Pahlawan Super Ala Negara Komunis

01
Guardians. (foto-foto Dok IMDB)

Entah karena lebih makmur dan nyaman, para pahlawan super umumnya tinggal di negara kapitalis AS. Bukan cuma Kapten Amerika atau Hulk yang memang cikal-bakalnya dari proyek militer AS. Alien seperti Superman, bahkan dewa seperti Thor sekalipun ternyata nyasar-nyasarnya ke Amerika juga. Mbok ya sekali-sekali nyasarnya ke Indonesia… hahaha.

Bagaimana dengan negara-negara komunis? Eh, ternyata mereka juga punya pahlawan super lho. Itulah yang mau diangkat oleh film Guardians. Ingat ya, bukan Guardians of Galaxy lho. Kalo yang terakhir adalah pahlawan super dari luar angkasa yang entah kenapa bisa berbahasa Inggris.

Sengaja tidak googling dulu biar penasaran, aku sama sekali tidak punya bayangan tentang apa yang akan ditonton saat menerima undangan skrining Guardians kemarin, Kamis (23/2).

Melalui kredit di awal film, aku baru tahu bahwa ini film buatan Russia. Guardians, atau judul aslinya Zaschitniki (Защитники) berkisah tentang pahlawan super dari proyek rahasia Patriot yang diciptakan saat perang dingin. Mereka dipilih dari bangsa-bangsa yang berbeda di bawah Uni Soviet. Ada Ler dari Armenia, yang punya kekuatan untuk mengontrol batu dan tanah. Berikutnya, Ursus, yang dapat berubah wujud menjadi beruang. Berikutnya lagi, Khan, yang dapat bergerak begitu cepat sehingga tak kasatmata. Terakhir, satu-satunya pahlawan perempuan adalah Xenia. Selain jago bela diri, ia juga dapat bergerak di dalam dan di atas air layaknya di atas tanah serta berubah menjadi tak terlihat alias transparan.

Mengingatkan pada pahlawan-pahlawan super yang sudah ada? Mungkin. Tapi, yang jelas, tercium aroma propaganda secara simbolis yang cukup kuat pada kelompok ini. Berasal dari bangsa-bangsa yang berbeda barangkali ingin menyiratkan semangat nasionalisme Russia. Contoh lain, sosok beruang alih-alih serigala (werewolf) seperti pada kebanyakan film Barat tampaknya mengacu pada julukan Russia, yaitu beruang merah. Tengok juga senjata yang digunakan Khan, berupa dua bilah pedang. Bentuknya mengingatkan pada arit lambang komunis. Bayangkan, kalau dia berantem dengan Thor, pasti langsung diprotes FPI. Abis palu ketemu arit…

Siapa musuh Guardians? Ternyata bukan AS. Barangkali takut dihajar The Avengers atau Justice League, bisa keok mereka… hehehe. Tokoh antagonisnya adalah August Kuratov, sosok yang tadinya otak di balik program Patriot. Namun, ia berbalik menjadi jahat. Berbekal mesin Modul 1 yang membuatnya memiliki kekuatan super, Kuratov membangun pasukan untuk menaklukkan Moskow. Ia juga menciptakan Modul 2 yang memungkinkan dia mengendalikan satelit penghancur sehingga berbahaya bagi seluruh dunia.

Menghadapi Kuratov, pemerintah Russia tak punya pilihan lain kecuali memanggil para pahlawan super yang pasca-perang-dingin telah terpencar dan hidup dalam persembunyian. Di bawah perintah Jenderal Nikolai Dolgov, Mayor Elena Larina harus mengumpulkan para pahlawan super Patriot dan membujuknya bekerja sama mengalahkan Kuratov.

Dubbing

Setelah intro berkepanjangan yang menggambarkan terjadinya program Patriot, adegan kemudian beralih pada uji coba senjata robot. Aku langsung menangkap sesuatu yang aneh. Dialog yang terdengar tidak sama dengan gerak bibir pemeran. Oalah, ternyata film ini didubbing. Pasti aslinya bahasa Russia, didubbing jadi bahasa Inggris.

Sebenarnya, karena sudah ada subtitle dalam bahasa Indonesia, dubbing ini tidak perlu. Biarkan saja tetap dalam bahasa aslinya. Sejago-jagonya dubber mengikuti gestur dan ekspresi tokoh, tetap saja muncul kesan tidak natural. Ini jadi mengganjal kenikmatan menonton.

Aku tidak tahu apakah di Russia sana para pemain film ini tergolong aktor dan aktris bermutu, tapi jelas banget kemampuan acting dan ekspresinya payah. Stereotip orang-orang di negara komunis memang kaku. Namun, mestinya tidak sekaku pemain drama di atas panggung. Kesan dibuat-buatnya terlalu kentara.

Hal lain, penataan musiknya kacau. Ada adegan-adegan yang ilustrasi musiknya terus diulang, padahal suasana dalam adegan sudah berubah. Walah…

Begitu ancurnya film ini sampai setengah jalan ada penonton yang keluar. Sementara itu, di kiri-kanan mulai ketawa-ketawa nggak jelas melihat adegan atau akting yang lebay, norak, dan cheesy. Sepitless dah.

Tulisan ini bukan propaganda antikomunis, tapi berusaha cerita apa adanya. Kalau dibilang jelek semua, ya nggak juga. Setidaknya untuk adegan aksi dan efek-efek khususnya lumayanlah (trailer bisa disimak di sini). Ya jangan bandingkan dengan The Avengers yang budgetnya di kisaran 200 juta-300 juta dollar, film ini “hanya” menghabiskan 330 juta rubel alias 5 juta dollar saja. Sudah hebat itu.

Akhir kata, kalau tidak acara di akhir pekan dan tidak tahu mau ngapain, sila menonton film ini. Ngeliat gimana aksi pahlawan super ala negara komunis. Yang jelas, katanya sudah ada rencana membuat sekuel film ini. Turbo Films, perusahaan Tiongkok yang menjadi distributor film ini akan terlibat dalam produksi. Syuting sebagian juga dilakukan di Tiongkok, termasuk tambahan karakter lokal. Wah wah, negara-negara kapitalis harus waspada atas kebangkitan pahlawan-pahlawan super negara-negara komunis ini.

Sutradara: Sarik Andreasyan

Produser: Sarik Andreasyan, Gevond Andreasyan, Vladimir Polyakov, Max Oleinikov, Nikita Argunov

Skenario: Andrei Gavrilov

Pemeran: Sebastien Sisak, Sanzhar Madiyev, Anton Pampushnyy, Alina Lanina

Valeria Shkirando, Stanislav Shirin, Vyacheslav Razbegaev

Produksi: Enjoy Movies, Argunov Studio, Renovatio

Distribusi: Turbo Films

Rilis: 23 Februari 2017

 

The Lego Batman Movie, Ketika Harga Diri Direndahkan

01the-lego-batman-movie
The Lego Batman Movie (foto-foto Dok Warner Bros)

Tertunda sepekan sejak mulai diputar di Tanah Air karena menunggu Jeremy selesai ulangan tengah semester, akhir pekan kemarin, Sabtu (18/2), kami akhirnya menonton The Lego Batman Movie.

Ketika kabar film ini akan diputar, Jeremy sudah mewanti-wanti untuk wajib nonton. Yup, entah dari teman-teman sekolahnya atau dari internet, Jeremy sangat update akan jadwal tayang film-film baru. Jangan coba-coba ngeles, pasti ditagih.

Tapi, aku sendiri tidak keberatan. Menurut desas-desus yang beredar, film ini cukup bagus. Jadi, walau Bekasi diguyur hujan sejak pagi, kami memutuskan untuk tetap berangkat menonton.

