Tentang Musik Digital, Spotify, dan Record Store Day

smartphone-1735044_1280
Spotify, jadi pilihan praktis untuk dengar musik. (Foto-foto by Pixabay.com)

Hari ini, aku membawa sekantung plastik keresek kaset-kaset lama. Setelah sekian lama berdebu di salah satu pojokan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk menjual saja kaset-kaset itu. Aku titip pada seorang teman yang akan jualan di Record Store Day akhir pekan nanti.

Di antara kaset-kaset yang aku jual termasuk koleksi album Iron Maiden. Salah satunya album The X Factor, hasil buruan di lapak kaset bekas di Blok M. Sekitar 1,5 dekade silam, kaset album bersama vokalis Blaze Bayley ini mulai langka, menyusul kembalinya Bruce Dickinson mencekal mic di Iron Maiden.

Semula, aku termasuk yang menyesalkan keluarnya Dickinson dan menganggap Maiden telah selesai dengan masuknya Bayley. Namun, justru ketika Dickinson kembali, aku jadi penasaran untuk mendengarkan kembali lagu-lagu periode Bayley. Makanya, biar kata bekas dan dihargai lebih tinggi dari harga pasar, tetap aja album yang memuat epik “Sign of the Cross” itu aku tebus. Begitulah manusia, ketika ada dibenci, ketika pergi malah dicari. Hehehe…

Jadi, apa pasal, sudah repot-repot dibeli, kok malah dijual?

Sederhana saja, sekarang mostly aku mendengarkan musik via Spotify. Sebelum Spotify masuk ke Tanah Air, jujur saja aku lebih banyak mendengarkan musik-musik hasil “sedotan” alias bajakan. Bukannya tidak menghargai pemusik, tapi pada akhir dekade 1990-an band-band yang aku dengarkan kebanyakan sudah sulit ditemui albumnya di pasaran. Kalau ada kasetnya, biasanya aku beli. Begitu juga album-album baru. Waktu Christ Illusion (Slayer) dan Death Magnetic (Metallica) keluar sekitar satu dekade silam, saat pertama kali tahu, aku langsung membeli CD-nya. Bahkan, sekali waktu, saking penasarannya pengen dengerin lagi “Cum on Feel the Noize” versi Quiet Riot, aku bela-belain beli impor via Barnes and Noble.

Namun, ujung-ujungnya, tetap saja yang didengerin versi digital. Yang kaset cukup disimpan dalam rak. Yang CD, setelah di-rip jadi mp3 ya disimpan lagi.

Bukan apa-apa, waktu yang paling longgar untuk dengar-dengar musik ya saat melaju antara rumah dan kantor. Peranti yang aku gunakan adalah ponsel pintar. Pemutar kaset cuma ada di rumah, itupun lama-lama jarang digunakan. Waktu semalam aku coba untuk memutar kaset yang mau dijual, ternyata sudah wassalam. Sudah nggak keluar suara lagi.

Penyimpanan

Salah satu masalah yang makin lama makin mengganggu adalah menyangkut penyimpanan (storage). Semua musik dalam bentuk fisik, baik kaset maupun CD, menumpuk di rak. Lama-kelamaan tumpukannya makin tinggi, padahal jarang disentuh. Makanya, kalau beres-beres rumah suka diomelin sama nyonya rumah. Hehehe.

Ternyata kemudian, bukan cuma media fisik yang menjadi masalah. Media digital pun mengalami masalah yang lebih kurang sama. Dulu, punya harddisk eksternal 1 terabyte rasanya bingung, mau diisi apa aja tuh? Belakangan, file-file musik hasil rip maupun sedotan tembus 1 giga dan konsisten terus bertambah. Belum lagi simpanan file film (hayo ngaku, siapa yang punya hobi begini juga hahaha). Terakhir, ketika menjajal jadi Youtuber dan membuat banyak sekali footages, 1 terabyte penuh dalam hitungan kurang dari setengah tahun.

Nah, ketika mengais-ngais storage di harddisk eksternal, file-file film dan musik yang kurang begitu penting menjadi korban pertama. Nggak lama, Spotify masuk. Bagiku, ini benar-benar solusi tuntas buat hobi mendengar musik. Tak perlu lagi repot-repot beli CD atau mencari sedotan. Tinggal search dan play. Beruntungnya, band-band yang aku dengarkan pada umumnya ada di Spotify. Band-band old school thrashmetal, hairy metal 80-an, hard rock 70-an, lagu-lagu hits 80-an, nyaris semuanya tersedia. Bahkan, malah nemu band-band yang dulunya belum sempat denger, tapi ternyata lumayan maknyuss, misalnya Onslaught atau Korzus.

Memang, ada juga band atau album tertentu yang tidak tersedia di Spotify. Misalnya saja band Tool atau album legendaris Def Leppard, Hysteria. Tapi, overall, aku sangat puas dengan koleksi Spotify.

Yang menyenangkan, untuk album baru, bisa langsung didengarkan pada tanggal rilisnya. Ini udah kejadian beberapa kali, waktu album Babymetal, Kreator, dan Metallica. Nggak perlu repot lagi nyari di toko kaset, tinggal search dan play. Just that simple!

Akhirnya, aku memutuskan menghapus semua file-file musik simpanan dan bergantung sepenuhnya pada Spotify. Lumayan, bisa menghemat storage beberapa gigabyte. Ini termasuk salah satu keputusan penting yang aku ambil sebagai penikmat musik. Hehehe.

Tren streaming ini sedang dan terus bangkit, dan tampaknya akan menjadi norma dan kenormalan di masa mendatang. Terjadinya perlahan (tapi pasti), seiring dengan semakin canggihnya teknologi (baca: kecepatan koneksi internet). Awalnya mungkin tukar-menukar berkas digital berukuran kecil (dokumen teks), makin besar (gambar), makin besar lagi (musik), hingga file-file “raksasa” (film). Sekarang, streaming film berkualitas HD sudah dimungkinkan.

Masalah storage, yang sempat aku singgung sebelumnya, benar-benar riil. Dan, ketika dimungkinkan tak harus menyimpan sendiri file di komputer atau ponsel, mengapa tidak? Biarkan pihak lain yang menyimpannya, file baru diunduh ketika hendak digunakan. Pihak lain itu punya kemampuan untuk menyimpan dengan kapasitas yang tak terbayangkan besarnya. Jadi, ngapain harus repot nyimpan sendiri.

Bagi pengguna, cara ini benar-benar mudah dan praktis. Entah berapa kali aku dan Jeremy terlibat dalam pembicaraan tentang lagu atau artis tertentu. Dengan mudah kita langsung search di Spotify. Yang lebih menyenangkan, kalau kebetulan lagi jalan atau denger radio terus tiba-tiba denger lagu enak, langsung cari tahu pakai Shazam dan didengerin lagi pakai Spotify. Pengalaman dengan musik digital seperti ini jelas tidak mungkin terjadi jika menggunakan musik analog.

Record Store Day

Jadi, apakah musik analog sudah benar-benar mati?

