Ketika Impian Jadi Kenyataan

wish-upon05
Joey King sebagai Clare. (Foto-foto: Broad Green Pictures, Orion Pictures)

Versi lain tulisan ini baru dimuat hari ini, Rabu (9/8) di Layar Perak, Kompas halaman 24. Berhubung di koran nulisnya harus “jaim”, setelah aku edit lagi, ini versi yang lebih personal.

Sebelum menonton, aku sudah membaca-baca review film ini dari beberapa sumber luar. Tidak terlalu bagus komentarnya. Padahal, beberapa nama yang terlibat semestinya cukup menjanjikan. Antara lain John R Leonetti yang sebelumnya menggarap Annabelle (2014), terus Joey King yang ikut berperan di The Conjuring (2013).

Dari nama-nama itu, dapat ditebak kalo film ini bergenre horor. So, sejauh mana film ini dapat menakut-nakuti penontonnya?

Cerita dalam film ini berkisar seputar Clare (Joey King), seorang remaja yatim. 12 tahun sebelum setting cerita, ia menyaksikan ibunya (Elisabeth Rohm) tewas gantung diri. Ia lalu tinggal bersama ayahnya (Ryan Phillippe), seorang pemulung.

Hehehe, jadi ternyata di Amrik sono juga ada pemulung. Cuma, keren. Ke sana kemari naik pikap dan ngubek-ngubek sampah pakai sarung tangan. Detail-detail begini yang suka aku perhatikan kalau nonton film. Bukan sekadar cerita, tapi keseharian yang menggambarkan kebiasaan dan budaya setempat.

Nah, jadilah kehidupan masa remaja Clare sama sekali tidak menyenangkan. Ia ke sekolah naik sepeda. Di sekolah, ia bukan anak yang populer. Malah, ia acap menjadi obyek perundungan Darcie, murid perempuan kaya yang paling populer. Darcie dan teman-temannya yang naik mobil sengaja memepet Clare sehingga ia terjatuh. Belum lagi saat memergoki ayahnya memulung di area sekitar sekolah, Clare pun menjadi bahan olokan. Darcie juga sengaja menumpahkan minuman saat bertemu Clare di lorong sekolah. Bener-bener, life sucks buat Clare.

Di sekolah, Clare hanya bisa duduk mojok dengan teman-teman karibnya, Meredith (Sydney Park) dan June (Shannon Purser) sambil memandangi kelakuan gengnya Darcie. Bukannya tanpa nyali, suatu kali ia pun terlibat adu mulut hingga akhirnya berkelahi dengan Darcie.

Kotak beraksara mandarin

Suatu kali, ayahnya menemukan sebuah kotak unik bertuliskan aksara China. Karena ingat Clare mengambil kelas Bahasa Mandarin, ayahnya memberikan kotak tersebut sebagai hadiah ulang tahun.

Dengan keterbatasan Bahasa Mandarinnya, Clare hanya mengerti bahwa kotak itu menyebut tentang tujuh permintaan. Dalam keadaan marah sehabis bertengkar dengan Darcie, Clare mengucapkan keinginannya agar Darcie membusuk. Ternyata, keesokan harinya tersiar kabar Darcie tidak masuk ke sekolah karena menderita penyakit yang ditandai membusuknya bagian tubuh.

Mengetahui keinginannya menjadi kenyataan, Clare mulai mengucapkan keinginan-keinginannya yang lain. Kehidupannya pun berubah 180 derajat. Namun, serentetan kejadian berikutnya menunjukkan bahwa terkabulnya keinginan Clare bukannya tanpa “biaya”.

Ternyata, keinginan yang terkabul tidak selamanya menyenangkan. Apalagi jika harga yang harus dibayar untuk itu terlalu mahal. Itulah yang menjadi inti cerita film Wish Upon.

Sebagai film horor remaja, film ini kurang seram. Tidak ada klimaks cerita yang benar-benar mengentak. Jumpscare di sejumlah bagian juga terlalu klise dan mudah ditebak. Akting para pemainnya juga tidak banyak membantu. Jadi, overall, ini cuma film remaja galau aja. Paling-paling, film ini mengungkap semua keinginan terdasar manusia yang berputar antara harta, popularitas, dan lawan jenis. Ketamakan dan rasa tak pernah puas begitu kuat mengikat siapa pun yang punya kesempatan untuk mewujudkan keinginannya.

Ya sudah, itu aja. Cukup sekian dan terima kasih.

Tanggal rilis   : 14 Juli 2017

Sutradara       : John R Leonetti

Penulis            : Barbara Marshall

Pemeran         : Joey King, Ryan Phillippe, Ki Hong Lee, Mitchell Slaggert, Shannon Purser, Sydney Park

wish-upon-poster02

Pembuktian si Remaja Galau

loncat
Tom Holland sebagai Spider-Man/Peter Parker. (Foto-foto: Sony Pictures Releasing)

Meski bukan fanatik, saya termasuk penggemar film-film pahlawan super. Superman adalah film pertama tentang pahlawan super yang saya tonton. Waktu itu, masih duduk di bangku kelas I SD di Medan. Sekuelnya, Superman II, yang memang lebih keren, tak ayal membuat saya tergila-gila. Makanya, sampai sekarang, Superman “sejati” menurut saya adalah Christopher Reeve.

Itu sebabnya, saya tak terlalu antusias dengan Brandon Routh atau Henry Cavill yang memerankan sekuel Superman pasca era Reeve dan versi reboot dalam semesta DC. Bukan. Itu bukan Superman yang saya kenal. Hehehe. Saya jadi menganggapnya pahlawan super yang lain, walau sama-sama menyandang nama Superman dan Clark Kent. Walau, harus jujur diakui, menonton kembali Superman I dan II sekarang ini kesannya kok jadi cupu banget. Tapi, biarlah, masing-masing punya tempat tersendiri dalam pikiran saya.

Berbeda halnya dengan Spider-Man. Sejak pergantian milennium, hingga kini tercatat sudah 5 edisi yang muncul. Tiga yang pertama diperankan Tobey Maguire, selanjutnya dua edisi reboot oleh Andrew Garfield, dan terakhir oleh Tom Holland.

Belakangan, di banyak forum di Internet, acap ditemui perdebatan tentang siapa yang paling pas memerankan Spider-Man.

Terus terang, dibandingkan Superman pada masa saya mulai mengenalnya (dekade 1980-an), saya lebih tidak mengenal Spider-Man. Yang saya tahu cuma nama aslinya Peter Parker dan pekerjaannya wartawan foto. Makanya, ketika muncul versi Tobey Maguire, saya kok merasa agak-agak kurang pas dengan gambaran yang tertanam di benak—yang sebenarnya minim itu.