Konyolnya, di Grand Metropolitan Bekasi, The Lego Batman Movie diputar di studio yang tidak terlalu besar. Makanya, meskipun kami datang cukup awal, harus rela dapat tempat duduk nomor tiga dari layar.

Namun, tidak sia-sia susah payah kami menembus hujan. Terbukti, The Lego Batman Movie merupakan tontonan yang sangat menghibur. Premis yang ditawarkan juga cukup kuat: apa jadinya jika alasan keberadaan tokoh jawara mendadak hilang? Ya bingung, disorientasi, bahkan cenderung kalap.

Begitulah yang dialami Batman, yang pada awal cerita digambarkan begitu jemawa. Apa yang tidak dimiliki Batman? Dia kaya, fisiknya kuat, intelegensinya tinggi. Tidak ada yang dapat mengalahkan dia. Tidak juga Joker, musuh bebuyutan yang sudah merancang ide brilyan menghancurkan kota Gotham. Nyatanya, dengan mudah dipatahkan Batman dalam sekali gebrak.

Batman tak butuh siapa-siapa. Dia dapat menyelamatkan Gotham seorang diri. Usai mengalahkan Joker, sang pahlawan menghirup dalam-dalam semua puja-puji warga Gotham. Bahkan, bukan hanya mengalahkan, Batman juga mematahkan ego Joker dengan mengatakan bahwa dia tidak ada artinya di mata Batman. Direndahkan harga dirinya membuat Joker dendam dan mempersiapkan rencana lain yang tak terduga.

Siapa nyana, berikutnya justru giliran Batman yang direndahkan. Selang sehari setelah gegap gempita kemenangan atas Joker, Batman dalam wujud Bruce Wayne menghadiri pesta perpisahan komisaris polisi Jim Gordon. Penggantinya adalah anaknya, Barbara Gordon, polisi muda yang cerdas dan trengginas.

Sejenak terpesona oleh penampilannya, sejurus kemudian Batman atau Wayne dikejutkan oleh pernyataan Barbara. Menurut Barbara, kehadiran Batman tidak ada artinya. Meski menaklukkan banyak penjahat, nyatanya angka kejahatan di Gotham tetap tinggi. Maka, berbeda dengan ayahnya yang mengandalkan Batman, Barbara mengajak warga Gotham bersatu dan menolak kehadiran Batman.

Masih terkaget-kaget oleh pernyataan Barbara, tiba-tiba Joker dan gerombolannya menyerbu. Wayne pun langsung beralih wujud menjadi Batman. Ia berharap, momen ini dapat menjadi pembuktian bahwa dirinya dibutuhkan. Nyatanya tidak, karena Joker datang justru untuk menyerah tanpa syarat dan minta ditangkap. Batman pun kehilangan pijakan.

Takut masa lalu

Selain ego kepahlawanan, ternyata Batman punya “masalah” lain. Setiap kali usai dipuja-puji atas aksi kepahlawanannya, ia kembali ke dalam gua kelelawar, beralih wujud menjadi Wayne, dan menjalani keseharian dalam kesendirian. Ia tinggal di rumah besar yang mewah, dilengkapi berbagai fasilitas canggih, dan menikmati semua hal terbaik. Namun, ia sendiri. Tepatnya, hanya ditemani pelayan setia, Alfred.

Tak jarang, ia menatap dan “bercakap-cakap” dengan foto mendiang orang tuanya. Keluarga menjadi hal yang menakutkan bagi Wayne. Ia tak siap mengalami kembali kehilangan besar. Hingga akhirnya masuklah Dick Grayson, remaja yatim piatu pengagum Batman.

Alih-alih menjadi orangtua yang baik, Wayne alias Batman justru memanfaatkan Dick—yang kemudian menjadi Robin—untuk mewujudkan rencananya menghukum Joker. Mereka menyusup ke kediaman Superman, Fortress of Solitude, dan mencuri proyektor untuk mengirim Joker ke Phantom Zone. Ternyata, hal itu sudah diantisipasi Joker. Justru, tindakan kalap Batman itu membuka jalan untuk mewujudkan rencana pembalasan dendam Joker yang lebih mengerikan.

Menarik untuk menyimak bagaimana Batman mengatasi konflik ego kepahlawanan serta ketakutan akan masa lalu. Berhasilkah dia mengatasi Joker? Kemudian, bagaimana hubungannya dengan Robin dan Barbara? Silakan ditonton filmnya.

Yang jelas, meski konfliknya terhitung kompleks, film ini tetap nyaman ditonton oleh anak-anak. Tentu saja karena banyak aksi laga yang memikat. Belum lagi efek-efek khusus yang menggoda imajinasi siapa saja yang menggemari permainan potongan lego.

Mungkin aku tak lagi sebegitu terpesona dibandingkan saat menonton The Lego Movie (2014), melihat betapa potongan-potongan lego yang kaku bisa tampak begitu hidup dan dinamis. Kuncinya memang pada kekuatan cerita dan karakter para tokoh lego ini, yang sangat membius dan menghanyutkan.

Will Arnett, dengan suaranya, mampu menghadirkon karakter Batman yang angkuh, keras kepala, sekaligus konyol, dan sedikit nyinyir. Aku sudah mulai tertawa bahkan ketika narasi Batman mengomentari layar hitam kosong pada awal film. Siapa pula yang tak tergelak menyimak sandi rahasia memasuki gua kelelawar, “Iron Man sucks!” Puas banget kayaknya fans DC mengejek jagoan Marvel itu.

Kehadiran Superman dan jajaran Justice League yang berpesta di Fortress of Solitude juga menghadirkan situasi komedi yang tak akan terbayangkan muncul pada versi komiknya. Benar-benar menghibur, tanpa melupakan kedalaman cerita.

Meski demikian, ini tetaplah tontonan untuk semua usia. Jadi, begitu film usai, tak ada pikiran yang terlalu membebani. Premis yang ditawarkan juga tak perlu menjadi perenungan mendalam. Cukuplah dinikmati sebagai konflik yang menjadi warna cerita. Silakan beranjak dari bangku dan keluar studio selesai Batman mengomentari layar putih yang katanya menjadi kebiasaan pada film-film megah. Dasar! Hahaha.

Rilis perdana: Februari 2017 (AS)

Sutradara: Chris McKay

Produser: Dan Lin, Roy Lee, Phil Lord, Christopher Miller

Pemeran (suara): Will Arnett, Zach Galifianakis, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes

Distribusi: Warner Bros

1$_LEGO BATMAN_Final.jpg

 

Baca Buku yang tak Lagi Keren

kindle-381242_1920
Kindle, gaman untuk baca buku. (Photo by Pixabay.com)

Saat wawancara untuk masuk ke perusahaan tempat aku bekerja sekarang, salah satu pertanyaan kunci yang “berhasil” aku jawab dengan baik adalah tentang hobi. Jawabannya sederhana saja: baca buku. General manager departemen yang aku tuju (kelak menjadi CEO sebelum akhirnya resign dan sekarang aktif di sebuah sekolah periklanan) tak percaya begitu saja. Ia lantas mengejar dengan pertanyaan lanjutan, siapa pengarang favoritku. Dengan sigap aku menjawab, Frederick Forsyth.

Hahaha, mungkin sekarang aku buka kartu. Sesungguhnya, hingga detik itu aku belum pernah menyentuh, apalagi membaca buku Forsyth. Hanya saja, aku berhitung, pertanyaan ini sangat penting untuk menentukan apakah aku diterima atau tidak pada posisi penulis yang aku lamar. Salah menjawab tentang hal ini bisa berarti kegagalan.

Nama Forsyth sangat membekas di kepala berkat iklan jam tangan mewah Rolex. Iklan yang kala itu kerap dimuat di majalah-majalah kenamaan ini sangat elegan. Isinya berupa artikel singkat tentang betapa seorang penulis andal sangat memperhatikan waktu. Ilustrasinya adalah foto si Forsyth di meja kerja sembari—tentu saja—mengenakan jam tangan Rolex.