Ternyata tidak (atau belum?). Kembali pada cerita di awal tulisan, pada akhir pekan ini berlangsung Record Store Day. Menurut Wikipedia, inisiatif yang berawal pada 2007 ini bertujuan “merayakan budaya ‘toko kaset’ independen”. Kata “toko kaset” aku sengaja tandai sebagai terjemahan “record store”. Karena meskipun toko tersebut kemudian menjual CD dan DVD, buat banyak orang segenerasiku dan sebelumnya tetap saja disebut “toko kaset”.

Inisiatif ini barangkali merespons turunnya penjualan musik secara fisik (kaset, CD, vinil). Maka dibuatlah hari khusus untuk jualan. Pada perkembangannya, momen ini acap dimanfaatkan untuk launching album dan menampilkan musisi-musisi beken. Sebut saja Metallica yang tampil pada kick off Record Store Day pertama pada 2008.

Namun, banyak yang menganggap Record Store Day cuma kerjaan mereka yang hobi mengoleksi musik, bukan peminat musik pada umumnya. Ya iyalah, peminat musik pada umumnya barangkali cukup langganan Spotify atau membeli musik di Itunes. Tapi, bagaimana pun, kaum kolektor ini menjadi pasar yang niche.

Tahun 2016 lalu, penjualan vinil tercatat tercatat sebagai yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Lebih dari 3,2 juta piringan hitam terjual atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan musik digital dengan cara mengunduh mengalami penurunan. Sebagai gantinya, ya itu tadi, mereka melakukan streaming.

Kemudahan navigasi, mencari, dan mendengarkan musik dengan cara streaming ternyata menyisakan “ruang kosong” pada sebagian penikmat musik. Tidak ada rasa kepemilikan, karena musik digital secara streaming “dimiliki” oleh penyedia jasa. Pengguna hanya diberikan “hak akses”. Beda halnya dengan vinil, yang memungkinkan kepemilikan fisik. Terbukti, meninggalnya sejumlah musisi besar ikut mendorong larisnya vinil. Meninggalnya David Bowie tahun lalu membuat dia menjadi artis vinil terlaris karena banyak orang lalu memborong karya-karyanya sebagai kenang-kenangan. Terdapat 5 album Bowie yang bercokol pada 30 album vinil terlaris 2016.

Nah, itu pula sebabnya ketika aku menjual koleksi kaset-kaset lawas, yang laku bukan album-album sukses Iron Maiden. Tapi justru album-album yang kurang terdengar, seperti A Matter of Life and Death. Sama seperti dulu aku membeli The X Factor, sepertinya yang membeli AMOLAD itu juga buat dikoleksi, bukan buat didengarkan secara reguler.

Sekali lagi, bukan karena nggak cinta nggak sayang, tapi karena ruangan di rumah mungilku sudah tidak memadai, aku menyerahkan kepemilikan kaset-kaset lawasku pada siapa saja yang berminat. Aku cukuplah jadi pendengar casual yang hasratnya telah terpenuhi oleh Spotify. Kalau ada yang berminat jadi penadah, boleh hubungi aku. Atau, sila datang ke event Record Store Day di P7 Kuningan City pada Jumat-Sabtu, 21-22 April besok.

Ngopi Lagi Berkat Susu

beverage-1842596_1280
Kopi campur susu. (Source: Pixabay.com)

Entah kapan persisnya, tapi sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, aku sudah terbiasa ngopi. Apalagi menjelang UMPTN (ehm… ketahuan ini angkatan jebot punya), membahas soal-soal tiap hari pasti ditemani secangkir kopi. Waktu di Medan dulu, di rumah selalu tersedia kopi sidikalang yang digiling agak kasar. Rasanya keras dan mantap.

Cara membuatnya juga “sadis”. Bubuk kopi, gula, dan air dimasukkan ke dalam cangkir kaleng, lalu dimasak di atas kompor. Begitu air menggelegak tanda mendidih, cangkir diangkat, lalu dimasukkan es batu. Jadilah es kopi yang sedap rasanya. Kalau sudah punya “amunisi” begini biasanya tahan mengerjakan soal sampai berjam-jam.

Pada saat kuliah di Bandung, bapakku biasanya menengok minimal setahun sekali. Oleh-oleh yang tak pernah lupa dia bawa adalah sekotak kopi sidikalang. Padahal, aku tak pernah meminta dan sebenarnya tak sebegitu doyannya ngopi. Cuma karena sudah terbiasa, aku jadi merasa kopi bubuk lain kurang mantap. Apalagi kopi sachetan yang beli di warung.

Kebiasaan buruk

Namanya mahasiswa, kondisi kantung suka tak menentu. Dan, kebiasaan buruk ngopi ini kian menjadi. Bayangkan saja, saat uang kiriman menipis, bahkan benar-benar “tongpes” tak punya uang sepeser pun, aku tak kehilangan akal. Tinggal jerang air panas, seduh kopi, hidup pun berlanjut. Saat itu, aku merasa tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut.

Aku suka menertawakan sejumlah teman yang menjauhi kopi karena sakit maag. Ada pula yang enggan ngopi karena membuat susah tidur. Jantungnya berdebar-debar katanya. Kalau aku, cukup lawan jenis saja yang bisa bikin berdebar-debar. Kalau cuma kopi, bergelas-gelas pun tak mempan. Mungkin karena termasuk orang yang “pelor”, nempel langsung molor, aku tak pernah punya masalah dengan tidur. Saat inilah kebiasaan ngopiku menjadi-jadi.

Aktif dalam kegiatan kampus, kami sering rapat sampai malam. Sudah begitu, masih berlanjut dengan main kartu. Kalau yang satu ini bisa dari pagi ketemu pagi lagi, nggak kelar-kelar. Tentu saja, kopi menjadi teman sejati—selain rokok tentu saja.

Kopi dan rokok sudah menjadi duet maut masa muda. Sering kali, “sarapanku” cukup dengan segelas kopi dan sebatang rokok. Baru siangnya diisi nasi. Benar-benar pola hidup yang tak akan pernah aku anjurkan pada orang lain.

Memasuki dunia kerja, lagi-lagi kopi menjadi teman baik. Kali ini, aku sudah berhenti merokok. Sebagai penulis yang hari-hari memelototi layar komputer, asupan kafein benar-benar membuat ide mengalir dan pikiran terang-benderang. Namun, pasokan kopi sidikalang sudah tidak ada lagi. Gantinya, kopi instan. Soal rasa memang beda, tapi saat berkejaran dengan deadline, rasanya lebih praktis menyesap kopi instan.

Sakit maag

Hingga beberapa waktu lalu, aku mulai merasa ada yang nggak beres dengan pencernaanku. Aku sering merasa perut kembung, tapi kalau ke belakang tidak ada yang mau dibuang. Kondisi ini semakin parah ketika beberapa kali pada malam hari perut terasa melilit dan nyeri. Ketika konsultasi ke dokter, aku pun divonis mengalami maag akut.

Aku sempat protes karena menurutku pola hidup dan makanku tidak ada yang salah. Gizi cukup, konsumsi buah pun—walau tak rutin-rutin amat—lumayan. Mengapa justru sekarang terkena maag? Penjelasan dokter cukup menohok. Ibarat petinju, kalau sekarang aku KO bukan karena mendadak ada pukulan lawan yang mematikan. Selama ini aku telah dihajar habis-habisan dan mungkin pertahananku sudah semakin rapuh. Dalam kondisi demikian, tak perlulah pukulan yang mematikan, “jab-jab” ringan saja sudah bisa bikin tumbang.

