam pohon. Seingatku, sejumlah kampus sedang dalam pembangunan, di antaranya Fisip yang mestinya sudah selesai atau paling nggak mendekati tahap akhir. Kalau tidak salah, setahun kemudian kampus Fisip yang semula di Dago pindah ke Jatinangor. Kampus-kampus yang sudah duluan ke Jatinangor antara lain Pertanian dan Peternakan. Sedangkan Fikom kayaknya waktu itu masih mulai dikerjakan. Baru saat aku semester VI, awal 1994, akhirnya Fikom pindah ke Jatinangor.

Naik bus

Jatinangor adalah kecamatan di Kabupaten Sumedang, sekitar 23 kilometer dari pusat kota Bandung. Saat pertengahan dekade 1990-an, perjalanan naik Damri pagi hari dari Kampus DU tidak sampai sejam. Rutenya Dipati Ukur – Supratman – A Yani – Cicaheum – Arcamanik – Ujung Berung – Cibiru – Cileunyi – Jatinangor. Kalo rada siangan, sudah pasti macet di A Yani – Cicaheum. Makanya, pagi-pagi benar, sekitar pukul enam, sudah harus rebutan naik bus di DU. Biasanya sudah ada 3-4 bus berjejer dan dalam waktu singkat sudah penuh dan mulai berangkat satu per satu.

Rebutan naik bus terjadi lagi pada saat pulang kuliah. Setelah jam makan siang, bus menuju DU yang baru tiba di pemberhentian di depan kampus Unwim (ini kepanjangannya apa ya?) kembali padat. Makanya banyak bela-belain nunggu di depan kampus Ikopin, mencegat bus sebelum tiba di Unwim, biar dapat tempat duduk. Perjuangannya cukup heroik, sehingga suatu kali pernah ada yang terjatuh ke dalam got karena kalah sikut-sikutan. Alamak!

Meski perjalanan Bandung-Jatinangor membutuhkan perjuangan, aku lebih memilih untuk tetap ngekos di Sekeloa. Sedangkan karib-karibku pada pindah semua ke Jatinangor. Alasan mereka biar dekat kampus sehingga tidak perlu keluar biaya transportasi. Ternyata kemudian, mereka tidak betah-betah amat tinggal di Jatinangor. Selain sepi, sejumlah kegiatan memang tetap harus dilakukan di Bandung. Makanya, tempat kosku malah acap menjadi rumah singgah kalau kebetulan temen-temen Jatinangor lagi main ke Bandung.

Sebenarnya, kalo alasannya sekadar biaya transportasi, dengan beli karcis langganan di pool Damri dekat stasiun kereta Bandung, biaya naik bus ini tidak mahal-mahal amat. Lagian, karena biasanya satu bundel karcis langganan tidak bakal habis dipakai sendiri, belinya bisa patungan. Kalau lagi terdesak, ya gerilya saja mencari yang punya lebihan karcis langganan.

Kamar kos

Di Sekeloa, pada tahun 1991, kos-kosan tempat aku tinggal sewanya Rp 350 ribu per tahun. Ini biaya untuk kamar kosong ukuran sekitar 2,5 meter x 2,5 meter. Itu belum termasuk biaya listrik. Kalau membawa komputer PC desktop, biasanya dikenakan biaya listrik tambahan. Hingga aku lulus pada 1997, biaya sewa terakhir yang aku bayarkan cuma Rp 400 ribu per tahun. Soalnya, aku termasuk penyewa setia, nyaris selama 6 tahun di Bandung selalu di tempat yang sama, kecuali setahun ngontrak rumah di Sekeloa Tengah bersama Abang Ember dan Andry. Makanya, induk semangku, Pak Endi, berbaik hati tidak menaikkan biaya sewa.

Kebanyakan kos-kosan di Sekeloa disewakan kosongan. Kalau mahalan dikit, mungkin sudah menyediakan kasur dan dipan plus lemari dan meja belajar. Seorang kawan yang menyewa kamar dengan kamar mandi di dalam, dikenakan biaya Rp 600 ribu per tahun. Ini sudah cukup bagus untuk ukuran kos-kosan kelas menengah.

Lokasinya biasanya gank-to-gank alias masuk-masuk ke dalam gang. Nggak heran, enam tahun bermukim di Sekeloa, aku jadi hafal jalan-jalan tikus dari Pasar Dago hingga Kantor Telkom dan dari Dipati Ukur hingga Sadang Serang. Gang-gang yang berliku-liku dan sambung-menyambung itu menjadi makanan sehari-hari. Nggak perlu khusus olahraga lah, macam temanku Andibachtiar Yusuf yang rajin joging itu. Setiap hari bolak-balik kos-kosan ke kampus Jatinangor aja sudah cukup membakar kalori.

Tinggal di kos-kosan dekat jalan besar itu kemewahan. Apalagi kalo di jalan sebesar jalan Dago. Seperti karibku, Bogard, yang menyewa kos-kosan di Jalan Ir H Djuanda (Dago bawah), kira-kira 300 meter dari Simpang Dago, harus membayar Rp 150 ribu per bulan. Ini mah udah sebesar kiriman bulananku waktu itu. Jelas untuk ukuran mahasiswa kelas menengah (ke bawah), kos-kosan ini tergolong mewah.

Kamar-kamarnya menyatu dengan rumah induk yang sangat besar. Tersedia halaman parkir yang luas dan garasinya juga bisa menampung beberapa mobil. Kamarnya sudah isi, dipan, meja, dan lemari. Selain itu, sudah disediakan pula nasi, sehingga kalau mau makan penghuni cukup membeli lauk. Isinya kebanyakan anak-anak Unpar dan ITB.

Apartemen

Begitulah gambaran kehidupan anak rantau di Bandung tahun 1990-an yang aku ingat. Nah, ketika kemarin ada kesempatan menjenguk Jatinangor, pengen tahu juga, bagaimana kehidupan di kawasan ini dan gaya hidup anak kos zaman sekarang. Frankly speaking, ini tepat dua dekade aku mampir lagi ke kawasan ini setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada Maret 1997 silam. Busyett!…

Denger-denger, Jatinangor sekarang sudah jauh berkembang. Dan, memang, begitu keluar tol Cileunyi, belok kanan, aku nyaris tidak mengenali lagi Kampus IPDN (dulunya STPDN), karena di depannya sudah tegak berdiri apartemen Easton Park Residence. Kampus Ikopin, tempat anak-anak mencegat bus yang baru datang dari Bandung, samar-samar kayaknya masih sama (sejujurnya karena aku juga tak terlalu ingat lagi). Tapi aku sulit menemukan spot tempat anak-anak dulu suka menunggu bus.