Iklannya keren, jadi suka aku baca. Makanya, aku tahu kalau si Forsyth ini menulis thriller antara lain bertajuk The Day of the Jackal dan The Fourth Protocol. Dari iklan itu, aku bisa bicara—meski tak banyak—tentang Forsyth, juga karya-karyanya.

Aku berhitung, kemungkinan besar bapak GM yang terhormat itu belum pernah membaca karya Forsyth. Tapi namanya terdengar keren dan berkelas. Judul-judul bukunya juga mentereng. Kalau aku bisa bercerita dengan penuh percaya diri, kemungkinan besar citra aku di mata beliau akan sangat positif. Gile, muka kampung gini ternyata seleranya berkelas! Dan, ternyata kemudian, aku memang diterima. Salah satunya, aku yakin, gara-gara si Forsyth itu.

Sebenarnya aku tidak berbohong dengan mengatakan suka membaca. Hanya saja, aku pun harus bisa memberi jawaban yang sekaligus menjadi pencitraan. Waktu itu, karena belum lama membuat skripsi, kebanyakan buku yang aku lahap adalah buku-buku teks. Nggak asyik kayaknya untuk menyebutkan judul buku teks, karena kesannya student kali. Apalagi menyebut buku-buku filsafat terbitan Kanisius yang suka aku baca, seperti karya-karya Francisco Budi Hardiman, jangan-jangan udah dicoret duluan namaku.

Novel sebenarnya aku suka, tapi yang sering aku baca ya Balada si Roy atau, waktu di SMA, Lupus. Cuma, temanya remaja labil banget. Nggak menjual. Baru saat kuliah aja coba-coba menjajal buku-buku sastra terbitan Obor. Tapi kok aku pikir kesannya jadi sok nyeni banget. Bukan pilihan yang bagus juga untuk seorang penulis iklan.

Pernah juga sih baca-baca karya Agatha Christie. Tapi, menurutku ini terlalu mainstream. Boleh jadi si bapak GM lebih hafal. Bisa matek aku, karena sebenarnya nggak terlalu ngelotok dengan bacaan itu. Padahal, menyebut nama Forsyth juga sebenarnya agak berjudi. Kalo ternyata bapak GM pernah baca, alamat mampus kalo nggak bisa menjawab pertanyaan yang lebih detil.

Ini kejadian setelah beberapa waktu kemudian gantian aku yang mewawancara calon penulis di bagianku. Hobi baca buku ini aku jadikan pertanyaan standar. Dari sini aku bisa menakar wawasan si pelamar.

Suatu kali, pernah ada adik kelas yang melamar. Lupa angkatan berapa, tapi gayanya agak-agak sotoy. Dugaanku, dia ini dulu aktif di kampus dan banyak omong. Dia berkoar-koar bahwa dia peminat aliran Mazhab Frankfurt. Wah wah, dia berhadapan dengan orang yang salah… Langsung saja aku kuliti dengan menanyakan pendapat dia tentang pemikiran-pemikiran Horkheimer dan Habermas. Mati kutu dia, tak bisa lagi menjawab. Makanya, hati-hati Bung kalo ngomong.

Oya, selama mewawancara calon-calon penulis baru, nama yang lazim disebutkan kalo aku bertanya tentang pengarang favorit adalah Pramoedya Ananta Toer. Keren sih kalo ada yang menjawab dengan menyebut nama Pram, tapi untuk posisi yang ditujukan agak-agak kurang pas. Setidaknya, begitu penilaianku terhadap mereka yang menjawab demikian. Entah benar-benar mereka menggemari Pram atau tidak, orang pasti akan punya penilaian tertentu jika nama itu yang disebut. Kalo yang menggemari Pram aku nilai sebagai orang yang kritis dan “sosialis”.

Ada masanya juga ketika hampir semua pelamar yang aku tanya menjawab dengan menyebut nama Paulo Coelho. Dan, herannya, kebanyakan yang menyebut nama ini adalah perempuan. Membandingkan karakter orangnya, mereka yang memfavoritkan Coelho cenderung kaum urban yang stylish dan agak-agak kenes. Gaul, tapi pengen dianggap punya otak. Hahaha.

Yang menyedihkan kalo ternyata si pelamar tidak suka baca, bahkan tidak dapat menyebutkan satu nama pengarang atau judul buku. Yang begini ini kalo asal nyablak menyebut nama pengarang secara random pasti gampang ketahuan. Dia nggak bakalan bisa ngomong kalo ditanya lebih jauh. Mohon maaf, pasti aku coret. Bagaimana mau jadi penulis kalau tidak suka baca buku.

Pentingnya buku sebagai pembentuk wawasan rasanya sudah sepasti 1 + 1 = 2. Setidaknya sampai kemarin-kemarin, ketika internet belum begitu marak. Makanya, aku sangat tersentak ketika mendengar wawancara Gary Vee. Entrepreneur dan tokoh medsos ini sangat menohok ketika diwawancarai Ken Coleman di salah satu episode podcast Entreleadership. Ditanya tentang buku yang sedang ia baca, dengan enteng Gary menjawab, “I don’t read book.” Alamak!

Ken berusaha menggali lebih jauh dan bertanya tentang buku yang mungkin berpengaruh pada pemikirannya, dan Gary tetap menjawab: tidak ada. Akhirnya dia menjawab, “Maybe history.” Ini kayaknya jawaban terpaksa, karena sejujurnya memang dia tidak suka membaca. Padahal, karena sekarang sedang sukses sebagai pembicara di mana-mana, Gary mendapat kontrak untuk menulis sejumlah judul buku. Boleh dicari yang sudah beredar antara lain Crush dan Jab, Jab, Jab, Right Hook. Busyet, ternyata ada juga penulis buku yang tidak pernah membaca. Ya Gary ini.

Semua buku Gary—yang lumayan laris itu—ditulis oleh ghost writer. Selama beberapa waktu terakhir, aku berusaha menuntaskan Crush. Kalo disimak, gaya bertuturnya seperti bahasa lisan, kayak membaca omongan Gary yang ditranskrip. Nyaris tidak ada beda dibandingkan apa yang sering ia sampaikan dalam berbagai podcast atau wawancara. Cuma kali ini dalam bentuk tertulis.

Poin aku sampai di sini, ternyata sekarang untuk memperkaya wawasan tak mesti membaca buku. Bisa saja dengan browsing internet, baca Wikipedia dan berbagai situs menarik, ikutin blog, mendengar podcast, dan menonton YouTube. Isi kepala millenial yang tak pernah baca buku boleh jadi sama, atau malah lebih kaya ketimbang mereka yang kutu buku.

Fenomena buku digital yang bisa dibaca melalui gaman seperti tablet, Kindle, atau Nook, sekarang agak-agak sulit dibedakan dengan membaca konten digital lainnya. Bedanya paling di plot/alur dan gaya tutur. Selain itu, jika dibandingkan dengan Wikipedia atau kumpulan blog seperti Lifehacker, boleh jadi buku digital—yang sebenarnya versi digital dari buku cetak—kalah kaya. Konten digital pada umumnya memiliki tautan ke sumber lain yang terkait. Selain itu, ada juga pengayaan dalam bentuk multimedia (video atau suara). Jadi, kalau tujuannya belajar dan menambah wawasan, ya tak mesti harus dari “buku”.

Bahkan, menyerap konten digital kini tak lagi harus dengan “membaca”. Tengok saja audio book alias buku digital yang dibacakan, atau juga podcast, konten bisa diserap semberi menyetir atau lari pagi. Hal ini tak mungkin dilakukan jika bentuknya buku cetakan.