Apa mau dikata? Salahku selama bertahun-tahun dulu tidak menjaga pola makan. Aku merasa kuat, padahal tubuhku tidak. Ya sudah, akibatnya sekarang. Dokter menasihati agar aku menjaga pola makan dan menerapkan hidup sehat, antara lain istirahat dan aktivitas fisik cukup. Kedengarannya mudah, tapi menjalannya setengah mati. Apalagi ada pantangan, harus mengurangi atau tidak boleh sama sekali ngopi… alamak!

Ini sudah aku buktikan. Kebiasaanku kalau ngopi takarannya cukup banyak dan tidak pakai gula. Terakhir aku melakukannya, malamnya sukses perut melilit nggak keruan. Jadi, benar-benar harus dihindari.

Dicampur susu cair

Hingga suatu kali, kebetulan ada meeting di kedai kopi modern. Tak tahan dengan aroma yang menguar begitu kuat, aku pun memesan kopi. Kali ini latte, kopi campur susu. Sepulang meeting, aku sudah was-was perut melilit. Ternyata, sampai keesokan paginya, perutku aman-aman saja. Wah, jangan-jangan kalau dicampur susu nggak apa-apa. Penasaran, aku pun membeli susu cair seperti yang digunakan di kedai kopi. Dengan perbandingan 1:1, kopi latte bikinan sendiri itu ternyata aman buat perut.

Ternyata memang setelah googling info sana-sini, aku ketemu antara lain artikel ini. Disebutkan, bagi mereka yang tidak tahan asam, menambahkan susu dapat mengurangi akibat buruk kopi.

Lebih dari itu, tak diragukan lagi bahwa susu memang punya banyak manfaat kesehatan. Kandungan kalsiumnya membentuk dan menguatkan tulang, kalsium juga berpengaruh besar terhadap sistem metabolisme energi dalam tubuh yang mengakibatkan melancarkan buang air besar serta membantu penghancuran lemak tubuh.

Minum susu juga sangat mengenyangkan. Banyak orang yang jadi tidak nafsu lagi makan gara-gara minum susu. Katanya, ini karena volume susu yang dikonsumsi akan meregangkan otot-otot perut, sehingga membuat merasa kenyang. Menurut sebuah sumber, mengonsumsi segelas susu menjelang siang dan sore dapat membantu menghilangkan keinginan makan karbohidrat pada malam hari. Cocok nih buat mereka yang pengen diet.

Yang paling enak buat campuran kopi itu susu cair. Nah, baru-baru ini aku menemukan campuran susu cair baru yang pas, yaitu susu segar full cream Indomilk UHT. Produk ini mudah ditemukan di mini-mini market. Kemasan 250 ml cukup pas untuk membikin secangkir penuh kopi campur susu. Selain itu, diminum langsung dalam keadaan dingin juga enak dan menyegarkan. Makanya sekarang kalau mampir di supermarket atau mini market, aku selalu menyetok susu Indomilk UHT ini. Buat campuran kopi atau diminum sendiri, sama mantapnya.

Berkat susu, sekarang aku sudah bisa ngopi lagi. Rasanya mungkin tidak sama persis dengan kopi yang dulu biasa aku minum. Tapi, justru sekarang lebih sehat dengan tambahan susu. Ngopinya dapat, hidup sehatnya pun tak ketinggalan.

DSC_0001

Beauty and the Beast, Membuai Diri dalam Dongeng Masa Kecil

Beauty and the Beast01
Beauty and the Beast (Kredit foto: Walt Disney Studios Motion Pictures, via IMDB.com)

Siapa yang tak suka kisah dongeng? Jika kecilnya suka membaca dongeng, besar kemungkinan pernah mendengar dongeng-dongeng seperti Putri Putih Salju (Snow White), Cinderella, atau Si Cantik dan Si Buruk Rupa (Beauty and the Beast).

Meski kisah putri yang cantik, pangeran yang tampan, dan kastel yang megah umumnya merupakan impian anak perempuan, namun waktu kecil dulu aku akrab dengan kisah-kisah ini. Beranjak dewasa, aku mulai berjarak dengan dongeng-dongeng ini. Namun, tampaknya, tidak demikian halnya dengan kaum perempuan. Setelah menjadi “mamak-mamak” pun mereka masih ingin terbuai imajinya menikmati dongeng.

Makanya, ketika terbetik kabar versi terbaru Beauty and the Beast akan tayang di bioskop, yang antusias hanya Icha. Jeremy jauh-jauh hari sudah bilang ogah menonton film ini. Berhubung waktu penayangannya berdekatan dengan ultah Icha, aku menasihati Jeremy untuk “merelakan diri” menonton bersama untuk menyenangkan mamanya. Jadilah, akhir pekan kemarin, dua jagoan mengawal si cantik menonton film ini. Hahaha. Hebatnya, Jeremy yang biasanya suka nggerundel kalau tidak suka sesuatu, kali ini anteng saja.

Jadi, apa yang bisa dinikmati dari edisi terbaru Beauty and the Beast? Karena tak menonton versi animasi yang tayang saat aku mulai kuliah tahun 1991 lalu, aku tak punya pembanding. Katanya, film musikal romantis ini dibuat tak jauh berbeda dengan versi animasinya. Tapi, ya sudahlah, aku mencoba menikmati saja film ini.

Kisah dongeng percintaan ini diadaptasi dari karya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont, penulis Perancis abad ke-18. Dikisahkan, di desa Villeneuve, Perancis, hidup seorang perempuan muda bernama Belle (Emma Watson). Ia tinggal bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), seorang seniman. Meski wajahnya rupawan, Belle dianggap aneh oleh penduduk desa yang kehidupannya selalu rutin dan begitu-begitu saja. Pasalnya, Belle yang gemar membaca selalu haus pengetahuan baru.

Kecantikan Belle menawan hati Gaston (Luke Evans), veteran perang yang narsistik. Ia mau melakukan apa saja, asalkan Belle mau menjadi isterinya. Sayangnya, gayung tak bersambut. Belle tak berminat menjadi isteri Gaston.

Hingga suatu kali, dalam perjalanan menjual karyanya, Maurice tersesat di sebuah hutan dan menemukan sebuah kastel yang dimiliki seekor makhluk menyerupai binatang buas (Dan Stevens). Karena dituduh mencuri mawar, Maurice ditawan oleh makhluk tersebut. Belle kemudian menyusul ayahnya dan menggantikannya sebagai tawanan.

Ternyata kemudian, makhluk buruk rupa tersebut adalah pangeran yang gagah dan tampan. Ia berubah wujud karena dikutuk akibat kesombongannya. Kutuk akan patah apabila ada seorang putri yang mencintainya sepenuh hati. Endingnya ketebaklah, pasti Belle yang menjadi putri yang ditunggu-tunggu itu. And then they live happily ever after. Itu nggak usah ditanya lagi. Udah pasti begitu kalo cerita-cerita dongeng.

Yang membuat Beauty and the Beast edisi terbaru ini menjadi pembicaraan adalah ucapan si sutradara Bill Condon. Ia mengatakan bahwa film ini adalah film Disney pertama yang menampilkan adegan gay. Ternyata, adegan yang dimaksud tidaklah heboh-heboh amat. Itu adalah bagian di mana Le Fou (Josh Gad) menyatakan kekagumannya pada Gaston yang disajikan dalam tarian dan nyanyian.