Sesudah itu jalan memecah dua, lalu tampak kampus ITB. Sejurus kemudian baru kampus Unpad. Gerbang utama Unpad nyaris tidak aku kenali lagi. Tampak sumpek dan kumuh. Baru setelah diperhatikan baik-baik, tampak bulevar yang tengahnya bertuliskan UNPAD. Ah, betapa nama itu dulu pernah begitu akrab…

Selain Easton Park, ada sejumlah apartemen lain yang sudah tegak berdiri yaitu Pinewood, Skyland, dan Taman Melati. Kebetulan aku sempat mampir ke tempat terakhir. Masuk dari jalan Cikuda, apartemen besutan Adhi Karya ini bersisian dengan kampus Unpad. Menariknya, apartemen ini punya view ke arah Gunung Manglayang dan Jembatan Cingcin, salah satu ikon Jatinangor. Jembatan ini juga menjadi jalan akses mencapai Unpad dengan berjalan kaki. Tembus-tembusnya dekat kampus Fikom.

Mengintip dalemannya, nyaman sekali mahasiswa yang bisa tinggal di Taman Melati. Lantai-lantai bawah dioperasikan sebagai hotel, untuk mengantisipasi banyaknya kegiatan wisuda mahasiswa. Jadi orangtua atau keluarga wisudawan dari luar kota tak perlu jauh-jauh menginap di Bandung. Pinter banget nih pengembang mencium peluang bisnis. Selain kolam renang, terdapat pula mini market sehingga penghuni hanya perlu turun ke bawah kalau cuma membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Konon, katanya, di lantai teratas (roof top) nantinya akan difungsikan sebagai kafe. Alamak mantap kali, sore-sore nongkrong di kafe sambil memandang-mandang Gunung Manglayang bersaput awan. Kalau aku dulu, cukup puaslah memandang-mandang dari jendela kontrakan di Sekeloa Tengah ke arah ladang padi di Sadang Serang (entah masih ada apa nggak tuh padi).

Masuk ke dalam unit yang sudah fully furnished, untuk tipe studio memang tidak terlalu besar, ukuran 3,25 meter x 5,32 meter. Tapi jelas lebih besar ketimbang kamar kosku di Sekeloa dulu. Kamar mandi di dalam dan sudah dilengkapi pemanas air. Kamar sudah pasti ber-AC dan tiap-tiap kamar ada balkon untuk memandang-mandang.

Dengan semakin banyaknya kampus dan fakultas yang pindah ke Jatinangor, termasuk jurusan-jurusan yang dihuni mahasiswa-mahasiswa tajir seperti teknik dan kedokteran, peluang untuk apartemen seperti ini rasanya cukup menjanjikan. Buat mereka, sewa Rp 3 jutaan per bulan mungkin masih terjangkau. Apalagi kalo bayarnya berdua.

Aku cuma bisa membayang-bayangkan saja, seandainya dulu punya fasilitas seperti ini… mhh, nggak tahulah. Nggak terbayang juga. Semoga saja mahasiswa-mahasiswa sekarang itu jadi lebih cerdas-cerdas dan mau berkontribusi buat bangsa ini. Entah dalam bentuk apa pun. Semoga…

Advertisements

Bermain Air di Siang Bolong

snapshot_34
Joker Soaker, ember raksasa penuh air ditumpahkan.

Seperti saya sampaikan pada tulisan pertama seri jalan-jalan ke Legoland ini, karena memesan hotel secara daring, kami dapat membeli add on berupa tiket kombo untuk dua hari dengan harga satu hari. Kali ini, saya mau cerita tentang berenang di water park Legoland.

Kami sekeluarga senang bermain air dan hampir semua water park di seputar Jabodetabek sudah kami sambangi. Sebelumnya, tidak pernah terpikir untuk bermain air di negara orang. Jeremy juga sebenarnya hanya ingin main di theme park Legoland dan terutama menginap di hotelnya. Namun, begitu tahu ada opsi kombo begini, mengapa tidak sekalian?

Theme park, water park, dan hotel Legoland berada dalam satu kawasan resor. Letaknya bersebelahan. Dengan tiket kombo, pengunjung dapat keluar masuk theme park dan water park sesuka hati. Nah, tiket yang kami punya berlaku untuk dua hari. Jadi, lebih leluasa mengatur rencana, mana yang mau dikunjungi duluan.

Kami berencana, hari pertama akan dihabiskan di theme park, karena memang ini alasan utama kami berkunjung. Baru hari kedua kami ke water park. Ternyata, putusan kami keliru. Karena, setiap Jumat dan Sabtu di water park Legoland ada acara Wave Pool Party yang berlangsung dari pukul 5 sore hingga pukul 9 malam. Normalnya, water park tutup pada pukul 6 sore. Tentunya, ikut Wave Pool Party ini kudu bayar. Namun, tamu hotel yang memegang tiket kombo dapat ikutan gratis alias tak perlu bayar lagi. Padahal, kita sudah diberitahu oleh puan resepsionis, cuma nggak benar-benar ngeh. Baru nyadar setelah balik ke Indonesia dan buka-buka lagi websitenya… Ooo, ini tho yang tempo hari diceritakan si mbak-mbak itu. So, lesson learned-nya, ketahui benar setiap produk yang dibeli. Sayang, udah mahal-mahal, tidak dipakai dengan maksimal.

Mejeng dulu sebelum berenang

Setelah hari pertama “menyerah” karena kepanasan di theme park, kami merasa dokumentasi yang dibuat masih kurang. Jadi, setelah sarapan, saat matahari belum tinggi, kami kembali ke theme park.

Pada pagi di hari Minggu itu, pengunjung yang mau membeli tiket Legoland sudah mengular. Jam buka resmi theme park adalah pukul 10 pagi hingga pukul 6 sore. Namun, menurut info puan resepsionis, tamu hotel pemegang tiket kombo bisa masuk lebih awal, yaitu pukul 9. Maka, setelah puas berfoto dengan beragam aksi di area pelataran yang ikonis itu, kami pun menuju pintu masuk.

Ternyata, pengunjung lain pun diperbolehkan masuk. Rada kecewa juga, mana nih katanya dapat privilese. Yang lebih mengecewakan, kita memang diperbolehkan masuk, tetapi wahana-wahananya belum bisa dinaiki. Jadi, kita dipersilakan untuk melihat-lihat toko souvenir. Sama aja bo’ong ini mah.

Kita terpaksa menunggu karena memang mau foto-foto lagi di zona miniatur, mumpung sinar matahari belum terlalu keras. Tidak sia-sia kita datang lebih awal, karena sebelum theme park mulai beroperasi penuh, ternyata ada seremoni pembukaan berupa tari-tarian dari karakter Lego. Jeremy dan sejumlah anak kecil lain diajak untuk ikutan menari. Tidak berlama-lama di theme park, sesuai rencana, kita langsung mengepak koper, check out, menitipkan koper di penitipan hotel, lalu ke water park.

Bus yang akan membawa kita kembali ke Singapura standby pukul 4 sore. Jadi, kita masih punya waktu sekitar setengah hari untuk bermain air. Tapi, ternyata, bermain di water park Legoland menjelang tengah hari bukan ide yang brilian. Matahari begitu terik dan menyengat.