Aku tak mau terkesan jadi orang tua yang mengelu-elukan masa lalu. Dunia sudah berubah. Buku barangkali kini tak lagi keren. Besok-besok, aku tak boleh lagi gegabah menakar wawasan orang hanya dari buku yang ia baca. Kini, konten adalah segalanya, entah dalam bentuk atau platform apa…*

Mari Kita Bicara Cinta

couple-791461_1920Note dan disclaimer:

Jujur saja, ini sebenarnya bukan tulisan baru. Gagasan di dalamnya sudah berkembang sejak saya masih kuliah pada tahun 1990-an. Lalu, sudah pernah ditulis juga sebagai artikel untuk sebuah majalah internal. Namun, selalu menarik untuk merenungkan kembali pemikiran-pemikiran di dalamnya. Saya tulis kembali dengan mengganti beberapa bagian seperlunya. So, buat yang sudah berumur, nggak usah terlalu diambil hati. Ini cuma “kumur-kumur” anak yang belum cukup umur. Semoga bisa dipahami sebelum terlanjur uzur 🙂

Suatu kali, sekitar pertengahan dekade 1990-an, kami sekelompok mahasiswa Kristen dan Katolik di Fikom Unpad Bandung mengadakan retreat. Seingat saya, lokasi retreatnya di sebuah rumah tua di kawasan Lembang ke arah Maribaya.

Di antara pembicara yang diundang saya ingat ada Romo Sandy dan Th Sumartana, dua nama yang cukup populer kala itu. Romo Sandy saya baru tahu saat itu. Beberapa waktu kemudian namanya mencuat terkait kerusuhan di kantor PDIP atau dikenal dengan sebutan aneh, “Kudatuli” (kerusuhan dua puluh tujuh juli). Sedangkan Th Sumartana adalah pendeta pemikir yang giat dalam dialog lintas agama. Hebat nih panitia, bisa mengundang orang-orang top seperti mereka.

Saya tidak ingat persis urut-urutan acaranya. Tapi, tiba-tiba saja, ada sesi yang kosong. Saya lupa juga, apakah karena pembicaranya telat atau mungkin tidak hadir. Sejumlah kawan panitia menghampiri dan menanyakan kemungkinan saya mengisi sesi tersebut. Waduh, mau bicara apa saya di tengah-tengah kumpulan yang konon religius itu.

Akhirnya, muncul ide kilat. Mengapa tidak membahas buku saja. Kebetulan saya sering berkoar-koar tentang pemikiran Erich Fromm dari bukunya Seni Mencinta (The Art of Loving). Dibantu partner in crime saya, Daniel “Ember”, yang mengusung buku lain (kalo nggak salah karya Anthony de Mello), kita lalu sepakat untuk bicara tentang cinta.

Tak perlulah ditanya, mengapa cinta? Siapa anak muda pada usia awal 20-an tidak terjerat “masalah” ini? Atau, kalaupun masih malu-malu, paling tidak sekali-dua dalam benaknya pasti pernah terbetik soal ini. Dan, memang, seingat saya sesi tersebut kemudian berlangsung cukup hangat. Sejumlah kawan, bahkan kakak angkatan, ikut larut dalam diskusi. Terima kasih pada Mbah Erich Fromm yang membuat saya jadi terlihat begitu genuine dengan pemikiran-pemikiran tentang cinta yang “tidak biasa”.

Salah satu dosen di jurusan saya, namanya Sahala Tua Saragih, biasa mengisi kuliah dengan mengupas buku. Jadi, mestinya saya tidak terlalu asing dengan pola-pola diskusi seperti ini. Sedangkan buku Erich Fromm itu sudah bolak-balik saya baca, walau nggak benar-benar bisa dibilang ngerti. Ya, paling tidak, cukuplah untuk tampak seolah-olah pakar di depan para mahasiswa yang saya khawatir baru kali itu mendengar nama pemikir Jerman yang kerap diasosiasikan dengan Mazhab Frankfurt itu.

Saya tidak ingat persis apa yang saya omongkan saat itu. Karena tidak dipersiapkan, mestinya saat itu saya sporadis saja mengungkapkan pemikiran Fromm. Terutama tentang bagaimana ia memahami cinta sebagai sebuah aktivitas, yaitu mencintai atau loving.

Kata benda, sifat, dan kerja

Pada masa itu, kalau lagi sok-sok-an ngebahas tentang cinta, saya suka membedakannya menjadi tiga, sebagai kata benda, sebagai kata sifat, dan sebagai kata kerja.

Ini tentu bukan urusan bahasa, tapi hanya pengandaian. Sebagai kata benda, cinta bisa dimiliki, disimpan, diperebutkan, dibuang, hilang, dan terinjak-injak. Bagi saya, pemahaman seperti ini berada pada taraf paling rendah. Mudah dikenali dan dipahami, tapi dangkal. Cinta dipahami sebagai gejala-gejala terlihat, seperti sorot mata, senyum, perbuatan memeluk atau mencium, dan seterusnya. Jika pemahaman kita sebatas benda, maka kita akan menjadikannya seperti benda pula.

Ada benda mahal, ada pula yang murahan. Harga benda juga bisa naik-turun. Yang paling menyakitkan, benda bisa dibuang ketika kita sudah tidak menyukainya lagi. Jelas, ini bukan pengertian cinta yang ideal.

Berikutnya, cinta bisa dipahami sebagai sifat. Cinta seperti ini lebih mengedepankan unsur perasaan. Bicara sifat berarti bicara sesuatu yang kualitatif—berbeda dengan benda yang sifatnya kuantitatif. Contohnya, sangat suka, kurang suka, agak suka, kayaknya suka, atau malah suka-suka. Pemahaman seperti ini boleh jadi sangat menyenangkan—tapi bisa juga menyakitkan.

Ketika seorang perempuan memandang laki-laki yang disukainya dan laki-laki itu berkata, “Betapa cantiknya engkau hari ini.” Mendadak, ada perasaan yang meluap dalam dada si perempuan. Dan, sebagai respons perkataan itu, ia menjawab pula, “Aku sangat mencintaimu.” Lain waktu, mereka bertengkar. Tanpa sadar, tangan si laki-laki mendarat di wajah si perempuan. Kali ini, si perempuan berteriak, “Aku membencimu.”

Dibandingkan pemahaman yang kuantitatif, sudah ada kemajuan dari pemahaman kualitatif ini. Pemahaman ini bukan sekadar apa yang terlihat, tapi sudah melibatkan hal-hal yang tidak (selalu) kelihatan seperti emosi. Hanya saja, tidak ada batasan normatif tentang apa yang seharusnya dilakukan. Semua semata-mata masalah perasaan.

Perasaan atau emosi seseorang dapat berubah-ubah dan mengalami pasang-surut. Terkadang, dia bisa begitu hangat. Namun, lain waktu begitu dingin. Dia bisa panas membakar, tapi bisa juga membeku. Tengok saja di tayangan infotainment, saya suka heran ada artis yang berkata tentang pasangannya, “Sudah tidak ada lagi kecocokan di antara kami.” “Perasaanku terhadapnya sudah berubah.” Alas, ini pun bukan cinta ideal dalam kacamataku.

Nah, yang berikutnya lagi, meminjam Mbah Fromm, cinta dapat dipahami sebagai kerja atau aktivitas. Pemahaman ini sebenarnya juga memahami cinta sebagai sesuatu yang terlihat. Namun, yang terlihat bukan pertama-tama wujud bendanya, tetapi aktivitasnya: apa saja yang dilakukan terhadap subyek yang dicintai.