Memang, sejak awal muncul karakter Le Fou yang tidak macho, sudah membuat aku menduga-duga. Walau seingatku tidak ada dialog atau tindakan yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia gay, tapi sorot mata dan terutama kalimat-kalimat pemujaan pada lagu tersebut “sangat mengarah”. Imho, anak kecil mungkin tidak akan menyadari hal tersebut. Walau demikian, imho bisa diterima jika film ini diberi rating R atau 13 tahun ke atas.

Secara umum, film Beauty and the Beast ini berhasil menghidupkan kembali dongeng klasitersebut. Kecanggihan teknologi digital mampu mewujudkan khayalan pembuat kisah menjadi begitu riil. Sementara itu, sajian tarian dan nyanyian bergaya opera membuat film ini menjadi tontonan yang memikat sekaligus menghibur.

Menurut Icha, dibandingkan Cinderella yang tayang beberapa waktu, Beauty and the Beast jauh lebih keren dan memorable. Aktingnya, lagu-lagunya, koreografi dan cut-to-cut pada musik dan tariannya, semua memanjakan panca indera dan membuai angan. Ia jadi membayang-bayangkan diri menjadi Belle… Alamak!

Tayang perdana: 17 Maret 2017

Sutradara Bill Condon

Produser David Hoberman, Todd Lieberman

Skenario Stephen Chbosky, Evan Spiliotopoulos

Pemeran Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad

Produksi Walt Disney Pictures dan Mandeville Films

Mengintip “Kos-kosan” Mahasiswa di Jatinangor

Aku ini anak rantau. Lahir di Pematang Siantar, besar di Medan, lalu lanjut kuliah di Bandung. Nah, buat sebagian anak Medan, mendengar nama Kota Kembang, yang segera terbayang adalah mojang-mojang Bandung yang katanya geulis-geulis. Selain itu, Bandung digambarkan sebagai kota yang sejuk, teduh, dan kondusif untuk belajar. Makanya, Bandung menjadi salah satu tujuan perantauan anak Medan untuk menuntut ilmu.

Ketika berangkat ke Bandung pada awal dekade 1990-an, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebagian masa kuliahku akan dihabiskan di tempat bernama Jatinangor. Nama ini pertama mampir di telinga saat penerimaan mahasiswa baru di Aula Unpad Dipati Ukur. Dalam rangkaian acara penerimaan itu, kami para mahasiswa baru wajib mengikuti penghijauan di Jatinangor. Naik bus Damri dari depan kampus Dipati Ukur, untuk pertama kalinya aku pun menjejakkan kaki di Jatinangor.

Kesannya waktu itu, Jatinangor begitu panas dan gersang. Kita udah kayak romusha, bergerombol menanam pohon. Seingatku, sejumlah kampus sedang dalam pembangunan, di antaranya Fisip yang mestinya sudah selesai atau paling nggak mendekati tahap akhir. Kalau tidak salah, setahun kemudian kampus Fisip yang semula di Dago pindah ke Jatinangor. Kampus-kampus yang sudah duluan ke Jatinangor antara lain Pertanian dan Peternakan. Sedangkan Fikom kayaknya waktu itu masih mulai dikerjakan. Baru saat aku semester VI, awal 1994, akhirnya Fikom pindah ke Jatinangor.

Naik bus

Jatinangor adalah kecamatan di Kabupaten Sumedang, sekitar 23 kilometer dari pusat kota Bandung. Saat pertengahan dekade 1990-an, perjalanan naik Damri pagi hari dari Kampus DU tidak sampai sejam. Rutenya Dipati Ukur – Supratman – A Yani – Cicaheum – Arcamanik – Ujung Berung – Cibiru – Cileunyi – Jatinangor. Kalo rada siangan, sudah pasti macet di A Yani – Cicaheum. Makanya, pagi-pagi benar, sekitar pukul enam, sudah harus rebutan naik bus di DU. Biasanya sudah ada 3-4 bus berjejer dan dalam waktu singkat sudah penuh dan mulai berangkat satu per satu.

Rebutan naik bus terjadi lagi pada saat pulang kuliah. Setelah jam makan siang, bus menuju DU yang baru tiba di pemberhentian di depan kampus Unwim (ini kepanjangannya apa ya?) kembali padat. Makanya banyak bela-belain nunggu di depan kampus Ikopin, mencegat bus sebelum tiba di Unwim, biar dapat tempat duduk. Perjuangannya cukup heroik, sehingga suatu kali pernah ada yang terjatuh ke dalam got karena kalah sikut-sikutan. Alamak!

Meski perjalanan Bandung-Jatinangor membutuhkan perjuangan, aku lebih memilih untuk tetap ngekos di Sekeloa. Sedangkan karib-karibku pada pindah semua ke Jatinangor. Alasan mereka biar dekat kampus sehingga tidak perlu keluar biaya transportasi. Ternyata kemudian, mereka tidak betah-betah amat tinggal di Jatinangor. Selain sepi, sejumlah kegiatan memang tetap harus dilakukan di Bandung. Makanya, tempat kosku malah acap menjadi rumah singgah kalau kebetulan temen-temen Jatinangor lagi main ke Bandung.

Sebenarnya, kalo alasannya sekadar biaya transportasi, dengan beli karcis langganan di pool Damri dekat stasiun kereta Bandung, biaya naik bus ini tidak mahal-mahal amat. Lagian, karena biasanya satu bundel karcis langganan tidak bakal habis dipakai sendiri, belinya bisa patungan. Kalau lagi terdesak, ya gerilya saja mencari yang punya lebihan karcis langganan.

Kamar kos

Di Sekeloa, pada tahun 1991, kos-kosan tempat aku tinggal sewanya Rp 350 ribu per tahun. Ini biaya untuk kamar kosong ukuran sekitar 2,5 meter x 2,5 meter. Itu belum termasuk biaya listrik. Kalau membawa komputer PC desktop, biasanya dikenakan biaya listrik tambahan. Hingga aku lulus pada 1997, biaya sewa terakhir yang aku bayarkan cuma Rp 400 ribu per tahun. Soalnya, aku termasuk penyewa setia, nyaris selama 6 tahun di Bandung selalu di tempat yang sama, kecuali setahun ngontrak rumah di Sekeloa Tengah bersama Abang Ember dan Andry. Makanya, induk semangku, Pak Endi, berbaik hati tidak menaikkan biaya sewa.

Kebanyakan kos-kosan di Sekeloa disewakan kosongan. Kalau mahalan dikit, mungkin sudah menyediakan kasur dan dipan plus lemari dan meja belajar. Seorang kawan yang menyewa kamar dengan kamar mandi di dalam, dikenakan biaya Rp 600 ribu per tahun. Ini sudah cukup bagus untuk ukuran kos-kosan kelas menengah.