Dibandingkan sejumlah water park di seputar Jabodetabek, terus terang water park Legoland ini tidak terlalu mengesankan. Dibandingkan Ocean Park atau Go Wet, water park Legoland terasa kalah spektakuler dari sisi ukuran. Lantai pada kolam arus juga terasa seperti disemen biasa aja, demikian pula finishing berbagai ornamennya terasa seadanya. Yang membedakan barangkali karena di sini terdapat banyak potongan lego yang bisa dijadikan rakit-rakitan. Jadi, sambil berenang bermalas-malasan, bisa bermain lego.

Kalau tadi ini water park tanpa merek sih tidak apa-apa. Rasanya, kurang pantas aja untuk water park yang mengusung produk mendunia sekelas Lego. Ya namanya jauh-jauh datang ke sini, wajar dong kalau saya punya ekspektasi tinggi. Sayang, ternyata tidak seperti yang diharapkan. Apalagi, yang sangat disayangkan, saat kami berkunjung, ternyata kolam ombak Wave Pool sedang tidak beroperasi. Wuaaa… penonton kecewa.

Beruntung, kolam playground Joker Soaker dengan ember raksasa dan perosotan cukup menghibur, walau terasa agak sesak karena banyak orang sedangkan areanya tidak terlalu besar. Buat yang suka seru-seruan, terdapat banyak pilihan perosotan. Ada Tidal Tube, Red Rush, Brick Blaster, Twin Chaser, Splash N Swirl, Wave Rider, dan Slide Racers. Sayang, Icha tidak berani naik satu pun. Aku dan Jeremy hanya sempat menjajal Red Rush yang tidak terlalu menantang, yaitu meluncur pada perosotan besar naik rakit yang bisa memuat hingga 6 orang.

Untuk fasilitas pendukung, selain kursi-kursi untuk berjemur yang lumayan banyak di kolam ombak, tersedia pula  cabana. Itu tuh, semacam saung untuk tempat beristirahat. Dibandingkan yang terdapat di sejumlah water park di Jabodetabek, cabana di sini cukup bagus karena dilengkapi penyejuk udara dan kulkas mini.

Karena waktu mengepak terburu-buru, kami lupa membawa handuk. Nggak perlu khawatir, di water park ini disediakan handuk sewa. Untuk membilas badan usai berenang yang biasanya di banyak kolam renang jadi masalah karena tempat terbatas, di water park Legoland ini sama sekali tidak masalah. Terdapat puluhan kamar bilas yang merangkap ruang ganti sehingga kami tidak perlu mengantri. Untuk menyimpan barang, tersedia loker digital yang dikunci dengan password. Jadi, kita tak perlu repot-repot membawa kunci. Benar-benar praktis. Saya hanya membawa handphone dan waterproof case serta sejumlah uang untuk makan siang.

Sekira pukul dua, kami sudah bersiap-siap. Mandi dan ganti pakaian, keluar dari water park, lalu makan siang dan mencari oleh-oleh di Mall of Medini, mal di samping hotel Legoland. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini, tapi lumayanlah buat membeli oleh-oleh. Pukul setengah empat, kami sudah menggeret koper menuju halte tempat kami diturunkan pada hari sebelumnya.

Berakhir sudah petualangan di Legoland. Overall, untuk sekadar tahu dan merasakan, bolehlah berkunjung ke tempat ini. Untuk berkunjung kedua kali? Hmmm, kalau ada yang bayarin sih boleh ya 🙂 Beda dengan Tokyo Disneyland, kalau ada waktu dan rezeki, kami masih mau datang lagi.

Saya kurang tahu, apakah karena faktor lingkungan sekitar, Legoland Malaysia ini begitu panas dan rasanya menyengat di kulit. Mungkin kalau udaranya lebih bersahabat, seperti waktu kami datang di pagi hari, akan terasa lebih menyenangkan. Kalau tidak, ya cukup sekian. Terima kasih sudah mau membaca.

Pesta Anak di Malam Hari

snapshot_26
Pesta bocah dengan karakter Lego di malam hari.

Cukup beberapa jam berada di kawasan resor Legoland, Nusajaya, Johor Baru, saya segera mafhum bahwa tempat ini terutama dirancang untuk anak-anak. Ini berbeda dengan Universal Studios atau—bahkan—Disneyland. Universal Studios yang mengacu pada film-film beken Hollywood, jelas banyak ditujukan untuk orang besar. Sementara di Disneyland, meski berbasis karakter kartun anak, sangat lumrah melihat pasangan atau gerombolan orang dewasa menikmati berkeliling taman.

Di Legoland, boleh-boleh saja orang dewasa berkunjung, tapi harus siap kembali menjadi anak-anak. Dan, memang, saya nyaris tidak melihat ada pasangan atau kumpulan orang besar lalu lalang. Semua membawa anak kecil.

Semua fasilitas memang tampak ditujukan bagi anak-anak. Tengok saja mulai dari kamar yang ditawarkan, pilihannya bertema Pirate, Kingdom, atau Adventure. Kamar standar terbagi dua yaitu kamar tidur utama dan kamar tidur anak. Kamar tidur utama berisi tempat tidur berukuran king, sedangkan kamar tidur anak berisi tempat tidur tingkat. Kamar standar ini dapat diisi maksimum 5 orang.

Jeremy langsung betah tiduran di tempat tidur tingkat bagian atas. Namun, malamnya ternyata dia tidak berani tidur sendiri dan minta tidur bareng di kamar tidur utama. Alhasil, terpaksa saya yang mengungsi, pindah tempat tidur. Belakangan, saya baru sadar, kalau tidur di tempat tidur tingkat bagian atas akan bersirobok pandang dengan gambar bajak laut bermata satu yang memenuhi dinding. Mungkin ini gara-garanya Jeremy nggak berani tidur sendiri.

Setelah lelah berpanas-panasan di theme park, lebih enak berendam di kolam renang. Tapi, bukan di water park, karena kita berencana untuk ke sana keesokan harinya. Hotel Legoland ini juga dilengkapi fasilitas kolam renang. Kolamnya ada dua, kolam anak dan kolam orang besar. Meski tidak terlalu besar, kolam yang berada di lantai teratas dengan pemandangan ke arah tempat parkir dan jalan tol ini lumayan menyenangkan.

Sore itu, banyak orangtua yang berpikiran sama dengan kami. Makanya kolam cukup ramai, tapi tak sampai sesak. Berenang kian kemari sambil menyandar ke potongan-potongan lego berukuran besar masih dapat dilakukan dengan nyaman. Seperti biasa, kalau sudah nyemplung, pasti susah menyuruh Jeremy naik. Tapi, menjelang magrib, urusan berenang ini harus disudahi.

Agenda berikutnya adalah makan malam di restoran Brick. Ini tidak termasuk dalam tarif hotel, melainkan harus dipesan terpisah. Ternyata, ini pilihan yang tepat. Bukan hanya karena malas untuk keluar lagi dari hotel, tetapi makan malam di sini menjadi pengalaman tersendiri yang menyenangkan. Sekali lagi, bagi anak-anak.