Rasa dan usaha

Sebenarnya, ketiga pemahaman ini tidak sepatutnya dipahami sebagai hal yang terpisah-pisah. Sebaliknya, ketiganya saling melengkapi untuk memahami apa yang dinamakan cinta. Namun, ketiganya baru menjelaskan tentang “gejala-gejala” cinta, belum lagi menukik pada “materi” atau “isi” cinta itu. Bicara konten, kira-kira ada dua komponen yang dapat kita kenal dari cinta. Yang pertama adalah rasa, emosi, perasaan atau apa pun yang kita istilahkan untuk menamai hal yang tidak nampak tapi bisa dirasakan itu. Yang kedua adalah usaha, yaitu segala hal yang terlihat dan dilakukan oleh dan karena cinta.

Sehubungan kedua hal ini, perlu dipahami sedikit bahwa rasa tanpa usaha atau perbuatan tidak akan menjadi apa-apa dan tidak akan ke mana-mana. Itulah yang terjadi sebutlah pada seorang laki-laki yang tidak berani menyatakan cintanya kepada perempuan idamannya. Ya matilah dia bersama perasaannya. Sebaliknya, usaha tanpa rasa adalah absurd, aneh, nggak jelas. Idealnya, keduanya harus hadir pada saat bersamaan. Jadi, cinta yang ideal menurutku harus ada rasa dan usaha.

Kondisi yang menunjukkan gejala-gejala cinta ini bisa disebut kondisi orang lagi “jatuh cinta”. Kondisi tersebut baru pada tahap yang sangat awal. Dalam perjalanan, cinta akan diuji. Cinta sejati adalah cinta yang sudah diuji oleh waktu. Jadi, memang sulit membenarkan orang yang mengatakan sudah menemukan cinta sejatinya, padahal baru sekali-dua kali bertemu. Jadi, pertanyaan berikutnya adalah cinta yang bagaimana yang ideal?

Banyak orang telah berbicara tentang cinta yang ideal ini. Banyak orang sekadar mengartikan cinta sebagai “perasaan menyenangkan” di mana kita bisa “terjatuh” ke dalamnya. Di sinilah aku bertemu dengan Mbah Fromm. Menurut dia, cinta itu seni. Jika cinta merupakan seni, berarti ia dapat dipelajari, dilatih, dan dipraktikkan. Untuk itu, kita juga dituntut untuk disiplin, sabar, dan konsentrasi.

Pembahasan Fromm dalam buku Seni Mencinta sangat berbeda dengan buku-buku lain (bandingkan misalnya dengan pakar cinta Leo Buscaglia yang lebih praktis dan menarik minat). Jangan harap buku ini menjadi panduan praktis untuk menaklukkan lawan jenis. Bukan. Erich Fromm justru mengajak kita berkeliling, memikirkan ulang apa yang selama ini kita anggap telah kita mengerti. Kebanyakan bukan pandangan atau hal baru, misalnya saja pembahasan tentang cinta orang tua pada anak, cinta persaudaraan, dan cinta erotis. Namun, pada akhirnya, Fromm mengunci semua pandangan dengan kesimpulan bahwa cinta sebenarnya merupakan “jawaban terhadap masalah eksistensi manusia”. Sederhananya, kehidupan modern yang sangat hiruk-pikuk ini ternyata menyisakan kesepian dan perasaan terasing dalam diri banyak orang. Dan, mereka mencari jawaban atau solusinya dalam cinta dan lembaga yang disebut pernikahan.

Menjadi dengan memberi

Mencintai menurut Fromm bukan masalah “memiliki”, melainkan “menjadi”. Caranya, dengan “memberi”. Fromm berkata, menjadi kaya bukanlah karena berapa banyak yang dimiliki, melainkan berapa banyak yang dapat diberikan. Maka, menjadi kaya oleh cinta berarti bukan menerima dan memiliki banyak cinta, melainkan memberikan banyak cinta.

Memberi menjadi hal penting dalam gagasan Fromm. Yang dimaksud bukanlah memberi materi, melainkan memberi hal yang paling berharga milik seseorang, yaitu dirinya sendiri. Fromm berkata, “Ia memberi dari apa yang hidup di dalam dirinya; memberi kegembiraannya, dari minatnya, dari pengertiannya, dari pengetahuannya, humornya, kesedihannya – segala ungkapan dan pernyataan dari apa yang hidup di dalam dirinya. Dengan memberi hidupnya, ia memperkaya pribadi yang lain”

Cinta menurut Fromm adalah perhatian aktif pada orang yang dicintai. Seseorang mencintai apa yang ia usahakan dan berusaha untuk apa yang ia cintai. Apakah terdengar terlalu penuh pengorbanan dan seakan-akan tidak memikirkan diri sendiri? Tidak juga. Justru, menurut Fromm, dengan memiliki pandangan yang “benar” tentang cinta dan tekun berlatih mencintai, pelaku akan mendapatkan manfaat dapat mengatasi masalah keterasingan yang dialaminya, sekaligus membuat dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka yang mempraktikkan latihan cinta juga akan lebih dapat menikmati hidup. “Memberi berarti membuat pribadi yang lain itu menjadi seorang pemberi juga dan mereka berdua ambil bagian dalam kegembiraan atas apa yang mereka bawa pada hidup ini.”

Happy valentine’s day! Sudahkah kamu memberikan dirimu hari ini pada yang kamu cintai?

screen-capture

Ada Cinta dalam Es Krim

[PERINGATAN!!! Tulisan ini merupakan spoiler. Jadi, kalau berniat menonton film ini, sebaiknya tidak usah meneruskan membaca. Pergi aja menonton filmnya dulu.]

ig
Foto dok Mp Pro Pictures & Limelight Pictures

Jangan coba-coba berjanji, kalau kau tak bisa menepati. Itulah pesan yang aku tangkap usai menonton film Remember the Flavor semalam, Rabu (8/2).

Eit, jangan salah, biar kata judulnya Remember the Flavor, ini film lokal. Memang nggak biasanya aku menonton film Indonesia. Ini juga karena kebetulan urusan kantor, jadi ya nggak ada salahnya sesekali menyimak perkembangan film lokal. Terlepas dari sejumlah ganjelan, menurutku film besutan Dyan Sunu P ini lumayan bagus.

Remember the Flavor mengangkat kisah pasangan yang telah berteman sejak SMP, Dimas (Tarra Budiman) dan Melodi (Sahira Anjani). Dibuka dengan suasana kota Yogya dan keseharian Dimas sebagai pemilik kedai es krim, adegan lalu berpindah ke stasiun kereta. Melodi yang telah tiga tahun merantau di Ibu Kota hendak pulang kampung ke Yogyakarta. Dia menelepon. Di ujung telepon, Dimas berjanji akan menjemput. Ah, sangat tipikal. Pulang ke Yogyakarta naik kereta. Apalagi latar musiknya lagu “Yogyakarta” dari Kla Project. Paling tidak, awal ini sudah mencuri perhatian.

Di kereta, Melodi bertemu dengan Arnesti (Annisa Pagih), perempuan muda yang hendak ke Yogya untuk mengurus pernikahannya. Dua perempuan muda dalam sebuah perjalanan panjang, cerita yang naskahnya digarap Ratih Kumala ini pun mengalir.

Tiga tahun sebelumnya, Melodi juga menempuh perjalanan pulang serupa. Ia ke Ibu Kota untuk mewujudkan mimpi jadi penyanyi dengan ikut audisi. Sayang, gagal.

Keinginan menjadi penyanyi muncul karena ibunya Melodi (Djenar Maesa Ayu) adalah penyanyi klub malam. Melodi kecil terpesona melihat ibunya bernyanyi di atas panggung di hadapan banyak penonton. Maka, ia pun bercita-cita suatu saat menjadi penyanyi terkenal.