Tobey terkesan terlalu culun, ceroboh, dan tidak menggambarkan sosok pahlawan super. Bukannya mau ikut berpolemik, itu sebabnya saya lebih menyukai Andrew Garfield.

Lalu bagaimana dengan Tom Holland?

Pemeran yang satu ini melakukan debut pada Captain America: Civil War (2016), sekaligus menandai hadirnya karakter ini dalam Marvel Cinematic Universe. Di film itu dikisahkan bagaimana Tony Stark/Iron Man (Robert Downey Jr), pemimpin faksi Avengers, mendekati Peter Parker (Tom Holland), remaja yang memiliki kekuatan khusus setelah digigit laba-laba.

Kesan pertama, mau tak mau, saya langsung membandingkan dengan Maguire dan Garfield. Dan, saya merasa, Holland terlalu ceking dan masih kekanak-kanakan. Tapi, ya nikmati saja. Aksinya berantem dengan Captain America dan Ant Man cukup menghibur.

Nah, baru di Spider-Man: Homecoming garapan sutradara Jon Watts ini, si manusia laba-laba kembali diceritakan secara utuh. Setelah disuguhi 5 edisi, termasuk sekali reboot, tentu saya bertanya-tanya, apa lagi yang akan disajikan. Garing nggak?

Tanpa basa-basi

Pada edisi kelima ini ternyata Marvel merasa tak perlu lagi berpanjang lebar menjelaskan tentang latar belakang Spider-Man, bagaimana ia bisa mendapatkan kekuatan super. Termasuk tak lagi menampilkan sosok Ben Parker atau orang tua asli Peter. Yang juga tak terjelaskan adalah sosok Bibi May yang jauh lebih muda ketimbang dua edisi sebelumnya.

Tanpa basa-basi, Spider-Man: Homecoming langsung menuju pada persoalan yang dialami Peter Parker alias Spider-Man. Dikisahkan, Parker sedang dalam masa “magang” untuk menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk masuk ke dalam tim Avengers. Namun, mengingat usianya yang masih belia, Stark hanya mengizinkan dia untuk menjadi pahlawan di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Maka, Spider-Man pun berurusan dengan maling sepeda atau membantu nenek-nenek tua.

Hal itu membuat Parker merasa tidak puas. Apalagi, dia harus melaporkan setiap tindak-tanduknya kepada Happy (Jon Favreau), kepala keamanan Stark Industries. Parker benar-benar ingin menjadi pahlawan super yang sesungguhnya dan berhadapan dengan penjahat kelas kakap.

Sementara itu, selepas pertempuran Avengers melawan makhluk luar angkasa di New York, Adrian Toomes (Michael Keaton) mendapat kontrak untuk membersihkan kota. Namun, tugas itu tiba-tiba diambil alih Department of Damage Control. Tidak puas dengan perlakuan itu, Toomes memanfaatkan teknologi makhluk luar angkasa untuk dikembangkan menjadi senjata. Dia sendiri mengembangkan sayap buatan dan menjadi penjahat berjuluk Vulture.

Dalam satu kesempatan pencurian, anak buah Vulture berhadapan dengan Spider-Man. Bagi Spider-Man, membongkar kejahatan Vulture dan kelompoknya menjadi pembuktian bahwa ia layak menjadi seorang pahlawan super. Meski, untuk itu, ia harus mengorbankan berbagai kegiatan di sekolahnya.

 

Kuat dan menyegarkan

Harus saya akui, Spider-Man: Homecoming menyajikan kisah yang kuat dan segar, tanpa harus mengingat-ingat kisah-kisah sebelumnya. Jika sebelumnya pikiran masih terkontaminasi dengan sosok Maguire atau Gardfield, sehingga Holland tampak terlalu ceking, kali ini penampilan Holland terasa pas. Pasalnya, ia memang digambarkan sebagai sosok remaja yang galau, naif, tapi punya kemauan kuat untuk mewujudkan mimpinya.

Jadi, saran saya, tontonlah film ini sebagai sebuah film yang utuh. Nggak perlu mengingat-ingat film sebelumnya. Niscaya, akan terhibur dan terhanyut menontonnya.

Secara umum, sebagai tontonan keluarga, Spider-Man: Homecoming sangat seru dan menyenangkan. Yup, ini tontonan keluarga yang “aman” ditonton oleh anak kecil. Nggak ada romansa yang terlalu berlebihan. Adegan-adegan aksinya juga tidak terlalu menonjolkan kekerasan. Bahkan, bisa dibilang tergolong minim. Selamat menonton, mumpung masih diputar, hehehe.

Tanggal rilis   : 28 Juni 2017

Sutradara       : Jon Watts

Pemain           : Tom Holland, Michael Keaton, Robert Downey Jr, Marisa Tomei

Catatan: sebagian naskah sudah pernah dimuat di Kompas, Kamis (13/7)

Tentang Musik Digital, Spotify, dan Record Store Day

smartphone-1735044_1280
Spotify, jadi pilihan praktis untuk dengar musik. (Foto-foto by Pixabay.com)

Hari ini, aku membawa sekantung plastik keresek kaset-kaset lama. Setelah sekian lama berdebu di salah satu pojokan kamar, akhirnya aku memutuskan untuk menjual saja kaset-kaset itu. Aku titip pada seorang teman yang akan jualan di Record Store Day akhir pekan nanti.

Di antara kaset-kaset yang aku jual termasuk koleksi album Iron Maiden. Salah satunya album The X Factor, hasil buruan di lapak kaset bekas di Blok M. Sekitar 1,5 dekade silam, kaset album bersama vokalis Blaze Bayley ini mulai langka, menyusul kembalinya Bruce Dickinson mencekal mic di Iron Maiden.

Semula, aku termasuk yang menyesalkan keluarnya Dickinson dan menganggap Maiden telah selesai dengan masuknya Bayley. Namun, justru ketika Dickinson kembali, aku jadi penasaran untuk mendengarkan kembali lagu-lagu periode Bayley. Makanya, biar kata bekas dan dihargai lebih tinggi dari harga pasar, tetap aja album yang memuat epik “Sign of the Cross” itu aku tebus. Begitulah manusia, ketika ada dibenci, ketika pergi malah dicari. Hehehe…

Jadi, apa pasal, sudah repot-repot dibeli, kok malah dijual?