Tiap meja ditutupi oleh “taplak” berupa kertas bergambar. Satu set pensil warna sudah disediakan sehingga anak-anak kecil dapat makan sembari mewarnai. Untuk menu makanan cukup bervariasi, dari hidangan melayu, hidangan western, hingga sushi. Wajar saja, tamu hotel juga sangat beragam. Mulai dari bule, melayu, hingga timur tengah. Semua selera terpenuhi. Tapi, jangan terlalu berharap dengan rasa. Sushi yang dihidangkan terlalu lembek dan ikannya kurang segar.

Untuk desert cukup beragam, mulai dari buah-buahan, es krim, hingga kue-kue. Di salah satu meja, sejumlah anak berkerumun. Rupanya ada aktivitas menghias kue kering. Jeremy ikutan mencoba. Hasilnya aneh dan kita tidak ada yang berminat untuk mencicipi, hahaha. Yeah, minimal difotolah.

Meski ruangan restoran terbilang cukup luas, ternyata masih banyak tamu hotel yang terpaksa mengantre tempat duduk. Beruntung kita langsung datang begitu jam makan malam. Pengunjung belum terlalu banyak dan kita masih bisa memilih meja. Belakangan, suasana jadi cukup semrawut karena banyak anak kecil. Ada yang tidak bisa diam, ada yang rewel, ada juga yang tekun mewarnai. Saya kurang tahu, apakah sudah diatur sebelumnya atau tidak, sekurangnya ada 3 orang yang berulang tahun. Sejumlah pelayan restoran menghampiri sambil membawa kue berhiaskan lilin dan menyanyikan lagu ulang tahun. Benar-benar meriah.

Selesai mengisi perut, kita belum mau kembali ke kamar. Jadi, kita melihat-lihat lobby. Masih banyak anak yang memenuhi “kolam” lego. Masing-masing sibuk dengan kreasinya. Di sudut lain, ada yang sibuk bermain Xbox. Ada beberapa unit yang disediakan. Tidak lama, sejumlah anak berkumpul di area depan pintu masuk utama. Rupanya mau ada pertunjukan.

Semula saya mengira pertunjukannya berupa unjuk kebolehan anak-anak yang hadir. Pasalnya, ada beberapa anak bule jumpalitan dan pamer kemampuan balet, mengikuti geberan musik. Rupanya saya keliru. Tidak lama, pertunjukan yang sesungguhnya dimulai, berupa drama dan tari. Kisahnya tentang seorang pangeran, putri, dan seorang cebol. Belakangan, muncul karakter Lego, lalu semua anak yang hadir diajak untuk menari bersama. Malam itu pun berubah menjadi pesta anak yang riuh rendah.

Yang menarik, anak-anak sangat spontan dan apa adanya, tidak peduli asalnya dari mana. Ketika Jeremy yang malas melihat pertunjukan (katanya itu untuk anak perempuan) sibuk berkreasi dengan potongan-potongan lego, seorang anak berwajah timur tengah menyapa. “Apa yang kamu buat,” tanyanya dengan bahasa Inggris yang fasih. “Logo Youtube,” jawab Jeremy. Yup, Jeremy jauh-jauh datang ke Legoland hanya biar bisa bikin logo Youtube yang nantinya akan dipakai untuk channel Youtubenya.

Berawal dari percakapan itu, si anak timur tengah langsung nyerocos. Ia bercerita bahwa ia berasal dari Dubai. Butuh waktu sekitar tujuh jam untuk mencapai Malaysia. Dia berlibur bersama keluarganya dan salah seorang kakaknya punya Youtube channel. Ia juga langsung mengambil Ipad dan menanyakan link ke channel Youtube Jeremy. Jeremy nggak menyia-nyiakan kesempatan, langsung bilang agar teman barunya itu subscribe. Walah, begitu ternyata pergaulan anak bocah zaman sekarang.

Keriuhan malam di hotel Legoland berlangsung sampai sekitar pukul 9 lebih. Setelah pertunjukan berakhir dan selesai foto-foto dengan karakter Lego, satu per satu orang tua membawa anaknya ke kamar. Pesta hari ini selesai, besok kita lanjut lagi. [bersambung]

Legoland Malaysia yang Panas

dsc_0025
Di depan miniatur Angkor Wat.

Waktu menunjukkan pukul 12 kurang waktu kami tiba di depan resepsionis hotel Legoland di kawasan Nusajaya, Johor Baru, Malaysia.

Setelah drama mengantre keluar-masuk negara, perjalanan dari pos imigrasi Malaysia ke Nusajaya tak terlalu jauh. Di tengah-tengah kawasan gersang yang lagi dibangun, dari kejauhan nampak logo Legoland. Akhirnya!

Kami turun di tempat perhentian berupa halte kecil di samping tempat parkir. Jadi teringat film-film western ketika si tokoh diturunkan di daerah antah berantah yang gersang dan panas. Begitulah rasanya saat kami menjejakkan kaki turun dari bus. Dari halte, bangunan hotel tampak masih beberapa ratus meter lagi, yang mesti ditempuh berjalan kaki sambil menggeret koper. Alamak, berat nian liburan ini pun.

Kesan panas dan gersang sirna begitu memasuki lobby. Anak-anak kecil berlarian kian kemari. Selain patung-patung besar menyolok yang terbuat dari potongan-potongan lego, terdapat “kolam” yang bukannya berisi air, tetapi … lebih banyak lagi potongan lego. Pokoknya, lego di mana-mana.

Resepsionis yang menyambut kami adalah perempuan muda berkulit kuning langsat dengan bahasa Inggris tertata rapi. Kami sudah memesan terlebih dahulu secara online sehingga dia hanya menjelaskan berbagai hal seputar fasilitas dan aturan di hotel. Semua cukup jelas dan ternyata ada kejutan menyenangkan dari puan muda ini. Mestinya, check-in baru boleh pukul 4 sore. Boleh saja minta early check-in, tapi tentu ada biayanya. Namun, mungkin karena tahu ini kunjungan kami yang pertama ke Legoland, si puan resepsionis ini mengatakan kami boleh masuk kamar saat itu juga tanpa biaya tambahan.

So far, perjalanan kali ini penuh keberuntungan. Sebelumnya, kami dapat bagasi cuma-cuma, sekarang early check-in cuma-cuma. Setelah stres dan kegerahan, tidak ada yang lebih menyenangkan selain rebahan di kamar yang nyaman dan sejuk.

Seperti video Youtube yang kami tonton, lift menuju lantai kamar berubah menjadi tempat ajojing dengan musik dan lampu gemerlapan. Kita pun serentak bernyanyi, “Dancing in the elevator… Dancing in the elevator…”

Memasuki kamar, Jeremy langsung terlonjak-lonjak. Sesuai permintaannya, kami memesan kamar bertema bajak laut (pirate). Semuanya serba bajak laut, mulai dari sprei dan bantal, wallpaper, pernak-pernik, hingga treasure chest alias kotak rahasia. Ya, ada satu lemari kotak yang terkunci. Lemari ini hanya bisa dibuka kalau sandi kuncinya bisa dipecahkan dengan menjawab sejumlah pertanyaan. Isi lemari itu adalah sekotak (kecil) souvenir dan stiker Lego. Sungguh cara yang menyenangkan untuk menyambut anak-anak.