Kepulangannya mengikuti audisi tidak disambut baik oleh ibunya, yang lebih suka Melodi mencari pekerjaan yang “normal”. Namun, Melodi berkeras. Dari sebuah insiden di klub malam tempat ibunya bernyanyi, Melodi justru mendapat kesempatan untuk menggantikan ibunya sebagai penyanyi utama klub malam tersebut. Tak pelak, pecah perang antara ibu dan anak yang membuat Melodi angkat kaki dari rumahnya.

Tidak jelas benar hubungan antara Dimas dan Melodi, yang jelas Dimas sangat mendukung Melodi. Tidak tahu mau ke mana, Melodi lalu meminta izin untuk tinggal di kedai es krim milik Pak Hendro (Ferry Salim), orang tua Dimas. Sebagai imbalannya, ia bersedia untuk bekerja tanpa dibayar.

Sementara itu, bisnis kedai es krim Pak Hendro mulai sepi. Dimas mengusulkan untuk mengubah suasana kedai menjadi lebih kekinian dan menghadirkan varian rasa baru yang inovatif, yang ia sebut “pinakolada” (?). Namun, ayahnya berkeras tidak mau berubah. Selain karena kisah nostalgia dengan ibunya Dimas yang telah tiada, juga karena ia meyakini resep yang membuat kedai tersebut bisa bertahan hingga tiga generasi.

Sampai di sini, aku menduga-duga, konflik apa yang sebenarnya ingin diutarakan pembuat cerita? Kayaknya ini bukan murni kisah percintaan, tapi kok lebih mengarah pada konflik antargenerasi.

Oya, sesekali adegan kembali pada percakapan antara Melodi dan Arnesti dalam perjalanan kereta menuju Yogya. Kisah demi kisah yang meluncur tentang kehidupan Melodi ternyata menarik perhatian Arnesti.

Kisah berlanjut dengan insiden lain di klub malam yang membuat Melodi memutuskan untuk hengkang. Kejadian itu pula yang membuat ibunya berbalik menemuinya. Akhirnya, ibunya mengizinkan Melodi merantau ke Ibu Kota mengejar impiannya. Sedangkan Dimas? Dia bertahan di Yogya mengelola kedai es krim milik keluarga dan yakin bahwa menu pinakolada racikannya bakal digemari.

Biar nggak spoiler semuanya, cerita aku sudahi sampai di sini saja. Aku cuma mau bilang, akhirnya ini memang kisah percintaan—bukan seserius masalah konflik antargenerasi.

Pembuat cerita cukup berhasil menjalin kejadian demi kejadian, sehingga penonton terhanyut, sebelum akhirnya ada twist di penghujung film. Kerenlah, walau memang ini untuk konsumsi usia kaum dewasa muda. Mereka yang di usia pertengahan hingga akhir 20-an, ketika mulai bergulat dengan kehidupan sesungguhnya, berpikir tentang karier, dan masa depan.

Kisah cinta yang ditawarkan bukan yang norak, bertabur kalimat-kalimat basi, dan terjebak dalam situasi-situasi yang bikin risih. Yup, di sini kita bicara cinta yang dewasa, cinta yang “riil”, apa adanya, dan yang berbagai versinya sedang dialami oleh banyak orang. Tak ada kalimat cinta, tak ada puisi, tak ada rayuan.

Yang ada adalah sosok Dimas yang dengan polosnya bertanya tentang perasaan Melodi terhadap dia. Yup, ketololan seperti inilah yang acap terjadi. Bukan rayuan gombal oleh laki-laki galan dengan gaya elegan.

Respons Melodi pun begitu apa adanya. Bukanlah kata-kata yang menenangkan atau malah kemarahan yang lebay. Cukup diam saja dengan wajah tidak suka lalu melengos meninggalkan Dimas. Eat it, Dude.

Adegan perpisahan di stasiun kereta, ketika Dimas dan ibunya melepas Melodi, menurutku adalah adegan lebay tertakar. Sengaja dibikin lebay untuk mempersiapkan twist. Dan, di situlah Dimas mengucapkan janjinya.

Menurut Bobby, teman wartawan film yang kemarin ketemu, untuk ukuran film Indonesia, Remember the Flavor terhitung bagus. Ya, aku pun mengamininya. Terlepas dari sejumlah hal yang menurutku rada nggak masuk akal. Di antaranya, apakah segampang itu seorang perempuan bisa tinggal di kedai es krim. Aku juga tidak tahu, sudah seberapa kosmopolitnya kehidupan di Yogya, tapi ya mungkin Yogya sekarang sudah tak berbeda dengan Ibu Kota. Bukan lagi kampung halaman yang ramah dan bersahabat sehingga senantiasa dikenang seperti kata lagu Katon cs.

So, kalo kamu pengen mengudar rasa ntar di hari yang katanya menjadi hari kasih sayang, sila menonton film ini. Rencananya  akan tayang di bioskop pada 15 Februari mendatang. Buat yang perempuan, merujuk pada karakter Dimas, boleh kok mengingatkan pasangannya agar tak gampang mengumbar janji. Buat yang laki-laki, ya dinikmati aja. Ya seperti karakter Dimas itu (hope you know what I mean, he he he).

Inilah Tiga Vokalis Metal Favorit

Boleh percaya, boleh nggak, tapi kiprah saya ngeband yang singkat itu (dari sekitar 1989 sampai 1994) dimulai dengan menjadi vokalis. Waktu itu kelas II SMA dan mengisi pentas musik 17 Agustus, membawakan dua lagu, “Semut Hitam” dari God Bless dan lagu ciptaan sendiri bertajuk “Sajak Mesiu” (wtf! lagu ciptaan sendiri, hahaha).

Nggak usah heran, namanya juga masih remaja labil. Pengen ngeband tapi kemampuan pas-pasan, yang paling masuk akal ya jadi vokalis. Padahal, departemen vokal jelas-jelas bukan perkara gampang. Apalagi kalau mau membawakan lagu-lagu rock milik—di Medan waktu itu nyaris identik dengan—Purple atau Zeppelin. Ya nggak nariklah kalau mau bawain “Highway Star” atau “Black Dog”.

Ketika saya dan karib masa SMA, Bogard, ngobrol-ngobrol pengen bikin band, kita kesulitan mencari vokalis. Sama-sama suka Maiden, tapi vokal bergaya opera Dickinson ya mampus aja nyanyiinnya. Di Medan waktu itu yang nekat bawain Maiden cuma band Greaf Metal (ini nggak tahu salah tulis atau emang mereka maunya begitu, tapi memang namanya “greaf”, bukan “great”) dengan vokalisnya yang kuntet dan kriwil, Nabo. Biar kata pelafalannya ngaco, tapi pede aja bawain “The Trooper”. Salut sih, walau selalu pengen ketawa kalo mengingat dia melengkingkan baris pertama “The Trooper”, “Yu tek mi lof bet ai tek yos tu…”

Sempat terpikir untuk bawain lagu band-band metal standar macam Kiss atau Motley Crue. Yang kepikiran waktu itu “Heaven’s on Fire”-nya Kiss. Tapi ya vokalnya Stanley dan Neil juga bukannya enteng. Tetap aja ada bagian melengking yang sulit dikejar. Nah, akhirnya, pilihan kita jatuh untuk menjadi imitator Metallica, karena range vokal Hetfield terhitung masih “normal”. Secara berseloroh, saking sebelnya pada vokal-vokal tinggi, kita bilang, “Kapanlah musik metal ini nggak perlu vokal yang tinggi… Kalo perlu makin rendah.” Eee, ternyata beneran tuh jadi kenyataan.

Saat itu, vokalis rock nyaris identik dengan vokal tinggi. Nggak, cuma Purple atau Zeppelin, nyaris semua vokalis rock atau metal yang top waktu itu pasti jago mendaki nada-nada tinggi. Nah, mulai dari Metallica, kita berkenalan dengan band-band yang unik karena tak lagi mengejar nada-nada tinggi. Malah, sebaliknya, turun semakin dalam dengan nada-nada rendah.