Sederhana saja, sekarang mostly aku mendengarkan musik via Spotify. Sebelum Spotify masuk ke Tanah Air, jujur saja aku lebih banyak mendengarkan musik-musik hasil “sedotan” alias bajakan. Bukannya tidak menghargai pemusik, tapi pada akhir dekade 1990-an band-band yang aku dengarkan kebanyakan sudah sulit ditemui albumnya di pasaran. Kalau ada kasetnya, biasanya aku beli. Begitu juga album-album baru. Waktu Christ Illusion (Slayer) dan Death Magnetic (Metallica) keluar sekitar satu dekade silam, saat pertama kali tahu, aku langsung membeli CD-nya. Bahkan, sekali waktu, saking penasarannya pengen dengerin lagi “Cum on Feel the Noize” versi Quiet Riot, aku bela-belain beli impor via Barnes and Noble.

Namun, ujung-ujungnya, tetap saja yang didengerin versi digital. Yang kaset cukup disimpan dalam rak. Yang CD, setelah di-rip jadi mp3 ya disimpan lagi.

Bukan apa-apa, waktu yang paling longgar untuk dengar-dengar musik ya saat melaju antara rumah dan kantor. Peranti yang aku gunakan adalah ponsel pintar. Pemutar kaset cuma ada di rumah, itupun lama-lama jarang digunakan. Waktu semalam aku coba untuk memutar kaset yang mau dijual, ternyata sudah wassalam. Sudah nggak keluar suara lagi.

Penyimpanan

Salah satu masalah yang makin lama makin mengganggu adalah menyangkut penyimpanan (storage). Semua musik dalam bentuk fisik, baik kaset maupun CD, menumpuk di rak. Lama-kelamaan tumpukannya makin tinggi, padahal jarang disentuh. Makanya, kalau beres-beres rumah suka diomelin sama nyonya rumah. Hehehe.

Ternyata kemudian, bukan cuma media fisik yang menjadi masalah. Media digital pun mengalami masalah yang lebih kurang sama. Dulu, punya harddisk eksternal 1 terabyte rasanya bingung, mau diisi apa aja tuh? Belakangan, file-file musik hasil rip maupun sedotan tembus 1 giga dan konsisten terus bertambah. Belum lagi simpanan file film (hayo ngaku, siapa yang punya hobi begini juga hahaha). Terakhir, ketika menjajal jadi Youtuber dan membuat banyak sekali footages, 1 terabyte penuh dalam hitungan kurang dari setengah tahun.

Nah, ketika mengais-ngais storage di harddisk eksternal, file-file film dan musik yang kurang begitu penting menjadi korban pertama. Nggak lama, Spotify masuk. Bagiku, ini benar-benar solusi tuntas buat hobi mendengar musik. Tak perlu lagi repot-repot beli CD atau mencari sedotan. Tinggal search dan play. Beruntungnya, band-band yang aku dengarkan pada umumnya ada di Spotify. Band-band old school thrashmetal, hairy metal 80-an, hard rock 70-an, lagu-lagu hits 80-an, nyaris semuanya tersedia. Bahkan, malah nemu band-band yang dulunya belum sempat denger, tapi ternyata lumayan maknyuss, misalnya Onslaught atau Korzus.

Memang, ada juga band atau album tertentu yang tidak tersedia di Spotify. Misalnya saja band Tool atau album legendaris Def Leppard, Hysteria. Tapi, overall, aku sangat puas dengan koleksi Spotify.

Yang menyenangkan, untuk album baru, bisa langsung didengarkan pada tanggal rilisnya. Ini udah kejadian beberapa kali, waktu album Babymetal, Kreator, dan Metallica. Nggak perlu repot lagi nyari di toko kaset, tinggal search dan play. Just that simple!

Akhirnya, aku memutuskan menghapus semua file-file musik simpanan dan bergantung sepenuhnya pada Spotify. Lumayan, bisa menghemat storage beberapa gigabyte. Ini termasuk salah satu keputusan penting yang aku ambil sebagai penikmat musik. Hehehe.

Tren streaming ini sedang dan terus bangkit, dan tampaknya akan menjadi norma dan kenormalan di masa mendatang. Terjadinya perlahan (tapi pasti), seiring dengan semakin canggihnya teknologi (baca: kecepatan koneksi internet). Awalnya mungkin tukar-menukar berkas digital berukuran kecil (dokumen teks), makin besar (gambar), makin besar lagi (musik), hingga file-file “raksasa” (film). Sekarang, streaming film berkualitas HD sudah dimungkinkan.

Masalah storage, yang sempat aku singgung sebelumnya, benar-benar riil. Dan, ketika dimungkinkan tak harus menyimpan sendiri file di komputer atau ponsel, mengapa tidak? Biarkan pihak lain yang menyimpannya, file baru diunduh ketika hendak digunakan. Pihak lain itu punya kemampuan untuk menyimpan dengan kapasitas yang tak terbayangkan besarnya. Jadi, ngapain harus repot nyimpan sendiri.

Bagi pengguna, cara ini benar-benar mudah dan praktis. Entah berapa kali aku dan Jeremy terlibat dalam pembicaraan tentang lagu atau artis tertentu. Dengan mudah kita langsung search di Spotify. Yang lebih menyenangkan, kalau kebetulan lagi jalan atau denger radio terus tiba-tiba denger lagu enak, langsung cari tahu pakai Shazam dan didengerin lagi pakai Spotify. Pengalaman dengan musik digital seperti ini jelas tidak mungkin terjadi jika menggunakan musik analog.

Record Store Day

Jadi, apakah musik analog sudah benar-benar mati?

Ternyata tidak (atau belum?). Kembali pada cerita di awal tulisan, pada akhir pekan ini berlangsung Record Store Day. Menurut Wikipedia, inisiatif yang berawal pada 2007 ini bertujuan “merayakan budaya ‘toko kaset’ independen”. Kata “toko kaset” aku sengaja tandai sebagai terjemahan “record store”. Karena meskipun toko tersebut kemudian menjual CD dan DVD, buat banyak orang segenerasiku dan sebelumnya tetap saja disebut “toko kaset”.

Inisiatif ini barangkali merespons turunnya penjualan musik secara fisik (kaset, CD, vinil). Maka dibuatlah hari khusus untuk jualan. Pada perkembangannya, momen ini acap dimanfaatkan untuk launching album dan menampilkan musisi-musisi beken. Sebut saja Metallica yang tampil pada kick off Record Store Day pertama pada 2008.

Namun, banyak yang menganggap Record Store Day cuma kerjaan mereka yang hobi mengoleksi musik, bukan peminat musik pada umumnya. Ya iyalah, peminat musik pada umumnya barangkali cukup langganan Spotify atau membeli musik di Itunes. Tapi, bagaimana pun, kaum kolektor ini menjadi pasar yang niche.

Tahun 2016 lalu, penjualan vinil tercatat tercatat sebagai yang tertinggi dalam seperempat abad terakhir. Lebih dari 3,2 juta piringan hitam terjual atau meningkat 53 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, penjualan musik digital dengan cara mengunduh mengalami penurunan. Sebagai gantinya, ya itu tadi, mereka melakukan streaming.