Meski masih mau mengagumi kamar, kami segera turun dan menuju ke theme park. Bukan apa-apa, perut sudah keroncongan. Kami makan di Market Restaurant yang berada di zona Lego City. Makanannya nasi lemak dan ayam goreng. Walau rada aneh di lidah, masakan Melayu ini masih paslah mengisi perut.

Theme park

Theme park Legoland Malaysia ini masih terus dikembangkan. Satu atraksi yang akan diluncurkan akhir tahun 2016 ini yaitu Ninja Go.

Pelataran dengan tulisan Legoland Malaysia yang kerap menjadi spot foto merupakan pintu masuk yang disebut The Beginning. Kalau ke kanan, kita memasuki zona Lego City yang berisi arena permainan anak, di antaranya Driving School, Boating School, Shipyard, dan City Airport. Nggak ada yang bisa kami lakukan di sini, jadi kami lanjut ke Miniland.

Zona ini berisi miniatur gedung-gedung ikonis, antara lain Forbidden City dari Tiongkok, Taj Mahal dari India, Patung Merlion, hotel Fullerton, dan Singapore Flyer dari Singapura. Indonesia diwakili oleh Tanah Lot. Lucunya, ikon Malaysia yaitu Menara Kembar Petronas justru tidak ada. Petugas yang saya tanya pun tidak tahu-menahu. “Dulu ada di situ,” katanya. “Mungkin sedang diperbaiki.” Oalah, ini gimana sih, padahal di bookletnya jelas-jelas tercantum.

Kesan saya, miniatur-miniatur ini kurang terawat. Mungkin karena faktor cuaca juga. Benda plastik yang ditaruh di ruang terbuka serta terpapar hujan dan panas lama-kelamaan pasti jadi kusam dan rusak. Mungkin lebih tahan di negara empat musim yang tidak selembab negara tropis. Overall, zona ini tidak terlalu mengesankan.

Beralih ke zona Imagination, terdapat tempat untuk Build & Test kreasi Lego. Namun, highlight di zona ini barangkali Observation Tower, wahana observasi yang berputar 360 derajat, menampakkan pemandangan theme park dari ketinggian. Namun, selain kegersangan, yang jelas terlihat adalah pembangunan di sejumlah bagian, termasuk wahana Ninja Go. Sementara itu, permainan luar ruang seperti Kids Power Tower terasa kurang nyaman karena udara panas dan matahari terik.

Bagi yang ingin memacu adrenalin, bisa mampir ke zona Lego Kingdom.  Terdapat roller coaster The Dragon dan versi mininya, The Dragon’s Apprentice. Berhubung Icha dan Jeremy tidak berani, saya pun malas untuk naik sendirian. Lagi pula, seperti biasa, wahana andalan seperti ini pasti panjang antreannya. Jadi, kita cuma foto-foto di sudut-sudut yang menampilkan suasana kerajaan.

Di zona Land of Adventure, wahana-wahananya menurutku kurang menantang, kecuali Dino Island yang berupa kereta luncur ke air. Sementara itu, wahana-wahana berbau “teknik” dapat ditemukan di zona Logo Technic. Selain wajah Einstein, yang menarik di zona ini barangkali miniatur Star Wars.

Begitulah, tak sampai pukul 4, kami sudah selesai menjelajah seluruh area theme park. Cuaca panas benar-benar membuat kami malas menjelajah. Mestinya kalau lebih banyak pepohonan, barangkali cuaca lebih bersahabat. Kesan umum, kecuali kamu penggemar berat permainan menyusun potongan-potongan Lego, tidak terlalu banyak yang dapat disimak di theme park ini. Wahana-wahananya kurang banyak dan tidak semenantang theme park lain. Bahkan, mungkin masih lebih menantang Dunia Fantasi. Mungkin ya… [bersambung]

PS: Video perjalanan ini dapat disimak di Youtube channel saya, Youtubing while Commuting di sini.

Repotnya Keluar-Masuk Antarnegara

snapshot_10
Tuas Checkpoint, pintu keluar dari Singapura menuju Malaysia.

Jumat (9/9) menjelang siang, kami sekeluarga sudah bersiap-siap untuk memulai petualangan ke Legoland Malaysia. Weekend dengan tambahan satu hari libur pada hari Senin (12/9) dirasa masih kurang, jadi Icha mengambil libur dan saya mencutikan diri. Sedang Jeremy, ya bolos… 🙂

Beruntung kita berangkat menjelang jumatan, lalu lintas Ibu Kota masih bersahabat. Bandara dapat dicapai dalam sekitar satu jam. Masih banyak waktu, jadi hal pertama yang dilakukan setiba di bandara yaitu makan siang.

Waktu ke Jepang naik AirAsia tempo hari, kita melakukan web check-in. Jadi, nyelonong aja sampai ke gate nggak masalah. Apalagi, kita tidak punya bagasi yang dilaporkan. Ternyata, waktu pulang dari Osaka, nggak bisa seperti itu. Meski dibawa ke kabin, koper hand carry tetap harus ditimbang. Dan, celakanya waktu itu timbangannya lebih, sehingga kita harus membayar lumayan mahal.

Berhubung belum pernah naik Jetstar, saya tidak tahu kebijakannya seperti apa. Ternyata memang harus lapor dulu di konter check in dan bawaan ditimbang. Batas maksimal 7 kg per orang masih sangat leluasa karena kita cuma bawa 2 koper hand carry plus 1 bagpack.

Saya sempat khawatir monopod alias tongsis tidak boleh masuk kabin. Pasalnya, ini monopod yang bisa dipakai untuk menopang kamera SLR, jadi lebih besar ketimbang tongsis ponsel biasa. Agar tidak terlalu menyolok, monopod ini saya masukkan ke dalam koper. Ternyata lolos-lolos aja tuh.

Masuk ke ruang tunggu gate, oleh petugas ditawarkan agar hand carry dimasukkan ke dalam bagasi. Katanya pesawat penuh, jadi khawatir bagasi di atas tempat duduk nggak muat. Karena gratis (hahaha, dasar ogah rugi), kita pun setuju. Jadi, masuk ke pesawat melenggang tanpa bawaan.

Pengalaman pertama terbang naik Jetstar ini kesannya menyenangkan. Selain gratis bagasi tadi, pesawatnya pun sangat tepat waktu. Mungkin karena maskapai penerbangan asing, anak perusahaan dari Qantas Australia. Pesawatnya kecil—sayang, saya tidak tahu tipe-tipe pesawat—dengan formasi sebaris 3-3. Benar kata petugas di gate, pesawat ini penuh. Mungkin orang-orang pada mau liburan ke Singapura.

Semua berjalan smooth. Tiba di Changi, imigrasi, dan ambil bagasi. Lancar jaya. Dari bandara, kita naik taksi ke Amaris Bugis. Proses check in di hotel yang masih jaringan Kompas Gramedia ini pun lancar, walau petugasnya rada jutek.