Kalo menyimak the big four thrashmetal, merekalah pionir yang menjadi jembatan untuk generasi vokalis berikutnya. Belladonna dari Anthrax masih bermain di nada-nada tinggi, simak misalnya album Spreading the Disease. Mustaine imho sebenarnya nggak bisa jadi vokalis, tapi secara dia bos dan yang empunya Megadeth, ya terserah dialah. Dua lainnya, Hetfield dan Araya, menurutku menyanyi apa adanya.

Band-band thrashmetal yang akar punknya masih kuat, seperti Suicidal Tendencies, Nuclear Assault, atau DRI punya gaya vokal yang cenderung nge-punk, lempeng mirip-mirip Johnny Rotten. Yang masih seirama dengan mereka adalah band-band trashmetal papan atas seperti Exodus dan Overkill. Gaya vokalnya cenderung masih konvensional, minus jeritan melengking. Nuansa kelam mulai terasa kalau menyebut Testament, walau gaya bernyanyi Chuck Billy sebenarnya teriakan biasa saja.

Hal itu tampaknya dipengaruhi karakter musik dan tema yang diangkat. Karakter musik thrashmetal lebih garang dan agresif. Lalu, jika band-band metal sebelumnya umumnya mengangkat tema seks dan percintaan, band-band thrashmetal dan penerusnya masuk ke tema-tema yang lebih serius seperti politik, peperangan, lingkungan, hingga masalah keyakinan. Rata-rata bernada kemarahan dan pemberontakan. Jadi ya nggak terlalu pas lagi dengan vokal melengking tinggi.

Sejumlah band mulai bereksperimen. Dari jurusan death metal, yang mengangkat tema satanisme dan kematian, muncullah gaya vokal growl, seperti orang menggeram. Juga “throat”, suara yang tertahan di tenggorokan. Hingga upaya untuk menirukan suara setan ala ala penyihir abad pertengahan.

Beberapa vokalis yang menurutku unik dan khas, di antaranya, Mille Petrozza dari Kreator. Pada album-album awal, sebutlah Endless Pain, vokal Mille lebih mengarah pada gaya umum death metal yang nge-growl. Tapi, mulai Terrible Certainty, Extreme Aggression, hingga Coma of Souls, mulai ajeg dengan teriakan suara palsu yang parau khas Kreator.

John Tardy dari Obituary dan Dani Filth dari Cradle of Filth bisa menjadi contoh suara-suara vokal ala penyihir abad pertengahan. Tapi, ternyata, bisa jadi sangat keren waktu bawain “Hallowed Be Thy Name”-nya Iron Maiden. Gila, lagu masterpiecenya Maiden itu jadi terdengar satanis…

Suara yang mengandalkan tenggorokan bisa disimak pada Max Cavalera dari Sepultura. Sama halnya dengan Kreator, pada album-album awal (Bestial Devastation, Morbid Visions), Max cenderung bergaya death metal. Namun, sejak Beneath the Remains, Max mulai menampilkan karakter yang menjadi ciri khas. Throat yang dalam dan parau sangat pas dengan musik penuh distorsi Sepultura. Gaya ini berlanjut terus hingga album bergaya tribal, Roots. Benar-benar maknyus vokalnya.

Di Inggris ada Napalm Death. Band ini semula kental dengan gaya punk yang dibalut kemasan death metal, jadilah grindcore. Namun, pada Harmony Corruption, mereka lebih kental dengan nuansa death metal. Vokal Barney menjadi total growl dan throat dengan nada sangat rendah. Dari jurusan ini, yang lebih ekstrim lagi ya tentu saja rajanya deathmetal, Suffocation. Gaya “bernyanyi” Frank Mullen bisa dianggap menjadi standar vokal death metal.

Dari jurusan ini masih muncul band-band technical seperti Nile atau Cryptopsy, tempat bermukimnya dua drummer technical tercanggih yaitu George Kollias dan Flo Mournier. Entah mengapa, udah musiknya supercepat, brutal, gelap, dan rumit (hahaha, eat it dude!!), vokalisnya terdengar seperti menggeram, menggerutu, dan kumur-kumur nggak jelas juntrungannya. Hebat kalo masih ada yang bisa menangkap apa yang mereka katakan. Sampai di sini, aku melihatnya yang dikejar adalah efek suara (musikal?) ketimbang pesan melalui lirik.

Band-band metal yang lebih muda, yang membawakan metalcore, juga punya gaya sendiri. Simak misalnya Austin Dickinson dari Rise to Remains. Anaknya Bruce Dickinson ini bisa menyanyi teriakan growl dan teriakan bersih secara bergantian. Simak misalnya di lagu “The Serpent”. Gaya seperti ini diusung juga oleh vokalis perempuan Alyssa White-Gluz waktu masih di The Agonist serta penerusnya, Vicky Psarakis. Cuma, karena karakter vokal growl dan suara beningnya sangat kontras, kok kadang malah jadi annoying mendengarnya.

Rasanya nggak adil juga kalo tidak menyinggung genre metal lain yang juga menjadi favorit aku, power metal. Di sini, jawaranya jelas, siapa lagi kalo bukan Michael Kiske dari Helloween. Dialah peletak fondasi bernyanyi power metal yang bergaya opera dengan tenaga penuh dan jangkauan lebar. Itulah yang kemudian diikuti band-band seperti Stratovarius, Blind Guardian, atau Dragonforce. Sementara, favorit pribadiku adalah Fabio Lione dari Rhapsody. Selain melengking tinggi, karakter suaranya juga gagah, sehingga pas membawakan lagu-lagu epik bergaya opera.

Panjang kali lebar ke sana kemari, aku sebenarnya pengen kasih gambaran macam-macam gaya bernyanyi metal yang ada sampai sekarang. Jadi kembali ke judul tulisan, siapa vokalis metal favorit?

Untuk old school heavymetal, udah nggak perlu ditanya lagi, pastinya the mighty Bruce Dickinson. Simak terutama album-album klasik seperti The Number of the Beast, Piece of Mind, dan Powerslave. Untuk old school thrashmetal, aku menjagokan Max Cavalera. Imho, vokal Max di Arise sangat pas dengan thrashmetal. Untuk jurusan powermetal, Michael Kiske rasanya sangat layak. Ya pastinya dari album klasik Keeper of the Sevens Keys Part I dan Part II. So far, tiga nama ini yang menurutku vokalis terbaik di genrenya masing-masing. Tabik!

Pengawal Setia “Old School Thrashmetal”

kreator_-_gods_of_violence
Gods of Violence, album baru Kreator

Ada yang menarik perhatian dari ponsel Androidku belakangan ini. Tiap mengecek ponsel saat bangun pagi, suka ada notifikasi. Bukan message atau email, tapi misalnya skor pertandingan Juventus, ditandai ikon bola. Lalu, ada berita-berita yang menarik. Nah, pagi ini muncul ikon “G” logo Google. Begitu diklik, isinya ternyata pemberitahuan bahwa album baru Kreator yang bertajuk Gods of Violence sudah dirilis.

Sepertinya, Google mencatat minat kita dan secara berkala menghadirkan cards berisi informasi yang kira-kira bakal kita minati. Aku lihat, deretan cards yang muncul kalau aku membuka Google now memang tidak jauh-jauh dari Juventus, Kreator, Casey Neistat, atau update dari blog-blog yang aku ikuti. How nice… tapi sekaligus mengkhawatirkan juga. Rasanya seperti ada yang memantau kita terus-menerus.

Anyway, 26 Januari 2017 memang menjadi tanggal rilis album baru Kreator. Di akun resmi Instagram Kreator kemarin memang sudah diumumkan, akan ada official release show yang disiarkan live melalui radio online www.fritz.de/livestream. Sayang, waktu dibuka, aku nggak ngerti karena bahasa Jerman.