Kemudahan navigasi, mencari, dan mendengarkan musik dengan cara streaming ternyata menyisakan “ruang kosong” pada sebagian penikmat musik. Tidak ada rasa kepemilikan, karena musik digital secara streaming “dimiliki” oleh penyedia jasa. Pengguna hanya diberikan “hak akses”. Beda halnya dengan vinil, yang memungkinkan kepemilikan fisik. Terbukti, meninggalnya sejumlah musisi besar ikut mendorong larisnya vinil. Meninggalnya David Bowie tahun lalu membuat dia menjadi artis vinil terlaris karena banyak orang lalu memborong karya-karyanya sebagai kenang-kenangan. Terdapat 5 album Bowie yang bercokol pada 30 album vinil terlaris 2016.

Nah, itu pula sebabnya ketika aku menjual koleksi kaset-kaset lawas, yang laku bukan album-album sukses Iron Maiden. Tapi justru album-album yang kurang terdengar, seperti A Matter of Life and Death. Sama seperti dulu aku membeli The X Factor, sepertinya yang membeli AMOLAD itu juga buat dikoleksi, bukan buat didengarkan secara reguler.

Sekali lagi, bukan karena nggak cinta nggak sayang, tapi karena ruangan di rumah mungilku sudah tidak memadai, aku menyerahkan kepemilikan kaset-kaset lawasku pada siapa saja yang berminat. Aku cukuplah jadi pendengar casual yang hasratnya telah terpenuhi oleh Spotify. Kalau ada yang berminat jadi penadah, boleh hubungi aku. Atau, sila datang ke event Record Store Day di P7 Kuningan City pada Jumat-Sabtu, 21-22 April besok.

Ngopi Lagi Berkat Susu

beverage-1842596_1280
Kopi campur susu. (Source: Pixabay.com)

Entah kapan persisnya, tapi sejak masih duduk di bangku sekolah menengah, aku sudah terbiasa ngopi. Apalagi menjelang UMPTN (ehm… ketahuan ini angkatan jebot punya), membahas soal-soal tiap hari pasti ditemani secangkir kopi. Waktu di Medan dulu, di rumah selalu tersedia kopi sidikalang yang digiling agak kasar. Rasanya keras dan mantap.

Cara membuatnya juga “sadis”. Bubuk kopi, gula, dan air dimasukkan ke dalam cangkir kaleng, lalu dimasak di atas kompor. Begitu air menggelegak tanda mendidih, cangkir diangkat, lalu dimasukkan es batu. Jadilah es kopi yang sedap rasanya. Kalau sudah punya “amunisi” begini biasanya tahan mengerjakan soal sampai berjam-jam.

Pada saat kuliah di Bandung, bapakku biasanya menengok minimal setahun sekali. Oleh-oleh yang tak pernah lupa dia bawa adalah sekotak kopi sidikalang. Padahal, aku tak pernah meminta dan sebenarnya tak sebegitu doyannya ngopi. Cuma karena sudah terbiasa, aku jadi merasa kopi bubuk lain kurang mantap. Apalagi kopi sachetan yang beli di warung.

Kebiasaan buruk

Namanya mahasiswa, kondisi kantung suka tak menentu. Dan, kebiasaan buruk ngopi ini kian menjadi. Bayangkan saja, saat uang kiriman menipis, bahkan benar-benar “tongpes” tak punya uang sepeser pun, aku tak kehilangan akal. Tinggal jerang air panas, seduh kopi, hidup pun berlanjut. Saat itu, aku merasa tidak ada yang salah dengan kebiasaan tersebut.

Aku suka menertawakan sejumlah teman yang menjauhi kopi karena sakit maag. Ada pula yang enggan ngopi karena membuat susah tidur. Jantungnya berdebar-debar katanya. Kalau aku, cukup lawan jenis saja yang bisa bikin berdebar-debar. Kalau cuma kopi, bergelas-gelas pun tak mempan. Mungkin karena termasuk orang yang “pelor”, nempel langsung molor, aku tak pernah punya masalah dengan tidur. Saat inilah kebiasaan ngopiku menjadi-jadi.

Aktif dalam kegiatan kampus, kami sering rapat sampai malam. Sudah begitu, masih berlanjut dengan main kartu. Kalau yang satu ini bisa dari pagi ketemu pagi lagi, nggak kelar-kelar. Tentu saja, kopi menjadi teman sejati—selain rokok tentu saja.

Kopi dan rokok sudah menjadi duet maut masa muda. Sering kali, “sarapanku” cukup dengan segelas kopi dan sebatang rokok. Baru siangnya diisi nasi. Benar-benar pola hidup yang tak akan pernah aku anjurkan pada orang lain.

Memasuki dunia kerja, lagi-lagi kopi menjadi teman baik. Kali ini, aku sudah berhenti merokok. Sebagai penulis yang hari-hari memelototi layar komputer, asupan kafein benar-benar membuat ide mengalir dan pikiran terang-benderang. Namun, pasokan kopi sidikalang sudah tidak ada lagi. Gantinya, kopi instan. Soal rasa memang beda, tapi saat berkejaran dengan deadline, rasanya lebih praktis menyesap kopi instan.

Sakit maag

Hingga beberapa waktu lalu, aku mulai merasa ada yang nggak beres dengan pencernaanku. Aku sering merasa perut kembung, tapi kalau ke belakang tidak ada yang mau dibuang. Kondisi ini semakin parah ketika beberapa kali pada malam hari perut terasa melilit dan nyeri. Ketika konsultasi ke dokter, aku pun divonis mengalami maag akut.

Aku sempat protes karena menurutku pola hidup dan makanku tidak ada yang salah. Gizi cukup, konsumsi buah pun—walau tak rutin-rutin amat—lumayan. Mengapa justru sekarang terkena maag? Penjelasan dokter cukup menohok. Ibarat petinju, kalau sekarang aku KO bukan karena mendadak ada pukulan lawan yang mematikan. Selama ini aku telah dihajar habis-habisan dan mungkin pertahananku sudah semakin rapuh. Dalam kondisi demikian, tak perlulah pukulan yang mematikan, “jab-jab” ringan saja sudah bisa bikin tumbang.

Apa mau dikata? Salahku selama bertahun-tahun dulu tidak menjaga pola makan. Aku merasa kuat, padahal tubuhku tidak. Ya sudah, akibatnya sekarang. Dokter menasihati agar aku menjaga pola makan dan menerapkan hidup sehat, antara lain istirahat dan aktivitas fisik cukup. Kedengarannya mudah, tapi menjalannya setengah mati. Apalagi ada pantangan, harus mengurangi atau tidak boleh sama sekali ngopi… alamak!