Lokasinya biasanya gank-to-gank alias masuk-masuk ke dalam gang. Nggak heran, enam tahun bermukim di Sekeloa, aku jadi hafal jalan-jalan tikus dari Pasar Dago hingga Kantor Telkom dan dari Dipati Ukur hingga Sadang Serang. Gang-gang yang berliku-liku dan sambung-menyambung itu menjadi makanan sehari-hari. Nggak perlu khusus olahraga lah, macam temanku Andibachtiar Yusuf yang rajin joging itu. Setiap hari bolak-balik kos-kosan ke kampus Jatinangor aja sudah cukup membakar kalori.

Tinggal di kos-kosan dekat jalan besar itu kemewahan. Apalagi kalo di jalan sebesar jalan Dago. Seperti karibku, Bogard, yang menyewa kos-kosan di Jalan Ir H Djuanda (Dago bawah), kira-kira 300 meter dari Simpang Dago, harus membayar Rp 150 ribu per bulan. Ini mah udah sebesar kiriman bulananku waktu itu. Jelas untuk ukuran mahasiswa kelas menengah (ke bawah), kos-kosan ini tergolong mewah.

Kamar-kamarnya menyatu dengan rumah induk yang sangat besar. Tersedia halaman parkir yang luas dan garasinya juga bisa menampung beberapa mobil. Kamarnya sudah isi, dipan, meja, dan lemari. Selain itu, sudah disediakan pula nasi, sehingga kalau mau makan penghuni cukup membeli lauk. Isinya kebanyakan anak-anak Unpar dan ITB.

Apartemen

Begitulah gambaran kehidupan anak rantau di Bandung tahun 1990-an yang aku ingat. Nah, ketika kemarin ada kesempatan menjenguk Jatinangor, pengen tahu juga, bagaimana kehidupan di kawasan ini dan gaya hidup anak kos zaman sekarang. Frankly speaking, ini tepat dua dekade aku mampir lagi ke kawasan ini setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada Maret 1997 silam. Busyett!…

Denger-denger, Jatinangor sekarang sudah jauh berkembang. Dan, memang, begitu keluar tol Cileunyi, belok kanan, aku nyaris tidak mengenali lagi Kampus IPDN (dulunya STPDN), karena di depannya sudah tegak berdiri apartemen Easton Park Residence. Kampus Ikopin, tempat anak-anak mencegat bus yang baru datang dari Bandung, samar-samar kayaknya masih sama (sejujurnya karena aku juga tak terlalu ingat lagi). Tapi aku sulit menemukan spot tempat anak-anak dulu suka menunggu bus.

Sesudah itu jalan memecah dua, lalu tampak kampus ITB. Sejurus kemudian baru kampus Unpad. Gerbang utama Unpad nyaris tidak aku kenali lagi. Tampak sumpek dan kumuh. Baru setelah diperhatikan baik-baik, tampak bulevar yang tengahnya bertuliskan UNPAD. Ah, betapa nama itu dulu pernah begitu akrab…

Selain Easton Park, ada sejumlah apartemen lain yang sudah tegak berdiri yaitu Pinewood, Skyland, dan Taman Melati. Kebetulan aku sempat mampir ke tempat terakhir. Masuk dari jalan Cikuda, apartemen besutan Adhi Karya ini bersisian dengan kampus Unpad. Menariknya, apartemen ini punya view ke arah Gunung Manglayang dan Jembatan Cingcin, salah satu ikon Jatinangor. Jembatan ini juga menjadi jalan akses mencapai Unpad dengan berjalan kaki. Tembus-tembusnya dekat kampus Fikom.

Mengintip dalemannya, nyaman sekali mahasiswa yang bisa tinggal di Taman Melati. Lantai-lantai bawah dioperasikan sebagai hotel, untuk mengantisipasi banyaknya kegiatan wisuda mahasiswa. Jadi orangtua atau keluarga wisudawan dari luar kota tak perlu jauh-jauh menginap di Bandung. Pinter banget nih pengembang mencium peluang bisnis. Selain kolam renang, terdapat pula mini market sehingga penghuni hanya perlu turun ke bawah kalau cuma membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Konon, katanya, di lantai teratas (roof top) nantinya akan difungsikan sebagai kafe. Alamak mantap kali, sore-sore nongkrong di kafe sambil memandang-mandang Gunung Manglayang bersaput awan. Kalau aku dulu, cukup puaslah memandang-mandang dari jendela kontrakan di Sekeloa Tengah ke arah ladang padi di Sadang Serang (entah masih ada apa nggak tuh padi).

Masuk ke dalam unit yang sudah fully furnished, untuk tipe studio memang tidak terlalu besar, ukuran 3,25 meter x 5,32 meter. Tapi jelas lebih besar ketimbang kamar kosku di Sekeloa dulu. Kamar mandi di dalam dan sudah dilengkapi pemanas air. Kamar sudah pasti ber-AC dan tiap-tiap kamar ada balkon untuk memandang-mandang.

Dengan semakin banyaknya kampus dan fakultas yang pindah ke Jatinangor, termasuk jurusan-jurusan yang dihuni mahasiswa-mahasiswa tajir seperti teknik dan kedokteran, peluang untuk apartemen seperti ini rasanya cukup menjanjikan. Buat mereka, sewa Rp 3 jutaan per bulan mungkin masih terjangkau. Apalagi kalo bayarnya berdua.

Aku cuma bisa membayang-bayangkan saja, seandainya dulu punya fasilitas seperti ini… mhh, nggak tahulah. Nggak terbayang juga. Semoga saja mahasiswa-mahasiswa sekarang itu jadi lebih cerdas-cerdas dan mau berkontribusi buat bangsa ini. Entah dalam bentuk apa pun. Semoga…

Jam yang Berhenti Berdetak

clock-316604_1280.jpg
Jam yang berhenti berdetak (Photo by Pixabay.com)

Kisah ini dimuat di sebuah majalah anak-anak yang aku baca waktu kecil dulu. Kisahnya masih membekas sampai sekarang.

Suatu kali, ada sebuah jam yang sedang kurang kerjaan. Pada saat lagi bengong, ia mulai berpikir-pikir, berapa banyak ia harus berdetak.

Ia menghitung, dalam satu menit ia harus berdetak 60 kali. Lumayanlah, nggak berat-berat amat.

Dalam satu jam, 3.600 kali. Eh, kok banyak juga ya.

Dalam satu hari, 86.400 kali. Waduh…

Dalam satu minggu, 604.800 kali. Busyet….

Dalam satu bulan, 2.419.200 kali. Alamak!

Dalam satu tahun, 29.030.400 kali. Mampus!!!

Si jam pun mendadak lemas memikirkan angka yang demikian banyak. Begitu lemasnya, sampai ia tak mampu lagi berdetak. Kemudian, lewatlah seekor tikus. Melihat jam tak berdetak, tikus bertanya. “Hei, Jam. Kok ente nggak berdetak?”

“Iya nih, aku lemas,” sahut jam.

“Kenapa lemas?”

“Ternyata, dalam setahun ke depan, aku harus berdetak sebanyak 29.030.400 kali. Bayangkan… banyak sekali. Entahlah, apakah aku sanggup melakukannya.”

Si tikus menyeringai. “Kamu ini bodoh. Mengapa harus pusing memikirkan berapa kali harus berdetak setahun ke depan. Pikirkan saja, berapa kali kau harus berdetak dalam sedetik?”

“Satu kali…”

“Ya sudah. Itu saja lakukan, mengapa harus pusing-pusing memikirkan setahun ke depan,” ujar tikus sembari ngeloyor pergi.

