Supergirl, Tidak Seperti yang Diharapkan

Belum separuh film, Icha sudah bergumam kalau film ini nggak asyik. Walau agak enggan dan berharap masih ada part yang lebih menarik, harus aku akui kalau Supergirl besutan Craig Gillespie ini nggak sesuai yang diharapkan.

Waktu menonton Superman (2025) yang merupakan reboot dari DC Universe, sudah diperkenalkan karakter Supergirl. Sekilas agak nyeleneh, karena beda dengan Supergirl yang nongol di The Flash (2023). Di Superman James Gunn, walau sekilas tapi kesan yang muncul karakternya rebel dan slengekan. Beda dengan di The Flash, yang lebih dingin, kelam, dan pemarah.

Bagaimana pun karena fans DC, aku bertekad untuk menonton Supergirl kalau nanti sudah diputar. Walau, memang harap-harap cemas, karena Superman kemarin terkesan dongo’. Apa jangan-jangan si Supergirl ini juga agak mirip-mirip. Semoga nggak ya… Nah, Kamis (25/6) kemarin, sehari setelah mulai diputar di Indonesia, kita pun langsung nonton.

Si rebel yang kehilangan purpose

Kesan rebel yang aku tangkap pada film Superman benar-benar nyata. Dari awal, Supergirl alias Kara Zor-El (Milly Alcock) digambarkan malas-malasan. Merayakan ulang tahunnya ke-23, ia mabuk-mabukan di bar planet antah berantah. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), yang keluarganya dibantai oleh Krem, pimpinan gerombolan Brigand.

Ruthye meminta tolong Kara untuk balas dendam, tapi Kara menolak. Alasannya, ia merasa itu bukan urusannya. Lalu, ia juga menasihati Ruthye agar tidak menjadi pembunuh, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Hingga kemudian Kara sendiri berurusan dengan Krem, gara-gara anjingnya kena tembakan beracun. Mau nggak mau, Kara harus mencari Krem untuk mendapatkan penawar racun. Maka, petualangan Kara dan Ruthye mengejar Krem pun dimulai.

Sedikit demi sedikit, terkuak alasan Kara tidak mau terlibat. Ternyata itu berhubungan dengan masa lalunya dan nasib keluarganya di Planet Kripton. Yeah, tragedi bisa mengubah seseorang. Jika Ruthye yang digambarkan seperti anak baik-baik malah ingin jadi pembunuh demi balas dendam, Kara justru menyia-nyiakan hidupnya yang memiliki kekuatan super.

Film ini seperti hendak mengungkap konflik batin Kara, dari seorang yang merasa hidup tak lagi punya makna, hingga akhirnya ia menemukan makna. Dia sempat membandingkan dirinya dengan Superman alias Kal-El, yang masih sepupuan. Superman menurutnya tidak mengalami tragedi seperti dirinya, karena meninggalkan Kripton saat masih bayi. Sedang ia, sudah cukup besar untuk memahami dan melihat sendiri kehancuran Kripton.

Kehilangan rumah dan orang-orang terkasih meninggalkan luka yang membuatnya jadi antisosial. Superman yang adalah anak kampung di Texas tak mampu mengajaknya untuk menjadikan Bumi sebagai “rumah kedua”.

Hanya saja, alur cerita yang ditulis Ana Nogueira dan eksekusi sutradara Craig Gillespie terasa bertele-tele. Ada bagian yang kurang penting tapi seperti dipanjang-panjangi, sedangkan part yang lain singkat saja.

Aksi yang kentang

Sama halnya dengan Superman, yang kekuatannya setara dewa, kalau berhadapan dengan manusia biasa (baca: di Bumi) pasti sudah nggak ada lawan. Makanya, disiasati dengan kisah mengambil tempat di belahan semesta lain yang tidak terjangkau matahari.

Porsi aksi juga tidak terlalu banyak dan awalnya sosok Supergirl tidak mengenakan kostum. Jadi nyaris tidak terasa seperti menonton film superhero. Meski begitu, ada adegan yang cukup brilian untuk menampilkan kekuatan Supergirl yang tidak ada lawan. Alih-alih menampilkan langsung adegan perkelahian, sutradara memilih mengambil dari sudut pandang Ruthye. Barangkali ini menjadi salah satu adegan aksi yang kreatif dan keren di film ini.

Selesai menonton, aku kembali terpikir, memang sulit membuat cerita untuk karakter super seperti ini. Lawannya harus setanding agar seru. Kalau nggak, ya sebentar juga sudah menang.

Oya, salah satu yang dinanti-nanti di film ini adalah hadirnya Jason Momoa. Bintang Aquaman ini memerankan Lobo, seorang bounty hunter. Tapi, asli, nggak jelas benar perannya dalam film ini.

Nyaris tidak ada persinggungan yagn signifikan antara Supergirl dan Lobo. Mereka juga bukannya bekerja sama, tapi kebetulan hadir pada tempat yang sama dengan maksud masing-masing. Mestinya bisa saja dibikin cerita yang lebih menghubungkan—tapi entah kenapa si penulis cerita membiarkan begitu saja. Jadi, bisa dibilang, entah ada karakter Lobo atau nggak, nggak ada bedanya untuk film ini. Sama sekali nggak penting banget… alamak!

Jadi, apakah film ini nggak layak tonton?

Kalau fans garis keras yang nggak peduli hujan atau angin, entah bagus atau nggak, ya ini tetap wajib tontonlah. Tapi kalau penonton casual yang mengharapkan hiburan atau ada sesuatu yang membekas setelah menonton, rasanya Supergirl ini bukan tontonan yang tepat. Nyaris tidak ada memorable moment atau adegan yang klimaks.

Kemunculan Supergirl pertama kali mengenakan kostumnya terasa megah, tapi ternyata nggak cukup panjang dan menarik untuk bisa mengikat perhatian. Bagian-bagian lain? Lupakan saja.

Jadi… silakan tonton at your own risk hahaha…