Ini sudah aku buktikan. Kebiasaanku kalau ngopi takarannya cukup banyak dan tidak pakai gula. Terakhir aku melakukannya, malamnya sukses perut melilit nggak keruan. Jadi, benar-benar harus dihindari.

Dicampur susu cair

Hingga suatu kali, kebetulan ada meeting di kedai kopi modern. Tak tahan dengan aroma yang menguar begitu kuat, aku pun memesan kopi. Kali ini latte, kopi campur susu. Sepulang meeting, aku sudah was-was perut melilit. Ternyata, sampai keesokan paginya, perutku aman-aman saja. Wah, jangan-jangan kalau dicampur susu nggak apa-apa. Penasaran, aku pun membeli susu cair seperti yang digunakan di kedai kopi. Dengan perbandingan 1:1, kopi latte bikinan sendiri itu ternyata aman buat perut.

Ternyata memang setelah googling info sana-sini, aku ketemu antara lain artikel ini. Disebutkan, bagi mereka yang tidak tahan asam, menambahkan susu dapat mengurangi akibat buruk kopi.

Lebih dari itu, tak diragukan lagi bahwa susu memang punya banyak manfaat kesehatan. Kandungan kalsiumnya membentuk dan menguatkan tulang, kalsium juga berpengaruh besar terhadap sistem metabolisme energi dalam tubuh yang mengakibatkan melancarkan buang air besar serta membantu penghancuran lemak tubuh.

Minum susu juga sangat mengenyangkan. Banyak orang yang jadi tidak nafsu lagi makan gara-gara minum susu. Katanya, ini karena volume susu yang dikonsumsi akan meregangkan otot-otot perut, sehingga membuat merasa kenyang. Menurut sebuah sumber, mengonsumsi segelas susu menjelang siang dan sore dapat membantu menghilangkan keinginan makan karbohidrat pada malam hari. Cocok nih buat mereka yang pengen diet.

Yang paling enak buat campuran kopi itu susu cair. Nah, baru-baru ini aku menemukan campuran susu cair baru yang pas, yaitu susu segar full cream Indomilk UHT. Produk ini mudah ditemukan di mini-mini market. Kemasan 250 ml cukup pas untuk membikin secangkir penuh kopi campur susu. Selain itu, diminum langsung dalam keadaan dingin juga enak dan menyegarkan. Makanya sekarang kalau mampir di supermarket atau mini market, aku selalu menyetok susu Indomilk UHT ini. Buat campuran kopi atau diminum sendiri, sama mantapnya.

Berkat susu, sekarang aku sudah bisa ngopi lagi. Rasanya mungkin tidak sama persis dengan kopi yang dulu biasa aku minum. Tapi, justru sekarang lebih sehat dengan tambahan susu. Ngopinya dapat, hidup sehatnya pun tak ketinggalan.

DSC_0001

Beauty and the Beast, Membuai Diri dalam Dongeng Masa Kecil

Beauty and the Beast01
Beauty and the Beast (Kredit foto: Walt Disney Studios Motion Pictures, via IMDB.com)

Siapa yang tak suka kisah dongeng? Jika kecilnya suka membaca dongeng, besar kemungkinan pernah mendengar dongeng-dongeng seperti Putri Putih Salju (Snow White), Cinderella, atau Si Cantik dan Si Buruk Rupa (Beauty and the Beast).

Meski kisah putri yang cantik, pangeran yang tampan, dan kastel yang megah umumnya merupakan impian anak perempuan, namun waktu kecil dulu aku akrab dengan kisah-kisah ini. Beranjak dewasa, aku mulai berjarak dengan dongeng-dongeng ini. Namun, tampaknya, tidak demikian halnya dengan kaum perempuan. Setelah menjadi “mamak-mamak” pun mereka masih ingin terbuai imajinya menikmati dongeng.

Makanya, ketika terbetik kabar versi terbaru Beauty and the Beast akan tayang di bioskop, yang antusias hanya Icha. Jeremy jauh-jauh hari sudah bilang ogah menonton film ini. Berhubung waktu penayangannya berdekatan dengan ultah Icha, aku menasihati Jeremy untuk “merelakan diri” menonton bersama untuk menyenangkan mamanya. Jadilah, akhir pekan kemarin, dua jagoan mengawal si cantik menonton film ini. Hahaha. Hebatnya, Jeremy yang biasanya suka nggerundel kalau tidak suka sesuatu, kali ini anteng saja.

Jadi, apa yang bisa dinikmati dari edisi terbaru Beauty and the Beast? Karena tak menonton versi animasi yang tayang saat aku mulai kuliah tahun 1991 lalu, aku tak punya pembanding. Katanya, film musikal romantis ini dibuat tak jauh berbeda dengan versi animasinya. Tapi, ya sudahlah, aku mencoba menikmati saja film ini.

Kisah dongeng percintaan ini diadaptasi dari karya Jeanne-Marie Leprince de Beaumont, penulis Perancis abad ke-18. Dikisahkan, di desa Villeneuve, Perancis, hidup seorang perempuan muda bernama Belle (Emma Watson). Ia tinggal bersama ayahnya, Maurice (Kevin Kline), seorang seniman. Meski wajahnya rupawan, Belle dianggap aneh oleh penduduk desa yang kehidupannya selalu rutin dan begitu-begitu saja. Pasalnya, Belle yang gemar membaca selalu haus pengetahuan baru.

Kecantikan Belle menawan hati Gaston (Luke Evans), veteran perang yang narsistik. Ia mau melakukan apa saja, asalkan Belle mau menjadi isterinya. Sayangnya, gayung tak bersambut. Belle tak berminat menjadi isteri Gaston.

Hingga suatu kali, dalam perjalanan menjual karyanya, Maurice tersesat di sebuah hutan dan menemukan sebuah kastel yang dimiliki seekor makhluk menyerupai binatang buas (Dan Stevens). Karena dituduh mencuri mawar, Maurice ditawan oleh makhluk tersebut. Belle kemudian menyusul ayahnya dan menggantikannya sebagai tawanan.

Ternyata kemudian, makhluk buruk rupa tersebut adalah pangeran yang gagah dan tampan. Ia berubah wujud karena dikutuk akibat kesombongannya. Kutuk akan patah apabila ada seorang putri yang mencintainya sepenuh hati. Endingnya ketebaklah, pasti Belle yang menjadi putri yang ditunggu-tunggu itu. And then they live happily ever after. Itu nggak usah ditanya lagi. Udah pasti begitu kalo cerita-cerita dongeng.