Pelan-pelan jam merenung. Iya juga, pikirnya. Selama ini telah bertahun-tahun ia berdetak tanpa masalah. Berarti, ia sudah berdetak jauh lebih banyak ketimbang jumlah yang ia pikirkan untuk setahun ke depan. Toh, ia mampu melakukannya. Mengapa pula sekarang ia harus cemas dan khawatir untuk tugas yang harus ia lakukan. Cukup berdetak satu kali setiap saat. Hanya itu saja yang ia perlu lakukan.

Ini kisah aku ceritakan ulang pakai bahasaku sendiri. Aku tak ingat persis detail ceritanya, tapi logika dan moral of the storynya begitu kuat, sehingga aku masih mengingatnya setelah puluhan tahun berselang.

Pagi ini, dalam perjalanan mengantar Jeremy ke sekolah, tiba-tiba saja kisah ini melintas di kepala dan aku bagikan pada Jeremy. Dia cuma mengangguk-angguk dan bilang kalau dia sudah pernah mendengarnya. Barangkali, ini memang bukan pertama kalinya aku menceritakan kisah ini padanya.

Bukan sok tua, tapi memang aku kira ini adalah proses alamiah antara orangtua dan anak. Sebagaimana ada banyak nilai yang aku terima dari bapakku, sekarang pun aku mulai mentransfer nilai-nilai yang aku anggap baik kepada anakku.

Mengapa kisah ini jadi penting?

Jadi ceritanya, kemarin Jeremy mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ada tugas kelompok dari sekolah dan dia minta aku nge-print artikel tentang pemanasan global dan beruang kutub. Biasanya memang begitu, daripada mencari dan nge-print sendiri di rumah, Jeremy minta tolong pada babenye. Namanya sayang anak, ya sudah aku kerjain. Toh, cuma googling dikit dan nge-print doang, nggak sampai 5 menitlah. Karena pulang kantor Jeremy sudah tidur, aku menaruh print-an artikel itu dekat tas sekolahnya.

Subuh tadi, tiba-tiba saja dia panik. “Lho, kok dalam bahasa Inggris, Pa?” tanyanya.

“Lha kan sudah difoto kemarin, papanya tanya, ‘yang kayak gini’. Anaknya bilang ‘iya’. Ya sudah, papanya print.”

Jadi, ternyata yang dia butuhkan artikel dalam bahasa Indonesia. Kalau sudah begini, dia langsung panik dan misuh-misuh sendiri.

“Ya sudah, mari kita cari lagi. Sebentar kok. Nanti bisa langsung di-print,” ujarku.

Sembari begitu, isteriku Icha nyamber dari kamar sebelah, “Kenapa lagi itu?”

Hahaha, isteriku ini memang tidak sabaran orangnya. Makanya, Jeremy yang suka slebor sering jadi sasaran omelan. Kali ini pun pasti nggak lama dia akan kena omel panjang-pendek. Daripada suasana rumah subuh-subuh sudah tensi tinggi, aku ketawa-ketawa saja dan memutar lagu dari Spotify. Lumayanlah, cukup bisa meredam Icha agar tidak terlalu heboh ngomelnya.

Dalam situasi begini kami memang sangat kontras. Icha pasti langsung meradang, sementara aku langsung fokus bagaimana bisa menyelesaikan masalah. Marah-marah bagiku cuma membuang energi yang (sebenarnya) bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain.

“Aku memang tidak bisa seperti kamu,” kata Icha sambil memeluk dari belakang. Rasa kesal dan betenya mengambang dan pelan-pelan hilang karena aku bersikap santai. Memang, meski komputer agak lemot dan hasil print-an printer deskjet di rumah tak sebagus printer laser di kantor, googling artikel dan mencetaknya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit sejak komputer dinyalakan. Jadi, ngapain buang-buang waktu untuk marah, yang kalau dituruti mungkin sejam nggak kelar-kelar. Hehehe.

Pagi ini, aku tiba di kantor pukul setengah tujuh. Itu sudah termasuk mengantar Jeremy ke sekolahnya, lalu mendengarkan playlist musik di Spotify sepanjang perjalanan, sembari memikirkan tentang posting ini.

Icha mungkin lebih tertarik untuk mengritik Jeremy yang tak lengkap memberi instruksi dan tak menyimak foto yang aku kirim semalam. Jeremy juga cuma panik membayangkan reaksi guru dan teman-teman sekelompoknya gegara keliru mengerjakan tugas. Sementara aku, ya cukup berpikir apa yang harus aku lakukan pada saat itu saja. Tadi googling artikel dan nge-print, habis itu mandi, sarapan, dan siap-siap berangkat. Terus lagi, nganter Jeremy sembari ngobrol lalu lanjut ke kantor sambil mikirin postingan blog. Sampai di kantor baca koran sikit lalu langsung ngetik postingan ini. Sebelum pukul delapan, postingan ini kayaknya sudah bisa diupload di blog.

Begitulah, sebuah pelajaran yang aku petik dari cerita anak-anak puluhan tahun silam masih aku praktikkan sampai hari ini. Do one thing (at a time) and do it well.

Selamat berkarya!

Akhirnya Kesampaian Nonton Julie Estelle

Ini bukan curcol, tapi sekadar menceritakan apa adanya. Setelah menikah, kalau kamu mencintai pasanganmu, kemungkinan besar kamu akan mengurangi waktu untuk hal-hal yang kamu sukai. Hal ini tak mesti berarti buruk, karena kamu (memang) akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk orang-orang yang kamu cintai.

Begitu juga dengan aku. Musik, buku, dan film adalah hal-hal yang aku sukai. Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa henti untuk menikmati ketiga hal itu. Setelah menikah, porsi waktu untuk menikmati ketiga hal itu banyak yang dialihkan untuk ngobrol dengan isteri atau bermain dengan anak.

Bisa juga sih bersiasat. Misalnya, musik dapat aku nikmati sembari melaju mondar-mandir rumah-kantor. Nggak masalah, apalagi dengan Spotify, akses pada musik-musik terbaru menjadi sangat mudah dan praktis.

Yang paling sulit adalah baca buku. Ini kegiatan yang nyaris mustahil disambi. Nggak mungkin kan baca buku sambil jogging atau nyetir. Audio book mungkin bisa menjadi solusi, tapi karena baca buku itu butuh fokus, makanya butuh waktu khusus juga agar benar-benar efektif.

Sementara itu, nonton film agak di tengah-tengah. Dibandingkan denger musik dan baca buku yang cenderung dinikmati sendiri, nonton film bisa dilakukan bareng-bareng. Asal, filmnya cocok. Ini juga yang jadi masalah. Setelah Jeremy agak gedean, kami memang jadi sering nonton. Cuma, filmnya film anak-anak. Malah, Jeremy sekarang sudah ketularan hobi nonton. Kalau ada film anak-anak yang baru, dia lebih dulu tahu dan jauh-jauh hari sudah ngingetin untuk nonton itu film.