Kesan pertama atas Amaris Bugis, meski mungil, tapi terasa lebih nyaman ketimbang hotel Fragrance yang pernah kita tempati dulu. Mereka tampaknya aware kalau zaman sekarang traveler pasti memiliki banyak gadget. Colokan tersedia banyak, ada empat titik di dua tempat. Lagi pula, lubang colokannya bisa digunakan steker bulat ala colokan Indonesia. Mungkin tamunya banyak dari Indonesia.

Kritik buat Amaris Bugis barangkali menyangkut kebersihan. Kayaknya kamar mandinya sudah lama tidak digosok. Di beberapa sudut tampak mulai menghitam. Pada malam kedua kita menginap di sini, ada kesan sprei dan sarung bantalnya tidak diganti. Terlihat agak lusuh. Tapi semoga tidak ya. Overall sih pengalaman di sini oke-oke saja. Sesuai dengan hargalah.

snapshot_12
Lapor dulu sebelum berangkat naik WTS Coach di Singapore Flyer.

Malam pertama, kita tidak ke mana-mana. Cuma beli makan malam di Subway, langsung balik istirahat di hotel. Untuk keesokan harinya, sarapan sebenarnya disediakan oleh hotel. Cuma, karena kita harus berangkat pukul 8 dari Singapore Flyer, kita sudah pesan malam sebelumnya agar sarapan disediakan lebih awal. Sarapannya cuma roti, sereal, dan mi instan dalam cup. Tapi, lumayanlah untuk mengisi perut.

Ternyata, berangkat pukul 7 menuju Singapore Flyer itu kepagian. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari 10 menit dari hotel. Jadi, kami terpaksa menunggu dulu. Sementara itu, cuaca memburuk. Angin kencang dan hujan deras. Terbayang kembali pengalaman di Disneyland Tokyo, di mana setengah hari habis untuk menunggu hujan reda. Wah, jangan sampai kejadian lagi deh.

Rupanya, bukan itu masalah yang mengganggu pada hari ini. Tak lama beranjak dari Singapore Flyer, hujan reda. Cuaca berangsur cerah dan belakangan malah terik. Tak sampai 1 jam, kita sudah tiba di Tuas Checkpoint, pintu keluar Singapura. Nah, masalahnya itu ada di sini.

Pagi hari di akhir pekan, tampaknya banyak orang Singapura mau main ke Malaysia. Antrean mau masuk ke kompleks Tuas Checkpoint mengular hingga beberapa ratus meter menjelang exit tol. Dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk menempuh jarak yang tak seberapa itu.

Begitu turun dari bus, antrean di imigrasi keluar Singapura pun lumayan panjang. Butuh waktu setengah jam lebih hingga lewat konter imigrasi. Beruntung tak perlu membawa koper, jadi tak terlalu merepotkan. Jangan lupa menyiapkan potongan kartu imigrasi waktu sebelumnya masuk Singapura.

Menyeberangi Selat Johor yang memisahkan Singapura dan Malaysia tak sampai 10 menit. Kita langsung turun lagi untuk imigrasi masuk Malaysia. Di sini, semua bawaan harus dibawa turun. Tapi—nggak tahu apakah memang kebiasaannya begitu, atau karena ini satu bus sudah jelas cuma mau ke Legoland—tidak ada kartu imigrasi yang harus diisi. Kita cukup menyerahkan paspor untuk dicap tanda masuk. Setelah itu periksa bawaan. Jauh lebih cepatlah ketimbang keluar Singapura sebelumnya.

Fiuh, waktu menunjukkan pukul 11 lebih waktu tiba di Legoland di kawasan Nusajaya, Johor Baru. Artinya, seluruh proses dan perjalanan dari Singapore Flyer memakan waktu 3 jam lebih. Padahal, menurut banyak blog yang saya baca, paling dibutuhkan waktu antara 1,5 jam hingga 2 jam. Jadi, urusan keluar-masuk antarnegara ini harus jadi hal yang perlu dipertimbangkan saat merencanakan perjalanan.

Opsi langsung masuk Malaysia melalui bandara Senai di Johor Baru boleh dipertimbangkan kalau memang mau ke Legoland. Tapi, kalau tetap ingin ke Singapura, ya bagaimanapun proses ini harus dijalani. Mungkin timingnya dicari yang tepat, karena keesokan harinya waktu kembali ke Singapura, ternyata hanya memakan waktu kurang dari 2 jam. Itu pun karena jalan menuju Singapore Flyer agak padat. Mestinya bisa 1,5 jam saja. [bersambung]

snapshot_11
Finally, di kejauhan udah nampak tuh Legoland.

Rencana Berlibur di Tengah Isu Virus

folding-map-360382_1280
Agar lancar, rencanakan perjalanan dengan detail sedini mungkin. (Gambar by Pixabay)

Long weekend pertengahan bulan ini, kami sekeluarga berlibur ke Legoland Malaysia. Celakanya, sepekan sebelum berangkat, tiba-tiba marak pemberitaan soal virus zika di Singapura. Bukan apa-apa, kami berencana berangkat melalui Singapura.

Pilihan ke Legoland muncul karena permintaan Jeremy sebagai hadiah sunatan. Sebelumnya, kami sudah pernah ke Universal Studios Singapura dan Disneyland Tokyo. Kata Jeremy, ini untuk terakhir kalinya dia mau liburan ke theme park. Ya, sekarang dia sudah kelas 6 SD. Kalau SMP, katanya, sudah tidak pantas untuk main-main ke theme park. Oalah, anakku (merasa diri) sudah besar. Padahal, bapaknya aja masih mau…

Beberapa waktu lalu, kita melihat video di Youtube tentang keluarga yang berlibur ke hotel Legoland. Kelihatannya sangat menarik. Semuanya serba lego. Mulai dari kamar, lift, restoran, hingga kolam renang. Video itu bercerita tentang hotel Legoland di Amrik. Tapi, perkiraan kita, yang di Malaysia pasti tidak berbeda jauh. Dan, setelah melihat-lihat brosurnya, dugaan kita tidak keliru. Hanya saja, berarti budget yang harus disiapkan lumayan, karena mau menginap di hotel Legoland—bukan hotel budget seperti yang selama ini kita lakukan.

img_20160929_082539

Persoalan pertama yang harus segera diselesaikan adalah tiket pesawat. Ini yang paling menentukan, karena untuk mendapatkan tiket yang terjangkau kantong, harus dipesan jauh-jauh hari dan biasanya hanya tersedia untuk hari-hari yang tidak peak. Berhubung Jeremy disunat pada waktu libur sekolah Juni-Juli, maka kita harus mencari waktu yang cukup setelah itu. Pilihan pun jatuh pada long weekend September ini.

Cari punya cari, akhirnya ketemu Jetstar dengan harga yang sebenarnya tidak murah-murah amat. Tapi, lumayanlah, untuk long weekend ternyata masih bisa dapat di bawah Rp 1 juta. Tiket pun kita pesan sekitar enam bulan sebelum berangkat, done!