Yang membuat Beauty and the Beast edisi terbaru ini menjadi pembicaraan adalah ucapan si sutradara Bill Condon. Ia mengatakan bahwa film ini adalah film Disney pertama yang menampilkan adegan gay. Ternyata, adegan yang dimaksud tidaklah heboh-heboh amat. Itu adalah bagian di mana Le Fou (Josh Gad) menyatakan kekagumannya pada Gaston yang disajikan dalam tarian dan nyanyian.

Memang, sejak awal muncul karakter Le Fou yang tidak macho, sudah membuat aku menduga-duga. Walau seingatku tidak ada dialog atau tindakan yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia gay, tapi sorot mata dan terutama kalimat-kalimat pemujaan pada lagu tersebut “sangat mengarah”. Imho, anak kecil mungkin tidak akan menyadari hal tersebut. Walau demikian, imho bisa diterima jika film ini diberi rating R atau 13 tahun ke atas.

Secara umum, film Beauty and the Beast ini berhasil menghidupkan kembali dongeng klasitersebut. Kecanggihan teknologi digital mampu mewujudkan khayalan pembuat kisah menjadi begitu riil. Sementara itu, sajian tarian dan nyanyian bergaya opera membuat film ini menjadi tontonan yang memikat sekaligus menghibur.

Menurut Icha, dibandingkan Cinderella yang tayang beberapa waktu, Beauty and the Beast jauh lebih keren dan memorable. Aktingnya, lagu-lagunya, koreografi dan cut-to-cut pada musik dan tariannya, semua memanjakan panca indera dan membuai angan. Ia jadi membayang-bayangkan diri menjadi Belle… Alamak!

Tayang perdana: 17 Maret 2017

Sutradara Bill Condon

Produser David Hoberman, Todd Lieberman

Skenario Stephen Chbosky, Evan Spiliotopoulos

Pemeran Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Kevin Kline, Josh Gad

Produksi Walt Disney Pictures dan Mandeville Films

Mengintip “Kos-kosan” Mahasiswa di Jatinangor

Aku ini anak rantau. Lahir di Pematang Siantar, besar di Medan, lalu lanjut kuliah di Bandung. Nah, buat sebagian anak Medan, mendengar nama Kota Kembang, yang segera terbayang adalah mojang-mojang Bandung yang katanya geulis-geulis. Selain itu, Bandung digambarkan sebagai kota yang sejuk, teduh, dan kondusif untuk belajar. Makanya, Bandung menjadi salah satu tujuan perantauan anak Medan untuk menuntut ilmu.

Ketika berangkat ke Bandung pada awal dekade 1990-an, tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa sebagian masa kuliahku akan dihabiskan di tempat bernama Jatinangor. Nama ini pertama mampir di telinga saat penerimaan mahasiswa baru di Aula Unpad Dipati Ukur. Dalam rangkaian acara penerimaan itu, kami para mahasiswa baru wajib mengikuti penghijauan di Jatinangor. Naik bus Damri dari depan kampus Dipati Ukur, untuk pertama kalinya aku pun menjejakkan kaki di Jatinangor.

Kesannya waktu itu, Jatinangor begitu panas dan gersang. Kita udah kayak romusha, bergerombol menanam pohon. Seingatku, sejumlah kampus sedang dalam pembangunan, di antaranya Fisip yang mestinya sudah selesai atau paling nggak mendekati tahap akhir. Kalau tidak salah, setahun kemudian kampus Fisip yang semula di Dago pindah ke Jatinangor. Kampus-kampus yang sudah duluan ke Jatinangor antara lain Pertanian dan Peternakan. Sedangkan Fikom kayaknya waktu itu masih mulai dikerjakan. Baru saat aku semester VI, awal 1994, akhirnya Fikom pindah ke Jatinangor.

Naik bus

Jatinangor adalah kecamatan di Kabupaten Sumedang, sekitar 23 kilometer dari pusat kota Bandung. Saat pertengahan dekade 1990-an, perjalanan naik Damri pagi hari dari Kampus DU tidak sampai sejam. Rutenya Dipati Ukur – Supratman – A Yani – Cicaheum – Arcamanik – Ujung Berung – Cibiru – Cileunyi – Jatinangor. Kalo rada siangan, sudah pasti macet di A Yani – Cicaheum. Makanya, pagi-pagi benar, sekitar pukul enam, sudah harus rebutan naik bus di DU. Biasanya sudah ada 3-4 bus berjejer dan dalam waktu singkat sudah penuh dan mulai berangkat satu per satu.

Rebutan naik bus terjadi lagi pada saat pulang kuliah. Setelah jam makan siang, bus menuju DU yang baru tiba di pemberhentian di depan kampus Unwim (ini kepanjangannya apa ya?) kembali padat. Makanya banyak bela-belain nunggu di depan kampus Ikopin, mencegat bus sebelum tiba di Unwim, biar dapat tempat duduk. Perjuangannya cukup heroik, sehingga suatu kali pernah ada yang terjatuh ke dalam got karena kalah sikut-sikutan. Alamak!

Meski perjalanan Bandung-Jatinangor membutuhkan perjuangan, aku lebih memilih untuk tetap ngekos di Sekeloa. Sedangkan karib-karibku pada pindah semua ke Jatinangor. Alasan mereka biar dekat kampus sehingga tidak perlu keluar biaya transportasi. Ternyata kemudian, mereka tidak betah-betah amat tinggal di Jatinangor. Selain sepi, sejumlah kegiatan memang tetap harus dilakukan di Bandung. Makanya, tempat kosku malah acap menjadi rumah singgah kalau kebetulan temen-temen Jatinangor lagi main ke Bandung.

Sebenarnya, kalo alasannya sekadar biaya transportasi, dengan beli karcis langganan di pool Damri dekat stasiun kereta Bandung, biaya naik bus ini tidak mahal-mahal amat. Lagian, karena biasanya satu bundel karcis langganan tidak bakal habis dipakai sendiri, belinya bisa patungan. Kalau lagi terdesak, ya gerilya saja mencari yang punya lebihan karcis langganan.

Kamar kos

Di Sekeloa, pada tahun 1991, kos-kosan tempat aku tinggal sewanya Rp 350 ribu per tahun. Ini biaya untuk kamar kosong ukuran sekitar 2,5 meter x 2,5 meter. Itu belum termasuk biaya listrik. Kalau membawa komputer PC desktop, biasanya dikenakan biaya listrik tambahan. Hingga aku lulus pada 1997, biaya sewa terakhir yang aku bayarkan cuma Rp 400 ribu per tahun. Soalnya, aku termasuk penyewa setia, nyaris selama 6 tahun di Bandung selalu di tempat yang sama, kecuali setahun ngontrak rumah di Sekeloa Tengah bersama Abang Ember dan Andry. Makanya, induk semangku, Pak Endi, berbaik hati tidak menaikkan biaya sewa.