Sebenarnya, dari zaman pacaran dulu, aku dan Icha juga tidak terlalu sering nonton. Soalnya, Icha memang nggak hobi nonton. Dia lebih senang windowshopping (maunya sih shopping beneran, tapi berhubung budget sering terbatas ya cukuplah lihat-lihat dulu) dan ngobrol (tepatnya, dia bercerita, aku mendengarkan). Kalau pun kami nonton ala-ala orang pacaran, filmnya mesti film romantis. Nggak boleh yang berat-berat, yang berantem-berantem, yang ngagetin, apalagi yang nakutin. Bayangin aja, kami pernah nonton film Transformers bersama Jeremy. Usai film yang superseru itu, Icha bilang, sepanjang film dia mengantuk dan kayaknya sempat tertidur. “Habis filmnya berantem mulu dari awal sampai habis…” Alamak!

Yang lebih cilaka, meskipun sudah nonton film romantis, saat pacaran dulu aku masih suka diprotes. Pasalnya, kata Icha aku terlalu fokus pada film dan mencuekkan dia. Lah emang?… [blo’on mode ON]

Singkatnya, bisa nonton film sesuai keinginan itu buatku jadi problem. Walau pada dasarnya suka nonton film apa aja, kadang-kadang pengen juga dong nonton film sesuai selera atau keinginan pribadi.

“Surat Dari Praha”

Tentang hal ini, bukannya nggak bisa disiasati. Kan katanya di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Ya tinggal pintar-pintarnya aja cari solusi. Nggak bisa di bioskop, ya nonton DVD di rumah waktu Jeremy dan Icha sudah tidur. Cuma, memang harus ada effort untuk nyari DVD-nya. Belum lagi, untuk film-film tertentu, kadang sulit ditemukan.

Ambil contoh, tahun lalu ada filmnya Julie Estelle yang bertajuk Surat Dari Praha. Selain karena bintangnya Julie Estelle (ehm), tema yang diangkat film ini juga menarik buatku, berkisah tentang eksil di Praha, Ceko, yang tidak bisa pulang karena situasi politik.

Tema ini menarik perhatian karena sebelumnya aku baru menuntaskan novel Leila Chudori yang bertajuk Pulang. Terinspirasi dari kehidupan Sobron Aidit dkk yang terdampar di Paris, novel Leila Chudori itu entah mengapa terasa sangat dekat. Kerinduan akan kampung halaman mungkin nggak bunyi bagi sebagian orang, tapi bagi orang-orang perantauan macam aku, ada bagian-bagian tertentu di mana aku merasa terhubung—walau tentu saja dengan level dan intensitas yang beda. Aku merasa dapat berempati pada karakter Dimas Surya. Selain itu, menarik juga mereka-reka kompleksitas perasaan anak seorang eksil yang separuh dirinya punya Tanah Air yang belum pernah dilihat.

Surat dari Praha mungkin tak sepenuhnya sama dengan novel Pulang. Tapi, pergulatan para eksil ini jelas menarik untuk disimak. Belum lagi, setting cerita Ceko tambah bikin penasaran. Jarang-jarang soalnya nonton film dengan latar belakang Eropa timur. Apalagi kemudian film ini dinobatkan jadi film terbaik Usmar Ismail Awards 2016. Jelas bukan film sembarangan.

Terkait pemain, Julie ini dari pemahamanku yang cetek tentang bintang-bintang film nasional, termasuk berkelas dan tidak norak. Genre film yang dibintanginya juga sangat bervariasi, dari film remaja, horor, hingga film laga. Di The Raid 2, meski tampil amat singkat, tapi perannya sebagai the hammer girl sangat memorable. Makanya, ketika Julie main di film yang menyambar-nyambar tema politik, aku jadi penasaran.

Untuk ngajak Icha nonton film ini ke bioskop, rada-rada mustahil. Meski ada muatan kisah cinta, tapi film ini kayaknya termasuk kategori berat. Yang paling masuk akal ya nyari DVD-nya nanti kalo sudah beredar.

Hooq

Beberapa waktu lalu, nggak sengaja aku terima SMS pemberitahuan dari 3 bahwa nonton Hooq kini bisa dengan potong pulsa. Biasanya aku nggak terlalu antusias dengan penawaran-penawaran begini, cuma karena yang ditawari film, aku pikir nggak ada salahnya dilihat-lihat dulu.

Setelah menginstall Hooq, mataku langsung berbinar-binar begitu membuka aplikasi ini. Surat dari Praha ternyata nangkring dengan manisnya di jajaran film Indonesian Hits. Kalau mau nonton juga nggak repot. Tinggal beli paketnya, ikuti tombol menu, potong pulsa, voila… sudah bisa akses film-film di Hooq.

Ada sejumlah paket atau plan yang tersedia, mulai dari paket 7 hari seharga Rp 18.700, paket 30 hari seharga Rp 49.500, paket 90 hari seharga Rp 124.000, paket 180 hari seharga Rp 244.000, dan paket 360 hari seharga Rp 440.000. Belinya bisa lepasan atau langsung auto-renew biar nggak repot-repot memperpanjang. Itupun bisa di-cancel kapan saja. Berhubung mau coba-coba dulu, aku pilih paket yang paling murah, yang 7 hari Rp 18.700.

Selain Surat dari Praha, mengintip koleksi film Hooq ternyata lumayan banyak. Katalognya meliputi lebih dari 10 ribu judul film dan acara TV. Untuk film-film Hollywood, kayaknya yang baru-baru belum banyak. Tapi, untuk serial TV lumayan bagus-bagus. Yang terhitung baru ada Supergirl. Sementara yang lawas, ada Friends yang komplet 10 seasons.

Penggemar film lawas Indonesia pasti termehek-mehek, karena koleksinya cukup banyak. Mulai dari film-filmnya Warkop, Suzanna, Ateng, Si Boy, hingga film-film pemenang FFI macam Nagabonar atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Agar lebih mudah dijelajahi, Hooq bikin macam-macam kategori. Ada Superhero Sensations, Hollywood Hits, Martial Arts, Anime, Indonesia Era Lama, Best of Bollywood, For Toddlers, dan banyak lagi. Atau, langsung saja ketikkan judulnya di kotak pencarian.

Yang keren, ada fitur untuk download. Jadi, kalo ketemu wi-fi bisa download dulu, nontonnya ntar bisa di mana aja. Fitur ini membantu banget, karena nontonnya jadi nggak tergantung koneksi data alias bisa di mana aja. Cuma yang perlu diingat, space di ponsel harus lega, karena downloadan film itu ukurannya lumayan gede.

Fitur lain yang cukup membantu adalah ketersediaan subtitle, jadi nggak bakalan nemu terjemahan aneh-aneh kayak nonton DVD bajakan. Selain itu, pilihan kualitas video juga memungkinkan kita menyesuaikan dengan koneksi internet yang tersedia.

Overall, meski aplikasi dan koleksinya bukan yang paling canggih, Hooq patut dipertimbangkan karena keunikannya. Selain paket yang terjangkau dan nggak mesti pakai kartu kredit, Hooq juga punya koleksi film yang jarang ditemui di tempat lain. Dan, yang paling penting tentu saja bisa ditonton kapan dan di mana saja.

Inilah yang aku lakukan. Setelah download Surat dari Praha, nontonnya “nyicil-nyicil” kalo ada waktu. Menjelang tidur, di sela-sela waktu istirahat kantor, atau kalo lagi menyepi di kamar kecil. Dalam dua hari, tuntaslah film itu.