Oya, seperti saya singgung di atas, kita berangkat melalui Singapura. Terus terang, saya tidak terpikir opsi untuk terbang langsung ke Johor Baru, karena pengalaman beberapa teman dan sejumlah blogger, semua lewat Singapura. Padahal ini bisa jadi opsi, apalagi setelah kita tahu belakangan, lumayan ribet urusan keluar-masuk antarnegara ini. Tapi, setelah menimbang berbagai hal, pada akhirnya saya berkesimpulan pilihan kami tidak terlalu keliru.

img_20160929_082704

Setelah ada kepastian tanggal berangkat, langkah berikutnya memesan transportasi dan penginapan. Untuk transportasi, berdasarkan sejumlah review, yang dianjurkan adalah naik bus travel WTS Coach dari Singapore Flyer. Bus ini langsung menuju Legoland, jadi tidak perlu ganti-ganti angkutan lagi. Pilihan lain yaitu naik bus umum dari Bugis, tapi harus berganti bus di Malaysia. Atau, bisa juga naik taksi atau mobil carter, tapi ongkosnya lebih mahal. Ya sudah, kita langsung pesan WTS Coach via online untuk perjalanan pulang pergi. Perlu diingat, untuk berangkat hanya tersedia jadwal pagi hari, sedangkan untuk kembali hanya tersedia jadwal sore hari. Jadi, harus disesuaikan dengan itinerary. Done!

Terakhir, penginapan. Kita tidak mau terlalu ambisius dengan itinerary. Kali ini, fokusnya ke Legoland. Selebihnya dibikin sesantai mungkin, nggak usah ke sana-kemari seperti waktu di Jepang. Akhirnya kita kecapekan sendiri akibat jadwal yang terlalu padat. So, untuk durasi empat hari, hari pertama cuma diisi berangkat dari Jakarta siang hari, tiba di Singapura langsung check in hotel dan nggak ke mana-mana lagi. Hari kedua baru berangkat ke Legoland, menginap semalam di sana, dan hari ketiga balik lagi ke Singapura. Kita masih punya waktu luang sedikit di malam hari. Baru hari berikutnya kita kembali ke Indonesia.

Jadi, ada dua malam kita menginap di Singapura. Cukuplah hotel budget. Kita cari yang tak terlalu jauh ke Singapore Flyer. Pilihan pun jatuh ke Amaris Bugis di Middle Road. Dari sini, Bugis Junction dan Bugis Street masih within walking distance. Di seberang hotel ada Subway dan di sebelahnya ada 7 Eleven. Jadi, nggak perlu khawatir kelaparan di malam hari. Done!

Untuk hotel Legoland bisa dipesan online. Karena tidak yakin apakah di lokasi nanti bisa cari makan malam, kita memesan sekaligus dengan makan malam. Lantas, karena sudah menginap di situ, untuk tiket masuk theme park ada opsi beli kombo, tiket theme park bisa jadi terusan untuk masuk ke water park dan berlaku selama dua hari. Opsi ini jelas lebih menguntungkan ketimbang harus beli satu-satu, theme park dan water park. Ternyata, kemudian, dengan tiket ini, kita bisa keluar-masuk theme park dan water park sesuka hati. Lagi-lagi pilihan yang tepat. Done!

Kembali ke persoalan di awal, maraknya isu virus zika memang mengkhawatirkan. Apalagi ada berita di Kompas bahwa mereka yang pulang dari Singapura diskrining, takutnya terkena virus. Namun, menurut seorang teman, sebenarnya tak perlu terlalu khawatir, karena penyakit ini lebih berbahaya untuk ibu hamil. Yang penting, dijaga nggak tergigit nyamuk. Okelah, kita pasrah saja, tiket udah dibeli, masak nggak jadi berangkat. Yuk mareee… [bersambung]

“Backpacking” di Negara Orang

c4b61-img-20130703-01576

Dulu, yang namanya traveling alias jalan-jalan itu hobi mahal. Kalau cuma piknik ke kebun binatang atau pelesir ke kampung tetangga ya nggak soal. Kalau sampai bertandang ke negeri orang, nah itu baru perkara. Terima kasih pada maskapai penerbangan berbiaya murah, berkat harga tiket terjangkau kini jalan-jalan ke luar negeri bukan monopoli mereka yang berkantung tebal saja.

Meski demikian, bukan berarti kami—saya dan keluarga—bisa jalan-jalan sesuka hati. Semurah-murahnya tiket pesawat ke luar negeri, untuk jalan bertiga tetap saja terhitung tinggi biayanya. Menabung dari jauh-jauh hari sudah pasti. Selain itu, dibutuhkan dibutuhkan perencanaan yang matang dan detail sehingga tidak ada skenario yang di luar rencana. Dengan anggarannya terbatas, harus pintar-pintar mengelola dana.

Berikut adalah sejumlah hal yang mesti dipertimbangkan saat berlibur bersama keluarga dengan dana terbatas. Meski sudah masuk kategori “backpacker”, tapi kami bukan termasuk kategori backpacker “profesional” yang sudah benar-benar andal. Barangkali saja sharing ini bermanfaat.

Menyusun rencana perjalanan

Liburan ke Jepang
Ke mana-mana memanggul backpack, termasuk saat pose di Kaminarimon.

Ini harus kudu wajib dilakukan. Tidak ada namanya suka-suka kalau anggaran terbatas. Tidak boleh juga bersikap “kumaha engke wae” (gimana nanti saja) kalau tidak mau kacau nantinya. Semuanya harus serba terencana, baik rute yang akan dilalui hingga perkiraan biayanya. Semakin detail, semakin bagus. Kalau bisa, bikin rencana hingga jam dan menit.

Usahakan pula untuk membuat rencana cadangan kalau sekiranya rencana semula tidak bisa dijalankan. Intinya, usahakan agar semua hal sudah diantisipasi. Perubahaan di luar rencana biasanya berarti dana ekstra atau tak terduga. Dengan budget terbatas, ini bisa berarti bencana. So, pintar-pintarlah menyusun rencana.

Beruntungnya, kini banyak terdapat komunitas atau orang-orang yang bisa ditanyai. Jangan malu untuk bertanya, bahkan untuk hal-hal yang kita pikir sepele. Namanya berkunjung ke negeri orang, ada saja hal-hal yang mungkin tidak kita ketahui. Lebih baik tahu lebih awal sehingga bisa diantisipasi.

Pertimbangkan pula jadwal sekolah anak. Ini bagi kami prinsip. Kami tidak mau mengajarkan anak untuk anggap enteng jadwal sekolah. Mungkin ada orang tua yang dengan gampangnya meliburkan anak dari sekolah hanya karena pada waktu itulah dapat tiket murah. Kalau kami, mau tidak mau, perjalanan dilakukan pada waktu libur sekolah. Repotnya, sering kali itu berarti sudah masuk periode peak season. Tiket murah yang tersedia lebih terbatas lagi dan kami harus mengira-ngira agar jadwal perjalanan tidak bentrok dengan masa ujian.

Hal lain yang patut disayangkan, periode libur sekolah terkadang tidak sesuai dengan event atau musim tertentu di negara yang dituju. Sebut saja, mekarnya sakura berlangsung dari Maret hingga Mei. Apa boleh buat, terpaksa dilupakan karena pada periode itu anak justru lagi sibuknya-sibuknya menghadapi ujian tengah semester dan ujian akhir. Mungkin nanti kalau sudah kuliah (walah…).