Kebanyakan kos-kosan di Sekeloa disewakan kosongan. Kalau mahalan dikit, mungkin sudah menyediakan kasur dan dipan plus lemari dan meja belajar. Seorang kawan yang menyewa kamar dengan kamar mandi di dalam, dikenakan biaya Rp 600 ribu per tahun. Ini sudah cukup bagus untuk ukuran kos-kosan kelas menengah.

Lokasinya biasanya gank-to-gank alias masuk-masuk ke dalam gang. Nggak heran, enam tahun bermukim di Sekeloa, aku jadi hafal jalan-jalan tikus dari Pasar Dago hingga Kantor Telkom dan dari Dipati Ukur hingga Sadang Serang. Gang-gang yang berliku-liku dan sambung-menyambung itu menjadi makanan sehari-hari. Nggak perlu khusus olahraga lah, macam temanku Andibachtiar Yusuf yang rajin joging itu. Setiap hari bolak-balik kos-kosan ke kampus Jatinangor aja sudah cukup membakar kalori.

Tinggal di kos-kosan dekat jalan besar itu kemewahan. Apalagi kalo di jalan sebesar jalan Dago. Seperti karibku, Bogard, yang menyewa kos-kosan di Jalan Ir H Djuanda (Dago bawah), kira-kira 300 meter dari Simpang Dago, harus membayar Rp 150 ribu per bulan. Ini mah udah sebesar kiriman bulananku waktu itu. Jelas untuk ukuran mahasiswa kelas menengah (ke bawah), kos-kosan ini tergolong mewah.

Kamar-kamarnya menyatu dengan rumah induk yang sangat besar. Tersedia halaman parkir yang luas dan garasinya juga bisa menampung beberapa mobil. Kamarnya sudah isi, dipan, meja, dan lemari. Selain itu, sudah disediakan pula nasi, sehingga kalau mau makan penghuni cukup membeli lauk. Isinya kebanyakan anak-anak Unpar dan ITB.

Apartemen

Begitulah gambaran kehidupan anak rantau di Bandung tahun 1990-an yang aku ingat. Nah, ketika kemarin ada kesempatan menjenguk Jatinangor, pengen tahu juga, bagaimana kehidupan di kawasan ini dan gaya hidup anak kos zaman sekarang. Frankly speaking, ini tepat dua dekade aku mampir lagi ke kawasan ini setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada Maret 1997 silam. Busyett!…

Denger-denger, Jatinangor sekarang sudah jauh berkembang. Dan, memang, begitu keluar tol Cileunyi, belok kanan, aku nyaris tidak mengenali lagi Kampus IPDN (dulunya STPDN), karena di depannya sudah tegak berdiri apartemen Easton Park Residence. Kampus Ikopin, tempat anak-anak mencegat bus yang baru datang dari Bandung, samar-samar kayaknya masih sama (sejujurnya karena aku juga tak terlalu ingat lagi). Tapi aku sulit menemukan spot tempat anak-anak dulu suka menunggu bus.

Sesudah itu jalan memecah dua, lalu tampak kampus ITB. Sejurus kemudian baru kampus Unpad. Gerbang utama Unpad nyaris tidak aku kenali lagi. Tampak sumpek dan kumuh. Baru setelah diperhatikan baik-baik, tampak bulevar yang tengahnya bertuliskan UNPAD. Ah, betapa nama itu dulu pernah begitu akrab…

Selain Easton Park, ada sejumlah apartemen lain yang sudah tegak berdiri yaitu Pinewood, Skyland, dan Taman Melati. Kebetulan aku sempat mampir ke tempat terakhir. Masuk dari jalan Cikuda, apartemen besutan Adhi Karya ini bersisian dengan kampus Unpad. Menariknya, apartemen ini punya view ke arah Gunung Manglayang dan Jembatan Cingcin, salah satu ikon Jatinangor. Jembatan ini juga menjadi jalan akses mencapai Unpad dengan berjalan kaki. Tembus-tembusnya dekat kampus Fikom.

Mengintip dalemannya, nyaman sekali mahasiswa yang bisa tinggal di Taman Melati. Lantai-lantai bawah dioperasikan sebagai hotel, untuk mengantisipasi banyaknya kegiatan wisuda mahasiswa. Jadi orangtua atau keluarga wisudawan dari luar kota tak perlu jauh-jauh menginap di Bandung. Pinter banget nih pengembang mencium peluang bisnis. Selain kolam renang, terdapat pula mini market sehingga penghuni hanya perlu turun ke bawah kalau cuma membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Konon, katanya, di lantai teratas (roof top) nantinya akan difungsikan sebagai kafe. Alamak mantap kali, sore-sore nongkrong di kafe sambil memandang-mandang Gunung Manglayang bersaput awan. Kalau aku dulu, cukup puaslah memandang-mandang dari jendela kontrakan di Sekeloa Tengah ke arah ladang padi di Sadang Serang (entah masih ada apa nggak tuh padi).

Masuk ke dalam unit yang sudah fully furnished, untuk tipe studio memang tidak terlalu besar, ukuran 3,25 meter x 5,32 meter. Tapi jelas lebih besar ketimbang kamar kosku di Sekeloa dulu. Kamar mandi di dalam dan sudah dilengkapi pemanas air. Kamar sudah pasti ber-AC dan tiap-tiap kamar ada balkon untuk memandang-mandang.

Dengan semakin banyaknya kampus dan fakultas yang pindah ke Jatinangor, termasuk jurusan-jurusan yang dihuni mahasiswa-mahasiswa tajir seperti teknik dan kedokteran, peluang untuk apartemen seperti ini rasanya cukup menjanjikan. Buat mereka, sewa Rp 3 jutaan per bulan mungkin masih terjangkau. Apalagi kalo bayarnya berdua.

Aku cuma bisa membayang-bayangkan saja, seandainya dulu punya fasilitas seperti ini… mhh, nggak tahulah. Nggak terbayang juga. Semoga saja mahasiswa-mahasiswa sekarang itu jadi lebih cerdas-cerdas dan mau berkontribusi buat bangsa ini. Entah dalam bentuk apa pun. Semoga…

Jam yang Berhenti Berdetak

clock-316604_1280.jpg
Jam yang berhenti berdetak (Photo by Pixabay.com)

Kisah ini dimuat di sebuah majalah anak-anak yang aku baca waktu kecil dulu. Kisahnya masih membekas sampai sekarang.

Suatu kali, ada sebuah jam yang sedang kurang kerjaan. Pada saat lagi bengong, ia mulai berpikir-pikir, berapa banyak ia harus berdetak.