Jadi, nggak perlu ngeluh kalo kamu belum bisa mendapatkan atau melakukan yang kamu mau. Katanya, good things come to those who wait. Sabar aja, nanti pasti ada jalannya. Udah ah, kayaknya sok tua banget gw. Mumpung udah mau weekend lagi, aku sudah mikir-mikir untuk nonton Soekarno dan Filosofi Kopi di Hooq. Yok mareee…

Pahlawan Super Ala Negara Komunis

01
Guardians. (foto-foto Dok IMDB)

Entah karena lebih makmur dan nyaman, para pahlawan super umumnya tinggal di negara kapitalis AS. Bukan cuma Kapten Amerika atau Hulk yang memang cikal-bakalnya dari proyek militer AS. Alien seperti Superman, bahkan dewa seperti Thor sekalipun ternyata nyasar-nyasarnya ke Amerika juga. Mbok ya sekali-sekali nyasarnya ke Indonesia… hahaha.

Bagaimana dengan negara-negara komunis? Eh, ternyata mereka juga punya pahlawan super lho. Itulah yang mau diangkat oleh film Guardians. Ingat ya, bukan Guardians of Galaxy lho. Kalo yang terakhir adalah pahlawan super dari luar angkasa yang entah kenapa bisa berbahasa Inggris.

Sengaja tidak googling dulu biar penasaran, aku sama sekali tidak punya bayangan tentang apa yang akan ditonton saat menerima undangan skrining Guardians kemarin, Kamis (23/2).

Melalui kredit di awal film, aku baru tahu bahwa ini film buatan Russia. Guardians, atau judul aslinya Zaschitniki (Защитники) berkisah tentang pahlawan super dari proyek rahasia Patriot yang diciptakan saat perang dingin. Mereka dipilih dari bangsa-bangsa yang berbeda di bawah Uni Soviet. Ada Ler dari Armenia, yang punya kekuatan untuk mengontrol batu dan tanah. Berikutnya, Ursus, yang dapat berubah wujud menjadi beruang. Berikutnya lagi, Khan, yang dapat bergerak begitu cepat sehingga tak kasatmata. Terakhir, satu-satunya pahlawan perempuan adalah Xenia. Selain jago bela diri, ia juga dapat bergerak di dalam dan di atas air layaknya di atas tanah serta berubah menjadi tak terlihat alias transparan.

Mengingatkan pada pahlawan-pahlawan super yang sudah ada? Mungkin. Tapi, yang jelas, tercium aroma propaganda secara simbolis yang cukup kuat pada kelompok ini. Berasal dari bangsa-bangsa yang berbeda barangkali ingin menyiratkan semangat nasionalisme Russia. Contoh lain, sosok beruang alih-alih serigala (werewolf) seperti pada kebanyakan film Barat tampaknya mengacu pada julukan Russia, yaitu beruang merah. Tengok juga senjata yang digunakan Khan, berupa dua bilah pedang. Bentuknya mengingatkan pada arit lambang komunis. Bayangkan, kalau dia berantem dengan Thor, pasti langsung diprotes FPI. Abis palu ketemu arit…

Siapa musuh Guardians? Ternyata bukan AS. Barangkali takut dihajar The Avengers atau Justice League, bisa keok mereka… hehehe. Tokoh antagonisnya adalah August Kuratov, sosok yang tadinya otak di balik program Patriot. Namun, ia berbalik menjadi jahat. Berbekal mesin Modul 1 yang membuatnya memiliki kekuatan super, Kuratov membangun pasukan untuk menaklukkan Moskow. Ia juga menciptakan Modul 2 yang memungkinkan dia mengendalikan satelit penghancur sehingga berbahaya bagi seluruh dunia.

Menghadapi Kuratov, pemerintah Russia tak punya pilihan lain kecuali memanggil para pahlawan super yang pasca-perang-dingin telah terpencar dan hidup dalam persembunyian. Di bawah perintah Jenderal Nikolai Dolgov, Mayor Elena Larina harus mengumpulkan para pahlawan super Patriot dan membujuknya bekerja sama mengalahkan Kuratov.

Dubbing

Setelah intro berkepanjangan yang menggambarkan terjadinya program Patriot, adegan kemudian beralih pada uji coba senjata robot. Aku langsung menangkap sesuatu yang aneh. Dialog yang terdengar tidak sama dengan gerak bibir pemeran. Oalah, ternyata film ini didubbing. Pasti aslinya bahasa Russia, didubbing jadi bahasa Inggris.

Sebenarnya, karena sudah ada subtitle dalam bahasa Indonesia, dubbing ini tidak perlu. Biarkan saja tetap dalam bahasa aslinya. Sejago-jagonya dubber mengikuti gestur dan ekspresi tokoh, tetap saja muncul kesan tidak natural. Ini jadi mengganjal kenikmatan menonton.

Aku tidak tahu apakah di Russia sana para pemain film ini tergolong aktor dan aktris bermutu, tapi jelas banget kemampuan acting dan ekspresinya payah. Stereotip orang-orang di negara komunis memang kaku. Namun, mestinya tidak sekaku pemain drama di atas panggung. Kesan dibuat-buatnya terlalu kentara.

Hal lain, penataan musiknya kacau. Ada adegan-adegan yang ilustrasi musiknya terus diulang, padahal suasana dalam adegan sudah berubah. Walah…

Begitu ancurnya film ini sampai setengah jalan ada penonton yang keluar. Sementara itu, di kiri-kanan mulai ketawa-ketawa nggak jelas melihat adegan atau akting yang lebay, norak, dan cheesy. Sepitless dah.

Tulisan ini bukan propaganda antikomunis, tapi berusaha cerita apa adanya. Kalau dibilang jelek semua, ya nggak juga. Setidaknya untuk adegan aksi dan efek-efek khususnya lumayanlah (trailer bisa disimak di sini). Ya jangan bandingkan dengan The Avengers yang budgetnya di kisaran 200 juta-300 juta dollar, film ini “hanya” menghabiskan 330 juta rubel alias 5 juta dollar saja. Sudah hebat itu.

Akhir kata, kalau tidak acara di akhir pekan dan tidak tahu mau ngapain, sila menonton film ini. Ngeliat gimana aksi pahlawan super ala negara komunis. Yang jelas, katanya sudah ada rencana membuat sekuel film ini. Turbo Films, perusahaan Tiongkok yang menjadi distributor film ini akan terlibat dalam produksi. Syuting sebagian juga dilakukan di Tiongkok, termasuk tambahan karakter lokal. Wah wah, negara-negara kapitalis harus waspada atas kebangkitan pahlawan-pahlawan super negara-negara komunis ini.

Sutradara: Sarik Andreasyan

Produser: Sarik Andreasyan, Gevond Andreasyan, Vladimir Polyakov, Max Oleinikov, Nikita Argunov

Skenario: Andrei Gavrilov

Pemeran: Sebastien Sisak, Sanzhar Madiyev, Anton Pampushnyy, Alina Lanina

Valeria Shkirando, Stanislav Shirin, Vyacheslav Razbegaev

Produksi: Enjoy Movies, Argunov Studio, Renovatio

Distribusi: Turbo Films

Rilis: 23 Februari 2017