Tiket

Pengeluaran traveling yang besar biasanya tiket dan penginapan. Untuk mendapatkan penawaran terbaik, rajin-rajinlah memantau berbagai penawaran.

Untuk tiket pesawat, maskapai penerbangan seperti AirAsia biasanya memberikan penawaran menarik pada waktu-waktu tertentu. Patut diingat, penawaran ini terbatas, baik jumlah yang disediakan maupun waktu pemesanan, sehingga jangan sampai terlewat. Menjadi member sehingga mendapatkan newsletter menjadi salah satu cara untuk mendapatkan informasi pertama kali.

Sementara itu, maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia mengadakan event berkala GATF yang menghadirkan promo tiket murah. Ada juga pameran-pameran wisata lain, tapi biasanya dua maskapai itu yang paling diburu.

Berhubung tiket pesawat pilihannya terbatas, biasanya ini menjadi prioritas utama dalam perencanaan. Hal-hal lainnya akan mengikuti ketersediaan tiket.

Memang pada saat periode pemesanan, kita pengen buru-buru memesan karena takut kehabisan. Namun, jangan sampai salah. Pengalaman kami waktu mau ke Jepang, ada dua kota yang hendak dikunjungi, yaitu Osaka dan Tokyo. Sayangnya, kami tidak mencari tahu terlebih dahulu transportasi dalam negeri Jepang. Karena khawatir tiket habis, kami langsung saja memesan tiket Jakarta-Osaka via Kualalumpur PP. Ternyata, belakangan kami ketahui bahwa jarak Osaka-Tokyo lumayan jauh, sekitar 500 kilometer atau lebih jauh sedikit dari Jakarta-Yogyakarta dan biaya untuk bolak-balik tidak murah.

Jarak segitu dapat ditempuh Shinkansen Nozomi (yang paling cepat) dalam waktu sekitar 3 jam. Tapi, biayanya cukup besar, hampir kira-kira Rp 1,5 juta per orang. Kalau naik bis malam memang harganya bisa sepertiga Shinkansen, tetapi perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam sehingga cukup melelahkan. Kalau saja kami sudah meriset hal ini, barangkali pilihannya masuk ke Jepang di Osaka, lalu keluarnya dari Tokyo. Selisih biayanya mungkin tidak terlalu jauh, tapi yang jelas tidak secapek harus bolak-balik Tokyo-Osaka.

Penginapan

Untuk penginapan, sekarang banyak sekali pilihan. Mulai dari Airbnb hingga Agoda atau Booking.com. Kalau kami sudah beberapa kali mengandalkan Booking.com. Enaknya situs ini karena bayarnya belakangan, pada waktu check out. Jadi, pada saat memesan, belum ada transaksi. Kita cukup memesan dan segera dapat konfirmasinya. Pemesanan ini biasanya masih bisa dibatalkan tanpa biaya apa pun hingga tiga hari sebelum tanggal menginap. Namun, hati-hati, ada penawaran dengan harga sangat khusus (bisa sampai 60 persen dari published rate) tapi tidak bisa dibatalkan. Ya wajarlah, mempertimbangkan harga yang diberikan.

Biasanya, silih berganti ada penawaran dari hotel-hotel yang berbeda. Hari ini hotel A kasih penawaran menarik. Minggu depannya, ternyata hotel B kasih penawaran tak kalah menggiurkan. Jadi, jangan buru-buru memutuskan. Sebagai gambaran, waktu mencari hotel di Tokyo, kami memesan sampai 5 hotel berbeda sebelum akhirnya memutuskan hotel yang akan diinapi kira-kira seminggu sebelum berangkat. Baru saat itu pesanan di hotel-hotel lainnya dibatalkan.

Pada akhirnya, hotel yang kami pilih bukan yang paling murah, tapi yang memberikan penawaran terbaik dengan harga yang masih masuk dalam anggaran. Waktu itu, kami memilih hotel Grand Pacific Le Daiba di Odaiba. Ini hotel bintang 4 yang terletak di kawasan resor pulau buatan di Teluk Tokyo. Dibandingkan hotel-hotel lain yang sempat kami pesan, hotel ini sebenarnya harganya lebih tinggi. Tapi, kami mendapatkan potongan harga 60 persen dari published rate. Jadi untuk tarif Rp 5 jutaan, kami hanya membayar Rp 2 jutaan. Dengan harga segitu, kami dapat bermalam di hotel yang mewah—bahkan untuk ukuran Tokyo—dengan lingkungan yang menyenangkan. Dengan berjalan kaki di malam hari, kami dapat menikmati pemandangan Rainbow Bridge, berfoto dengan tiruan patung Liberty, bersantai di kamar yang lega dengan 3 tempat tidur, dan berendam di bathtub dengan air panas. Belum lagi, karena besoknya berencana langsung ke Tokyo Disneyland, kami dapat naik shuttle bus yang disediakan gratis untuk tamu hotel. Jadi, overall, dengan harga yang kami bayar, cukup bernilailah.

Barang bawaan

Kalau berniat jalan-jalan irit, barang bawaan juga harus irit. Isteri saya punya kebiasaan untuk membawa berbagai macam barang yang akhirnya setelah kembali, hampir separuhnya tidak dipergunakan. Jadi, mengapa harus capek-capek dibawa, menambah beban bagasi?

Pertimbangkan jatah bagasi di pesawat, jangan sampai lebih kalau tidak mau dikenakan biaya kelebihan bagasi. Untuk AirAsia, lebih baik Anda beli jatah bagasi terlebih dahulu saat memesan tiket ketimbang membeli di konter saat check in. Biayanya akan jauh lebih besar.

Pertimbangkan pula jika nanti Anda akan kian kemari, padahal belum check in di hotel. Anda terpaksa harus membawa-bawa backpack berukuran besar. Memang, di Jepang, sejumlah stasiun dan tempat wisata seperti Tokyo Disneyland, menyediakan locker. Tapi, jumlahnya terbatas sehingga akan cilaka kalau Anda tidak kebagian. Aturlah agar Anda bisa menitipkan barang bawaan, entah itu di locker atau di hotel tempat menginap. Bawalah backpack ukuran lebih kecil untuk dibawa bepergian.

Makanan-minuman

Berhubung kami traveling dengan anak kecil di bawah 10 tahun, soal makanan bisa jadi masalah. Yang paling gampang tentu saja makan di fast food seperti McDonald’s atau Burger King. Pilihan murah meriah lainnya adalah makanan cepat saji yang dijajakan di convenience store seperti Seven Eleven. Selain mi instan seduh, biasanya terdapat pasta-pastaan. Atau, kalau di Jepang, onigiri. Pastikan si kecil dapat asupan karbohidrat yang cukup untuk sumber energi selama berjalan kian-kemari. Isteri saya juga selalu menyediakan camilan di backpack, dan tentu saja air yang banyak. Ini penting agar tidak dehidrasi.

Demikian sharingnya, semoga bermanfaat. [*]

Video perjalanan kami dapat berikut ini: Japan Trip 2015