Tapi, itulah enaknya sekarang ada Spotify. Begitu ada notifikasi albumnya resmi dirilis, aku langsung cek Spotify. Bener aja, album ini sudah bertengger dengan manisnya. Ada 11 lagu baru yang disodorkan dengan total sepanjang 51 menit 43 detik. Di Spotify, ada tambahan bonus 14 lagu (alamak) yang diambil dari DVD Live at Wacken 2014. Mantap!…

Sebagai teaser, aku sudah sempat menyimak “Satan is Real” sejak sebulan silam, dilanjutkan kemarin-kemarin ini “Totalitarion Terror”. Dua nomor ini saja sudah cukup untuk mereka-reka, bakal seperti apa album baru Kreator ini.

Kembali ke akar

Seperti aku sampaikan pada posting terdahulu, Kreator merupakan lapis kedua dari elite thrashmetal. Mereka masih di luar the big four, tetapi bisa dibilang merupakan yang terbesar di Eropa—sejajar dengan Sepultura di Brasil. Secara karakter, thrashmetal ala Kreator berbeda dengan kompatriot mereka dari AS. Musik mereka cenderung lebih kasar dan agresif. Sementara itu, vokal suara palsu Mille terdengar penuh kemarahan. Bandingkan dengan vokal Mustaine yang lebih terdengar seperti nenek-nenek cerewet.

Mari kembali sejenak ke masa lalu. Extreme Aggression yang dirilis 1989 imho menjadi salah satu pencapaian puncak Kreator. Kreator masih mengeluarkan album keren Coma of Souls setahun kemudian, tapi sehabis itu mereka mulai bereksperimen. Awal dekade 1990-an menjadi titik persimpangan genre thrashmetal, sebelum kemudian habis diterpa kebangkitan grunge.

Banyak yang bingung menentukan arah, termasuk dedengkotnya, Metallica, yang malah mengeluarkan album Metallica atau lebih dikenal sebagai black album. Anthrax, Testament, dan Sepultura juga bereksperimen, meninggalkan akar thrashmetal yang cepat dan agresif. Kreator sami mawon, bereksperimen dengan corak industrial pada album Renewal (1992) yang terbukti kemudian menjadi pembaruan yang gagal. Bahkan, Mille berusaha meninggalkan vokal palsunya dan mencoba bernyanyi dengan suara “asli”. Tapi, itu bukan Kreator yang dikenal orang.

Masa terhilang itu berlangsung hingga pergantian milenium. Pada 2001, masuk Sami Yli-Sirnio yang berusia lebih muda sekitar satu dekade dibandingkan personil-personil Kreator lainnya. Masuknya darah segar ini benar-benar menyegarkan. Tahun itu juga Kreator merilis Violent Revolution. Aku ingat, lagu pertama album itu judulnya “Reconquering the Throne”. Yup, Mille sudah datang kembali dan bersiap mengambil alih tahta sebagai jawara metal yang selama ini mereka tinggalkan. Mereka kembali dengan akar musik thrashmetal yang membesarkan mereka. Cepat, agresif, dan penuh kemarahan. Album ini juga yang membuat aku mendengarkan kembali Kreator.

Perang dan kehancuran

Pasca Violent Revolution, Kreator konsisten mengeluarkan album tiap 3-4 tahun. Dan, Gods of Violence ini merupakan album kelima dengan formasi yang sudah ajeg sejak masuknya Sami.

Sejak pagi, aku sudah mendengarkan album ini utuh satu putaran. Kesan secara umum, yesss… ini Kreator yang aku kenal. Mereka yang terobsesi dengan kecepatan dan agresivitas dijamin puas. Semua yang disukai fans dari Kreator ada di sini. Sebagian orang mungkin bilang, apa nggak bosan? Tapi, justru aku bilang, katalog lagu mereka makin banyak sehingga pilihan jadi lebih banyak.

Patut diingat, band-band thrashmetal seperti Kreator ini tidak akan menelurkan hits yang bakal nangkring di tangga lagu populer. Tidak. Menikmati musik mereka justru lebih asoy kalo didengarkan dari awal sampai habis. Ibarat novel, dari awal, pertengahan, hingga habis, kita dibawa menjelajahi pengalaman musikal. Untuk itu, turun-naik tempo dan emosi yang dibangun menjadi lebih penting.

“Apocalypticon” menjadi intro yang menegaskan arah perjalanan kita kali ini. Judul instrumentalia yang bagaikan tabuhan genderang perang ini seakan mengisyaratkan tentang sebuah kisah kehancuran yang akan kita hadapi. Langsung aja, nomor kedua garukan gitar Sami dan Mille dan gempuran drum Ventor menggebrak, “World War Now”. Peperangan dan kehancuran menjadi tema dan benang merah album ini.

Seperti kebiasaan yang mulai aku amati sejak Violent Revolution, Kreator selalu menyisipkan part untuk sing along yang diulang-ulang pada bagian reff. Kebayang, kalau lagi konser, pada bagian ini pasti teriakan membahana bersama tangan-tangan yang teracung ke udara.

Sami bukan hanya mengembalikan kecepatan dan agresivitas Kreator. Sejak kehadirannya, aku merasa Kreator menjadi lebih melodius. Di beberapa bagian juga dapat disimak nada-nada klasik, misalnya pada solo “Gods of Violence”. Satu lagi yang seakan menjadi pola adalah hadirnya lagu mid tempo yang easy listening, seperti “People of the Lie” atau “Violent Revolution”. Nah, di album ini, tugas itu diemban “Fallen Brother”.

Overall, dari awal sampai habis, telinga diajak berpacu. Memang, ada beberapa titik jeda dengan hadirnya intro-intro gitar akustik, tapi langsung disambar lagi dengan distorsi penuh. Benar-benar maknyus. Nomor-nomor yang kuat menurutku “World War Now”, “Lion with Eagle Wings”, dan “Fallen Brother”.

Matang, tapi tidak orisinal

Barusan sempat ngobrol singkat dengan Aldo, temen kantor yang juga gitaris band metal. Aku perdengarkan album baru ini sekilas, dia cuma berkomentar singkat, “Soundnya jadoel.” Hehehe, mungkin aku yang sudah tidak mengerti atau ketinggalan, sound metal yang modern itu kayak apa. Tapi, untuk ukuran orang sebayaku, yang sudah menapaki kepala empat, yang nikmat itu ya begini. Ketimbang band-band metalcore atau metal alternatif yang menurutku terlalu rumit.

Yep, setiap orang pasti merupakan anak zamannya. Zaman boleh berubah, tapi selera atau cinta mula-mula sulit berubah. Aku jadi merasa seperti para seniorku, yang zaman waktu thrashmetal meledak, masih saja setia menantikan album baru dari Purple, Stones, atau Zeppelin. Aku tidak akan pernah lupa masa-masa labil yang penuh kemarahan zaman SMA dan mahasiswa dulu. Dan, setiap kali aku akan mengingat sebaris lirik dari lagu “Love Us Or Hate Us”: “…. we don’t want to be a part of this sick society“. Lepas banget rasanya.

Untuk genre seperti ini, secara teknik dan kualitas permainan, rasanya sudah advance. Orisinalitasnya yang sudah sulit berkembang. Di genre ini, so far Kreator dan Slayer yang tetap setia dengan formula “orisinal” seperti yang mereka tawarkan tiga dekade silam. Menurutku, lebih baik begitu. Tidak usahlah mereka bereksperimen lagi seperti pada era Renewal dulu. Bukannya tidak mau open mind, tapi biarlah masing-masing punya karakter dan ciri khas sendiri.

Gitu aja review selintas yang berkepanjangan ini. Yuk mari jajal di sini.