Ia menghitung, dalam satu menit ia harus berdetak 60 kali. Lumayanlah, nggak berat-berat amat.

Dalam satu jam, 3.600 kali. Eh, kok banyak juga ya.

Dalam satu hari, 86.400 kali. Waduh…

Dalam satu minggu, 604.800 kali. Busyet….

Dalam satu bulan, 2.419.200 kali. Alamak!

Dalam satu tahun, 29.030.400 kali. Mampus!!!

Si jam pun mendadak lemas memikirkan angka yang demikian banyak. Begitu lemasnya, sampai ia tak mampu lagi berdetak. Kemudian, lewatlah seekor tikus. Melihat jam tak berdetak, tikus bertanya. “Hei, Jam. Kok ente nggak berdetak?”

“Iya nih, aku lemas,” sahut jam.

“Kenapa lemas?”

“Ternyata, dalam setahun ke depan, aku harus berdetak sebanyak 29.030.400 kali. Bayangkan… banyak sekali. Entahlah, apakah aku sanggup melakukannya.”

Si tikus menyeringai. “Kamu ini bodoh. Mengapa harus pusing memikirkan berapa kali harus berdetak setahun ke depan. Pikirkan saja, berapa kali kau harus berdetak dalam sedetik?”

“Satu kali…”

“Ya sudah. Itu saja lakukan, mengapa harus pusing-pusing memikirkan setahun ke depan,” ujar tikus sembari ngeloyor pergi.

Pelan-pelan jam merenung. Iya juga, pikirnya. Selama ini telah bertahun-tahun ia berdetak tanpa masalah. Berarti, ia sudah berdetak jauh lebih banyak ketimbang jumlah yang ia pikirkan untuk setahun ke depan. Toh, ia mampu melakukannya. Mengapa pula sekarang ia harus cemas dan khawatir untuk tugas yang harus ia lakukan. Cukup berdetak satu kali setiap saat. Hanya itu saja yang ia perlu lakukan.

Ini kisah aku ceritakan ulang pakai bahasaku sendiri. Aku tak ingat persis detail ceritanya, tapi logika dan moral of the storynya begitu kuat, sehingga aku masih mengingatnya setelah puluhan tahun berselang.

Pagi ini, dalam perjalanan mengantar Jeremy ke sekolah, tiba-tiba saja kisah ini melintas di kepala dan aku bagikan pada Jeremy. Dia cuma mengangguk-angguk dan bilang kalau dia sudah pernah mendengarnya. Barangkali, ini memang bukan pertama kalinya aku menceritakan kisah ini padanya.

Bukan sok tua, tapi memang aku kira ini adalah proses alamiah antara orangtua dan anak. Sebagaimana ada banyak nilai yang aku terima dari bapakku, sekarang pun aku mulai mentransfer nilai-nilai yang aku anggap baik kepada anakku.

Mengapa kisah ini jadi penting?

Jadi ceritanya, kemarin Jeremy mengirim pesan singkat melalui ponsel. Ada tugas kelompok dari sekolah dan dia minta aku nge-print artikel tentang pemanasan global dan beruang kutub. Biasanya memang begitu, daripada mencari dan nge-print sendiri di rumah, Jeremy minta tolong pada babenye. Namanya sayang anak, ya sudah aku kerjain. Toh, cuma googling dikit dan nge-print doang, nggak sampai 5 menitlah. Karena pulang kantor Jeremy sudah tidur, aku menaruh print-an artikel itu dekat tas sekolahnya.

Subuh tadi, tiba-tiba saja dia panik. “Lho, kok dalam bahasa Inggris, Pa?” tanyanya.

“Lha kan sudah difoto kemarin, papanya tanya, ‘yang kayak gini’. Anaknya bilang ‘iya’. Ya sudah, papanya print.”

Jadi, ternyata yang dia butuhkan artikel dalam bahasa Indonesia. Kalau sudah begini, dia langsung panik dan misuh-misuh sendiri.

“Ya sudah, mari kita cari lagi. Sebentar kok. Nanti bisa langsung di-print,” ujarku.

Sembari begitu, isteriku Icha nyamber dari kamar sebelah, “Kenapa lagi itu?”

Hahaha, isteriku ini memang tidak sabaran orangnya. Makanya, Jeremy yang suka slebor sering jadi sasaran omelan. Kali ini pun pasti nggak lama dia akan kena omel panjang-pendek. Daripada suasana rumah subuh-subuh sudah tensi tinggi, aku ketawa-ketawa saja dan memutar lagu dari Spotify. Lumayanlah, cukup bisa meredam Icha agar tidak terlalu heboh ngomelnya.

Dalam situasi begini kami memang sangat kontras. Icha pasti langsung meradang, sementara aku langsung fokus bagaimana bisa menyelesaikan masalah. Marah-marah bagiku cuma membuang energi yang (sebenarnya) bisa digunakan untuk mengerjakan hal lain.

“Aku memang tidak bisa seperti kamu,” kata Icha sambil memeluk dari belakang. Rasa kesal dan betenya mengambang dan pelan-pelan hilang karena aku bersikap santai. Memang, meski komputer agak lemot dan hasil print-an printer deskjet di rumah tak sebagus printer laser di kantor, googling artikel dan mencetaknya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit sejak komputer dinyalakan. Jadi, ngapain buang-buang waktu untuk marah, yang kalau dituruti mungkin sejam nggak kelar-kelar. Hehehe.

Pagi ini, aku tiba di kantor pukul setengah tujuh. Itu sudah termasuk mengantar Jeremy ke sekolahnya, lalu mendengarkan playlist musik di Spotify sepanjang perjalanan, sembari memikirkan tentang posting ini.

Icha mungkin lebih tertarik untuk mengritik Jeremy yang tak lengkap memberi instruksi dan tak menyimak foto yang aku kirim semalam. Jeremy juga cuma panik membayangkan reaksi guru dan teman-teman sekelompoknya gegara keliru mengerjakan tugas. Sementara aku, ya cukup berpikir apa yang harus aku lakukan pada saat itu saja. Tadi googling artikel dan nge-print, habis itu mandi, sarapan, dan siap-siap berangkat. Terus lagi, nganter Jeremy sembari ngobrol lalu lanjut ke kantor sambil mikirin postingan blog. Sampai di kantor baca koran sikit lalu langsung ngetik postingan ini. Sebelum pukul delapan, postingan ini kayaknya sudah bisa diupload di blog.

Begitulah, sebuah pelajaran yang aku petik dari cerita anak-anak puluhan tahun silam masih aku praktikkan sampai hari ini. Do one thing (at a time) and do it well.

Selamat berkarya!